Yay!!! My Journal Has Been Published

IMG_20170413_085432

Alhamdulillah, finally this journal has been published. Yo guys.. if you need something about this journal (data, file about “drone” or UAV) feel free to ask me, or visit bnpb.go.id to download it ☺

Terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penerbitan jurnal ini. May Allah repay your kindness! Cheerss….

Di Sela-sela Tesis, Sebuah Catatan

page

Try something new, unique, and out of the comfort zone, sudah menjadi opsi bagi saya ketika memilih sesuatu. Ada berlimpah-limpah ilmu dan pengalaman yang didapat ketika mencoba sesuatu yang baru, right? Dan bagi saya, (mungkin juga bagi Anda) ilmu dan pengalaman adalah dua nilai sosial yang tidak dapat tergantikan oleh harta benda dan rupiah sekali pun.

Well, sesuatu yang baru, unik, dan keluar dari zona nyaman yang saya maksud di sini adalah penelitian yang telah dan sedang saya lakukan saat ini (efek lagi ngerjain tesis nih). Ntah karena minat atau apa pun lah namanya, tema penelitian yang dipilih baik S-1 atau saat ini selalu terkait dengan hal yang sama sekali tidak saya kenal dan pahami sebelumnya . Dan pertanyaannya, how dare you choose that issue!!? Are you crazy??!

Okay, mungkin bisa dikatakan saya mem-be-re-ni-kan-di-ri, bukan berani juga sih, tapi ya tidak nekad juga. Rasanya adrenalin ini lebih terpacu mengejar apa yang sebelumnya tidak saya kejar-kejar. Mengerjakan sesuatu yang dimulai dari nol itu lebih menantang. Tingkat kekepoan jadi jauh lebih besar. So, your effort juga jauh lebih besar tentunya.

Well, penelitian S1 saya dulu terkait dengan Blackberry. Saya sempat dikira sales promotion oleh penguji karena mengangkat smartphone yang dulu booming-nya sampe-tumpe-tumpe. Awalnya saya sempat bertanya kepada diri sendiri. Dan pertanyaannya adalah apakah saya pengguna Blackberry? Tidak. Apakah saya pernah memiliki Blackberry? Tidak. Apakah saya tahu fitur-fitur Blackberry? Sama-sekali-tidak. JADI KENAPA ITU YANG DITELITI??? Suka-suka saya dong (keep calm and do what you wanna do). More

Komputerisasi VS Smartphonisasi

I wanna write about smartphone. You know, alat komunikasi nirkabel yang disebut ‘cerdas’ itu sedang merebak dinkalangan masyarakat. Tua, muda besar, kecil kemana-mana selalu terlihat menggenggam smartphone. Bagaimana tidak, ukurannya yang hanya segenggam tangan membuat penggunanya bisa “menggenggam dunia.”
Labelnya yang “smart” menggambarkan bahwa alat tersebut bisa melakukan apa saja. Telpon atau sms? Itu sudah biasa. Smartphone didukung dengan fasilitas multi fungsi yang bisa multi tasking. Jadi,  penggunanya diservis dengan pelayanan dimana mereka bisa melakukan pekerjaan dalam satu waktu.
Well, di era ’90-an dulu, manusia digemparkan dengan penggunaan komputer. Dulu komputer dianggap barang canggih. Hal tersebut karena manusia dimudahkan dalam proses pembuatan naskah yang cepat. Lain halnya ketika mereka menggunakan mesin ketik. Bahkan, masih ada yang menggunakan tangan untuk menulis. Nah, kehadiran komputer menyulap semua pekerjaan manusia menjadi lebih mudah.
Ada istilah baru selepas itu, yakni komputerisasi. Manusia beralih dari zaman jadul ke zaman modern. Alias manusia beralih dari mesin ketik ke komputer.
Apakah teknologi  berhenti di sana? Jabwannya tentu tidak. Sekarang hadir yang namany barang ‘ajaib’ tadi yaitu smartphone. Perangkat ini dapat menggantikan peran komputer bahkan dia lebih fleksibel karena bisa di bawa kemana pun. Lain halnya ketika menggunakan komputer dimana user diharuskan stuck di tempat komputer itu berada. Kalau smartphone, sambil tiduran atau bahkan di toilet pun manusia bisa mengetahui peristiwa heboh yang tengah terjadi di belahan bumi lain.
Inilah asumsi saya bahwa saat ini telah datang era baru di dunia teknologi yang disebut smartphonisasi. Manusia beralih dari komputer ke smartphone baik untuk sekedar hiburan bahkan melakukan pekerjaan.
Lantas, ada apalagi setelah ini? Jika Anda cermat mengamati trend advertising saat ini, mana banyak sekali iklan teknologi yang menggunakan kata “smart”. Selain smartphone tentunya, lantas ada pula smart TV, bahkan dengan ekstrim mengatakan SMART LIVE.
Benarkah manusia bisa secerdas apa yang dilabelkan ke teknologi saat ini? Jawabannya ada di diri Anda masing-masing.
Era komputerisasi yang saat ini berubah menjadi smartphinisasi, apakah kelak akan berubah lagi menjadi smartliveisasi? Who knows. Tapi, idealnya ketika teknologi tumbuh semakin cerdas, maka manusia sebagai penggunanya hendaknya juga ikut  cerdas dan bukan menjadi korban teknologi.[]

