Bukittinggi on Vacation (Bung Hatta’s Home Births) #2

This post is 2nd post with the same tittle. Read this!

The last place that I visited, Rumah Kelahiran Bung Hatta. That place is easy to find, located not far from Jam Gadang, Jalan Soekarno-Hatta 37, Kecamatan Guguh Panjang, Bukittinggi. FREE admission! 😀

Let’s see other awesome pics!

Mamak Idris’s room. Bung Hatta’s uncle.

The dinning room

Sumur lama. Unfortunately you can’t see how the situation in that well

Gig place

Picture of Bung Hatta and his gig

Yay! The Old bike. Can you guess how old is it?

and this is the main room as the main visit

Kamar Lahir Bung Hatta (2nd floor). In this place on August 12, 1902, he was born by Aminah, Bung Hatta’s Mother. The room was a silent witness to the birth of The Proclaimers

and this is me 😀

I take this picture by my self. Use timer. 😀

Me and a boy. When I walked around the place, he came with his friends. I remember with his say. “Don’t delete this picture, sister. It can be memory”. 😀

So, this is the end of my trip in Bukittinggi all of day! So many thing that i get. The experience, knowledge, and new friends. This trip is really absolutely extremely amazing!

Thank for visiting! You’re Awesome 😉

Bukittinggi on Vacation (Bung Hatta’s Home Births)

The last place that I visited, Rumah Kelahiran Bung Hatta. That place is easy to find, located not far from Jam Gadang, Jalan Soekarno-Hatta 37, Kecamatan Guguh Panjang, Bukittinggi. FREE admission! 😀

Photo collections at Rumah Kelahiran Bung Hatta

Bung Hatta, The Proclaimers!

Let’s see another!

Kamar bujang. Located at the front left of that house

Guess room. Unfortunately you can’t occupy it.

The old sewing machine

The kitchen

Cooking appliances

>> continue to the next post

Bukittingi on Vacation (Traditional Markets)

Pasar Atas

There’s kinda aksessories that made from wood. It’s so exotic and naturaly

Leather sandals. You just pay Rp20.000-25.000 😀

And anything about hand made is available here!

Pasar Aur, Central of  Wholesaler

The Chips. Buy and give them to your family as gift

Kind of clothings. Pick anything that you want

Let’s visit this place! Shopping and Enjoy!

Bukittinggi on Vacation (Look in to the Butik)

My trip to Bukittinggi, West Sumatera, August 28, 2012. The first destination is Butik, a place that sell 2snd goods.

>> So much shirts, blouses, pants, and other clothings that you want

>> Kind of bags for man or women. Beautiful bags 🙂

>> SALE! SALE! SALE! Only pay Rp10.000,- for three shirts! 😀

>> Kind of shoes: boots, pump shoes, flat shoes, sport shoes, and many more!

>> Shoes for man and there also leather jacket B-)

So, you wanna go?

Well, you can go to The Butik via Jenjang Empat Puluh. Go along the stair-case and then turn to left. You’ll see that PLACE, The Butik. Or, if you come from Jam Gadang, you can also go along Pasar Atas. Just ask a question to the seller in that place, “where the Butik is”. I’m sure they can help you to find “your destination”.

dilanovia

Sadness Will Make You Stronger

Kesedihan merupakan sebagian kecil dari bumbu-bumbu kehidupan. Salah satu fungsi kesedihan yakni dia ada untuk mengajarkan kita bahwa segala keinginan yang ingin kita dapatkan belum tentu bisa kita miliki.
Ketika seorang anak manusia menginginkan sesuatu untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik, menurutnya, dan ketika sesuatu itu tidak bisa ia dapatkan, rasa sedih itu pasti muncul. Namun, apa mau dikata. Merasakan kesedihan memang tidak bisa dihindari. Tapi dari sanalah hendaknya muncul sebuah pemahaman bahwa segala sesuatu itu telah memiliki jalannya masing-masing. When you can’t get something yang tidak bisa kamu dapatkan, kamu boleh sedih, tapi dalam kesedihan itu milikilah kesadaran bahwa mungkin kamu memang tidak bisa atau belum bisa mendapatkan itu. Maybe sometime ada hal yang lebih baik dari keinginanmu saat ini that can you achive.
Kesedihan ada untuk membuat manusia sadar bahwa the happiness isn’t eternal. Ketika kita bahagia terhadap suatu keadaan, persiapkan diri untuk menghadapi kesedihan yang ntah kapan datangnya. It’s usually unpredictable. Dan sayangnya manusia sering lengah akan hal itu. Lihatlah sebuah roda. Dia selalu berputar. Sebentar di atas, sebentar di bawah. Perhatikan awan, dia kadang cerah secerah-cerahnya, tapi kadang dia mendung. Begitu pula air, kadang jernih, kadang keruh. Ya, semua itu ada fasenya. Terlebih manusia. Termasuk aku.
Aku, seorang anak manusia yang berusaha menerima sebuah kesedihan dengan lapang dada. Belajar menerima bahwa segala sesuatu yang kuinginkan tidak selalu bisa kudapatkan. Mencoba meniti jalan yang tak semulus kuharapkan. Merasakan sebuah pukulan telak dan belajar dan mencoba dan berusaha-sekuat-tenaga menganggap semua itu sebuah belaian lembut. Melembutkan hati dan pikiranku yang saat ini sedang kacau. Aku, seorang anak manusia yang sedang terpuruk yang mencoba tersenyum setulus hati. Aku tidak ingin terlihat lemah karena lemah adalah musuhku.
Have been chanting “everything is gonna be okay” one hundred times to make my heart better.[]

