Do I Have a Misophonia? :(

Dari dulu saya memang tidak nyaman dengan keramaian, hingar bingar,  suara gaduh, bahkan suara token listrik yang berbunyi berulang-ulang pun saya tidak suka. Di kosan pun sepertinya saya dikenal sebagai “si tukang matiin token”. Kalau ada token anak-anak kosan yang mulai bunyi, saya langsung matiin. Karena bagi saya itu mengganggu dan membuat saya hilang konsentrasi. Sorry 😦

Hmm… Lebih parahnya lagi, beberapa bulan belakangan saya sangat tidak nyaman dengan suara kipas angin yang ada di kamar kosan. Gara-gara suara itu saya susah tidur (contohnya sekarang ini). Mau dimatiin saya kepanasan, mau dibiarin eh berisik. –“

Mungkin apa yang saya tuliskan ini terlihat lebay bagi sodara-sodara semua. Bahkan mungkin masalah-masalah yang saya sebutkan di atas terlihat sepele. But, believe me, ini masalah BESAR bagi saya.

Saya pun mulai kepo dengan masalah yang saya alami ini. Kekepoan saya mengantarkan saya pada mbah Google dan saya pun mulai mencari apakah saya mengalami penyakit atau gangguan tertentu. Kata yang saya ketik di mesin pencari Google adalah “tidak suka mendengar suara berisik”.

Screenshot_2017-12-12-01-29-39-820_com.opera.mini.native

And you know what, tak perlu waktu lama, hasil pencarian yang muncul adalah istilah “Misophonia“. Saya pun membaca salah satu artikel sambil dibayangi rasa takut kalau-kalau itu adalah masalah serius. Berikut kutipan artikel tersebut. More

Advertisements

KKP: Ketika Kulkas Penuh

The most wanted thing kalo udah weekend itu adalah b-e-l-a-n-j-a. Belanja kebutuhan untuk seminggu berikutnya. Dan dua tempat yang biasa saya kunjungi adalah Pasar Pulogadung dan Superindo Arion Mall.

Nah, setelah seminggu yang lalu tidak belanja, akhirnya minggu ini saya bisa beli berbagai kebutuhan, mulai dari yang basah sampai yang kering. Mulai dari urusan dapur sampai urusan kamar mandi cucicuci #makmakwannabe dan tujuan “shopping” saya kali ini adalah Superindo.

Pas masuk Superindo, yang as always saya masukin keranjang belanja duluan adalah Susu Ultra yang harganya mirrrrring kaya pelosotan. Di saat Indomar*t keukeuh pasang harga normal, Superindo malah kasih harga upnormal. Saya malah pengen beli banyak tapi apadaya beratnya itu loh.

Nah, setelah puas keliling-keliling, saya pun bayar belanjaan ke kasir. Keluarin tas kain yang as always saya bawa setiap belanja (kan ceritanya go green). Bayar belanjaan… Done! Kelar!

Tapi, you know, belanjaan yang kayanya cuma daun-daun ijo doang itu beratnya ya ampuuun. Kayanya baru kali itu saya belanja yang bebannya beraaat banget. Bahkan kayanya lebih berat belanjaan itu dari pada badan guehehehe…

Itu pun saya belum memutuskan pulang, karena ada beberapa item yang mau saya beli di Pasar Pulogadung (ya kalo beli di emmol mah mahal cuy…). Dan yang saya beli itu adalah telur, bawang merah, bawang putih, daun bawang, serta cabe-cabean (cabe beneran loh ya).  More

Sama-sama Manusia! 

Berhentilah berharap kepada manusia…

Sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari bahwa orang-orang yang dia jadikan sebagai tujuan amalnya itu (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah, sama-sama akan berdiri di padang mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, sama-sama akan menunggu keputusan untuk dimasukkan ke dalam surga atau neraka, maka ia pasti tidak akan meniatkan amal perbuatan itu untuk mereka. Karena tidak satu pun dari mereka yang dapat menolong dia untuk masuk surga ataupun menyelamatkan dia dari neraka.

Bahkan saudaraku, seandainya seluruh manusia mulai dari Nabi Adam sampai manusia terakhir berdiri di belakangmu, maka mereka tidak akan mampu untuk mendorongmu masuk ke dalam surga meskipun hanya satu langkah. Maka saudaraku, mengapa kita bersusah-payah dan bercapek-capek melakukan amalan hanya untuk mereka? More

Surprise Hari Ini


Surprise hari ini adalah mendengar kabar dua orang teman saya akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.

