Harkitnas atau Harsuhnas?

153028020160520-151146780x390

Lagi, lagi, dan lagi, hari-hari bersejarah di negeri ini dicederai oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Tepat hari ini, hari kebangkitan nasional atau harkitnas, masyarakat yang katanya beradab, malah bertingkah tanpa adab. Demonstrasi yang awalnya damai di depan kantor KPK Jalan HR Rasuna Said, berubah menjadi aksi anarkis. Duh, miris!

Masih segar dalam ingatan kita bahwa di lokasi yang sama, Senin, 9 Mei 2016 lalu mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melakukan aksi unjuk rasa. Namun, demonstrasi tersebut tidak berlangsung separah hari ini.

Namun, tidak dengan demo kali ini. Para pengunjuk rasa melempari polisi dengan batu, kayu, bahkan anak panah. Akibatnya, polisi antihuru-hara terpaksa melemparkan gas air mata dan tembakan water canon.

Mengapa tidak bisa belajar dengan kejadian yang sudah-sudah? Demo yang terjadi selalu saja berubah ricuh. Yang rugi siapa? Tentu yang rugi bukan saja pemerintah, tapi juga para demonstran itu sendiri. Fasilitas publik rusak, ada korban yang terluka, bahkan tidak sedikit yang meregang nyawa. More

Advertisements

Riau Lagi, Lagi-Lagi Riau

image

As always, sebelum tidur update informasi dulu, baca-baca situs berita online. Salah satu berita yang membuat saya tertarik adalah berita dengan judul, “Angka Korupsi Tinggi, KPK Pantau Tiga Provinsi”. Tanpa berpikir panjang (dan ntah mengapa) saya langsung menebak “pasti salah satunya adalah Riau”. And you know what? BENAR sodara-sodara.
Well, saya bukan benci dengan provinsi yang satu ini. Malah Riau adalah tanah kelahiran saya, kampung halaman saya. TAPI saya memang sudah bosan bahkan muak dengan ulah para elite di tanah melayu itu. #angry
Kasus asap yang kian tahun tidak kunjung selesai, maraknya illegal logging, korupsi dimana-mana, belum lagi merajalelanya nepotisme. Biasanya masyarakat itu bangga dengan daerahnya sendiri, tapi jujur (maaf kalau ada yang tidak berkenan), saya kok tidak bangga ya.. Maaf!
Anyway, selamat Riau dan untuk warga Riau, dari 34 provinsi di Indonesia, kita termasuk provinsi yang tingkat korupsinya tinggi. Harusnya ini menjadi bahan renungan kita semua. Sudah baikkah kita? Sudah baikkah pimpinan kita? Sudah benarkah suara yang kita sumbangkan untuk memilih mereka? Semoga ini menjadi kontemplasi untuk warga Riau semua.
Oya, satu lagi provinsi yang membuat saya tidak heran masuk “the big three” adalah Banten. Emang parah tuh pemprov korupnya. Masyarakat masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan, pembangunan juga belum merata, padahal wilayahnya luas banget.[]

©dilanovia 31032016 00:11

Pribadi Reaktif vs Pribadi Responsif

Respond-React

Seberapa sering kita mendengar kata responsif? Lalu apa perbedaannya dengan reaktif?

Pribadi reaktif mendahulukan emosi (menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, dll) daripada jalan keluar. Mudah kecewa menghadapi kritikan dan cenderung menuntut orang lain memahami dirinya, daripada berusaha memahami orang lain. Pribadi reaktif ini kurang tanggap akan betapa pentingnya memperbaiki diri. Ini karena pribadi reaktif lebih menuntut orang lain melakukan sesuatu daripada dirinya sendiri.

Orang yang bersikap reaktif baik di kantor, organisasi, maupun di lingkungan bisnis, cenderung kurang disukai banyak orang. Ya, karena pribadi reaktif ini lebih memikirkan diri sendiri daripada orang lain.

Berbeda halnya dengan pribadi responsif. Pribadi responsif lebih mengutamakan tanggung jawab daripada emosi. Bijak dalam menghadapi kritikan karena dia selalu berusaha memahami orang lain. Pribadi responsif selalu mengajak dirinya sendiri untuk lebih memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan, bukan apa yang seharusnya orang lain lakukan.

Nikmatnya menjadi pribadi responsif ini adalah di mana pun berada, baik di kantor, organisasi, maupun lingkungan bisnis, dia disukai banyak orang. Ini karena sikap tanggung jawabnya yang lebih memikirkan apa yang bisa dia lakukan.

Jadi mana yang mencerminkan diri kita selama ini? Reaktif atau responsi? Jika diri kita lebih mencerminkan pribadi reaktif, jangan berkecil hati. Masih ada waktu untuk memperbaiki diri dan SEKARANG lah yang tepat untuk BERUBAH menjadi pribadi responsif.

