Esai Populer: Eksistensi Mahasiswa dalam Pengurangan Resiko Bencana demi Tegaknya Ketangguhan Bangsa

Oleh: Novia Faradila

Letakkanlah tanganmu di atas bahuku

Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu

Di depan sana cahya kecil ‘tuk membantu

Tak hilang arah kita berjalan

Menghadapinya …

Penggalan lirik lagu Usah Kau Lara Sendiri yang dinyanyikan oleh Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya ini mengandung arti yang amat dalam bahwa manusia tidak sebatang kara dalam menghadapi beragam persoalan. Ada tangan-tangan yang siap sedia menjulurkan bantuan, meringankan beban. Begitu pula dalam ranah negara. Sejarah membuktikan bahwa semangat kebersamaan dan gotong royong bangsa telah menjadi cultural identity yang mampu menepis berbagai ancaman yang dapat menggerogoti keamanan dan ketahanan negara, termasuk ketika bencana melanda.

Membahas bencana di Indonesia memang tidak akan ada ujungnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa dari awal tahun hingga Agustus 2014 terdapat 972 kejadian bencana yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Korban hilang dan meninggal sebanyak 374 jiwa, korban yang menderita dan mengungsi sebanyak 1.764.227 jiwa, belum lagi kerusakan pemukiman sebanyak 39.823 unit[1].

Hal tersebut tak terlepas dari posisi geografis Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia. Di bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik yang memanjang dari Pulau Sumatera – Jawa – Nusa Tenggara – Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua. Dari 500 gunung api yang ada di Indonesia, 129 di antaranya masih aktif. Kondisi tersebut sangat berpotensi dan rawan bencana. Tidak salah kiranya kalangan ilmuan dunia menengarai bahwa Indonesia adalah “laboratorium bencana”. More

Advertisements

Contoh Esai untuk Syarat Pascasarjana UGM Jurusan Ilmu Komunikasi

Media Sosial: Ketika Remaja Tak Lagi Memiliki Satu “Muka”

Oleh: Novia Faradila, S.I.Kom

Sebagai “manusia digital” yang lahir dan dibesarkan di era komputerisasi dan komunikasi online, Prensky (dalam Herring, 2014) mengidentifikasikan remaja—orang muda antara usia 13-19 tahun—sebagai generasi pengguna internet tertinggi sejak akhir 1990-an. Remaja zaman kini dimanjakan dengan kemudahan berkomunikasi, memperoleh informasi, berbagi konten, serta menuliskan pendapat mereka melalui fasilitas internet. Dunia pun bagaikan dalam genggaman, semua bisa dijamah dalam sebuah layar hanya dengan ujung jari. Perlahan namun pasti, internet telah menjadi bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan remaja. Internet menjadi lumrah seperti halnya surat kabar, televisi, buku catatan, sistem surat, mesin fotokopi, mesin fax, mesin penjawab, party line (jaringan telepon komunitas), radio CB, kelompok pendukung, pusat komunitas, layanan direktori, ensiklopedia, dan perpustakaan yang telah digantikan olehnya (Berger et al., 2014).

Survei terbaru di Amerika Serikat menemukan, 95% remaja AS yang berusia 12-17 tahun terhubung dengan internet, di mana 80% dari mereka memiliki profil di situs media sosial. Hal ini berbanding cukup jauh dengan orang dewasa AS di mana hanya 78% yang terhubung internet dan 64% dari mereka berusia 30 tahun ke atas (Herring dan Kapidzic, 2014). Sementara itu, berdasarkan data yang dilansir dari suaramerdeka.com (21 Agustus 2013) riset yang dilakukan oleh Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) bersama Yahoo! mengenai penggunaan internet di kalangan remaja menunjukkan, remaja berusia 15-19 tahun mendominasi pengguna internet di Indonesia sebanyak 64%. Penggunaan internet secara massif tersebut memposisikan internet sebagai ikon baru dalam kehidupan manusia. Melalui penggunaan Computer Mediated Communication (CMC), peran komunikasi interpersonal melalui praktik face to face communication sedikit demi sedikit mulai tergantikan oleh penggunaan komputer sebagai mediator komunikasi (Pavlik dalam Sukarno, 2012).

Media sosial merupakan salah satu produk yang dihasilkan dari kekuatan internet dan sukses menghadirkan tren baru dalam proses komunikasi. Kemudahan More

Esai Beasiswa UNHAN: Disaster Management for National Defence

By: Novia Faradila, 2014

Flash floods, earthquakes, volcanic eruptions, landslides, smog, and other disasters occur in various regions in Indonesia in recent months. People not only sustain material loss, but also suffer prolonged trauma and the loss of hundreds of lives of the people of Indonesia affected by the disaster. Badan Penanggulangan Bencana Nasional (National Disaster Management Agency) in its report informs, from January to February 2014 alone there were 424 occurrences of disasters in various regions in Indonesia. Victims lost and died more than 254 people, as many as 1,447 people injured, and 1,587,219 people suffer and displaced, not to mention the damage as much as 27,790 residential units. Until recently, disasters hit Indonesia very often.