Surprise pertama datang pagi tadi ketika mendapat kabar di grup kuliah dulu bahwa ada teman kami yang akan menikah. Yang mengejutkan adalah dia sudah melangsungkan akad nikah bulan Juni lalu dan tiada seorang pun yang tahu. Wah, luar biasa!

Surprise kedua datang sore ini dan lagi-lagi ya tentang pernikahan. Kali ini bukan temen kuliah, tapi temen satu pengajian di Pekanbaru. Beberapa kali kita datang kajian bareng. Dan terakhir itu malah kita ikut diklat pra nikah bareng. Dulu masih suka guyon siapa di antara kami yang bakalan nikah duluan. Dan…… Eng ing eng… Allah telah memberikan jawabannya. 🙂

Masyaa Allah! Seneng rasanya banyak temen-temen terdekat saya telah bertemu pasangan hidupnya di tahun ini. Ntah surprise-surprise apa lagi yang akan saya dapat dikemudian hari.

Pengennya sih di kasih surprise sama Allah, yaitu si tambatan hati, penyejuk mata, penghangat qolbu, pelengkapn dien, pendamping hidup…  dunia hingga surga. Aamiin Allahumma Aamiin.[]

©dilanovia 05092017 1747

Oleh-oleh dari Daarut Tauhiid Jakarta #1

Sabtu, 29 April 2017, menjadi salah satu malam Ahad terindah di hidup saya. Berkumpul bersama orang-orang yang insyaa Allah sholeh dan sholehah di taman surga, dinaungi para malaikat pula, masyaa Allah. Seperti biasa, weekend adalah waktu-waktu yang saya jadikan untuk berburu ilmu. Sibuk dari Senin-Jumat untuk urusan dunia, minimal ada dua hari lah untuk mengumpulkan bekal ke surga.

Jadi, ceritanya hari Sabtu malam/malam Ahad di Daarut Tauhid Jakarta mengadakan MQS ke-52 (Muhasabah Qalbun Salim), kegiatan rutin bulanan yang diadakan pada hari Sabtu-Ahad pekan keempat. Tema kegiatan malam itu adalah Meningkatkan Kualitas Diri dan Keluarga. Kegiatannya dimulai ba’da magrib hingga ba’da subuh keseokan harinya, yang berarti para peserta akan menginap satu malam.

Ini adalah kali pertama saya mengikuti kegiatan di majelis tersebut. Awalnya saya malah tidak tahu persis di mana masjid milik Aa Gym itu berada.  Hanya bermodalkan informasi dari instagram, saya pun mencari rutenya via google map. Saya pun memilih naik busway dan dilanjutkan dengan naik Uber (karena jarak halte [mampang prapatan] dengan masjid lumayan jauh. Dan, yaaa.. perjalanan sore itu sungguh luar biasa. More

The Election Day, Yay!!! 

Menjadi warga DKI Jakarta membuat saya ikutan merasakan berbagai “ritual” pemerintahannya. Contohnya pada hari ini.

Ini adalah hari dimana masyarakat DKI Jakarta kembali memberikan hak suara mereka pada Pilkada putaran kedua. Sebagaimana musim pilkada pada umumnya, hari saat pencoblosan akan diliburkan. Dan inilah yang saya rasakan. Nggak dapet nyoblosannya, tapi dapet liburnya.. Hehehe… 

Yah, lumayan, waktu yang free ini dapat saya habiskan untuk menunaikan hal-hal yang harusnya saya tunaikan dari jauh-jauh hari sebelumnya.

Perbaiki setrikaan yang rusak 😦 yang kalau beli baru juga sayang banget rasanya karena kerusakannya minor. Trus, belanja kebutuhan mingguan, yang minggu-minggu kemarin nggak sempat saya beli karena padatnya jadwal #uhuk. Dan lain-lain… Dan lain-lain…

Then, enaknya itu jalanan juga lancar jayahahaha.. Nggak macet, nggak sumpek, nggak padet. Busway juga ikut-ikutan lapang. Isinya nggak kaya ikan sarden yang rebutan saos tomat. Hehehe…

Lagi nunggu busway di Halte UNJ

Jalanan lancar jayalalalaa…

Andai Jakarta tiap hari kaya begini ~_~

Lalaland Lalalala~

My fave scene 🙂

Thanks Damien Chazelle, you’ve made my emotional jumbled after watching your movie. Maybe Lalaland is gonna be my fave movie in this year, so far.
Yah, awalnya saya sedikit underestimate dengan film ini. “Ah, drama musikal”. “Palingan ceritanya nggak jauh-jauh dari drama percintaan, tarian, dan nyanyian”. Blablabla… 

Benar saja, di awal film saya sudah disuguhkan dengan scene dancing and singing yang cukup panjang (but honestly,  itu keren banget memang). 

