Harap Rindumu

Menjadi biasa, itu luar biasa.

Aku terbiasa bersamamu lalu tidak, itu sungguh menyiksa.

Tak mampu kutepikan.

Nyatanya, rumah hatimu adalah tumpah rinduku.

Berkemah merengsek sumsum, mengibarkan gembira kegelisahan yang membuktikan luka, juga bahagia.
Jika boleh memilih, aku membutuhkan rindu sebagai kata keramat yang keluar dari bibirmu, setiap hari.

Seperti berpuluh malam yang kita pahat dengan nafas surgawi.

Seperti berpuluh malan yang kita pahat dengan warna pelangi.[]
from Dear You by Moeamar Emka

©dilanovia 29012012 01:50


Contoh Esai Beasiswa Tanoto

Oleh: Novia Faradila

Esai ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Beasiswa Tanoto tahun 2012/2013. Saya awali esai ini dengan perkenalan diri. Novia Faradila, demikian nama yang diberikan orang tua saya 20 tahun silam. Saya berasal dari Duri, sebuah kota kecil di Kabupaten Bengkalis, Riau. Saat ini saya menetap di Pekanbaru, Kota Bertuah tempat saya menimba ilmu di bangku kuliah.

Tahun ini adalah tahun ketiga saya sebagai Mahasiswa di Universitas Riau (UR). Program studi yang saya ikuti selama hampir lima semester ini adalah Program Sarjana (S1) Ilmu Komunikasi (Ikom) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Alasan memilih jurusan ini, menurut saya lulusan ilmu komunikasi memiliki peluang yang cukup besar dalam mendapatkan pekerjaan—baik swasta maupun pemerintah. Selain itu, saya menjatuhkan pilihan di jurusan tersebut karena terinspirasi dari artikel sebuah majalah yang mengupas tentang asyiknya menjadi seorang reporter.

Figur pada artikel tersebut yakni Wianda Pusponegoro. Saat itu ia bekerja sebagai  reporter Metro TV. Di sana diceritakan menjadi seorang reporter merupakan pekerjaan yang sangat menyenangkan. Setiap hari kita akan menemukan hal-hal baru. Penuh tantangan, kerja keras, dan banyak pengalaman. Hal itulah yang saya suka. Ilmu dan pengalaman bagi saya merupakan hal yang sangat berharga.

Pada kuliah semester pertama (2009), kecintaan saya di dunia jurnalistik pun saya salurkan dengan bergabung di Tabloid Tekad, tabloid milik Jurusan Ikom (saat itu Ikom FISIP UR masih berstatus sebagai Program Studi). More

My Heart Said, …..

Jika Anda punya sebuah pertanyaan–pertanyaan besar, dan Anda mencoba mencari jawabannya di hati Anda, apakah Anda menemukan jabawan itu? Anda merasakan sesuatu di hati Anda, apakah Anda yakin apa yang Anda rasa benar-benar jawaban yang tepat?
Jika pertanyaan di atas dilemparkan kepada saya, saya akan menjawab, Ya! Karena saya yakin, hati tidak pernah bohong. Hati merupakan kunci dari segala hal yang benar-benar kita rasakan. Bibir bisa saja berkata bohong. Pikiran bisa saja berkilah ke arah yang kita pikir paling baik, padahal tidak. Tapi hati–tempat kita merasakan segala hal, tidak akan bisa kita bohongi.
Itu yang saya rasakan saat ini. Dulu hati saya meyakini sesuatu. Saya yakin sesuatu itu yang terbaik untuk saya. Sesuatu yang akan membuat saya bahagia pada saat itu dan seterusnya. Sesuatu yang memang saya tunggu-tunggu selama ini. Tapi sekarang, meski bibir dan pikiran saya menyatakan sesuatu itu tetap menjadi yang terbaik untuk saya, hati saya berkata lain!
Seiring berjalannya waktu, dan melihat bagaimana fakta sebenarnya, hati saya meyakini bahwa sesuatu itu bukan yang terbaik untuk saya. Sesuatu yang bukan menjadi pembahagia saya. Sesuatu yang bukan saya tunggu-tunggu selama ini.
Sebenarnya sedih juga merasakan hal yang demikian, karena sebelumnya saya berharap sesuatu itu yang menjadi pilihan yang paling tepat. Tapi, ini masalah hati. Hati yang menentukan segalanya.
Lantas, bagaimana kelanjutannya? Saya juga tidak tahu. Jalani sajalah. Mudah-mudahan sesuatu itu bisa kembali seperti dulu. Sehingga keyakinan saya kepada sesuatu itu bisa kembali lagi.
Di sisi lain, sebenarnya saya juga lelah. Lelah menunggu sesuatu-di ma hati saya menyatakan, Ya! “Ya, Dila, inilah sesuatu itu, sesuatu yang tepat untukmu, sesuatu yang akan membahagiakanmu, sesuatu yang engkau tunggu-tunggu selama ini!”. Ahh, ntah kapan itu.
Anda tahu apa “sesuatu” yang saya maksud? Well, sesuatu yang saya katakan di atas adalah sesosok anak manusia yang akan menjadi pasangan hidup saya kelak. My destiny, My Mr. Right.
Anyway, yang saya perlukan sekarang  hanya menjalani apa yang ada di hadapan saya saat ini. Jangan tanya rasa apa yang saya rasakan sekarang. Cukup saya dan Tuhan yang tahu.[]