Indonesia geographically is an archipelago that lies at the confluence of three major tectonic plates of the world: the Eurasian Plate, Indo-Australian Plate, and the Pacific Plate. In the southern and eastern parts of Indonesia, lies a volcanic belt that extends from the island of Sumatra-Java-Nusa Tenggara-Sulawesi, that side of the mountains and the old volcanic plains are mostly dominated by swamps. The condition and potential hazard such as volcanic eruptions, earthquakes, tsunamis, floods and landslides. The data shows that Indonesia is one country that has a high level of seismicity in the world, more than 10 times the level of seismicity in the United States.

Disaster management is an important factor in the planning and arrangements to prepare before disaster happens and resolve the aftermath. Disaster management is a dynamic process, which was developed from the classical management functions include planning, organizing, sharing of tasks, control, and surveillance. The process also involves a wide range of organizations that must work together to strengthen the prevention, mitigation, preparedness, emergency response, and disaster recovery. Lack of knowledge about disaster management gives a lot of learning in identifying potential disaster in the environment.

Disaster management course is a way to explore the science of disaster management. The presence of these disciplines gives color to the world of education, that education is not just all about addition, subtraction, multiplication, or division, but also knowledge about the environment and disaster is very beneficial to the welfare and safety of people in a region.

Particularly in Indonesia, disaster management is very necessary to develop because as mentioned earlier, Indonesia is a disaster-prone country. It required knowledge and qualified human resources in managing the disaster. Disaster becomes a serious nuisance to the people of Indonesia, causing extensive losses whether in terms of material, economic, or environmental and often exceed the community’s ability to cope. Thus, the deeper understanding of the disaster, the more you will be able to respond better. Alert and response based on the recognition and understanding of what will happen could be able to minimize the risk of disasters that hit Indonesia.

This country has a lot of cultural diversity in him it. There are hundreds of ethnicity, language, region, and also a wide range of traditional customs spread over thousands of islands. Very regrettable if the wealth of Indonesia destroyed just because people are not able to be independent in the face of disaster that can befall on them at any time. This is where the role of the scholars in the field of disaster management is needed by the community. They spearhead communities to manage disaster at every phase, both an early phase response, recovery and rehabilitation, as well as in community preparedness phase. They also became the “right hand” of society and become “healers” to people who are being affected.

In terms of the job market, graduates of disaster management certainly has a great job market in government and private institutions are directly or indirectly related to disaster management. However, more than that disaster management is a study not only “stand” as a science. Disaster management is a discipline that “noble” in the humanitarian field. This program is able to educate the nation’s people what to do, including disaster management capabilities in the areas of communication, coordination, and advocacy of human resources and other resources in an effective, efficient, and humane nation for the sake of durability.

Disaster management is needed by the Indonesian people and even nations around the world. Having knowledge about disaster management make the Indonesian people, especially, to be a nation that is strong and tough to survive in the face of disaster, now and later.[]

Esai ini saya tulis sebagai syarat pendaftaran di Universitas Pertahanan Indonesia. Alhamdulillah saya telah melewati tahap verifikasi administrasi. Hehe.. Well, semoga esai ini bermanfaat dan menginspirasi! 

Verifikasi Administrasi UNHAN

Contoh Esai Beasiswa Tanoto

Oleh: Novia Faradila

Esai ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Beasiswa Tanoto tahun 2012/2013. Saya awali esai ini dengan perkenalan diri. Novia Faradila, demikian nama yang diberikan orang tua saya 20 tahun silam. Saya berasal dari Duri, sebuah kota kecil di Kabupaten Bengkalis, Riau. Saat ini saya menetap di Pekanbaru, Kota Bertuah tempat saya menimba ilmu di bangku kuliah.

Tahun ini adalah tahun ketiga saya sebagai Mahasiswa di Universitas Riau (UR). Program studi yang saya ikuti selama hampir lima semester ini adalah Program Sarjana (S1) Ilmu Komunikasi (Ikom) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Alasan memilih jurusan ini, menurut saya lulusan ilmu komunikasi memiliki peluang yang cukup besar dalam mendapatkan pekerjaan—baik swasta maupun pemerintah. Selain itu, saya menjatuhkan pilihan di jurusan tersebut karena terinspirasi dari artikel sebuah majalah yang mengupas tentang asyiknya menjadi seorang reporter.

Figur pada artikel tersebut yakni Wianda Pusponegoro. Saat itu ia bekerja sebagai  reporter Metro TV. Di sana diceritakan menjadi seorang reporter merupakan pekerjaan yang sangat menyenangkan. Setiap hari kita akan menemukan hal-hal baru. Penuh tantangan, kerja keras, dan banyak pengalaman. Hal itulah yang saya suka. Ilmu dan pengalaman bagi saya merupakan hal yang sangat berharga.

Pada kuliah semester pertama (2009), kecintaan saya di dunia jurnalistik pun saya salurkan dengan bergabung di Tabloid Tekad, tabloid milik Jurusan Ikom (saat itu Ikom FISIP UR masih berstatus sebagai Program Studi). More