Dalam kesedihanku, Engkau ajarkanku menjadi makhluk yang kuat. Terima kasih atas kekuatan yang selalu Engkau berikan. Tuhan, aku ingin mencintaimu, lebih dan lebih.

©dilanovia 23092012 14:56

Hemat Pangkal Bahagia

Memang betul kata orang, nyari duit itu sulit, ngabisinnya gampang banget. Shit, jadi galau kalau ingat-ingat pengeluaran saya baru-baru ini. Merasa bersalah. Merasa jadi orang paling bodoh karena ngabisin uang sebanyak itu hanya dalam waktu sekejap!

Yang bikin makin terpukulnya pas orang tua menyuruh saya berhemat. Dengan berbagai alasan yang membuat saya sedih. Sedih karena kemarin-kemarin saya tidak berpikir panjang. Padahal masih ada hari esok. Banyak hal yang ingin saya gapai, untuk masa depan saya, tapi bodohnya saya tidak menyiapkan hal yang paling urgent, duit!

Kalau pun ada, rasanya apa-apa yang ingin saya dapatkan itu tidak sebanding dengan simpanan saya saat ini. Mau hemat? Mauuu sekaliii. Tapi, selalu saja ada godaan untuk shopping dan shopping dan shopping dan shopping. Susah banget kalau berurusan sama yang satu itu. Selalu merasa kekurangan dan nyesel kalau melihat benda bagus terus nggak beli. Hhh… Saya pun merasa disindir kalau sudah nonton film confession of shopaholic.

Persis sekali sifat aktris di dalam film itu dengan sifat saya. Nggak bisa melihat barang bagus. Pengennya beli terus. Nggak bisa nahan godaan. Dan ujung-ujungnya nyesel karena baru nyadar cuma buang-buang duit. Lapar mata. Tapi, namanya film tentu si aktor atau aktris selalu dimenangkan. Endingnya, si aktris sadar, barang-barang koleksinya dia jual, dan dia berhasil menahan godaan belanjanya. Semuanya terlihat lancar-lancar saja. Lha kalau di kehidupan nyata bagaimana? Apa bisa kisah nyata kehidupan semulus kisah di film-film?

Well, you know, saya ingin menang. Menang melawan nafsu belanja saya. Saya ingin hemat. Ingin sekali. Pengen punya tabungan banyak biar suatu saat, jika hal-hal buruk di luar dugaan saya terjadi, saya bisa mengatasinya. Walau “uang” bukan hal yang menjadi prioritas hidup, tapi nggak usah munafik lah, uang itu penting.

Oya, pernah terlintas pikiran bodoh saya. Jika suatu saat saya butuh uang alias bangkrut atau apalah namanya, saya ingin menjual barang-barang hasil belanja gila saya itu. I’ll open a garage sell. Itu lah satu-satunya penghibur saya dari sekian banyak penilaian negatif terhadap hobi shopping saya ini.

Ya, banyak yang memandang negatif yang namanya ‘hobi belanja’, i know that. Tapi, garage sell itu yang menjadi satu-satunya penyemangat saya. Saya tahu hobi belanja itu bukan hobi yang baik. Tapi, benda-benda hasil belanja itu bisa dijual lagi dan menghasilkan uang lagi.