©dilanovia 220112 23:08

Think You’re Beautiful!

Tidak percaya diri, terlalu gendut, perut tidak langsing, pantat kurang montok, kulit nggak putih, model baju nggak update, wajah pucat karena make up kurang tebel, dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain! Huh, Biasanya masalah semacam itu dialami oleh para wanita. Kenapa? Karena sudah menjadi rahasia publik kalau wanita itu suka banget memperhatikan penampilan. I don’t care about that karena hal itu merupakan hak setiap manusia yang merasa dirinya wanita.

Nah, yang menjadi masalahnya ketika banyak wanita yang merasa tidak percaya diri karena melihat wanita lainnya (ehem..sulit buat ngomong) lebih cantik dan mulus dan tinggi dan langsing dan putih dari dia. Rasa-rasanya memang sudah biasa para wanita saling mengamati bagaimana cara penampilan wanita lainnya (tentunya dengan cara melihat yang sopan dan tidak berlebihan). Sekedar mengagumi saya rasa tidak masalah. Apalagi setelah melihat penampilan wanita yang faktanya memang oke, dia bisa belajar dan merubah penampilannya menjadi lebih baik (tapi nggak plagiat juga, ya). Setidaknya bisa dijadikan referensi lah.
Big trouble itu ketika salah seorang wanita merasa minder ketika melihat wanita lain yang penampilannya lebih menarik. Parahnya lagi mereka akan langsung berfikir kalau mereka itu jelek! Sigh!
Bukannya mau membanding-bandingkan fisik. Tapi, yang namanya penampilan memang sudah ditunjang dengan bentuk fisik kita masing-masing. Kadang, kita sering melihat penampilan seseorang itu menarik karena dia memang sudah dianugerahi Tuhan untuk memiliki tubuh yang menarik pula. Walaupun baju yang dipakainya biasa-biasa saja. Jadi, jangan sampai merasa minder dengan penampilan–yang merupakan perwakilan dari jati diri kita sendiri. Kalau kita meniru bagaimaca cara penampilan orang lain hanya agar kita bisa sama dengan mereka, sama saja yang di dalam diri kita bukan kita yang seutuhnya.
Saya sangat setuju dengan lagu yang dilantunkan oleh Selena Gomez, Who Says. Bagi Anda yang sering merasa minder, lagu ini bisa menjadi pemicu semangat dan keyakinan Anda bahwa di bumi ini tidak ada yang jelek. Manusia itu lahir dari Sang Maha Sempurna. Jadi, buang jauh rasa minder, nggak PD, dan segala macam penyakit yang berhubungan dengan itu. Not Work, you know!
Oh ya, coba deh terialin ke diri masing-masing, “I’m no beauty queen, I’m just beautiful me!” 🙂

Who says, who says you’re not perfect
Who says you’re not worth it
Who says you’re the only one that’s hurting
Trust me that’s the price of beauty
Who says you’re not pretty
Who says you’re not beautiful, who says?

