November vs. Nopember

Sebagaimana yang dilakukan para wisudawan lainnya di kampus, siang kemarin saya pergi ke rektorat untuk sidik jari ijazah. Dengan semangat saya langkahkan kaki dari parkiran menuju gedung putih itu. Sesampainya di ruangan tempat sidik jari itu dilakukan, saya pun diminta menemui salah seorang staf (bapak-bapak) yang khusus melayani sidik jari mahasiswa dari fakultas FISIP.
Setelah bertemu dan menyebutkan nama, ijazah saya yang setengah jadi itu ditemukan. Bapak tersebut meminta saya memeriksa kembali ijazah tersebut. “Periksa kembali nama, NIM, tempat tanggal lahir juga”, katanya.
“Sudah, Pak,” kataku setelah semuanya saya periksa dengan teliti. “Periksa sekali lagi”, kata staf tersebut. Huh, saya pun memeriksa kembali.
Sebenarnya dari awal ada yang mengganjal dengan penulisan bulan kelahiran saya yang ditulis “Nopember”. Awalnya saya hiraukan saja karena saya tahu kebiasaan penulisan bulan di negara ini masih kacau. Namun, karena si Bapak menyuruh saya memeriksa kembali, saya pun iseng bertanya, “Pak, bulan lahir saya penulisannya bukannya pakai huruf ‘V’?”. Ya, saya kelahiran bulan NoVember dan tentu sangat tahu dengan penulisannya.
Walau dengan cara yang sopan, tanpa diduga si bapak bertanya kembali, “kamu lulus toefl nggak?”. Ngg… What!!? Saya sedikit kaget dan langsung membalas, “ya lulus dong, Pak”.
Dia pun mengatakan bahwa penulisan november/nopember di Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia itu beda, “makanya saya tanya, kamu lulus toefl apa enggak”. Huh.. karena males banget memperdebatkan hal sepele seperti itu, saya pun mengiyakan saja apa kata beliau. Lagian kalau musti diganti, otomatis saya harus menunggu lagi ijazah tersebut dicetak ulang.
Well, bukannya apa, saya nggak habis pikir dengan pola pikir si bapak itu. Bukan maksud sombong, tapi Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang sangat saya senangi. Saya senang banget berkutat dengan huruf dan kata-kata. Sewaktu SD saya juga dipercaya mewakili sekolah dalam olimpiade Bahasa Indonesia. Jadi, kalau masalah pelajaran Bahasa Indonesia itu sudah menjadi “teman dekat” saking sukanya saya dengan pelajaran ini.
Lha, kalau masalah bulan saja musti salah, itu gawat. Setahu saya, penulisan November di Indonesia ini banyak dipengaruhi oleh cara pengucapan huruf “V” atau “F” jadi “P”. Enggak hanya “November” saja, “Februari” juga masih banyak yang menyebut “Pebruari”. Kata “Alif” malah dibilang “Alip”. Saya juga suka sebel kalau ada yang menulis atau menyebut nama saya “Faradila” menjadi “Paradila”. Tidaaaak…
Nah, dari kebiasaan pengucapan itulah kebawa-bawa hingga ke cara penulisan. Masih banyak penulisan yang (dibiasakan) salah dan kadang saking kebiasaannya, kita nggak sadar kalau itu salah. Seperti kata “praktek” yang seharusnya “praktik”, “kuatir” yang seharusnya “khawatir”, dan masih banyak lagi.
Kalau kurang yakin, coba deh di cek dan ricek lagi di Kamus Besar Bahasa Indonesia alias KBBI. Nggak usah kata yang lain, coba kata “November” tadi. Manakah yang tepat, “November” atau “Nopember”. Kalau nggak punya kamusnya, coba versi daring saja di sini dan temukan jawabannya. Atau buka lagi deh buku pelajaran SD punya adik-adik kita di rumah.
Huu… untungnya saya nggak bilang ke Bapak itu, “Bapak lulus pelajaran Bahasa Indonesia, nggak sih?”.[]

image

©dilanovia 15:49

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: