Resume Buku On War Karangan Carl von Clausewitz

contoh cover makalah

PENDAHULUAN

Tulisan ini merupakan ikhtisar dari buku On War (Vom Kriege) karangan Carl von Clausewitz. Buku ini terdiri dari delapan pokok bahasan antara lain, On the Nature of War, On the Theory of War, On Strategy in General, The Combat, Military Forces, Defence, The Attack, dan War Plans. Buku yang mulai ditulis pada tahun 1805 ini merupakan sebuah sintesa yang didasarkan pada pengalaman Clausewitz di bidang militer sebagai perwira tentara Prussia (Jerman) pada abad ke-19. Ia berpendapat bahwa dalam melakukan perang, teori juga dibutuhkan karena berfungsi untuk memberikan pengetahuan sehingga seseorang akan lebih mampu menghadapi berbagai situasi yang terjadi pada saat peperangan. Guna menyempurnakan ikhtisar ini, penulis berusaha memperoleh informasi dari berbagai sumber lain yang terkait.

PEMBAHASAN

            Clausewitz menyatakan bahwa terdapat dua alasan yang menyebabkan seseorang melakukan pertarungan dengan pihak lain, yaitu adanya rasa bermusuhan (hostile feelings) dan niat untuk bermusuhan (hostile intentions)[1]. Hal tersebut dapat terjadi di berbagai negara. Bahkan, negara yang paling beradab sekali pun dapat merasakan permusuhan satu sama lain.

Terdapat beberapa definisi tentang hakekat perang yang dikemukakan oleh Clausewitz. Pertama, war is nothing but a duel on a larger scale. Perang merupakan perkelahian antara dua lawan dalam skala besar. Kedua, war is thus an act of force to compel our enemy to do our will. Perang merupakan suatu tindakan kekerasan untuk memaksa musuh agar tunduk pada kemauan pihak lawan. Selama musuh masih memiliki kekuatan untuk bertahan, maka selama itu pula kita harus berusaha untuk menghancurkannya.

Ketiga, war is an art not a science. Layaknya sebuah seni, dalam berperang dibutuhkan  intuisi dari pimpinan militer, yaitu kejeniusan dan talenta (bakat) yang sering kali muncul di luar aturan atau kaidah. Keempat, no two wars are identical. Tidak ada dua perang yang benar-benar identik satu sama lain. Hal ini disebabkan oleh  karakteristik dari perang yang selalu ditentukan oleh tercapainya keseimbangan antara tiga  elemen dalam satu negara, yaitu pemerintah, militer, dan rakyat.

Pada pembahasan selanjutnya, Clausewitz memaparkan tentang strategi perang. Dia mendefinisikan strategi sebagai cara penggunaan pertempuran untuk mencapai tujuan perang (strategy is the use of the engagement for the purpose of the war).[2] Menurutnya, di dalam perang terdapat dua tindakan yang secara hakiki berbeda, yaitu pelaksanaan dalam setiap pertempuran yang disebut dengan taktik (tactics) dan kombinasi atau gabungan dari setiap pertempuran sehingga tujuan perang tercapai yang disebut dengan strategi (strategy). Dia menekankan bahwa strategy is the employment of the battle to gain the end of the war; it must therefore give an aim to the whole military action, which must be in accordance with the object of the war.[3]

Clausewitz juga menekankan pentingnya jalur komunikasi (line of communication). Komunikasi digunakan sebagai alat untuk saling bertukar informasi antara tentara dan basisnya. Clausewitz menyatakan, communication are to be considered as so many great vital arteries. Supplies of every kind, convoys of munitions, detachments moving backwards and forwards, posts, orderlies, hospitals, depôts, reserves of stores, agents of administration.[4] Pada saat melakukan perang, tentara membutuhkan berbagai sarana pendukung guna meningkatkan performa di medan perang, sehingga kehadiran perangkat komunikasi sangat berarti bagi mereka.

Di dalam bukunya Clausewitz juga menyinggung masalah Offence and Defence (penyerangan dan pertahanan). Kedua hal tersebut merupakan dua kegiatan utama dalam perang. Dia menyatakan bahwa pada dasarnya kedua pihak yang berperang sama-sama memiliki inisiatif kuat untuk melakukan penyerangan, sehingga tidak ada istilah pertahanan. Namun, masing-masing tidak menginginkan untuk menyerang pada waktu yang bersamaan. Pihak yang satu mungkin akan menunggu sampai mempunyai kekuatan yang cukup dan karenanya untuk sementara mengambil posisi bertahan. Posisi ini pada gilirannya menjadi kuat sehingga dapat melakukan penyerangan. Bertahan tidak dapat diartikan pasif tetapi mengandung dua arti, yaitu menunggu dan menangkis. Clausewitz berpendapat bahwa bentuk pertahanan dari perang lebih kuat daripada penyerangan. Namun, dia menyatakan, every suspension of offensive action, either from erroneous views, from fear or from indolence, is in favour of the side acting defensively.[5]

Dalam pembahasan mengenai serangan (The Attack), Clausewitz menyatakan bahwa kesuksesan dalam menyerang dihasilkan dari kekuatan yang unggul, baik secara fisik maupun mental. Jika kekuatan dari serangan itu mengarah ke perdamaian, hal tersebut menandakan tujuan perang hampir tercapai. Ada serangan strategis yang menyebabkan perdamaian langsung, tetapi kasus seperti itu jarang terjadi. Kebanyakan adalah mereka mengarah ke titik di mana kekuatan yang tersisa hanya cukup untuk menjaga pertahanan dan menunggu untuk berdamai. Namun, pada tahap selanjutnya serangan yang dihasilkan bahkan jauh lebih kuat daripada serangan awal.

