Diselingkuhin, Jangan Takut!

Banyak banget kasus perselingkuhan yang sudah saya dengar. Mulai dari perselingluhan teman-teman semasa SMA, teman-teman di bangku kuliah, hingga perselingkuhan tingkat orang-orang dewasa (baca: para istri atau suami) yang tidak sengaja saya dengar dari curhatan mereka dengan ibu saya. Fenomena ini memang sudah lumrah terjadi, menurut saya. Faktor media massa pun sdikit banyaknya ikut mempengaruhi fenomena tersebut. Mulai dari acara gosip selebriti hingga sinetron atau film yang menceritakan kisah-kisah perselingkuhan atau sejenisnya.
So, what’s problem? Masalahnya adalah ketika kita mengetahui pasangan yang kita cintai selingkuh. Hati rasanya bagai disambar petir (atau bahkan lebih ngeri dari itu). Maybe you you explain to me how do you feel?
Terlepas dari itu, ada yang sering kali dilupakan oleh korban perselingkuhan. Setahu saya, mereka hanya menangis bombai berhari-hari hingga melupakan kondisi fisiknya sendiri. Bahkan ada yang tidak mau makan, mengurung diri di kamar berhari-hari, tidak mandi, nge-drunk, bahkan ada yang lupa bagaimana caranya tersenyum! Behh….
C’mon. Tinggalkan dan lupakan cara-cara primitif itu. There’s no function! Itu hanya akan merugikan diri kamu sendiri sementara sang pacar yang selingkuh toh tetap santai-santai saja dengan selingkuhannya. Double toh sakitnya?
Coba deh ciptakan pola pikir positif bahwa kejadian yang menimpamu merupakan sebuah rahmat yang menandakan Tuhan masih sayang sama kamu. Rasa sayang yang kamu miliki itu ternyata tidak pantas kamu berikan kepada ‘si tukang selingkuh’ itu. Percalah bahwa nantinya akan ada ‘Mr. Right’ or ‘Ms. Right’ yang akan dikirimkan Tuhan untukmu. Yang memiliki kulitas sayang yang sama denganmu.
Ingat bahwa pacarmu yang selingkuh itu adalah orang yang merugi karena telah menyia-nyiakan orang baik seperti kamu. Ups, Belum tentu juga kan selingkuhannya itu lebih baik dari kamu. 🙂 So, just enjoy! Nikmati hidup dan kehidupanmu bersama orang-orang yang baik. Bukan orang-orang yang hanya akan menyakitimu.
But, wait, kasus perselingkuhan yang menimpamu sebaiknya juga menjadi pelajaran yang berharga. Jadikan semua itu sebagai instrospeksi diri. Buat dirimu lebih baik. Belajar dari kesalahan. Belajar menjadi orang yang kuat untuk menyongsong masa depan 🙂  ingat, jauh-jauhlah dari Ke-Ga-Lau-An!! 🙂 🙂 and Let’s shout, “DiSELINGKUHIN, JANGAN TAKUT!!! 😀 😀

©dilanovia, 01012012 19.35

Advertisements

Detik-Detik Menjelang Tahun Baru

Tujuh jam menjelang tahun baru, rasanya hidup ini singkat banget. Yeah, welcome to two thousan and twelve. Walau banyak rumor negatif yang beredar bahwa tahun tersebut merupakan tahun terakhir manusia dan segala isinya berada di muka bumi ini, segalanya tetap berjalan sebagai mana biasa. Good, rumor-rumor tersebut tidak menjadi hambatan yang berarti—untuk saat ini. I don’t know what will happen tomorrow.

Well, new year is identical with the trumpets, but so far, I see the trumpet traders just not as much as 2011 ago. Biasanya jam-jam segini pedagang terompet itu sudah booking tempat di sisi-sisi jalan untuk menjajakan aneka trompet. Tapi, sejauh ini keadaan jalan adem-adem saja. Bersih dari pedagang terompet? Do you know why?

It’s not promblem with me, mau ada trompet atau tidak toh I’m not used to celebrate the new year. And what the hell you doing when the night of new year? Berpesta pora dengan teman-teman? Hang out? Atau yang lebih gayanya lagi ber-wine-wine solution? Remember! “Wine-wine solution” NOT “win-win solution”. You know that? Kalau win-win solution merupakan suatu cara yang digunakan untuk menyelesaikan suatu konflik alias trouble solving, but wine-wine solution, it’s means you gotta drunk and hangover.

Kadang itu lah salahnya. Ntah dari mana asalnya malam tahun baru sama artinya dengan malam pesta pora. Kalau nggak ada pesta nggak rame. Bakalan dikatain nggak asyik kalau pas di malam tahun baru hanya duduk diam di rumah. Pikiran masyarakat terutama anak-anak muda sudah terdoktrin dengan asumsi bahwa “ini malam tahun baru lho, manfaatin malam-malam terakhir di tahun ini, ayo pesta-pesta”. Behh….

Bukannnya saya mengajari, mendikte, apalagi menjadi orang yang sok paham akan segala hal. Tapi, bagaimana jika malam tahun baru dijadiin malam buat  renungan diri masing-masing apa saja yang sudak dilakukan di tahun sebelumnya, dan target apa yang akan dicapai untuk tahun berikutnya. Saya rasa, party hanya membuang-buang waktu. Hanya kebahagiaan sesaat yang didapat. I don’t force by the way, tapi coba dipikirin lagi.

