Riau Lagi, Lagi-Lagi Riau

image

As always, sebelum tidur update informasi dulu, baca-baca situs berita online. Salah satu berita yang membuat saya tertarik adalah berita dengan judul, “Angka Korupsi Tinggi, KPK Pantau Tiga Provinsi”. Tanpa berpikir panjang (dan ntah mengapa) saya langsung menebak “pasti salah satunya adalah Riau”. And you know what? BENAR sodara-sodara.
Well, saya bukan benci dengan provinsi yang satu ini. Malah Riau adalah tanah kelahiran saya, kampung halaman saya. TAPI saya memang sudah bosan bahkan muak dengan ulah para elite di tanah melayu itu. #angry
Kasus asap yang kian tahun tidak kunjung selesai, maraknya illegal logging, korupsi dimana-mana, belum lagi merajalelanya nepotisme. Biasanya masyarakat itu bangga dengan daerahnya sendiri, tapi jujur (maaf kalau ada yang tidak berkenan), saya kok tidak bangga ya.. Maaf!
Anyway, selamat Riau dan untuk warga Riau, dari 34 provinsi di Indonesia, kita termasuk provinsi yang tingkat korupsinya tinggi. Harusnya ini menjadi bahan renungan kita semua. Sudah baikkah kita? Sudah baikkah pimpinan kita? Sudah benarkah suara yang kita sumbangkan untuk memilih mereka? Semoga ini menjadi kontemplasi untuk warga Riau semua.
Oya, satu lagi provinsi yang membuat saya tidak heran masuk “the big three” adalah Banten. Emang parah tuh pemprov korupnya. Masyarakat masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan, pembangunan juga belum merata, padahal wilayahnya luas banget.[]

©dilanovia 31032016 00:11

Advertisements

Pengalaman Mengikuti SKSD Kementerian Sosial 2015 #1

SKSD Kemsos 2015

Ini adalah pengalaman survey yang sangat berharga bagi saya. Banyak banget pengalaman yang saya dapatkan selama mengikuti kegiatan ini. Baik ilmu baru, teman baru, dan yang pasti menginjakkan kaki di tempat-tempat baru. Belum lagi saya bisa mengetahui bagaimana kondisi kehidupan masyarakat di berbagai daerah di Provinsi Riau. I absolutely happy bisa lolos seleksi dalam kegiatan ini. Thank God!

Awal mula saya mengikuti ini karena diajak oleh salah seorang teman kampus. Honestly, I don’t expect too high agar bisa lolos, apalagi saat itu saya sedang disibukkan dengan urusan proposal tesis, kegiatan kampus ke Tiongkok, belum lagi pindahan dari mess ke kos. Bisa dibilang mendaftarkan diri saat itu hanya coba-coba-mudah-mudahan-lolos. Yah, kalau nggak lolos juga nggak apa, berarti belum rezeki.

Saya pun mendaftarkan diri sebagai pewawancara. Sebenarnya, pada kegiatan ini ada dua jenis pendaftaran, baik sebagai pewawancara maupun ketua tim. Yeah, you know what, kalau mau mendaftar sebagai ketua tim, kamu harus memiliki pengalaman survey yang banyak, serta persyaratan lain yang of course I don’t have it.

Well, saya pun mengisi formulir pendaftaran yang dapat diunduh secara online di puslit.kemsos.go.id. Ada tiga bagian yang harus diisi dalam formulir tersebut, mulai dari identitas (informasi diri dasar), pengalaman survey, serta penguasaan komputer (mampu/tidak mampu). More

Riau Miskin Pemimpin Amanah?

image

Wajah Kota Bertuah kembali tercoreng dengan ulah para pengemban amanah. Bukan sekali dua kali, tapi kali ini ibarat “janjian”, berturut-turut tiga tokoh nomor satu di provinsi ini harus rela dirinya dibui.
Sebut saja Saleh Djasid, Gubernur ke-10 Provinsi Riau tahun 1998-2003 ini didakwa telah melakukan korupsi dana APBD Riau serta korupsi mobil pemadam kebakaran yang turut melibatkan Mendagri kala itu.
Selanjutnya, Rusli Zainal Gubernur ke-11 Provinsi Riau tahun 2003-2013. Dia dihukum 10 tahun penjara akibat kasus korupsi dana PON XVII yang diadakan di Riau tahun 2012.
Dan kini, yang beberapa waktu lalu menjadi buah bibir adalah Anas Maamun Gubernur ke-12 yang baru saja resmi menjabat pada 19 Februari 2014. Dia diduga terlibat sebagai penerima suap lahan di Riau yang nilainya mencapai Rp2 miliar.
Apa yang salah dengan mental pemimpin di negeri ini? Miris rasanya ketika merunut jejak langkah orang-orang nomor satu di negeri Melayu ini yang mewarisi tinta hitam, kelam…
Padahal negeri Melayu terkenal dengan budaya masyarakatnya yang amanah, santun, dan agamis. Kultur itu yang dari dulu dilekatkan erat-erat oleh para leluhur negeri. Namun, kini budaya itu terkikis oleh nafsu duniawi.
Memang, tidak ada satupun budaya di nusantara ini yang melegalkan korupsi. Tetapi apabila dihadapkan dengan nafsu ekonomi dan kepentingan politik, baik orang per orang atau kelompok, nilai luhur budaya itu luntur.
Seperti yang tampak pada ketiga pemimpin di atas. Harapan masyarakat pun sirna dengan tingkah polah mereka. Masyarakat kian hari kian tak percaya.
Lantas pertanyaannya, akankah Provinsi Riau terus didera kabut kelam yang dilakoni sendiri oleh para pemimpin negeri? Akankah negeri ini miskin pemimpin amanah?[]