Perihal menghancurkan kekuatan lawan, Clausewitz menyatakan bahwa hal tersebut merupakan jalan terakhir yang dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Menyerang benteng atau sebagian dari wilayah musuh merupakan sebuah penghancuran yang dapat menyebabkan kerusakan, bahkan kerusakan yang lebih besar. Dalam hal ini ia menekankan bahwa penghancuran memang merupakan sarana utama, tapi bukan jalan satu-satunya. We must always consider means of this description as small investments, from which only small profits are to be expected; as means suited only to very limited state relations and weak motives. Then they are certainly better than battles without a purpose—than victories, the results of which cannot be released to the full.[6]

Clausewitz juga mengembangkan konsep Center Of Gravity (CoG) yang diartikan sebagai pusat dari semua kegiatan dan gerakan. a centre of power and movement, will form itself, on which everything depends; and against this centre of gravity of the enemy, the concentrated blow of all the forces must be directed.[7] Dia menjelaskan bahwa penentuan CoG akan membawa dampak yang besar, sehingga para pemimpin militer harus mampu mengidentifikan CoG tersebut dan mengkonsentrasikan seluruh kekuatannya pada titik itu. Pada zamannya, CoG yang terpenting adalah angkatan darat musuh, sedangkan prioritas kedua adalah ibu kota musuh yang harus diduduki. Clausewitz juga merujuk pada CoG yang lain, yaitu personality atau pemimpin negara dan public opinion atau pendapat publik.

KESIMPULAN

Teori perang berfungsi untuk memberikan pengetahuan agar seseorang lebih mampu menghadapi berbagai situasi yang terjadi pada saat peperangan. Clausewitz pun menekankan perbedaan perang dengan  aktifitas manusia yang lain. Di mana perang  merupakan penggunaan kekuatan yang terorganisir di mana hasilnya berupa pertumpahan darah tak terelakkan dengan maksud memaksa musuh melakukan apa kehendak kita. Salah satu pokok pemikiran Clausewitz yang terkenal tentang perang yakni war is an art and not a science. Oleh karena itu, perang tidak hanya terbatas pada seperangkat aturan yang digunakan sebagai penuntun tindakan, namun keberhasilan perang juga tergantung pada intuisi dari pimpinan perang. Dalam perang pun strategi juga dibutuhkan sebagai cara penggunaan pertempuran untuk mencapai tujuan perang. Clausewitz juga menjelaskan tentang penghancuran pihak musuh di dalam perang, namun menurutnya penghancuran memang merupakan sarana utama, tapi bukan jalan satu-satunya.

DAFTAR PUSTAKA

Clausewitz, Carl von. 1984. On War. (Terj. dari Vom Kriege. Princeton University Press. Michael Howard dan Peter Paret). New York: Oxford University Press.

Sumakul, F. Willy. 2014. Falsafah dan Teori Perang: Warisan Carl Von Clausewitz yang Masih Relevan Sampai Saat Ini. Diakses dari http://www.fkpmaritim.org/falsafah-dan-teori-perang-warisan-carl-von-clausewitz-yang-masih-relevan-sampai-saat-ini/ pada tanggal 9 September 2014 pukul 10:40

On War. (Trans. James John Graham). Diakses dari The Clausewitz Homepage: http://www.clausewitz.com/readings/OnWar1873/TOC.htm pada tanggal 13 September 2014 pukul 14:12

[1] Dikutip dari Carl von Clausewitz, On War, (New York: Oxford University Press, 1984). hlm. 14.

[2] ibid., hlm. 133.

[3] Carl von Clausewitz. On War. (Book 5 Chapter 1). Diakses dari The Clausewitz Homepage: http://www.clausewitz.com/readings/OnWar1873/BK3ch01.html pada tanggal 13 September 2014 pukul 14:12

[4] ibid., (Book 5 Chapter 16) http://www.clausewitz.com/readings/OnWar1873/BK5ch16.html

[5] ibid., (Book 6 Chapter 1) http://www.clausewitz.com/readings/OnWar1873/BK6ch01.html

[6] ibid., (Book 7 Chapter 6) http://www.clausewitz.com/readings/OnWar1873/BK7ch06.html

[7] ibid., (Book 8 Chapter 4) http://www.clausewitz.com/readings/OnWar1873/BK8ch04.html

2 Comments (+add yours?)

  1. Sat
    Apr 03, 2015 @ 06:00:54

    maaf apakah buku on war ini memiliki edisi terjemahan indonesia?
    Terima kasih seelumnya

    Reply

  2. Makmur Supriyatno
    Jul 03, 2016 @ 06:59:47

    Buku ini sudah diterjemahkan menjadi “Tentang Perang” terjemahan dari On War tulisan Carl Von Clausewitz Bagian I yang terdiri dari Buku I, II dan sebagian Buku III. Bisa dipesan di Bukalapak.com

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: