Sekedar Singgah (Buat Akhwat, Stop Baper)

Straight to the point…

Beberapa tahun belakangan kita sudah tidak heran lagi dengan fenomena “ikhwan dan akhwat mencari jodoh”. Tiap kali ada kajian tentang jodoh nih, yang hadir banyaaak… Yang nanya ke ustadz juga banyaaak… Bahkan, kajian yang temanya nggak tentang jodoh pun adaaa aja yang nanya tentang jodoh.

Nah, saking maraknya fenomena “mencari bakat jodoh” ini, marak pula istilah “ikhwan caper akhwat baper”, “ikhwan modus”, “ikhwan bakwan”, dan lain-lain. Afwan ya, saya lebih banyak menyinggung istilah ikhwan karena (menurut saya) memang begitulah adanya 🙂 . Beberapa cerita pernah saya dengar, bahkan beberapa kali saya mengalaminya sendiri. Capek!

Biasanya kejadian berawal dari sosial media. Modus ikhwannya kelihatan kok! Mulai dari minta kenalan. Kalau nggak kita tanggepin, si dia mulai komen ini itu di postingan kita, atau nge-like postingan-postingan kita yang jadul which is he wanna show you that “gue scrolling en perhatiin postingan lu sampe habis loh”. Dengan harapan si dia terlihat “kepo” sama kamu dan kamu seneng dikepoin. Wkwkwk…

Nah, setelah itu, kalau misalkan kita tanggepin nih, dia mulai deh nanya ini itu, minta kenal lebih jauh, nanya udah punya pasangan apa belum (basi lalalala…) dan lain-lain dan lain-lain… Hingga pada akhirnya dia bilang “saya lagi cari pendamping hidup, semoga itu kamu”. Helehh…. (basi lagi…).

Sebagai seorang akhwat yang perasaannya lebih kuat daripada pikiran atau logikanya, biasanya bakalan terkena virus ba-per! Senengnya minta ampun kalo ada ikhwan yang ngomong kaya gitu ke dia. Seolah-olah jodoh sudah di depan mata. Hey! Wait! Jangan mudah percaya. Logikanya nih ya: lelaki yang benar-benar serius mencari tulang rusuknya, pelengkap deennya, bidadari surganya, nggak akan semudah itu mengeluarkan kata-kata manis. Apalagi kalau dari awal dia nggak kenal kamu sama sekali, hanya kenal via sosial media, belum pernah interaksi, dia juga nggak kenal teman-teman kamu (masih mending kalau dikenalin teman, jadi ada semacam rekomendasi dari orang-orang yang kenal kamu). Lha ini bener-bener ngeblank…

Saudari-saudariku, coba deh kita berpikir dengan logika terbalik (or whatever you call it): Will you easily convey to a man who you don’t know who the hell he is, how he is, how his faith is, how his friendship is, that you want to be his life companion, sedunia-sesurga? Ah, come on ukhti, kamu nggak se-easy ini!

Ikhwan-ikhwan yang seperti ini juga kelihatan kok saat proses “perkenalan” (maaf, saya nggak mau bilang hal semacam itu sebagai proses ta’aruf karena ta’aruf nggak sereceh ini). Lihat saja… biasanya di awal-awal perkenalan dia akan sangat aktif menghubungi atau bertanya-tanya tentang kamu. Lalu, mulai deh si dia minta foto (kalau kamu husnudzon bahwa dia memang serius ingin kenalan, jangan kasih foto yang cakep, nanti lihat tanggapan dia bagaimana, hehe…). Setelah itu, biasanya mulai deh minta telfonan. Karena… nggak puas hanya dengan visual/foto, dia mulai mencoba dengan audio/telponan. Selanjutnya, nggak puas dengan audio, dia akan minta lebih yakni dengan audio visual. Astaghfirullah…

Nah, setelah beberapa hari biasanya dia tiba-tiba menghilang, nggak ada kabar, bahkan tidak menunjukkan itikat serius untuk pengenalan lebih lanjut. Yah, begitulah!

