Analisis Teori Perang dalam Perang Teluk I

Oleh: Novia Faradila

Tulisan ini membahas dan menganalisis tentang teori perang pada Perang Teluk I (Gulf War) antara Irak dan Amerika Serikat bersama koalisinya. Perang ini juga dikenal dengan sebutan Perang Teluk Persia, Perang Kuwait, atau Perang Irak I. Secara khusus, tulisan ini berisi: (1) deskripsi singkat tentang Perang Teluk I yang terjadi pada 17 Januari 1991 hingga 28 Februari 1991, (2) analisis pelaksanaan perang teluk dengan teori Sun Tzu “The Art of War” (2500 SM) dan (3) teori OODA (Observe, Orient, Decide, Act), serta beberapa teori perang pendukung yang terkait dengan Perang Teluk I.

iraq vs kuwait

I. Pendahuluan
Setelah perang selama delapan tahun dengan Iran pada tahun 1980-1988, Irak mengalami kemerosotan ekonomi. Perekonomian dan infrastruktur Irak mengalami kehancuran yang membutuhkan dana sangat besar untuk memulihkan dan merekonstruksinya. Perang telah mengubah Irak dari negara yang stabil dan kaya menjadi negara yang miskin. Pada tahun 1980 Irak memiliki cadangan devisa sebesar 30 Milyar US Dollar, namun pada tahun 1988 Irak justru menjadi negara yang memiliki hutang luar negeri yang sangat besar yakni berkisar antara 100-120 Milyar US Dollar.

Negara yang dipimpin oleh Presiden Saddam Husein ini sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya. Namun, rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab dianggap Sadam Hussein sebagai perang ekonomi. Khusus kepada Kuwait dan Arab Saudi, Irak meminta agar kedua negara itu bekerjasama memelihara harga minyak yang tinggi dengan mengurangi produksi minyaknya. Irak juga meminta berulang kali agar pinjaman sebesar 40 Milyar Dollar selama perang dengan Iran dinyatakan sebagai bantuan gratis, bukan sebagai pinjaman. Irak juga meminta agar Kuwait dan Arab Saudi membantu dan memberikan kontribusi besar terhadap More

Advertisements

Cerminan Berfikir Strategis dalam Organisasi Pers Mahasiswa

©2011 Nicholas McIntoshLembaga Pers Mahasiswa (LPM) merupakan organisasi yang menjadi corong informasi khususnya bagi para mahasiswa. Kehadiran organisasi ini turut mewadahi berbagai kemampuan mahasiswa, baik dari segi tulis menulis, manajemen keuangan, dan yang paling penting adalah memupuk jiwa kerjasama antaranggota.

Kehadiran organisasi ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Mnausia yang berkecimpung di dalamnya juga harus memiliki keinginan kuat untuk memajukan organisasi sesuai dengan visi dan misi.

Berfikir strategis menjadi salah satu jawabannya, terutama bagi mereka yang berada di tampuk pimpinan. Salah satu contoh penerapan berfikir strategis dalam LPM adalah menganalisis berbagai produk dan jasa organisasi dari sudut pandang pembaca. Sebagai pemimpim umum, hal ini sangat perlu agar organisasi mengetahui bagaimana tanggapan pembaca terhadap berita dan rubrik-rubrik yang selama ini disuguhkan.

Pembaca menjadi ujung tombak dalam sebuah media cetak. Tanpa pembaca, informasi yang diberikan oleh sebuah media akan terbuang percuma. Oleh sebab itu, penerapan berfikir strategis dengan cara menganalisis produk More