Yay!!! My Journal Has Been Published

IMG_20170413_085432

Alhamdulillah, finally this journal has been published. Yo guys.. if you need something about this journal (data, file about “drone” or UAV) feel free to ask me, or visit bnpb.go.id to download it ☺

Terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penerbitan jurnal ini. May Allah repay your kindness! Cheerss….

Do and Don’t: I’m Only Human

image

Allah telah mengatakan di dalam Al Quran bahwa setiap manusia memiliki potensi baik dan potensi buruk. Dan sebaik-baiknya manusia adalah dia yang meminta ampun atas segala kesalahan yang diperbuat.

Saya? Saya hanya perempuan biasa. Masih dalam kategori “belum baik” dan “masih harus diperbaiki”.

Bagaimana dengan jilbab saya? Ya, Alhamdulillah saat ini jilbab ini sudah menjulur panjang menutupi dada. Saya berusaha keras untuk mempertahankannya.

Bagaimana dengan pakaian? Alhamdulillah baju yang saya kenakan juga semakin longgar.

Bagaimana dengan akhlak? Ya, saat ini saya  sedang berusaha keras menjadi manusia yang lebih baik dari hari sebelumnya. Saya juga berusaha keras menjaga lisan, pandangan, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya tidak terjerumus ke jalan yang salah. More

Balada Media dan Sembako Murah

“Bad news is a good news. Good news is no news”. Lagi-lagi topik ini menjadi pembahasan yang nggak habis-habis. Sampai kapan? Ntahlah. Mungkin sampai media sadar diri untuk memberitakan sisi baik dari sebuah peristiwa. Bukan sisi baik caleg atau parpol saat pilkada saja.
Well, barusan saya menyaksikan sebuah berita di salah satu stasiun tv. Bad news dari kegiatan penjualan sembako murah yang berakhir ricuh karena membludaknya masyarakat yang datang. Saya heran, ketika ada kegiatan positif seperti ini, yang dikedepankan oleh media pasti momen “ricuh”, “orang tua tega bawa anak lantaran nggak tega meninggalkannya di rumah”, “anak-anak terjepit”, dan berbagai sisi negatif lainnya.
Ntah mengapa media senangnya mengumbar berita buruk. Masih berlakukah yang namanya rating? Ya kalau berita buruk nilainya lebih tinggi, rating pasti meroket. Begitukah? Ckckck..
Mau tidak mau, suka tidak suka mungkin memang itu adanya. But, come on! Bangsa ini butuh kompas untuk menuju ke arah kebaikan, menuju arah yang lebih terhormat. Dan kompasnya itu adalah media. Jika media terus-terusan menyuguhkan berita yang seolah-olah masyarakat ini miskin, lemah, nggak taat aturan, nggak kenal budaya antre, dan lain sebagainya, maka citra itu akan terus lengket di benak masyarakat. Akibatnya, hal ini dapat berpengaruh terhadap mental dan aksi mereka. Jadilah masyarakat itu memiskinkan diri, melemahkan kemampuan mereka sendiri, dan nggak taat aturan, sebagaimana yang diberitakan media.
Paparan media yang selalu memberitakan sisi buruk peristiwa sangat tidak membangun masyarakat. Contohnya pada kegiatan penjualan sembako murah tadi. Mengapa media tidak menceritakan kegiatan penjualannya? Yang mana ketika harga kian mencekik, masyarakat sangat terbantu dengan adanya kegiatan itu. Hal ini dibuktikan dengan besarnya respon masyarakat sehingga banyaknya masyarakat yang datang. Mengapa tidak disampaikan oleh media bahwa kegiatan ini bisa dicontoh oleh pemerintah, sektor swasta, atau lembaga terkait lainnya agar melaksanakan kegiatan serupa di tempat mereka masing-masing sehingga sangat membantu warga setempat. Jika media tidak bisa menutup mata dengan kejadian minus yang ada, silahkan diberitakan untuk perbaikan di masa mendatang. Tapi angle-nya itu lho jangan sepenuhnya ke arah sana. Please berikan masyarakat informasi yang menenangkan, menentramkan, dan memotivasi. Jangan jejali hati dan benak masyarakat dengan berita-berita negatif yang imbasnya menurunkan harapan positif mereka terhadap bangsa dan negaranya sendiri. Please…
Mungkin satu lagi pertanyaan di hati saya yang hingga detik ini belum terjawab: di mana sisi edukasi media selama ini? Jika tidak ada, atau hanya setengah hati, mengapa “edukasi” tidak dihapus saja dari fungsi media?[]

©noviafrd 14072015 0126

Biru-Merah, Wajah Pers Indonesia yang Terbelah

image

Koalisi partai politik kepada masing-masing capres dan cawapres ternyata membuat media pun ikut berkoalisi. Sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat bahwa si merah memberitakan “Prajasa” dan si biru memberitakan “JKWJK”. Sebuah pergulatan yang cukup sengit memang. Apalagi hanya ada dua pasang calon presiden dan calon wakil presiden.