Saya pernah mendapat informasi juga dari salah seorang teman bahwa ada laki-laki yang saat ini terobsesi dengan akhwat-akhwat berjilbab lebar. Dia memiliki imajinasi tentang si akhwat ini karena dia tertutup, apalagi bagi akhwat yang tidak posting foto sama sekali di akun sosial medianya. Nah, imajinasinya semakin tinggi. Astaghfirullah….

So, sudahlah ukhti… kalau sudah ketemu lelaki yang kaya gini jangan dimasukin hati. Jangan kepikiran apalagi sampai kebawa mimpi. Jangan baper! Kalau ada ikhwan-ikhwan yang kamu udah mencium gelagat aneh dari awal, rada nggak masuk akal dari segi proses perkenalan, sudahlah… Cuekin aja dan ambil sikap tegas bahwa kamu tidak bisa melanjutkan komunikasi dengan dia. Jangan merasa nyaman, jangan berlanjut-lanjut karena setan punya sejuta celah untuk menimbulkan fitnah.

Kalau… Kalau nih ya, dia memang benar-benar punya niat serius sama kamu, dia bakalan usaha kok untuk bagaimana caranya agar perkenalan di antara kalian berada dalam ranah yang syar’i, dia akan usaha bagaimana caranya agar bisa ta’arufan yang nyunnah.

Nah, di sinilah pentingnya kajian pra nikah, atau diklat pra nikah. Dari situ kita akan tahu bagaimana sih proses memilih pasangan yang baik, bagaimana proses ta’arufnya, tata caranya, adabnya, dan lain-lain. Penting juga sharing dengan saudara-saudara atau teman-teman kamu yang sudah punya pengalaman ta’aruf hingga akhirnya mereka menikah.

Anyway, sorry to say nih untuk para ikhwan. Kalau kalian hanya sekedar singgah, lebih baik tidak usah. Sepertinya banyak hal positif yang bisa kalian lakukan daripada sekedar modusin akhwat. Sholat lima waktu di masjid misalnya 🙂

And for my beloved ukhti wherever you are, jangan baper-baperan, jaga diri jaga hati. Remember: Bad women are for bad men and bad men are for bad women (QS. An Nur 24:26) jadi perbaiki diri aja dibanyakin, insyaaAllah yang dateng juga yang baik. And to Allah only we seek guidance and protection.[]

PS. Tulisan ini juga menjadi nasihat untuk diri saya sendiri #notetomyselffirst

❤ Dila

Di Negeri Serambi Mekkah, 13122018 0141

The Power of Istikharah

Istikharah menurut saya adalah the best medicine bagi mereka yang sedang galau, bingung, ragu-ragu ketika bertemu suatu perkara atau urusan. Mengapa? Karena pada saat seseorang istikharah, maka ia sedang berhadapan dengan Rabbul ‘Alamin. Ia sedang meminta petunjuk kepada Yang Maha Memberi Petunjuk. So, adakah jawaban yang lebih baik selain jawaban dari Yang Maha Tahu? Obviously, no!

Hal ini lah yang saya rasakan baru-baru ini. So, kalau ada yang berntanya, “emang istikharah itu manjur?”, “emang istikharah itu bisa ngasih solusi?”. Well, saya berani jawab: IYA BISA!

Mungkin saya tidak perlu cerita panjang lebar tentang apa yang saya tanyakan kepada Allah. Intinya, selama tujuh bulan saya terombang-ambing dengan perasaan dan pikiran saya sendiri. Namun, setelah benar-benar istikharah, apa yang saya galaukan bener-bener hilang. Ploong! Alhamdulillah.

Dari kejadian tersebut saya dapat belajar bahwa inti dari istikharah adalah ikhlas, pasrah, serta kelapangan hati. Pada saat sholat istikharah, hadapkanlah hati yang ikhlas dan pasrah kepada Allah. Serahkan seutuhnya kepada Allah. Usahakan jangan ada rasa “maksa” atau “ngotot” atas apa yang kita inginkan. Biarkan Allah yang menentukan caraNya, tugas kita hanya berusaha dan berdoa.

