Valentine’s Day, No Thank You!

wpid-img_20150214_204249.jpg

Saya sempat senyum-senyum sendiri ketika melihat gambar di atas. Gambar yang saya lihat dan saya capture dari salah satu akun instagram. Gambar yang kreatif namun sangat inspiratif.
Nah, tulisan saya kali ini bertepatan dengan yang katanya hari valentine. Bertepatan pula dengan malam minggu. .ungkin hari ini hari yang super duper spesial bagi mereka yang sedang menjalin asmara.
Tapi, apa iya? Ntahlah. Saya salah satu makhluk di muka bumi ini yang tidak merayakannya, bahkan menentang hari valentine itu sendiri. Bukannya tidak kompromi dengan perbedaan, atau tidak menghargai kebebasan. Namun, menurut saya lebih banyak dampak buruk dari pada baiknya.
Hal yang paling terlihat adalah meningkatnya free sex saat perayaan valentine. Yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah valentine itu perayaan hari kasih sayang atau perayaan “sayang-sayangan”?.
Selain itu, yang membuat hati ini sedih adalah bunga-bunga yang dijadikan gift saat hari valentine tiba. Ini subjektif memang, tapi saya benar-benar sedih melihat bunga-bunga yang dipotong, dipaketkan sebagai hadiah, lantas beberapa hari kemudian layu dan dibuang. What a pitty.
Kalau memang hari valentine itu hari kasih sayang, mengapa bunga yang diberikan tidak sekalian dengan potnya. Yah, namanya hari kasih sayang, ya sayangi tumbuh-tumbuhan juga dong. 🙂
Anyway, bagi mereka yang merayakan, saya berharap mereka tahu makna di balik hari valentine, bagaimana sebenarnya sejarah hari valentine itu, dan bagi mereka yang Muslim semoga paham apa hukum merayakan hari tersebut. Bukan sekedar ikut-ikutan atau biar dibilang keren dan tidak ketinggalan zaman.
Valentine’s Day, No Thank You![]

©dilanovia 14022015 21:04

Advertisements

The Book of Life

time-and-life-quote-hd-wallpaper-1920x1080-1851

Ini bukan cerita tentang film “The Book of Life” yang disutradarai oleh Jorge Gutierrez, yang mengisahkan tentang Manolo dan Maria sang pujaan hati. Ini adalah secuil kisah dari lembaran buku kehidupan, di mana Tuhan-lah sang sutradara, dan saya aktornya. Well, baru sekitar tujuh bulan saya meninggalkan si kota bertuah, tapi tampaknya banyak cerita kehidupan yang telah berubah. Mungkin ini yang dinamakan rahasia illahi. Kita tidak pernah tahu pasti apa yang akan terjadi pada diri ini, esok atau lusa. Sejak menetap di ‘Tangkil Hill’ ini, dapat kabar manis asam asin kaya permen nano-nano itu jadi hal yang biasa. Ada bahagia, ada duka. Ada yang datang, dan ada juga yang pergi. Setiap dapat kabar itu memang bikin terapi jantung. Antara kaget bahagia dan kaget duka. Barusan saya mendapatkan informasi bahwa adik dari sahabat kecil saya, sudah tiada. Ah, rasanya nyess banget! Siapa yang mengira? Tidak ada yang menduga kepergiannya. Yah, begitulah kehidupan. Kapan pun harus menyiapkan diri untuk mendengar kabar-kabar dari keluarga, sahabat, rekan-rekan, ntah itu dari sosial media atau kabar langsung dari mereka. Sekali lagi hal ini sangat menguatkan sebuah kutipan lama, bahwa hidup tidak ada yang abadi, karena yang abadi adalah ketidakabadian itu sendiri. Namun, dari semua itu, yang sangat saya sesalkan adalah saya tidak bisa hadir di antara mereka. Tidak bisa merasakan kebahagian dan keceriaan mereka, atau tidak bisa menjadi bahu untuk mereka yang sedang tertimpa musibah :(. Hanya doa dan harapan yang bisa saya berikan. Mungkin mereka tidak tahu, dan bahkan tidak perlu tahu. Namun, semoga Tuhan mengabulkan doa dan harapan itu, untuk kalian; keluarga, sahabat, dan teman-temanku.[] *Untuk sahabat kecilku yang malam ini kehilangan adik tercinta, aku turut berduka. Aku memang tidak tahu bagaimana sebenarnya rasa yang kau rasa saat ini. Tapi, kuberharap arwahnya tenang di alam sana. Amin. ©dilanovia 06022015