Saat Kehidupan Mengecewakanmu…

Lifetitle

Pada tulisan-tulisan sebelumnya, saya pernah beberapa kali mengatakan bahwa hidup yang mulus-mulus saja itu nggak enak. Ngaak ada tantangan yang memacu adrenalin dan semangat untuk mengembangkan hidup. Manusia cenderung terlena ketika hidupnya sudah berlimpahan bahagia.

Namun, memang tidak bisa dinafikan bahwa  hidup yang penuh kerikil itu juga “melelahkan”. Melelahkan dalam artian kita harus ekstra memutar otak dan menyiapkan tenaga untuk melawan kerikil-kerikil itu. Tak jarang banyak yang menyerah atau malah putus asa, tapi sejenak mari kita ingat bahwa Tuhan memberikan ujian sesuai dengan kemampuan makhlukNya. And I totally don’t doubt it!

Well, saat kehidupan mengecewakanmu, walaupun sulit, tetaplah optimis dan berpikiran positif. Ingatlah selalu ada alasan dari setiap kejadian yang terjadi padamu, dalam hal ini percayalah bahwa rasa sakit dan rasa kecewamu adalah tahapan hidup yang akan mendewasakanmu. Dari rasa sakit kamu akan mengerti indahnya keberhasilan yang sedang kamu usahakan. Kamu mulai bisa becermin dan belajar dari kesalahan-kesalahan yang membuat rencana hidupmu berantakan.

Remember, everything in this life is only temporary. Jika saat ini kamu merasa hidupmu sulit dan seluruh dunia menertawakanmu, maka tegarlah. Semua itu hanyalah fase hidup yang akan terlewati seiring dengan waktu. Nggak perlu membuang waktu dengan berkeluh kesah. Not work, guys. Itu tidak akan membuat hidupmu bertambah baik. Justru kamu akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kehidupan. Kalau kamu kehilangan mimpi, itu bukan berarti akhir dari hidupmu. Wake up and look for a new dream!

Coba buktikan ke dunia bahwa kamu itu kuat. Manusia dikatakan kuat, bukan karena dia tidak pernah jatuh atau gagal. Orang yang kuat adalah mereka yang akan selalu bangkit dan meneruskan kehidupan sekalipun hidup terus menekan dan memaksa mereka menyerah. Hal yang paatut kamu ingat adalah di atas langit masih ada langit. Di dunia yang luas ini masih banyak orang-orang yang bernasip lebih buruk. So, stop weep for yourself.

Move on dan terus menjalani hidupmu adalah jalan satu-satunya yang bisa kamu lakukan saat kehidupan tidak berjalan sesuai rencana. Jangan takut untuk kembali mencoba, tak perlu ragu untuk kembali bermimpi dan menata kehidupan. Jangan biarkan kenyataan pahit dan kerasnya hidup malah menggelapkan dan mengeraskan hati.

So, guys, anyone who is being let down by life, just remember, when you feel the happiness door is closed for you, find a new happiness door by opening your eyes, your ears,  and your heart. 🙂 []

source

©dilanovia 01092014 00:16

Advertisements

Contoh Esai untuk Syarat Pascasarjana UGM Jurusan Ilmu Komunikasi

Media Sosial: Ketika Remaja Tak Lagi Memiliki Satu “Muka”

Oleh: Novia Faradila, S.I.Kom

Sebagai “manusia digital” yang lahir dan dibesarkan di era komputerisasi dan komunikasi online, Prensky (dalam Herring, 2014) mengidentifikasikan remaja—orang muda antara usia 13-19 tahun—sebagai generasi pengguna internet tertinggi sejak akhir 1990-an. Remaja zaman kini dimanjakan dengan kemudahan berkomunikasi, memperoleh informasi, berbagi konten, serta menuliskan pendapat mereka melalui fasilitas internet. Dunia pun bagaikan dalam genggaman, semua bisa dijamah dalam sebuah layar hanya dengan ujung jari. Perlahan namun pasti, internet telah menjadi bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan remaja. Internet menjadi lumrah seperti halnya surat kabar, televisi, buku catatan, sistem surat, mesin fotokopi, mesin fax, mesin penjawab, party line (jaringan telepon komunitas), radio CB, kelompok pendukung, pusat komunitas, layanan direktori, ensiklopedia, dan perpustakaan yang telah digantikan olehnya (Berger et al., 2014).

Survei terbaru di Amerika Serikat menemukan, 95% remaja AS yang berusia 12-17 tahun terhubung dengan internet, di mana 80% dari mereka memiliki profil di situs media sosial. Hal ini berbanding cukup jauh dengan orang dewasa AS di mana hanya 78% yang terhubung internet dan 64% dari mereka berusia 30 tahun ke atas (Herring dan Kapidzic, 2014). Sementara itu, berdasarkan data yang dilansir dari suaramerdeka.com (21 Agustus 2013) riset yang dilakukan oleh Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) bersama Yahoo! mengenai penggunaan internet di kalangan remaja menunjukkan, remaja berusia 15-19 tahun mendominasi pengguna internet di Indonesia sebanyak 64%. Penggunaan internet secara massif tersebut memposisikan internet sebagai ikon baru dalam kehidupan manusia. Melalui penggunaan Computer Mediated Communication (CMC), peran komunikasi interpersonal melalui praktik face to face communication sedikit demi sedikit mulai tergantikan oleh penggunaan komputer sebagai mediator komunikasi (Pavlik dalam Sukarno, 2012).

