Balada Media dan Sembako Murah

“Bad news is a good news. Good news is no news”. Lagi-lagi topik ini menjadi pembahasan yang nggak habis-habis. Sampai kapan? Ntahlah. Mungkin sampai media sadar diri untuk memberitakan sisi baik dari sebuah peristiwa. Bukan sisi baik caleg atau parpol saat pilkada saja.
Well, barusan saya menyaksikan sebuah berita di salah satu stasiun tv. Bad news dari kegiatan penjualan sembako murah yang berakhir ricuh karena membludaknya masyarakat yang datang. Saya heran, ketika ada kegiatan positif seperti ini, yang dikedepankan oleh media pasti momen “ricuh”, “orang tua tega bawa anak lantaran nggak tega meninggalkannya di rumah”, “anak-anak terjepit”, dan berbagai sisi negatif lainnya.
Ntah mengapa media senangnya mengumbar berita buruk. Masih berlakukah yang namanya rating? Ya kalau berita buruk nilainya lebih tinggi, rating pasti meroket. Begitukah? Ckckck..
Mau tidak mau, suka tidak suka mungkin memang itu adanya. But, come on! Bangsa ini butuh kompas untuk menuju ke arah kebaikan, menuju arah yang lebih terhormat. Dan kompasnya itu adalah media. Jika media terus-terusan menyuguhkan berita yang seolah-olah masyarakat ini miskin, lemah, nggak taat aturan, nggak kenal budaya antre, dan lain sebagainya, maka citra itu akan terus lengket di benak masyarakat. Akibatnya, hal ini dapat berpengaruh terhadap mental dan aksi mereka. Jadilah masyarakat itu memiskinkan diri, melemahkan kemampuan mereka sendiri, dan nggak taat aturan, sebagaimana yang diberitakan media.
Paparan media yang selalu memberitakan sisi buruk peristiwa sangat tidak membangun masyarakat. Contohnya pada kegiatan penjualan sembako murah tadi. Mengapa media tidak menceritakan kegiatan penjualannya? Yang mana ketika harga kian mencekik, masyarakat sangat terbantu dengan adanya kegiatan itu. Hal ini dibuktikan dengan besarnya respon masyarakat sehingga banyaknya masyarakat yang datang. Mengapa tidak disampaikan oleh media bahwa kegiatan ini bisa dicontoh oleh pemerintah, sektor swasta, atau lembaga terkait lainnya agar melaksanakan kegiatan serupa di tempat mereka masing-masing sehingga sangat membantu warga setempat. Jika media tidak bisa menutup mata dengan kejadian minus yang ada, silahkan diberitakan untuk perbaikan di masa mendatang. Tapi angle-nya itu lho jangan sepenuhnya ke arah sana. Please berikan masyarakat informasi yang menenangkan, menentramkan, dan memotivasi. Jangan jejali hati dan benak masyarakat dengan berita-berita negatif yang imbasnya menurunkan harapan positif mereka terhadap bangsa dan negaranya sendiri. Please…
Mungkin satu lagi pertanyaan di hati saya yang hingga detik ini belum terjawab: di mana sisi edukasi media selama ini? Jika tidak ada, atau hanya setengah hati, mengapa “edukasi” tidak dihapus saja dari fungsi media?[]

©noviafrd 14072015 0126

Advertisements

Dan Ketika Galau Datang…

more than blue sceneTiba-tiba saya pengen banget nonton film More than Blue a.k.a Seulpeumboda Deo Seulpeun Iyagi a.k.a A Story Sadder Than Sadness karena tiba-tiba saya merasa galau. Nggak tahu galau kenapa, tapi saya rindu menyaksikan kehangatan hubungan K dan Cream. Hubungan yang sebenarnya membuat hati ini campur aduk, antara jealous, terpukau, senang, kepengan-juga-seperti-itu, dan lain-lain. Menyaksikan sebuah hubungan yang ‘absurd’ tapi berasa punya cemystry. Merasakan bagaimana persahabatan dan pengorbanan campur aduk jadi satu. Yah, meskipun berakhir sedih di akhir cerita. Namun, sayang, ketika saya cari-cari lagi film itu di laptop, that movie has been lost! Ntah apa yang ada dipikiran saya waktu itu sehingga saya tega menghapus filmnya. Ah, padahal cuma film itu yang rasanya mampu mengobati galau malam ini. Film-film yang belum saya tonton padahal banyak sekali, but I’m not in the mood for watching the other movies. Jadilah saat ini saya hanya mendengar soundtrack film tersebut–No One Else–berkali-kali. Sedikit mengobati rasa rindu saya akan film itu, SEDIKIT. Anyway, saya pernah menceritakan pengalaman saya menonton film ini di sini. Boleh banget kalau mau dibaca.

©noviafrd 13072015 01:35