Selena Gomez-Who Says

©dilanovia 21012012 01:04

Posted from WordPress for Android

Midnight Layout

Tampaknya layout tengah malam telah menjadi tradisi di tabloid tempat saya berkecimpung. Meski tengah malam, suasana tetap hidup dengan berbagai aktifitas yang dilakukan oleh para kru. Let’s see us!!!

image

image

image

image

image

image

Enjoy it!!!

KakakAbang VS MbakMas

imageActually, kenyinyiran saya ini khusus untuk Anda yang saat ini stay di Riau, khususnya Pekanbaru. Tidaknya hanya stay sih, bahkan Anda yang memang penduduk asli daerah ini. Well, telinga saya sering panas apabila saya mendengar seseorang yang ingin permisi atau ingin bertanya memakai kata sapaan “Mbak” atau “Mas”.
Saat saya di kampus atau di mana pun yang notabenenya adalah tempat-tempat umum, apabila ada yang ingin numpang lewat atau apapun yang membutuhkan interaksi dengan orang lain yang tidak dikenal, mereka sering memanggil saya dengan sebutan “Mbak”. “Permisi, Mbak”, “Mbak, mau nanya”, “Numpang lewat, Mbak”, “Mbak, bla bla bla”, “Mbak, beginiii…” “Mbak, begituuu…”. Sigh!
Mereka pada nyadar nggak sih kalau mereka itu sedang berada di Pekanbaru-Riau, yang notabenenya adalah tanah melayu, Melayu Riau!!? Dan mereka faham nggak sih kalau sebutan “MbakMas” itu tepatnya ditujukan ke siapa!!? Kenapa sih anak-anak muda di sini sukanya nyebut panggilan itu? It’s okay kalau mau menghormati, tapi saya rasa nggak cocok kalau sebutan itu digunakan di tanah melayu ini. Kenapa harus “MbakMas”? Kenapa tidak “Kakak” atau “Abang” saja? Apa karena “MbakMas” itu lebih keren? Atau mau gagah-gagahan dengan sebutan itu?
Pernah juga saya mendengar teman saya memanggil sebutan itu untuk orang, yang saya rasa sungguh-sungguh tidak tepat dan tertengar sangat maksa dan terdengar ganjil. Dia menggunakan sebutan itu kepada orang Cina! Huh.. Help me, God!
Saya sangat-SANGAT setuju dengan perkataan Yayang C. Noor beberapa waktu silam saat saya sedang lunch bersama dia dalam sebuah acara. Salah seorang teman saya memanggilnya denan sebutan Mbak Yayang. Aktris senior yang notabenenya adalah orang Minang itupun langsung menolak panggilan itu mentah-mentah. “Ngapain manggil saya Mbak. Saya bukan orang Jawa. Lagian kita sama-sama di wilayah Sumatera kok, kecuali kalau saya lagi di Jawa, ya nggak masalah. Panggil saja saya Uni!”
Great! Itu yang saya suka! Ngapain sih musti maksain diri manggil orang dengan sebutan MbakMas, padahal kita sudah tau kita itu sedang berada di wilayah mana, dengan orang-orang yang bagaimana. Kasihan banget kalau sebutan itu digunakan hanya untuk gagah-gagahan! Jatuhnya malah jadi freak!***

©dilanovia 19012012 19:02

Woody in Style # 3

Wood can also be used as a material fashion goods maker. Inspired by the wealth of flora, accessories made ​​from wood are now beginning to prevail to be worn while hang out until party. Bracelet, necklace, shoes, and sandals transformed into items of beautiful fashion. They will make unique and ethnic appearances . It’s totally classy. Suitable for the campus or worn during formal occasions. Just be creative!

*Viva La Moda*

Previous Older Entries