©dilanovia 20102014 19:02

Surat ‘Cinta’ Untuk Gubernur Riau

Salam hormat,

Aku menghormatimu HANYA karena kau jauh lebih uzur dariku

Bukan karena kau gubernurku karena tak sedikit pun suaraku kala itu kuikhlaskan untukmu

Bukan karena tumpukan kekayaanmu yang sesuka hati bisa kau sebar untuk menjerat suara rakyat

Bukan karena prestasimu karena tak sedikit pun kulihat kinerjamu di tanah tempat kau seharusnya menjadi pelayan rakyat

Apalagi karena kharismamu karena sosok kharismatik versiku jauh meroket melebihi sosokmu

Suka tidak suka itu subjektif

Aku tidak suka kepadamu itu bukan naif

Kau anggap apa asap pekat yang tengah menggerogoti jantung rakyatmu saat ini?

Apa hanya sebuah fog mechine yang menjadi pelengkap sebuah pertunjukan di pentas seni?

Atau hanya asap-asapan pendramatisir film horor komedi?

Ah, lemah!!! Kau hanya bilang pasrah di saat rakyat tengah gelisah

Apa!!? Kau mengungsi dikala rakyat membutuhkan sosok pemimpin sejati!!?

Harus seperti inikah nasib saudara-saudaraku, tanahku, negeriku di tanganmu?

Tak sesakkah nafasmu menghirup asap yang semakin hari semakin tebal?

Tak semakin sesakkah dadamu melihat bully-an akan loyonya kepemimpinanmu?

Ayolah!!!

Buktikan jika kedudukan tinggimu bukan hanya sekedar pemuas nafsu duniamu

Buktikan, setidaknya pada orang-orang yang dulu mungkin khilaf memilihmu jika kau benar-benar pemimpin kesatria

Bukan hanya sesosok pak tua yang sebentar lagi tinggal nama digerogoti usia

rakyat yang kecewa..
Yogyakarta, 15 Maret 2014

Potensi Sungai Siak Riau Layak Dipertimbangkan

image

Amazing Day! Yes, itulah kesimpulan hari ini. Hari yang melelahkan namun sangat-sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, pagi-pagi sudah dihadapkan dengan hamparan air sungai dan rindang pepohonan di kiri-kanannya. Mata yang telah lama lelah melihat ‘pohon beton’ hari ini dimanjakan dengan pemandangan menakjubkan.
image

Saya berpikir, betapa besar potensi yang dimiliki oleh masyarakat Pekanbaru dan Riau pada umumnya? Sangat besar! Tapi sayang, ntah mereka tidak sadar dengan potensi itu atau mereka memang malas mengembangkannya. Sungai yang sebenarnya bisa dijadikan ladang uang, malah terbengkalai begitu saja.
image

Coba tengok di Belanda sana, selain sebagai sarana transportasi, sungai juga mereka manfaatkan sebagai sarana rekreasi. Tidak ada kata terbatas karena adanya sungai.Mereka mendirikan restoran di atas sungai, bahkan hotel pun di tepi sungai. Malahan, ada yang berprofesi sebagai tukai pijat di atas sungai. Dengan bermodalkan kapal sederhana, mereka memijit para pendatang di atas sungai, di alam terbuka. Bayangkan betapa nikmatnya sensasi dipijit di alam terbuka.
image

Jika bangsa lain bisa, mengapa kita tidak? Mengapa hanya rela menerima keadaan tanpa ada sebuah inovasi-inovasi? Jika masyarakat si sekitar sungai atau bahkan pemerintah perhatian dengan hal ini, dapat dipastikan akan banyak menimbulkan lapangan kerja baru, investasi, bahkan sarana rekreasi di Pekanbaru pun semakin bertambah. Sedih sekali melihat warga Pekanbaru berekreasi ke Mall, air mancur tengah jalan, bahkan di tepi jalan menikmati jagung bakar. Mau beginikah selamanya? []
image

