Catatan Akhir Bulan

We are in the end of January. Nggak kerasa udah sebulan aja kita hidup di tahun 2013 ini. Pernah terpikir nggak apa yang sudah kita lakukan selama sebulan ini? Bermanfaat atau tidak? Atau selama 31 hari ini adakah pencapaian kita atau nihil sama sekali?
Well, kalau pertanyaan itu diajukan kepada saya, jawabannya ‘ya’ dan ‘tidak’. Senang rasanya kalau ada hal-hal yang dilakukan bermanfaat untuk kita dan orang lain. Kita mendapatkan apa yang kita inginkan, kita senang, kita tersenyum bahagia.
Tapi, ada kalanya suatu hal yang menjadi target kita yang belum bisa didapat. Dan saya sedikit galau akan hal ini. Sebagai mahasiswa di semester-semester akhir, Anda pasti tahu apa yang saya maksud.
Kata orang semuanya sudah ada jalan. Ya, saya setuju akan hal itu. Tapi, pikiran, perhatian, semuanya tetap tertuju kepada hal itu. Kapan? Kapan? Kapan? Pertanyaan itu yang selalu terngingang di benak saya. Saya baru tahu begini rasanya memperjuangkan apa yang sudah saya dapatkan selama kurang dari empat tahun terakhir. Benar-benar butuh kesabaran.
Tapi, ada satu keyakinan yang amat kuat sekali yang dari dulu saya pegang. “Segala seauatu yang kita perbuat, akan dibalas dan mendapatkan hasil sesuai dengan perbuatan  itu”. Artinya, ketika kita berusaha keras, sungguh-sungguh, diiringi dengan doa dan harapan, maka akan ada hal manis yang kita petik nantinya. Semoga yang demikian juga bisa saya rasakan di ujung pertengahan tahun ini 🙂 []

©dilanovia 31012013 19:11

Advertisements

Aku Takut Menjadi Dewasa

image

Dan tiba-tiba aku takut menjadi dewasa. Pikiran kacau ini tidak bisa membuatku tidur. Jangankan tidur, memejamkan mata saja aku tak sanggup. Yang ada dibenakku saat ini adalah aku takut menjadi dewasa.
Aku teringat keluargaku, keluarga kecilku maupun keluarga besar yang ada di kampung sana. Aku teringat bagaimana mereka menjalani kerasnya hidup dan itu membuatku tidak tahan.
Bagaimana jika satu per satu mereka telah tiada? Sedangkan aku terbiasa dimanja. Bagaimana hidupku kelak? Apalagi aku keturunan pertama dari keluarga besarku. Bagaimana jadinya aku, dan adik-adiku, dan sepupu-sepupuku?
Aku takut menjadi dewasa. Menjadi tumpuan oleh keluargaku. Sedangkan aku juga butuh tumpuan. Tapi pada siapa aku bisa bertumpu? Pada siapa aku berkeluh kesah ketika orang yang aku sayangi kelak sudah tiada.
Kadang kupikir aku benci menjadi dewasa. Aku takut menghadapi kerasnya hidup. Aku adalah seorang  pengecut yang tak tahu apa-apa tentang kejamnya kehidupan.
Aku takut menjadi dewasa. Aku takut kehilangan orang-orang yang aku sayang, menggantikan posisi mereka menjadi dewasa dan tua. Aku takut, benar-benar takut. Aku takut kehilangan mereka, mereka yang benar-benar mengerti aku. Lantas ketika kau kehilangan orang yang bisa mengerti akan dirimu, pada siapa kelak kau akan mengadu? Berkeluh kesah tentang kehidupan dewasa? PADA SIAPA?
Aku takut menjadi dewasa 😦

©dilanovia 07012013 00:39