Mungkin saya galau selama tujuh bulan ya karena itu… Karena saya masih ngotot dengan apa yang saya inginkan. Di bibir bilang “ya Allah berikanlah yang terbaik, tunjukkan jalan terbaik”, tapi di hati “ya Allah… itu saja ya Allah, itu sajaaaa…”. Padahal saat itu saya sedang berhadapan dengan Rabb yang Maha Mengetahui segala isi hati. Masyaa Allah.

Namun, malam itu… Ya, malam ituu… Dimana saya berada di titik yang paling pasrah, paling tak berdaya, paling ‘ngenes’, saat itulah Allah memberikan ketenangan di hati saya. Perasaan galau selama berbulan-bulan dengan mudahnya luntur perlahan tapi pasti.

Allah memberikan jawaban dengan beberapa tanda kepada saya. Pertama, hati saya rasanya lebih tenang terhadap perkara yang sedang saya hadapi. Kedua, saya terpalingkan dengan perkara tersebut (Allah ngasih saya kondisi dimana saya lagi sibuk-sibuknya kerja sehingga tidak terpikirkan tentang masalah itu). Ketiga, perkara tersebut juga semakin menjauh dari saya. Keempat, pikiran yang awalnya terkuras dengan perkara tersebut, secara ajaib memudar.

It really work, sodara-sodara! Saya buktinya. Jadi, kalau kamu lagi galau, lagi ragu, lagi gundah, lagi bimbang, istikharah lah obatnya. Bukan curhat ke manusia, tapi curhatlah ke Allah. Demi Allah selama tujuh bulan tersebut sudah beberapa orang yang saya curhatin, tapi hasilnya nihil. Yang ada makin galau berkepanjangan. Allah-lah yang hanya mampu memberikan jawaban, jawaban terbaik dan menenangkan.[]

Jakarta, 08122018 0123

❤ DILA

*tulisan ini seharuanya diposting beberapa bulan yang lalu

Laa Tadzarnii Fardan

Rabbi laa tadzarnii fardan… Saya pikir tidak ada manusia di bumi ini yang ingin hidup sendiri. Fitrah manusia adalah bersama, berkumpul, bersosialisasi, termasuk ingin memiliki orang-orang yang dia sayangi. Yang dengan demikian mereka dapat saling berbagi, menyayangi, melanjutkan hidup.

Rabbi laa tadzarnii fardan… Bahkan seorang nabi pun tak ingin sendiri. Lihatlah Nabi Dzakariya. Betapa ia ingin memiliki putera, namun di sisi lain ia telah lanjut usia dan istrinya mandul pula. Namun, hal itu tidak menyurutkan tekadnya. Ia pun berdoa dengan doa yang sangat indah. Rabbi laa tadzarnii fardan wa anta khairur waaritsin. Masyaa Allah.

Rabbi laa tadzarnii fardan… Jika seorang nabi saja berdoa demikian, bagaimana dengan kita? Jika seorang nabi membutuhkan keturunan untuk melanjutkan perjuangannya, lantas bagaimana dengan kita? Apalagi bagi yang belum menemukan pelengkap diin-nya.[]

Ya Rabbi laa tadzarnii fardan wa anta khairur waaritsin…[]

Kota Batu, 04122018

❤ Dila

“Zulaikha” dan Aib Manusia

Dalam sebuah acara di masjid Sunda Kelapa seorang ustadz bercerita tentang Nabi Yusuf a.s.

Di tengah-tengah cerita, beliau bertanya kepada jama’ah, “Siapa nama perempuan yang menggoda Nabi Yusuf?

“Zulaikha,” jawab jama’ah kompak….

“Dari mana tahunya bahwa nama perempuan itu Zulaikha? Allah tidak menyebutnya dalam Qur’an.”

Refleks jama’ah menjawab, “Dari hadits.”

Hadits mendukung kisah yang ada dalam Qur’an dengan lebih detil…

“Mengapa Allah tidak menyebut nama Zulaikha dalam Qur’an?”

Semua jama’ah diam. Sang ustadz melanjutkan penjelasannya…

“Karena perempuan ini MASIH MEMILIKI RASA MALU. Apa buktinya bahwa ia masih memiliki rasa malu? Ia menutup tirai sebelum menggoda Yusuf. Ia malu dan tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang perbuatannya. Dan Allah menutupi aib orang-orang yang masih memiliki rasa malu di hatinya, dengan tidak menyebut namanya dalam Qur’an.”