**The pictures taken by OPPO R821
©dilanovia 04012014

Kabut Asap, Antara Ulah Manusia dan Bumi yang Menua

image

Jam dinding menunjukkan pukul 1 kurang 5 menit, dini hari. Mata saya tidak bisa terpejam sedikit pun. Padahal pagi ini ada kegiatan penting yang akan saya ikuti.
Sebenarnya bukan masalah susah tidur yang ingin saya keluhkan di tulisan ini. Tapi, asap. Ya, kabut asap. Asap yang mewarnai langit kota Pekanbaru bahkan Riau pada umumnya. Asap yang mencampuri udara yang telah kotor menjadi semakin kotor.
Awalnya pengaruh kabut asap ini tidak terlalu saya risaukan. Padahal, beberapa orang teman saya mengaku sangat terganggu dengan kabut asap ini. Ntah mengapa ketika mereka mengatakan bahwa di rumah mereka telah dipenuhi asap, anehnya di daerah tempat tinggal saya aman-aman saja.
Ya, itu kemarin. Tapi malam ini, saya merasakan apa yang mereka rasakan. Susah tidur dan ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil membuat saya harus beranjak dari kamar menuju ujung rumah di mana kamar mandi saya berada. Seketika itu, saya melihat dapur saya sudah di penuhi asap.  Penasaran dengan apa yang terjadi, saya mendongakkan kepala ke luar dan ternyata kabut asap sudah berarak hingga ke daerah tempat tinggal saya. “Selamat datang, asap”, kalimat itu yang terlintas di pikiran saya.
Peristiwa kabut asap di Riau memang menjadi bahan perbincangan di berbagai media massa lokal bahkan nasional. Negara tetangga pun merasakan dampak kabut asap ini. Malaysia dan Singapura juga terkena kabut asap yang berasal dari Sumatera, Indonesia.
Berbagai penyebab mengapa kabut asap itu eksis akhir-akhir ini menggelayut di kepala saya. Tapi saya tidak tahu persis apa penyebab sebenarnya. Apakah karena ulah tangan jahil manusia? Atau karena bumi ini sudah semakin tua? Ntahlah, saudara-saudara.[]

©dilanovia 22062013 01:09

Ngedance di Masjid An Nur Pekanbaru, Di mana Etikamu!!?

Seketika mata dan hati saya langsung panas melihat sekelompok anak-anak remaja pria sedang meliuk-liukkan badan mereka. Bukan di ruang senam, bukan di sekolah, tapi di masjid. Saya rasa tidak perlu dijelaskan masjid itu apa. Masjid yang notabenenya adalah rumah ibadah umat muslim dijadikan oleh remaja-remaja tersebut sebagai tempat latihan ngedance. Ntah apa jenis dancenya. Breakdance or whatever dengan musik hip hop yang cukup keras.
Sabtu sore, di salah satu sisi bagian luar Masjid An nur Pekanbaru, di sanalah mereka melakukan atraksi yang bagi saya SANGAT SANGAT MEMALUKAN dan TIDAK PUNYA HATI NURANI. Mereka, yang dari kalangan salah satu etnis yang jumlahnya cukup banyak di Pekanbaru, merasa tanpa bersalah melakukan atraksi memalukan itu.
Saya pertama kali melihat mereka ketika hendak mengambil air wudu’. Walau sangat kaget dan marah sekali, saat itu saya hanya diam. Tapi, perasaan itu sangat tidak tenang hingga saya selesai sholat. Lantas ketika kembali lagi, saya bertanya ke salah satu pria yang duduk disana, kelihatannya kelompok mereka juga. Saya bertanya apakah mereka menari di masjid tersebut sudah mendapatkan izin dari pengurus masjid. Jawabannya sangat mengecewakan. “Saya tidak ikut nari, yang nari mereka.”
Karena emosi saya sudah memuncak, saya berlalu begitu saja. Takut-takut emosi saya tidak terbendung. Saat lumayan jauh dari mereka, salah satu yang sedang menari tadi mendekati pria itu, mungkin dia bertanya apa yang saya tanyakan tadi.
Huh, keselnya nauzubillah! Sebenarnya hingga saat saya menuliskan cerita ini saya masih kesel. Masih belum puas, mengapa mereka berani dan tanpa hati menari di sana. Di mana pengurus masjid? Di mana hati orang-orang muslim yang melihat aksi mereka itu? Saya merasa dilecehkan sebagai umat muslim karena tempat ibadah saya dan juga Anda semua yang beraga Islam dijadikan tempat latihan ngedance. Dan satu hal lagi, saya tidak habis pikir dimana hati, perasaan, pikiran, dan rasa tenggang rasa mereka terhadap umat muslim ketika mereka menggunakan tempat ibadah untuk kegiatan mereka yang dibilang “gaul”, “modern”, atau “fungky” itu.
Semoga jika Anda yang membaca tulisan ini, dan melihat kembali aksi nggak penting mereka itu bisa ditegur kembali. Atau melaporkan ke pengurus masjid. Sekian![]

©dilanovia 08062013 19:18

Previous Older Entries