©dilanovia 26042013 20:54

Pengertian Teori Difusi Inovasi

Teori difusi inovasi mulai muncul pada awal abad ke-20, tepatnya tahun 1903 oleh sosiolog Perancis Gabriel Tarde. Selanjutnya, teori ini mulai dipopulerkan oleh Rogers melalui bukunya yang berjudul Diffusion of Innovations edisi keempat tahun 1995. Dalam perkembangannya, buku ini menjadi landasan pemahaman tentang inovasi, karakteristik inovasi, mengapa orang mengadopsi inovasi, faktor-faktor sosial apa yang mendukung adopsi inovasi, dan bagaimana inovasi tersebut berproses di antara masyarakat (Steven & Tankard, 2007: 247).

Rogers mendefisinikan difusi inovasi sebagai proses sosial yang mengkomunikasikan informasi tentang ide baru yang dipandang secara subjektif. Makna inovasi dengan demikian perlahan-lahan dikembangkan melalui sebuah proses konstruksi sosial.

Jadi, teori difusi inovasi pada dasarnya menjelaskan tentang bagaimana proses sebuah ide dan teknologi baru disampaikan (dikomunikasikan) dalam sebuah kebudayaan. Pelitian difusi berfokus pada kondisi yang meningkatkan atau mengurangi kemungkinan bahwa ide baru, produk, atau praktik akan diadopsi oleh anggota dari suatu budaya tertentu. Teori ini memprediksi bahwa media serta kontak interpersonal memberikan informasi dan pengaruh, pendapat dan penilaian.

Penelitian difusi inovasi berusaha menjelaskan variabel-variabel yang mempengaruhi bagaimana dan mengapa pengguna mengadopsi media informasi baru. Rogers memfokuskan penelitian difusi inovasi pada lima unsur, yakni (1) karakteristik suatu inovasi yang dapat mempengaruhi More

Teori Determinisme Teknologi (Determinism Technology Theory)

Teori Determinisme Teknologi dikemukakan pertama kali oleh Marshall McLuhan pada tahun 1962 dalam tulisannya The Guttenberg Galaxy: The Making of Typographic Man. Ide dasar teori ini adalah bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri. Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat, dan teknologi tersebut mengarahkan manusia bergerak dari satu abad teknologi ke teknologi yang lain (Nurudin, 2011: 184).

Menurut Smith (dalam Saefullah, 2007: 28) determinasi teknologi berawal dari asumsi bahwa teknologi adalah kekuatan kunci dalam mengatur masyarakat. Dalam paham ini struktur sosial dianggap sebagai kondisi yang terbentuk oleh materialistik teknologi. Lain halnya dengan analisis Feenberg yang mengemukakan dua premis determinasi teknologi yang bermasalah. Pertama, teknologi berkembang secara unlinear dari konfigurasi sederhana kea rah yang lebih kompleks. Kedua, masyarakat harus tunduk pada perubahan-perubahan yang tejadi dalam dunia teknologi itu.

Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat, hingga akhirnya teknologi tersebut mengarahkan manusia untuk bergerak dari satu abad teknologi ke abad teknologi yang lain. Misalnya, dari masyarakat suku yang belum mengenal huruf menuju masyarakat yang memakai peralatan komunikasi cetak, ke masyarakat yang memakai peralatan komunikasi elektronik (Nurudin, 2011: 185).

