Di Sela-sela Tesis, Sebuah Catatan

page

Try something new, unique, and out of the comfort zone, sudah menjadi opsi bagi saya ketika memilih sesuatu. Ada berlimpah-limpah ilmu dan pengalaman yang didapat ketika mencoba sesuatu yang baru, right? Dan bagi saya, (mungkin juga bagi Anda) ilmu dan pengalaman adalah dua nilai sosial yang tidak dapat tergantikan oleh harta benda dan rupiah sekali pun.

Well, sesuatu yang baru, unik, dan keluar dari zona nyaman yang saya maksud di sini adalah penelitian yang telah dan sedang saya lakukan saat ini (efek lagi ngerjain tesis nih). Ntah karena minat atau apa pun lah namanya, tema penelitian yang dipilih baik S-1 atau saat ini selalu terkait dengan hal yang sama sekali tidak saya kenal dan pahami sebelumnya . Dan pertanyaannya, how dare you choose that issue!!? Are you crazy??!

Okay, mungkin bisa dikatakan saya mem-be-re-ni-kan-di-ri, bukan berani juga sih, tapi ya tidak nekad juga. Rasanya adrenalin ini lebih terpacu mengejar apa yang sebelumnya tidak saya kejar-kejar. Mengerjakan sesuatu yang dimulai dari nol itu lebih menantang. Tingkat kekepoan jadi jauh lebih besar. So, your effort juga jauh lebih besar tentunya.

Well, penelitian S1 saya dulu terkait dengan Blackberry. Saya sempat dikira sales promotion oleh penguji karena mengangkat smartphone yang dulu booming-nya sampe-tumpe-tumpe. Awalnya saya sempat bertanya kepada diri sendiri. Dan pertanyaannya adalah apakah saya pengguna Blackberry? Tidak. Apakah saya pernah memiliki Blackberry? Tidak. Apakah saya tahu fitur-fitur Blackberry? Sama-sekali-tidak. JADI KENAPA ITU YANG DITELITI??? Suka-suka saya dong (keep calm and do what you wanna do). More

Do and Don’t: I’m Only Human

image

Allah telah mengatakan di dalam Al Quran bahwa setiap manusia memiliki potensi baik dan potensi buruk. Dan sebaik-baiknya manusia adalah dia yang meminta ampun atas segala kesalahan yang diperbuat.

Saya? Saya hanya perempuan biasa. Masih dalam kategori “belum baik” dan “masih harus diperbaiki”.

Bagaimana dengan jilbab saya? Ya, Alhamdulillah saat ini jilbab ini sudah menjulur panjang menutupi dada. Saya berusaha keras untuk mempertahankannya.

Bagaimana dengan pakaian? Alhamdulillah baju yang saya kenakan juga semakin longgar.

Bagaimana dengan akhlak? Ya, saat ini saya  sedang berusaha keras menjadi manusia yang lebih baik dari hari sebelumnya. Saya juga berusaha keras menjaga lisan, pandangan, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya tidak terjerumus ke jalan yang salah. More

Pengalaman Mengikuti SKSD Kementerian Sosial 2015 #1

SKSD Kemsos 2015

Ini adalah pengalaman survey yang sangat berharga bagi saya. Banyak banget pengalaman yang saya dapatkan selama mengikuti kegiatan ini. Baik ilmu baru, teman baru, dan yang pasti menginjakkan kaki di tempat-tempat baru. Belum lagi saya bisa mengetahui bagaimana kondisi kehidupan masyarakat di berbagai daerah di Provinsi Riau. I absolutely happy bisa lolos seleksi dalam kegiatan ini. Thank God!

Awal mula saya mengikuti ini karena diajak oleh salah seorang teman kampus. Honestly, I don’t expect too high agar bisa lolos, apalagi saat itu saya sedang disibukkan dengan urusan proposal tesis, kegiatan kampus ke Tiongkok, belum lagi pindahan dari mess ke kos. Bisa dibilang mendaftarkan diri saat itu hanya coba-coba-mudah-mudahan-lolos. Yah, kalau nggak lolos juga nggak apa, berarti belum rezeki.

Saya pun mendaftarkan diri sebagai pewawancara. Sebenarnya, pada kegiatan ini ada dua jenis pendaftaran, baik sebagai pewawancara maupun ketua tim. Yeah, you know what, kalau mau mendaftar sebagai ketua tim, kamu harus memiliki pengalaman survey yang banyak, serta persyaratan lain yang of course I don’t have it.

Well, saya pun mengisi formulir pendaftaran yang dapat diunduh secara online di puslit.kemsos.go.id. Ada tiga bagian yang harus diisi dalam formulir tersebut, mulai dari identitas (informasi diri dasar), pengalaman survey, serta penguasaan komputer (mampu/tidak mampu). More

#PrayforParis

prayforparis

Lagi-lagi kabar duka akibat serangan teroris menghebohkan masyarakat. Sebagaimana diberitakan hari ini telah terjadi peristiwa serangan teror di Paris. Sebanyak 153 orang dilaporkan tewas dalam serangan teroris secara beruntun di enam lokasi di negara yang terkenal dengan Menara Eifel tersebut. ISIS mengklaim bahwa merekalah yang mendalangi peristiwa tersebut. Melalui akun media sosialnya, kelompok ini juga berencana akan menyerang London dan Roma.