Media sosial merupakan salah satu produk yang dihasilkan dari kekuatan internet dan sukses menghadirkan tren baru dalam proses komunikasi. Kemudahan More

Merantau

image

Tiba-tiba hati ini rasanya nyess banget pas lihat display picture BBM salah seorang teman tentang merantau. Kalimat demi kalimat yang tertulis bikin pilu hati. Pas banget dengan momen-momen dimana sebentar lagi saya harus merantau, meninggal kan keluarga yang sangat saya cintai.
Rasa sedih seketika menyerbu hati ini. Membayangkan bagaimana nantinya di negeri orang, dan yang pasti menahan rindu kepada orang tua itu nggak ada obatnya. Homesick is the worst thing for me.
Ah, ini nih yang nggak paling saya suka kalau sudah mau merantau. Ngebayangin say goodbye di bandara sama orang tua itu rasanya ngaco banget. Apalagi sempet Ibunda tercinta menitikkan air mata, haduh itu langsung bikin retak hati.
Tapi mau bagaimana lagi. Terlepas dari rasa sedih, pilu, gundah gulana pisah dan jauh dari orang tua, merantau benar-benar membuat saya bisa berbenah diri menjadi lebih baik. Mengerti bagaimana susah dan kerasnya hidup di negeri orang. Belajar bagaimana bertahan dan beradaptasi dengan orang lain dari berbagai latar belakang. Tidak dapat saya pungkiri, merantau merupakan salah satu proses menuju pendewasaan. Semogaa..

Merantaulah… agar kau tau bagaimana rasanya rindu dan kemana kau harus pulang

Merantaulah… engkau akan tahu betapa berharganya waktu bersama keluarga

Merantaulah… engkau kan mengerti alasan kenapa kau harus kembali.

Merantaulah… akan tumbuh cinta yang tak pernah hadir sebelumnya, pada kampung halamanmu, pada mereka yang kau tinggalkan

Merantaulah… engkau akan menghargai tiap detik waktu yang kamu lalui bersama ibu, bapak, adik, kakak, ketika kamu pulang ke rumah.

Merantaulah… engkau kan lebih paham kenapa orang tuamu berat melepasmu pergi jauh

Merantaulah… engkau kan lebih mengerti arti sebuah perpisahan

Merantaulah… semakin jauh tanah rantauan, semakin  jarang pulang, semakin terasa betapa berharganya pulang

Sekali lagi, merantaulah… engkau kan tahu kenapa kau harus pulang dan tahu siapa yang akan kau rindu…[]

©dilanovia 03082014

Belajar Keluar Dari Zona Nyaman

image

Siapa yang nggak senang berada di zona nyaman mereka? Berada di zona itu benar-benar melenakan. Kerjaan nyantai, bisa senang-senang, nggak ada tekanan, pokoke rasanya udah settle deh.
Sempat terlintas di benak saya bahwa berada di zona nyaman itu suatu keberuntungan yang luar biasa.  Kuliah di bidang studi yang saya inginkan, tanpa paksaan, tanpa tekanan. Aktif di organisasi yang juga sesuai bakat dan minat. Ditambah pula kerja yang memang sesuai dengan ‘genre’ saya di kampus. Rasanya itu sebuah anugerah luar biasa dari Tuhan. Menjalani kuliah, organisasi, dan kerja kala itu bukan sebuah beban, malah sesuatu yang menyenangkan dan menghasilkan pula!
Tapi ternyata semua nggak semulus yang saya pikirkan sejak saya dihadapkan pada dua persimpangan jalan yang harus saya pilih. Yang satu benar-benar comfort tapi agak sedikit membebani orang tua, dan yang satu bisa nyenengin orang tua dan meringankan beban mereka.
Sebagai anak yang baik (baca: tahu diri :p) saya memilih opsi kedua. Dan saat itu saya sadar sesadar-sadarnya bahwa ketika pilihan itu saya tetapkan, saya harus berbenah diri untuk keluar dari comfort zone saya.
Terasa sakit dan menyedihkan, memang. Semua rencana yang telah saya tata rapi bertahun-tahun lalu harus saya bongkar dan memasang kembali pondasi baru. Rasanya ada berton-ton beban baru di pundak ini, tapi sebagaimana ungkapan bijak mengatakan, hidup adalah pilihan dan setiap pilihan pasti ada resikonya.
By the way, saya menemukan sebuah artikel yang bertema kenapa kita harus keluar dari zona nyaman kita sendiri. Artikel ini menjadi oase buat saya dan lumayan mengobati kegalauan hati. Walau nggak bisa dinafikan hingga saat ini rasa galau itu masih ada. Tertutupi rasa berbesar hati untuk keluarga khususnya orang tua.
Nah, di artikel ini alasan-alasan kenapa harus meninggalkan zona nyaman ini mungkin akan membuka mata untuk kembali berkembang. Insyaallah.