Caranya? Mari bertanya di dalam hari kita. “Tindakan terbaik apalagi yang bisa saya lakukan hari ini?” Kemudian lakukan segala sesuatunya dengan sepenuh hati. Selamat menjadi pribadi responsif![]

dilanovia 22122015 01:17
Copy right. Aini Fauziah (Ainileadershipcentre)

Di Sela-sela Tesis, Sebuah Catatan

page

Try something new, unique, and out of the comfort zone, sudah menjadi opsi bagi saya ketika memilih sesuatu. Ada berlimpah-limpah ilmu dan pengalaman yang didapat ketika mencoba sesuatu yang baru, right? Dan bagi saya, (mungkin juga bagi Anda) ilmu dan pengalaman adalah dua nilai sosial yang tidak dapat tergantikan oleh harta benda dan rupiah sekali pun.

Well, sesuatu yang baru, unik, dan keluar dari zona nyaman yang saya maksud di sini adalah penelitian yang telah dan sedang saya lakukan saat ini (efek lagi ngerjain tesis nih). Ntah karena minat atau apa pun lah namanya, tema penelitian yang dipilih baik S-1 atau saat ini selalu terkait dengan hal yang sama sekali tidak saya kenal dan pahami sebelumnya . Dan pertanyaannya, how dare you choose that issue!!? Are you crazy??!

Okay, mungkin bisa dikatakan saya mem-be-re-ni-kan-di-ri, bukan berani juga sih, tapi ya tidak nekad juga. Rasanya adrenalin ini lebih terpacu mengejar apa yang sebelumnya tidak saya kejar-kejar. Mengerjakan sesuatu yang dimulai dari nol itu lebih menantang. Tingkat kekepoan jadi jauh lebih besar. So, your effort juga jauh lebih besar tentunya.

Well, penelitian S1 saya dulu terkait dengan Blackberry. Saya sempat dikira sales promotion oleh penguji karena mengangkat smartphone yang dulu booming-nya sampe-tumpe-tumpe. Awalnya saya sempat bertanya kepada diri sendiri. Dan pertanyaannya adalah apakah saya pengguna Blackberry? Tidak. Apakah saya pernah memiliki Blackberry? Tidak. Apakah saya tahu fitur-fitur Blackberry? Sama-sekali-tidak. JADI KENAPA ITU YANG DITELITI??? Suka-suka saya dong (keep calm and do what you wanna do). More

#PrayforParis

prayforparis

Lagi-lagi kabar duka akibat serangan teroris menghebohkan masyarakat. Sebagaimana diberitakan hari ini telah terjadi peristiwa serangan teror di Paris. Sebanyak 153 orang dilaporkan tewas dalam serangan teroris secara beruntun di enam lokasi di negara yang terkenal dengan Menara Eifel tersebut. ISIS mengklaim bahwa merekalah yang mendalangi peristiwa tersebut. Melalui akun media sosialnya, kelompok ini juga berencana akan menyerang London dan Roma.

Well, serangan tersebut tentu saja sangat mencoreng peri kemanusiaan. Nyawa Maysarakat sipil yang tidak bersalah hilang begitu saja. Seorang istri kelihalangan suaminya, anak-anak kelihalangan orang tuanya, adik kehilangan kakaknya. Begitu menyedihkan.

Siapakah individu atau kelompok yang “benar-benar” harus bertanggung jawab? Kita tidak pernah tahu. Kabarnya ISIS yang mendalangi semua ini. Namun, hingga saat ini tahukah kita siapa ISIS sebenarnya? Siapa dalang di balik kelompok ISIS atau kelompok-kelompok sejenis lainnya? We never know.

Yah, begitulah trend saat ini. Perang antarnegara melawan aktor non negara. Siapa lawan dan siapa kawan sangat susah dikenali. Apalagi dengan perkembangan teknologi khususnya dunia cyber saat ini, semua bisa dilakukan hanya dengan ujung jari dan tanpa modal besar. Berbeda dengan perang konvensional seperti pada Perang Dunia I dan II, atau perang di tahun-tahun yang jauh sebelumnya, yang serba mengandalkan senjata dan alat-alat perang. Kini, semua tergantikan dengan komputer plus jaringan internet. More