Well, serangan tersebut tentu saja sangat mencoreng peri kemanusiaan. Nyawa Maysarakat sipil yang tidak bersalah hilang begitu saja. Seorang istri kelihalangan suaminya, anak-anak kelihalangan orang tuanya, adik kehilangan kakaknya. Begitu menyedihkan.

Siapakah individu atau kelompok yang “benar-benar” harus bertanggung jawab? Kita tidak pernah tahu. Kabarnya ISIS yang mendalangi semua ini. Namun, hingga saat ini tahukah kita siapa ISIS sebenarnya? Siapa dalang di balik kelompok ISIS atau kelompok-kelompok sejenis lainnya? We never know.

Yah, begitulah trend saat ini. Perang antarnegara melawan aktor non negara. Siapa lawan dan siapa kawan sangat susah dikenali. Apalagi dengan perkembangan teknologi khususnya dunia cyber saat ini, semua bisa dilakukan hanya dengan ujung jari dan tanpa modal besar. Berbeda dengan perang konvensional seperti pada Perang Dunia I dan II, atau perang di tahun-tahun yang jauh sebelumnya, yang serba mengandalkan senjata dan alat-alat perang. Kini, semua tergantikan dengan komputer plus jaringan internet. More

Renungan Jumat

 Pengalaman yang sudah-sudah jelas-jelas menunjukkan bahwa mencintai makhluk itu banyak yang berujung luka. So, to the point saja. Intinya adalah saat ini dan seterusnya bagaimana caranya terus mendekatkan diri kepada Allah dan semakin mencintai-Nya. Ada dua perbedaan. Pertama, ketika mencintai Allah, wujud yang dicinta itu tidak ada, tak terlihat rupa atau raganya (bukankah kita tidak bisa melihat Allah?). Sementara, yang kedua, ketika mencintai makhluk, kita bisa dengan “bebas” melihat tampan/cantik parasnya, mendengar suaranya, berjalan berdampingan dengannya, dan melewati hari-hari bersamanya.

Sadar atau tidak, cinta sejati adalah cinta kepada Allah. Di sini bukan sekedar cinta “kepada” Allah-nya, namun makna yang lebih penting dari itu adalah mencinta-kepada-apa-yang-sama-sekali-tidak-pernah-kita-lihat-wujudnya. Kita cinta karena kita benar-benar cinta. Bukan jatuh cinta setelah melihat paras dan raga. Bukan jatuh cinta setelah melihat gigihnya usaha. Bukan cinta karena harta dan tahta. Bukan cinta karena kecerdasan. Atau jatuh cinta karena banyak kesamaan.

Sebagai makhluk saya banyak sekali keterbatasan. Berupanya mencintai Allah dengan sepenuh hati, namun nafsu akan cinta kepada makhluk mengalahi cinta kepada Sang Pencipta. Katanya cinta, namun hati ini sering kali tidak setia, melawan aturannya atau secara sadar mengabaikan larangan-Nya. Bahkan, menyandingkan cinta kepada makhluk yang notabenenya terbatas, dengan Dia yang tanpa batas. Padahal Dia dan makhluk ciptaan-Nya sangat tidak pantas disandingkan. More

Sekeping Hati

Jodoh. Jika waktu datangnya serupa hujan; seringkali ditunggu, atau bahkan muncul dengan tiba-tiba tanpa undang sapa. Maka jodoh itu sendiri biarlah disejajarkan bagai petrichor; ia membawa syahdu syukur yang sama. Ia menyeruakkan haru di rongga. Ia selalu tak pernah salah tempat dan tiba pada waktu yang tepat.
Barangkali hingga detik ini, kita masih bertanya-tanya. Siapa, kapan dan di manakah kita akan dipertemukan? Kita lalu tak henti menduga, berandai, berjika-jika …
Jika kita tahu kapan masa itu akan tiba. Jika saja sebelumnya kita sudah saling mengetahui, mengenal satu dengan yang lainnya. jika ternyata, masing-masing kita adalah nama yang tersebut dalam doa. Jika saat itu kita mengerti, tentang arti sapa-bincang ringan yang lalu lenyap oleh bergulirnya hari adalah pertanda.
Jika kita paham, bahkan pun kesempatan kita untuk hanya saling mengetahui nama adalah juga rangkaian skenario dari Allah. Jika ternyata, perjumpaan dan tatap mata yang tak sengaja itu adalah penegasan akan takdir berikutnya. Bukankah semuanya akan terasa menyenangkan?
Kita tak harus berlelah-lelah bertanya. Kita tak harus berperih-perih menanti datangnya perjumpaan yang bahkan tidak kita ketahui kapan waktunya. Kita tak perlu tersiksa dalam rindu dan keterjarakan yang tidak kita ketahui seberapa panjang dan jauhnya. Tapi cinta bukanlah ketergesaan.
Dan bongkah hati ini terkadang terlalu tergesa. Sibuk merangkai-rangkai jalan cerita. Sibuk menyusun keping-keping kejadian. Sibuk berharap; kembang mekar ketika rasa semu menyapa, layu jika hempas di ujung masa. Kita lalu lupa, ada sekeping hati lain yang sedang berpayah-payah menjaga.

More