Betapa Allah Maha Baik. Tak hanya sekali, namun berulang kali Allah menutup dosa-dosa kita. Hanya karena masih memiliki rasa malu, Allah tidak membuka identitas kita.

Pernahkah ada seseorang yang nampak baik di hadapan orang lain? Apakah benar orang itu baik atau ia tampak baik karena Allah menutup aibnya?

Jika saja mau jujur, sungguh… itu bukan karena kebaikan kita. Itu semata karena Allah masih menutupi segala aib kita. Kalo kita mau jujur, dosa dan kesalahan kita amat banyak. Jauh melebihi dosa dan kesalahan kita yang diketahui orang lain. Orang lain mungkin hanya mengetahui aib kita yang terlihat atau terdengar oleh mereka.

Sadar atau tidak sadar setiap hari banyak diantara kita yang melakukan maksiat diam diam, mencuri diam diam, korupsi diam diam, menggunjing diam diam. Setiap hari banyak diantara kita yang sadar atau tidak sadar berbohong demi sesuap nasi, mengambil hak orang lain, menyakiti orang lain. Sadar atau tidak sadar kita banyak ‘mencederai’ Allah dan manusia.

Saudaraku,

Jika saat ini kita tampak hebat dan baik dimata orang, itu hanya karena Allah taala menutupi aib dan keburukan kita. Jika tidak, maka habislah kita. Terpuruk, seterpuruk-terpuruknya. Malu, semalu-malunya. Hina, sehina-hinanya. Seperti tak ada lagi tempat tersedia untuk menerima kita.

Maka janganlah merasa sombong dan mengangap diri selalu baik serta selalu membicarakan dan menggunjing keburukan dan masa lalu orang lain.

Boleh jadi orang yang dibicarakan melakukan satu dosa tapi kita melakukan dosa lain yang bahkan lebih banyak tapi tak terlihat.

Boleh jadi dosa dan kesalahan kita jauh lebih berat dari orang yang kita bicarakan , tetapi Allah tidak membuka aib kita.

Boleh jadi orang tersebut pun mulia di hadapan Allah karena menangisi akan dosa dosa yg diperbuatnya..

Sedangkan kita menjadi hina di hadapanNya , karena bangga dengan amalan kita , yang mungkin tidak bernilai dihadapanNya.

Jadi marilah berhenti membicarakan aib dan kejelekan orang lain. Mari sibuk mengoreksi diri sendiri dan memperbaiki diri.

» Tutuplah Aib Orang Lain, Allah Akan Tutup Aib Kita

وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat” (Hadits Riwayat Imam at-Tirmidzi).[]

Dikutip dari http://t.me/semangatsubuh via WAG ODOJ Ruang Keluarga 19.

Jakarta, 31102018 2308 (after struggle with the “CAT” thing) Alhamdulillah ala kulli hal.

Lots of ❤
Dila

Jika Lelah…

Jika lelah, berbaringlah, bukan menyerah. Tak usah sembunyikan lelah. Jujurlah pada diri bahwa “aku ada batasnya”. Semesta butuh pengakuan bahwa kita memang lemah. Istirahatlah… Dan saat itu kita akan paham Laa Haulaa, tiada daya, Illah Billah, selain pertolongan Allah.

Dunia memang tempatnya lelah. Tempat bersemayam rasa lemah, penat, sakit, sedih, dan segala hal yang tidak mengenakkan hati. Tidak perlu resah, karena demikianlah adanya.

Tunggulah saatnya tiba. Dimana kita bisa istirahat dari kepenatan dengan sempurna. Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya, “Kapan seorang hamba bisa istirahat?” Beliau menjawab, ”Saat kakinya menginjak suurga”.

Ingatlah kunci utama: lillah, billah, fillah, ma’allah.