Singkat cerita, semakin saya tonton, saya malah semakin penasaran dengan alur ceritanya (silahkan ditonton sendiri karena di sini saya tidak akan menceritakan bagaimana alurnya). Apalagi chemistry-nya dapeeeet banget. 

Then, my point is this movie teach us about how to make our dream come true. Kau boleh saja punya mimpi yang bahkan orang lain menganggap mimpi itu aneh dan berlebihan, atau bahkan impossible untuk diwujudkan. Tapi, apa yang orang-orang pikirkan tidak lantas membuatmu patah semangat. 

Saat Sebastian begitu excited menceritakan ketertarikannya tentang jazz

Film ini juga mengajarkan bahwa we can’t make our dream come true over the night! Sebastian (Ryan Gosling) dan Mia (Emma Stone) membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mewujudkan mimpi mereka masing-masing. Ada jatuh bangunnya, ada kegagalan, kekecewaan, bahkan keputusasaan. Tapi semua itu berhasil mereka lewati berkat kegigihan dan keyakinan mereka.

Daaan, ini nih yang bikin saya rada sedikit emosial.. *Ehem… 

Sweet moment ^^

Menonton film ini juga mengingatkan saya tentang orang-orang yang “berarti”  di dalam hidup kita. Someone who makes you fall in love. Someone who makes you happy, someone who makes you smile, someone who makes your day better and greater, someone who help you to make your dream come true, seseorang yang mendukungmu saat kau jatuh, bersamanya engkau menemukan hal-hal baru dalam hidupmu, dan karena dia pula engkau mampu mewujudkan mimpimu. Ah, soo sweet..
Dan mungkin satu hal lagi (dan berdasarkan penelitian yang saya baca/dengar, karena ini ada kaitannya) pria itu lebih susah melupakan orang yang dia sayangi, berbeda dengan wanita, yang betapa sakitnya ia saat di awal perpisahan, perasaannya akan lebih celat pulih dibandingkan dengan pria. Scene terakhir Lalaland berhasil mengaduk-aduk perasaan saya karena hal ini.

Lima tahun berlalu, Sebastian dan Mia tidak pernah berhubungan lagi. Mereka telah sukses mewujudkan mimpi masing-masing. Hingga pada suatu malam mereka bertemu kembali. Namun, sayangnya Mia telah memiliki suami dan seorang putri, sedangkan Sebastian masih sendiri. 

Klimaksnya pada saat Sebastian memainkan piano (Mia and Sebastian theme, lagu khas mereka berdua) sambil membayangkan hal-hal yang “seharusnya” terjadi antara dirinya dan Mia. That scene is really truly madly make me emotional (sampe mewek, but I believe it happen because I’m so baper… hehe). Sebastian benar-benar mewujudkan mimpinya untuk membuka club jazz, ia menggunakan logo yang dulu dibuatkan oleh Mia untuk clubnya, ia benar-benar konsisten dengan apa yang ia ucapkan. 

Ah, ntah kenapa di cerita itu Mia malah menikah dengan lelaki lain, mengapa tidak menunggu Sebastian saja #kzl… Lagian, Sebastian-nya juga sih yang berlama-lama membiarkan Mia seorang diri #apasih #mulaingaco ><”

I don’t know, ini happy ending atau sad ending. Bagi saya ini sad ending karena Mia dan Sebastian akhirnya tidak bersama 😦 Tapi happy ending juga sih karena mereka berdua berhasil mewujudkan mimpi mereka.

Anyway, ini kali kedua saya nonton film ini, dan hingga saat ini saya masih sedih, kenapa endingnya Mia dan Sebastian tidak hidup bersama *ah baper! 

Senyum penuh arti diakhir cerita. Senyum yang menandakan mereka berdua telah berhasil mewujudkan cita-cita masing-masing, meskipun tak bisa bersama 😦


©noviafrd 07042017 0228

Previous Older Entries