Namun, saya pribadi bahkan mungkin ada beberapa individu lain yang miris dan kecewa melihat kondisi pers Indonesia akhir-akhir ini. Tak ada lagi keseimbangan pemberitaan khususnya kepada dua media pemberitaan besar di Indonesia. Keduanya larut dalam ring tinju politik. Si merah dan si biru ibarat anjing dan kucing yang berlomba memberitakan kebaikan koalisinya dan membeberkan keburukan atau kelemahan sang lawan.

Pers Indonesia seakan terbelah, mereka lupa diri bahwa merekalah penyambung lidah pemerintah kepada rakyat. Merekalah yang menjadi penyampai informasi akurat dan berimbang disaat rakyat haus akan kebenaran tanpa kepura-puraan. Sekarang terlihat jelas, tak hanya media televisi, surat kabar dan media online pun seolah punya kubu dan berkolaisi terhadap calon tertentu.

Di mana independensi media saat ini? Semudah itukah lumer karena godaan rupiah atau bahkan perintah sang pemilik yang ikut bertarung di kancah politik? Sebuah dilema yang sangat-sangat memilukan.Wajah pers yang seharusnya bersih malah mereka kotori sendiri.

Di sisi lain, bangsa Indonesia dituntut harus cerdas dalam mencerna informasi. Rakyat dituntut melek media dan tidak mudah terhasut oleh kampanye-kampanye hitam. Namun, bagaimana caranya rakyat bisa melakukan hal tersebut sementara media sibuk memberitakan pencitraan masing-masing calon yang mereka dukung?

Posisi pers sebagai pilar keempat demokrasi tampaknya tumpul akibat keberpihakan mereka sendiri. Pers yang memposisikan diri mereka sebagai “media partner” politik bukan malah sebagai penyeimbang situasi. Pers nyata-nyata menciptakan opini sendiri tanpa menyadari tugas mereka sebenarnya adalah memberikan informasi yang murni tanpa iming-iming kesenangan duniawi.

Wajah pers Indonesia terbelah menjadi si biru dan si merah. Kemanakah rakyat harus mencari informasi yang benar-benar cerah dan tidak memihak? Ntahlah![]

©dilanovia 04062014 12:27

Korban Komoditi dan Eksploitasi Media yang Bernama “Wanita”

wanita eksploitasi media

Sudah bukan hal tabu lagi bahwa wanita dan media memiliki hubungan yang sangat intim. Wanita memberi rona dalam setiap program pertelevisian. Ketidakhadiran wanita dalam sebuah program bagai sayur tanpa garam. Hambar!

Begitulah kekuatan yang dimiliki oleh wanita. Fisualisasi yang diberikan oleh kaum hawa ini memberikan kesan yang mampu meningkatkan gairah khalayak untuk menyaksikan sebuah program acara.

Namun, sangat disayangkan sekali jika “marwah” seorang wanita dieksploitasi dan dijadikan komoditi oleh media. Dengan tujuan meraih pundi-pundi rupiah setinggi satelitnya, media tak henti menciptakan program-program yang lambat-laun “merenggut” eksklusifitas wanita.

Hal ini dapat disaksikan dalam program Indonesia Lawak Klub. Program ini membahas sebuah isu yang diwarnai dengan humor. Tim kreatif program tersebut menempatkan wanita-wanita cantik dan seksi ini ditempat-tempat strategis sehingga memudahkan para cameraman untuk men-shoot mereka. Tak hanya sekali dua kali para wanita cantik ini dishoot, bahkan mereka dishoot dalam waktu yang cukup lama.

Mungkin banyak khalayak yang mempertanyakan apa gunanya wanita-wanita ini? Toh mereka tidak bicara sama sekali. Mereka hanya menebar senyum ketika kamera menyuting mereka. Untuk apa wanita-wanita ini? Apa hanya pajangan dan patung penyemarak program acara? More

Pemilu dan Genderang Perang Media Massa

media massaPemilu yang dikenal sebagai “pesta rakyat” dalam hitungan hari akan digelar. Berbagai partai politik (parpol) berlomba-lomba melaksanakan kampanye terbuka dan menyuguhkan program-program “khas” partai guna menarik simpati rakyat. Setiap hari media massa pun dipenuhi berbagai iklan dan berita-berita pemilu. Ntah itu berita positif atau negatif tentang salah satu partai. Semuanya disuguhkan di depan mata masyarakat Indonesia.

Sudah bukan rahasia lagi jika beberapa media massa telah diboncengi kepentingan-kepentingan tertentu oleh sebuah partai. Ntah itu karena si ketum partai adalah pemilik medianya, atau karena si partai menggelontorkan dana ratusan hingga miliaran rupiah ke salah satu media. Alhasil, ini pun turut mempengaruhi pemberitaan di mesia massa.

Sebagai “mantan” mahasiswi ilmu komunikasi (jurnalistik, pula) yang selama kuliah selalu dicekoki ilmu-ilmu media dan “dipaksa” untuk kritis, rasanya “geli” melihat pemberitaan parpol di berbagai media saat ini.