McLuhan berpikir bahwa budaya dibentuk oleh bagaimana cara masyarakat berkomunikasi. Paling tidak, ada beberapa tahapan yang layak disimak. Pertama, penemuan dalam teknologi komunikasi menyebabkan More

BlackBerry dan Wartawan (BlackBerry and Journalist)

Kelebihan-kelebihan yang ada pada BlackBerry dilirik oleh wartawan di berbagai negara. Penyebabnya antara lain karena bentuk tombol dan layanan email cepat BlackBerry. Seperti yang tertulis dalam artikel berjudul “BlackBerry or iPhone, Which is Better for Journalists?” karya Etan Horowitz. Artikel yang ditulis untuk Poynter Institute (http://www.poynter.org) tersebut berisi survei yang tentang penggunaan BlackBerry dan iPhone oleh beberapa wartawan.

Horowitz menggunakan 20 orang responden untuk menjawab pertanyaan seperti, apa perangkat yang mereka gunakan, apa applikasi yang sangat berguna, dan manakah telepon genggam yang menurut mereka paling baik untuk para wartawan. Dari hasil survei tersebut, berbagai alasan pun muncul dari para wartawan yang menggunakan BlackBerry.

Salah satunya adalah Zakiya Lathan, sorang penulis lepas dan mantan produser TV Web. Lathan dan BlackBerry ketiganya, menggunakan telepon genggam ini untuk mengambil catatan selama pertemuan dan sering mulai menulis cerita walaupun dia sedang di lapangan. Lathan yang menggunakan applikasi Dokumen DataViz’s To Go ini mengaku telah menulis keseluruhan artikelnya melalui BlackBerry.

“I love the fact that my current BlackBerry has a QWERTY keyboard…. I can actually type faster on my BlackBerry than I can on a full-sized keyboard.” (wawancara dengan Lathan dalam survei Horowitz, 2009)

BlackBerry sebagai perangkat jurnalistik pun digunakan oleh Chris Krewson, Editor Online Eksekutif dari The Philadelphia Inquirer. Krewson mengatakan ia menggunakan BlackBerry-nya terutama untuk e-mail, untuk melacak masalah dengan situs web, memantau berita, dan berkomunikasi dengan rekan-rekan. Sementara itu. Gabe Travers Produser Eksekutif WSAV-TV di Savannah mengatakan karyawan stasiun menggunakan BlackBerry mereka untuk mengirim teks langsung ke situs web dari lapangan.

“This cuts out the steps needed to get information to the audience and cuts down on the time it takes to break news on the web. This feature is something we specifically developed for our content management system. We’ve used it to post updates from the courtroom, update breaking news stories and much more.” (wawancara dengan Travers dalam survei Horowitz, 2009)

Dari berbagai pernyatakan di atas, menurut hemat peneliti, BlackBerry dapat memudahkan wartawan dalam pekerjaan mereka seperti mencari dan menulis berita. Teknologi BlackBerry berperan cukup penting bagi wartawan dalam melakukan aktifitas jurnalistik.

*dikutip dari berbagai sumber yang berkaitan dengan Blackberry dan jurnalisme

©dilanovia 16022013 01:57

Sejarah BlackBerry

BlackBerry adalah merek perangkat genggam nirkabel dan layanan yang dikembangkan oleh perusahaan telekomunikasi Kanada, Research In Motion (RIM) pada tahun 1999. Mike Lazaridis dikenal sebagai pendiri dari perusahaan tersebut. Nama ‘BlackBerry’ diciptakan oleh perusahaan pemasaran, Lexicon Branding. Nama itu dipilih karena kemiripan tombol perangkat tersebut dengan biji buah berry (Juju & Matamaya, 2009: 2).

Pada awalnya, RIM memproduksi perangkat BlackBerry pertama dengan tipe 850, yang diperkenalkan pada tahun 1999 sebagai pager dua arah di Munich, Jerman. Perangkat ini disertai papan ketik (keyboard) dengan tata letak QWERTY. Sejak saat itu, tombol QWERTY telah menjadi ciri khas tersendiri untuk produk BlackBerry.

BlackBerry mengalami perubahan bentuk dari masa ke masa. Mulai dari layar monochrome hingga berwarna. Dari yang berukuran tebal hingga didesain semakin tipis. Model awal BlackBerry adalah tipe 850, 857, 950, 957. Selanjutnya, di tahun 2002-2004 BlackBerry hadir dengan model monokrom berbasis Java seperti seri 5000 dan seri 6000. Pada tahun 2005 smartphone ini hadir dengan model warna seperti seri 7200, seri 7500 dan seri 7700.

Model BlackBerry modern mulai dikenalkan di tahun 2006-2007 seperti BlackBerry Pearl (8100), BlackBerry Curve (8300), dan Huron (8800). Sedangkan untuk model terkini (tahun 2008 ke atas) terdiri dari seri More

Previous Older Entries