I believe, di dunia ini nggak ada yang sia-sia. Walau saya dipandang menyia-nyiakan uang, mudah-mudahan “penyia-nyiaan” yang berwujud barang-barang ini dapat bermanfaat. Namun, tentunya saya tidak ingin hal itu terus berlanjut. Saya ingin hemat. Pepatah bilang, hemat pangkal kaya. Tapi, bagi saya hemat pangkal bahagia. Harus lakukan itu sekarang. Harus! []

©dilanovia 20092012 19:32

Confusion of Job Training

Welcome to Galau City!
Yeah, lagi-lagi galau gara-gara hal yang dulunya tidak terlalu saya pikirkan. Sekarang, rasanya malah jadi load.
Lebih kurang saya sudah menginjak tahun ketiga di bangku kuliah dan saat ini saya telah memasuki semester tujuh. Artinya, pada semester inilah saya harus menyelesaikan job training.
Saya ingat saat sharing dengan teman-teman tentang lokasi job training kami masing-masing. Si A pengen di sini, B di sana, masing-masing dari kami punya planing tempat job training berbeda. Hanya satu kesamaannya, letak job training itu sama-sama di pulau jawa.
Keinginan saya untuk magang di salah satu media di Pulau Jawa itu awalnya disetujui oleh kedua orang tua. Namun, saat keinginan itu saya ajukan lagi, tampaknya orang tua sangat berat mengabulkannya 😦
Saat saya mendiskusikan masalah itu kembali, orang tua mengatakan bahwa tempat magang itu terlalu “berbahaya” untuk “anak cewek” seperti saya.
“Jawa itu nggak dekat, lho” “Keluarga kita juga nggak ada di sana”
“Kalau terjadi apa-apa mau minta tolong sama siapa?”
Dan seterusnyaa..
Well, saya mengerti maksud mereka. Hal itu memang  menjadi pertimbangan saya juga. Hingga akhirnya orang tua saya menyarankan untuk magang di media massa yang adakota ini saja.
Bukan apa-apa. Honestly, i really extreamely nggak minat sama media massa yang ada di kota ini. Bukan underestimed, ya, tapi itulah yang saya rasakan. Rasa-rasanya kondisi media massa di kota ini tidak membuat saya tertantang. Melihat kualitas stasiun televisi di kota ini? [Hhh.. Sigh]. Begitu pula dengan surat kabarnya. Ya, palingan disuruh mencari tiga berita sehari. Start jam 8 atau setengah 9, terus deadline jam 4 atau jam 5. Saya bosan dengan dunia yang hanya itu dan itu dan itu dan itu saja. Bosan! Saya ingin sesuatu yang baru.
Nah, i remembered with a words that said with someone. Ntah siapa yang mengatakan, saya lupa. Kalau tidak salah Pimred salah satu media massa lokal yang ada di kota ini. Dia mengatakan, magang itu tujuannya hanya dua. Pertama, mencari ilmu, dan kedua, mencari nilai.
Ya, kalimat itu benar-benar membuat saya merenung. Kata-kata itulah yang membuat saya berpikir bahwa saya magang di Jawa benar-benar ingin mendapatkan ilmu dan pengalaman. Nothing else! Mendapatkan “pencerahan! di tengah keterbatasan ilmu dan fasilitas di kampus ini. Mendapatkan ilmu dari media massa favorit saya yang sudah sangat berkembang di Jawa sana, di tengah kondisi dan keterbatasan media massa di kota ini. Dan kalau memang hal itu tidak bisa saya raih, oke fine, magang  kali ini saya fokuskan HANYA-untuk-mencari-nilai-semata! Memenuhi jumlah SKS dan menyelesaikan semua kewajiban hingga akhirnya saya bisa meraih gelar S1 saya. Yah, mau gimana lagi 😦 Dan tentu-setentu-tentunya saya tidak mau magang di media massa yang ada di kota ini 😦 No way. Walau saya cinta mati dengan dunia jurnalistik, saya sudah bosan dengan rumus 1=3 yang diterapkan oleh media massa di sini. –”
Pertanyaannya, di manakah saya magang? Well, ada pepatah yang mengatakan, semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Yeah, saya magang di universitas tercinta ini saja 😀 Ada lokasi magang yang lebih dekat. So, kalau jauh, ya jauh sekalian, tapi kalau dekat, ya dekat-sedekat-dekatnya-sekalian. :p
Yep, sodara-sodara, awalnya saya berpikir magang ini bisa saya jalani dengan semangat empat lima, tapi sepertinya tidak. Biasa aja! []

©dilanovia 08092012 11:48

Posted from WordPress for Android

Previous Older Entries