Yaa Ayyatuhan-nafsul muthma’innah. Irji’ii ilaa Rabbiki Raadhiatum-mardhiyyah. Fadkhuli fii ‘ibadi. Wadkhuli jannatii.[]

Jakarta, 24102018 2106

©noviafaradila

Mendewasa Dengan Cara Allah

v4-900px-Become-a-Good-Muslim-Girl-Step-5-Version-2

Segala hal yang ditakdirkan Allah kepada setiap hambaNya PASTI mengandung kebaikan. Meskipun kita, manusia, yang dangkal akalnya, dangkal pikirannya, memandang takdir tersebut sebagai sesuatu yang menyakitkan, menyedihkan, atau menyulitkan.
.
Tidakkah kita ingat sabdaNya, laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa. Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Jadi, tidak ada alasan untuk ragu dengan caraNya. Cara Rabbul ‘Alamin.
.
Setiap hari, minimal 17 kali, kita menyebutNya Rabb Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jadi, sekali lagi, tidak ada alasan apapun untuk ragu, meski saat ini Dia sedang membelai hati kita dengan rasa pilu. Karena, cinta dan kasih sayangnya tidak palsu.
.
Alaa bidzikrillahi tatmainnul quluub. Laa tahzan, mari mendewasa dengan cara dan takdirNya.

PS: untuk yang tersayang, ibundaku, semoga ibu lekas sembuh. Semoga Allah menghapus dosa-dosamu dan meninggikan derajatmu~

Pekanbaru, di tengah hiruk-pikuk bandara, 20102018 1849

©noviafaradila

Hakikat Kaya

Hakikat “kaya” itu bukan terletak pada banyaknya harta, namun hakikat “kaya” sesungguhnya terletak pada banyaknya AMALAN. Karena yang dibawa mati bukan harta, tapi amal sholeh.

Oleh karena itu, Rasullullah mengatakan kepada para sahabat tentang orang yang “muflis” alias orang yang bangkrut. Orang yang bangkrut bukanlah orang yang tidak memiliki harta atau orang yang banyak hutang.

Namun, orang yang bangkrut adalah orang yang di akhirat membawa banyak amalan tapi amalan tersebut habis ia berikan kepada orang lain akibat kezoliman yang ia lakukan di dunia (mencaci orang, memfitnah orang, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain). Jika amalan tersebut belum mampu membayar dosa-dosanya tersebut, maka dosa orang yang ia zalimi akan ditimpakan kepadanya. Setelah itu dia dimasukkan ke neraka. Na’udzubillahi mindzalik!

*disarikan dari Kajian Ust. Abu Ihsan Al-Atsary di Masjid Nurul Amal, Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Tambahan penulis…

Dari hal tersebut kita dapat mengambil ibrah bahwa pentingnya menjaga hubungan dengan sesama makhluk (hablumminanaas). Janganlah kita terlibat perkara dengan manusia lain dan perkara tersebut belum tuntas di dunia sehingga menyulitkan kita nantinya di akhirat. Seperti hutang, mencaci-maki, ghibah, mencuri, dan lain sebagainya.

Subhanallah, betapa beratnya berurusan dengan makhluk! Jika kita bermaksiat dengan Allah al Jabbar, kita bisa memohon ampunan, maaf, dan bertaubat. Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima Taubat. Tapi, lain hal jika berurusan dengan manusia. Manusia (dengan segala kekurangan) banyak yang sulit memaafkan kesalahan orang terhadapnya. Lisannya boleh berucap “oke, saya maafkan”, namun hatinya tidak ikhlas, perkara tersebut tidak pernah sirna dari ingatannya. Subhanallah, sungguh manusia itu lemah sekali.

Oleh karena itu, (nasihat untuk diri saya pribadi khususnya), penting sekali bagi kita agar dapat menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Jika memang kita pernah berbuat salah, maka tuntaskan perkara tersebut di dunia. Jika orang yang pernah kita zalimi sudah wafat atau benar-benar lost contact, maka doakan yang terbaik untuknya kepada Allah. Jangan sampai kita menjadi orang yang muflis. Na’udzubillahi min-dzalik. Semoga Allah tidak menggolongkan kita sebagai orang-orang muflis di akhirat kelak. Aamiin.[]

©noviafaradila 30092018 1313

Previous Older Entries