1. Masa Depan Adalah Hal Yang Tidak Pasti
Kita gak akan pernah tau apa yang akan terjadi. Memprediksi masa depan itu seperti berjalan di tengah kegelapan yang sunyi: kita gak akan pernah tau kapan kita akan menabrak dinding atau jatuh ke jurang. Perubahan akan selalu terjadi, dan kalau kita menyangkal itu, kamu gak akan survive. Charles Darwin menulis: “Survival for the fittest”. Keberlangsungan hidup hanya akan dipertahankan bukan oleh yang paling kuat, melainkan yang paling sanggup beradaptasi terhadap perubahan. Kalo kita merasa takut sama perubahan, justru inilah saatnya untuk keluar dari gua nyaman.

2. Tidak Melakukan Apa-apa Hanya Akan Membuatmu Membenci Dirimu Sendiri
Tinggal di zona nyaman itu emang enak dan aman pada awalnya. Tapi akan tiba saat di mana kita akan menyesal karena memilih untuk gak ngapa-ngapain dan akhirnya kita sadar bahwa hidup itu sangat membosankan. Lebih baik mati karena berusaha menjalani hidup yang “hidup” tanpa rasa sesal dan malu di kemudian hari, daripada menyesal hanya karena kita gak berani keluar dari zona nyaman.

3. Perjalanan Ke Luar Zona Nyaman Itu Layak Untuk Dikejar
Perjalanan menuju ke luar goa nyaman mungkin bakal penuh cobaan dan kesulitan. Emang gak bakal semudah tetap tinggal di zona nyaman, tapi itu adalah hal yang layak untuk dikejar. Rintangan-rintangan yang kita temui sepanjang jalan akan bikin kita lebih kuat dan sanggup bertahan dari ketidakpastian hidup. Mengejar kebahagiaan mungkin akan didahului dengan kenyataan yang kejam, tapi jangan gentar dulu. Persiapkan diri dan nikmati tiap langkahnya karena yang paling penting itu bukan
tujuan akhir, tapi prosesnya.

4. Kamu Akan Menemukan Sesuatu Yang Berharga
Joseph Campbell pernah berkata, “Gua yang takut kamu masuki menyimpan harta karun yang kamu cari”. Harta karun bisa berupa apapun yang bagi kita sangat berharga. Sejarah mencatat pahlawan-pahlawan luar biasa yang berani menantang zona nyaman dan menemukan hal yang berharga. Jadi buat apa kuatir? Percaya pada diri sendiri dan terjunlah dari zona nyaman karena kita hidup dengan keyakinan.

5. Kamu Akan Tumbuh Menjadi “seseorang”
Kita punya potensi untuk menjadi “seseorang” di dalam diri kita, dan gak akan tau itu kecuali kita berkembang. Petualangan di luar zona nyaman bisa memberi kesempatan untuk tumbuh secara spiritual dan menyesuaikan diri. Bumi terus berputar. Hidup penuh dengan paradoks yang cuma bisa kita pahami jika berkembang menjadi dewasa di dalam diri kita.

6. Kamu Akan Menemukan Tujuan Hidupmu
Tujuan paling penting dalam hidupmu bukan ditentukan oleh nasib, melainkan harus kita temukan sendiri. Kita baru bisa menemukan tujuan ini jika kita sudah berani keluar dari zona
nyaman, karena tujuan hanya bisa ditemukan lewat perjalanan. Kalau kita tetap tinggal di zona nyaman sambil merenungi tujuan hidup, bisa dipastikan kita tidak akan memecahkan teka-teki itu. Tujuan hidup gak akan kita temukan kecuali berangkat dari zona nyaman.

7. Kamu Akan Mencapai “Nirwana”
“Nirwana” bisa diartikan sebagai bentuk tertinggi dari pencapaian manusia. Itu adalah keadaan yang luar biasa dalam mengatasi rasa takut dan nafsu. Nah, perjalanan keluar dari zona nyaman akan menguji kita secara mendalam untuk mengatasi rasa takut akan ketidakpastian dan meniadakan keinginan-keinginan yang gak penting. Jika bisa mengatasi semua itu, kita bisa mencapai kebahagiaan yang kita cari cari sepanjang hidup.~

Well, melakukan nasehat-nasehat di atas memang nggak semudah saat membaca. Saya pun sadar, keluar dari zona nyaman memang gak menjamin bisa mendapatkan apa yang saya inginkan. Tapi yang pasti, saya berharap akan ada banyak hal yang bisa saya temukan bila berani keluar dari zona nyaman yang sudah saya jalani selama ini.
At least, it’s not impossible to be real as long as I keep walking. Don’t be too fast or too slow. Semoga niat tulus untuk membahagiakan orang tua dan keluarga besar dibalas olehNya.
Ya, Rabb, kumohon tuntun aku di jalanMu, kuatkan aku ketika lemah, ajari aku untuk tulus ikhlas menapaki ini semua. Amin.[]

Inspired by hipwee. Picture courtesy of Lala Bohang

©dilanovia 02082014 20:56