Balada Media dan Sembako Murah

“Bad news is a good news. Good news is no news”. Lagi-lagi topik ini menjadi pembahasan yang nggak habis-habis. Sampai kapan? Ntahlah. Mungkin sampai media sadar diri untuk memberitakan sisi baik dari sebuah peristiwa. Bukan sisi baik caleg atau parpol saat pilkada saja.
Well, barusan saya menyaksikan sebuah berita di salah satu stasiun tv. Bad news dari kegiatan penjualan sembako murah yang berakhir ricuh karena membludaknya masyarakat yang datang. Saya heran, ketika ada kegiatan positif seperti ini, yang dikedepankan oleh media pasti momen “ricuh”, “orang tua tega bawa anak lantaran nggak tega meninggalkannya di rumah”, “anak-anak terjepit”, dan berbagai sisi negatif lainnya.
Ntah mengapa media senangnya mengumbar berita buruk. Masih berlakukah yang namanya rating? Ya kalau berita buruk nilainya lebih tinggi, rating pasti meroket. Begitukah? Ckckck..
Mau tidak mau, suka tidak suka mungkin memang itu adanya. But, come on! Bangsa ini butuh kompas untuk menuju ke arah kebaikan, menuju arah yang lebih terhormat. Dan kompasnya itu adalah media. Jika media terus-terusan menyuguhkan berita yang seolah-olah masyarakat ini miskin, lemah, nggak taat aturan, nggak kenal budaya antre, dan lain sebagainya, maka citra itu akan terus lengket di benak masyarakat. Akibatnya, hal ini dapat berpengaruh terhadap mental dan aksi mereka. Jadilah masyarakat itu memiskinkan diri, melemahkan kemampuan mereka sendiri, dan nggak taat aturan, sebagaimana yang diberitakan media.
Paparan media yang selalu memberitakan sisi buruk peristiwa sangat tidak membangun masyarakat. Contohnya pada kegiatan penjualan sembako murah tadi. Mengapa media tidak menceritakan kegiatan penjualannya? Yang mana ketika harga kian mencekik, masyarakat sangat terbantu dengan adanya kegiatan itu. Hal ini dibuktikan dengan besarnya respon masyarakat sehingga banyaknya masyarakat yang datang. Mengapa tidak disampaikan oleh media bahwa kegiatan ini bisa dicontoh oleh pemerintah, sektor swasta, atau lembaga terkait lainnya agar melaksanakan kegiatan serupa di tempat mereka masing-masing sehingga sangat membantu warga setempat. Jika media tidak bisa menutup mata dengan kejadian minus yang ada, silahkan diberitakan untuk perbaikan di masa mendatang. Tapi angle-nya itu lho jangan sepenuhnya ke arah sana. Please berikan masyarakat informasi yang menenangkan, menentramkan, dan memotivasi. Jangan jejali hati dan benak masyarakat dengan berita-berita negatif yang imbasnya menurunkan harapan positif mereka terhadap bangsa dan negaranya sendiri. Please…
Mungkin satu lagi pertanyaan di hati saya yang hingga detik ini belum terjawab: di mana sisi edukasi media selama ini? Jika tidak ada, atau hanya setengah hati, mengapa “edukasi” tidak dihapus saja dari fungsi media?[]

©noviafrd 14072015 0126

Tentang Sinabung #5 – Kegiatan Rehabilitasi-Rekonstruksi pada Aspek Psikologis untuk Relawan di Gunung Sinabung

Relawan juga tidak luput dari stress akibat pekerjaan yang mereka lakukan. Adapun sumber-sumber stres bagi para relawan yang diungkapkan oleh Enrenreich dan Elliot (dalam Halimah dan Widuri, 2012) yaitu:

  1. Tuntutan fisik yang berat dan kondisi tugas (kerja) yang tidak menyenangkan
  2. Beban kerja yang berlebihan, jangka waktu lama dan kelelahan kronis (chronic fatigue)
  3. Berkurang atau bahkan hilangnya privasi dan ruang pribadi
  4. Jauh dari keluarga menimbulkan kecemasan pada kondisi keluarga
  5. Kurangnya sumber-sumber yang tepat (adequate resources) baik secara personil, waktu, bantuan logistik atau skill (ketrampilan) untuk melakukan tugas yang dibebankan
  6. Adanya bahaya mengancam (penyakit, terkena gempa susulan, dan sebagainya), perasaan takut dan tidak pasti yang berlebihan
  7. Kemungkinan melakukan evakuasi yang berulang
  8. Kemungkinan menyaksikan kemarahan dan menurunnya rasa syukur dalam masyarakat korban
  9. Secara berulang, teringat akan cerita-cerita traumatis, tragedi atau kisah yang memicu ingatan trauma individu yang telah lampau
  10. Beban birokratis yang berlebih atau kurangnya dukungan (support) dan pengertian pimpinan organisasi
  11. Konflik interpersonal di antara anggota kelompok relawan yang di lapangan mengharuskan mereka untuk dekat dan saling bergantung pada waktu cukup lama
  12. Perasaan tidak berdaya kala menghadapi tuntutan yang melewati batas (overwhwelming need)
  13. Perasaan sakit karena tidak bisa memenuhi tuntutan yang ada
  14. Dilema moral dan etika
  15. Harus mampu menjaga netralitas (sikap netral) jika berada dalam situasi politik yang terpolarisasi
  16. Perasaan bersalah melihat korban bencana tidak memiliki makanan, tempat bernaung, dan kebutuhan lain.

Terkait relawan-relawan yang bertugas di Sinabung, beberapa upaya yang dilakukan untuk meringankan beban psikologis mereka, di antaranya memberikan layanan psikologis dan pembekalan bagi pekerja kemanusiaan yang diterjunkan ke Sinabung, serta memberikan pelatihan bagi profesional dan relawan lokal tentang pendampingan psikososial agar mereka mampu mandiri. More

Previous Older Entries