Confessions of Economic Hit Man: Sebuah Kutipan

solidarity

Berhentilah menjadi tamak dan begitu egoistis. Sadarilah bahwa ada yang lain di dunia ini selain rumahmu yang besar dan toko mewahmu. Orang-orang sedang kelaparan dan kau mencemasi minyak untuk mobilmu. Bayi-bayi sedang sekarat karena dahaga dan kau mencari gaya mutakhir di majalah modemu. Bangsa-bangsa seperti kami sedang tenggelam di dalam kemiskinan, tetapi rakyatmu bahkan tidak mendengar teriakan kami meminta bantua. Kamu menutup telingamu terhadap suara mereka yang mencoba menceritakan kepadamu berbagai hal ini. Kamu menjuluki mereka radikal atau kamonis. Kamu musti membuka hatimu kepada orang-orang miskin dan tertindas, bukannya menggiring mereka ke dalam kemiskinan dan perbudakan yang lebih mendalam. Waktunya tidak banyak lagi. Jika kamu tidak berubah, kamu akan hancur“.

Paragraf di atas saya kutip dari buku Confessions of Economic Hit Man karangan John Perkins yang cukup menyentil bagi saya. Kutipan tersebut bukan murni dari penulis, namun perkataan salah seorang mahasiswa Indonesia kepada penulis. Meski buku tersebut lebih banyak menceritakan tentang perekonomian, menurut saya kutipan di atas dapat berlaku secara umum, di mana dalam kehidupan ini manusia tidak bisa hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Di dalam kutipan tersebut, tersirat bahwa manusia harus membuka mata terhadap lingkungan sekitarnya. Menjadi manusia egois itu sangat menyebalkan. Sifat tersebut tidak hanya merugikan orang lain namun juga diri sendiri.

Berhentilah menjadi tamak dan begitu egoistis […] Jika kamu tidak berubah, kamu akan hancur“.

Advertisements

Esai Populer: Eksistensi Mahasiswa dalam Pengurangan Resiko Bencana demi Tegaknya Ketangguhan Bangsa

Oleh: Novia Faradila

Letakkanlah tanganmu di atas bahuku

Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu

Di depan sana cahya kecil ‘tuk membantu

Tak hilang arah kita berjalan

Menghadapinya …

Penggalan lirik lagu Usah Kau Lara Sendiri yang dinyanyikan oleh Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya ini mengandung arti yang amat dalam bahwa manusia tidak sebatang kara dalam menghadapi beragam persoalan. Ada tangan-tangan yang siap sedia menjulurkan bantuan, meringankan beban. Begitu pula dalam ranah negara. Sejarah membuktikan bahwa semangat kebersamaan dan gotong royong bangsa telah menjadi cultural identity yang mampu menepis berbagai ancaman yang dapat menggerogoti keamanan dan ketahanan negara, termasuk ketika bencana melanda.

Membahas bencana di Indonesia memang tidak akan ada ujungnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa dari awal tahun hingga Agustus 2014 terdapat 972 kejadian bencana yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Korban hilang dan meninggal sebanyak 374 jiwa, korban yang menderita dan mengungsi sebanyak 1.764.227 jiwa, belum lagi kerusakan pemukiman sebanyak 39.823 unit[1].

Hal tersebut tak terlepas dari posisi geografis Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia. Di bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik yang memanjang dari Pulau Sumatera – Jawa – Nusa Tenggara – Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua. Dari 500 gunung api yang ada di Indonesia, 129 di antaranya masih aktif. Kondisi tersebut sangat berpotensi dan rawan bencana. Tidak salah kiranya kalangan ilmuan dunia menengarai bahwa Indonesia adalah “laboratorium bencana”. More

Salah Apa Atribut-Atribut Itu…

Rasanya saya jengah melihat “pencitraan” mereka-mereka yang tengah menjadi sorotan media karena masalah yang mereka perbuat. Pencitraan yang menurut saya sama sekali tidak ada hibungannya dengan masalah mereka. Pencitraan yang bagi saya memberi cemong bagi agama, khususnya Islam.
Ketika tampil di persidangan atau media massa, mereka yang tengah dirundung masalah hukum tersebut sering kali mengenakan atribut-atribut bernuansa islami, seperti jilbab, peci, maupun baju koko. Padahal tampilan kesehariannya jauh dari atribut tersebut.
Antara rasa geram dan kecewa. Geram karena ntah dari mana awalnya trik tersebut tercetus sehingga begitu “menginspirasi” generasi-generasi yang tersangkut hukum berikutnya. Dan kecewa karena ketidakbijaksanaan mereka dalam menggunakan atribut tersebut secara tidak langsung dapat merusak citra Islam. Berikut beberapa “aktor” yang saya ingat menggunakan atribut Islam saat menghadapi kasus mereka, ntah itu di persidangan atau di kantor polisi

image

Yulianis, salah satu saksi kunci dalam persidangan perkara suap menyuap Wisma Atlet SEA Games di Palembang

image

Afriani, tersangka penabrakan di Tugu Tani yang menewaskan 9 orang pejalan kaki

image

Malinda Dee, terpidana kasus penggelapan dan pencucian dana nasabah Citibank sebesar Rp 16 miliar

robby-geisha-140225b

Roby “Geisha” yang terjerat kasus narkoba

image

Novi Amalia, seorang model majalah dewasa yang menabrak tujuh orang pengguna jalan di kawasan Tamansari, Jakarta Barat

20141028175846-berkas-tuntutan-jpu-belum-siap-sidang-pembunuh-ade-sara-ditunda-001-nfi

Assyifah Anggrain, remaja 19 tahun tersangka pembunuhan Ade Sara

Dan yang baru-baru menjadi trending topic adalah Muhammad Arsyad yang ditangkap oleh polisi 28 Oktober lalu karena melanggar UU Pornografi dan UU ITE terkait foto Jokowi dan Megawati yang diunggahnya di media sosial. Dia sudah di bebeskan lima hari setelah itu, dan tampil di media dengan menggunakan peci di kepalanya.

images

Muhammad Arsyad saat ditemui awak media pasca kebebasannya dari penjara

See? Bagaimana nggak geram dengan penampilan mereka seperti itu pasca kasus yang menimpa mereka atas perbuatan yang mereka lakukan sebelumnya. Apa salah atribut-atribut tersebut? Oh, atau apakah memang setelah mereka tersandung kasus, mereka langsung taubat?[]

©dilanovia 04112014 17:52