Metro TV tak hentinya melakukan promosi berbungkus berita tentang kegiatan partai Nasdem yang notabenenya di partai itu ada sang bos besar. Begitu juga di RCTI dan MNC TV, tak bosan-bosan mengabarkan kegiatan partai Hanura karena pemilik medianya bernafsu pula ingin menjadi presiden Indonesia. Tak heran pula di TV One, kasus yang sama juga terjadi di media yang diboncengi partai Golkar ini.

Sayangnya, pemberitaan yang adil dan berimbang tidak berlaku untuk lawan politik mereka. Meski pada keempat stasiun TV ini kampanye partai lain juga diberitakan, namun angle yang dihadirkan sangat jauh ketika mereka memberitakan partai mereka sendiri. Persaingankah? Ya, tentu saja!

Yang paling saya ingat ketika saya menontoh Metro TV tadi malam. Bagi masyarakat awam, promosi bertopeng berita yang disuguhkan stasiun ini mungkin ditelan bulat-bulan saja oleh mereka. Padahal pencitraan yang dibangun oleh Metro TV terhadap Surya Paloh dan anaknya (ketika “memberikan kaki palsu” di Medan, Sumatera Utara) sangat kental terasa. Berita berisi kampanye itu dimodifikasi menjadi berita dengan angle sang anak yang notabenenya caleg partai Nasdem di Sumut itu memberikan bantuan kaki palsu kepada masyarakat.

More

Pencitraan Dahlan Iskan, Copycat Gaya Steve Jobs (?)

Istilah copycat dalam kamus yakni someone who copies the words or behavior of another, atau kalau Bahasa Indonesianya, peniru.

Well, mengapa saya katakan Dahlan Iskan copycat alias peniru gaya ex-Ceo Apple, Steve Jobs? Dugaan saya ini bisa saja salah tapi juga bisa benar dong. Saya menyadari hal tersebut setelah menonton film biografi Steve Jobs yang berjudul Jobs. Nah, dari sanalah saya tersadar bahwa salah satu menteri Indonesia yang cukup kontroversial ini, yang terkenal sangat narsis dan ultra-pencitraan ini, bisa jadi meniru gaya Steve Jobs khususnya pada sepatu.

Bukan rahasia lagi, pria satu ini melakukan apa saja demi pencitraan yang ujung-ujungnya dapat menarik simpati rakyat. Semua ini dia lakukan melalui tangan kanan dan media-medianya. Selain punya ratusan koran, 56 TV lokal, majalah, media online, dll, Dahlan Iskan juga punya antek-antek Ketua PWI di pusat dan daerah (sumber: Triomacan2000).

Kembali lagi pada kasus sepatu. Jika diperhatikan dengan cermat, sepatu yang dikenakan Dahlan memang sempat menarik perhatian media dan tentu saja rakyat Indonesia. Demi memuluskan pencitraannya, Dahlan pun melaunching sebuah novel yang diberi judul Sepatu Dahlan. Yah, pengalaman puluhan tahun di media tampaknya membuat dirinya cerdik menyusun trik-trik pencitraan. Tapiiii, tunggu dulu, kasus sepatu ini membuat saya senyum-senyum sinis karena pencitraan Dahlan Iskan ini sama sekali tidak kreatif.

Bagi yang belum menonton film Jobs, silahkan tonton dulu dan Anda akan tahu apa yang saya maksud. Tak hanya sepatu, tetapi juga body language Steve Jobs ketika berbicara di hadapan forum juga ditiru Dahlan Iskan.

dahlaniskan-stevejobs

Mencari perhatian, pencitraan, dan mendapatkan sanjungan memang Dahlan Iskan rajanya. Di blognya saja dia juga sempat bercerita bahwa dirinya menjadi tempat belajar (kalau bagi saya itu mah“konsultasi pencitraan”) bagi para Dirut-dirut BUMN. Dahlan menulis bagaimana Dirut-dirut tersebut “belajar” senyum tulus (jadi bibir aja nih yang tulus, hati seperti harimau) hehe… Jika Anda juga memperhatikan blognya, tulisan Dahlan Iskan juga penuuuuh dengan pencitraan.

Oh iya, di salah satu forum juga dikatakan bahwa gaya penulisan Dahlan Iskan juga mirip dengan gaya penulisan Steve Jobs. Ntahlah, mungkin Dahlan Iskan pencinta berat Jobs sehingga apa yang ada di diri Jobs ia tiru. Jadi pertanyannya, kemana jati diri Dahlan Iskan yang sebenarnya?

Well, apa yang saya paparkan berbalik lagi kepada keyakinan Anda masing-masing. Ini hanya opini, bisa salah dan tentu bisa benar. Hehe… Dan jika ditanya saya pro atau kontra dengan Dahlan Iskan, saya tegaskan saya kontra dengan beliau. Karena memang saya sangat nausea dengan pencitraan-pencitraan yang ia perbuat. Namanya juga orang media, eh, RAJA MEDIA, jadi sangat-sangat lihai membuat pencitraan. []

©dilanovia 12122013 13:05

Previous Older Entries