©dilanovia 31122011  16:45

Trip to Kabun, Rokan Hulu

Kabun is a district in Rokan Hulu regency, Riau, Indonesia. In Kabun, you’ll find a thousands of sawit (a type of palm tree with seeds that produce edible palm oil). Beside that, in the part of this place was existed a stream of river. And in Saturday, Des 24, me and my friends was gone to this place.

Journey was began

Bring a gallon of water for drink reserve

Here we are! 😀 😀

That splashes are so entice

It’s time tu luch. The cold water will make you so hungry

Sharing and discussing

First you must go down, and second, you must climb

We are happy together 😀 🙂

I can’t forget that trip. It’s so satisfy!

Doa Seorang Ayah

Tuhan, bentuklah putraku menjadi manusia yang berhasrat, mewujudkan cita-citanya, dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja. Seorang yang yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan. Tuhanku, aku mohon, janganlah bimbing putraku di jalan yang mudah dan lunak, namun tuntutnlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan, dan tantangan. Biarkan putraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya. Ajarilah dia berhati tulus, bercita-cita tinggi, sanggup  memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain. Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis dan duka. Putra yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah, namun tidak melupakan masa lampau. Dan setelah semua menjadi miliknya, berikan dia cukup kejenakaan sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidup. Tuhanku, berilah ia kerendahan hati agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki. Pada sumber kearifan, kelemah lembutan, dan kekuatan yang sempurna. Dan pada akhirnya, bila semua itu terwujud, hamba ayahnya dengan berani berkata, hidupmu tidaklah sia-sia. (disadur dari siaran SMART FM-Strong From Home, Selasa (29/11/11)

©dilanovia 28122011 02:07

Mantan=Sampah???

Saat saya berjalan menuju parkiran kampus, saya mendengar sekumpulan cewek-cewek yang sedang asyik bercerita. Awalnya saya tidak tahu apa yang mereka obrolkan, tapi setelah jarak saya semakin dekat, saya cukup kaget dengan apa yang mereka perbincangkan. Salah satu dari mereka mengatakan, “buanglah mantan pada tempatnya”. Kalimat itu langsung disusul oleh cewek satunya, “sampah kali yang dibuang pada tempatnya”. Mereka yang berjumlah tiga orang itu pun langsung tertawa bersama, “hahaha”. Ckckck…

Hmm… benarkah mantan itu diibaratkan dengan sampah yang harus dibuang pada tempatnya? Apakah itu tidak terlalu berlebihan (baca: kejam). Bayangkan saja, orang yang dulu pernah kita cintai, kita panggil dia dengan sebutan mami/papi, yang kita sms setiap hari, yang selalu ada di hati bahkan hingga maut mengakhiri. [Huek!] Kemana perginya semua kata-kata manis itu coba?

Memang, sudah banyak kasus yang membuktikan bahwa ‘sang mantan’ sama dengan ‘musuh’ yang teramat sangat dibenci–yang sebisa mungkin di hindari dan harus dilenyapkan dari muka bumi [kejam banget ya?] Maybe, dibalik itu semua pasti ada alasan logis yang membuat pemikiran kita terhadap Ex-BF/GF itu berubah amat drastis. But, come on, tidak ada gunanya juga kan memusuhi mereka? Meski sebuah hubungan itu berakhir gara-gara kesalahannya, dan mungkin membuat kita teramat sangat kecewa, coba deh ambil sisi positif dari kejadian tersebut.

Anggap saja dia merupakan tempat persinggahan sementaramu agar kamu benar-benar menemukan persinggahan terakhir. Kamu juga bisa belajar kan dari kegagalan hubunganmu dengan dia sehingga hubungan yang selanjutnya dapat kamu jalani dengan lebih baik. Itung-itung buat instrospeksi diri juga. O, ya, saya tidak akan lupa dengan pesan salah seorang ex-boyfriend saya. Mungkin juga bisa dijadikan acuan buat kamu yang membaca tulisan ini. Intinya begini, Tuhan mempertemukan orang yang salah terlebih dahulu kepada kita agat kita memahami bahwa menemukan orang yang tepat itu memerlukan sebuah pengorbanan. Selain itu, pertemuan kita dengan o’rang yang salah’ juga dimaksudkan agar kita bersyukur bahwa kelak, dari orang-orang yang salah itu lah kita diantarkan menjumpai orang yang benar-benar tepat untuk kita [baca: Jodoh]. 🙂

©dilanovia, 221211 2:19

Everybody, Go Green, Please!

KERUSAKAN lingkungan yang tengah melanda bumi ini tentu menjadi tanggung jawab setiap insan dunia. Bukan semata menjadi tanggung jawab pemerintah dan perusahaan swasta, melainkan juga setiap individu anggota masyarakat yang kerap memberikan sumbangsih sehingga membuat bumi tidak lagi lestari, pemanasan global timbul, dan lingkungan rusak. Prinsip sederhana yang harus dilakukan setiap manusia untuk menjaga kelestarian lingkungan ialah dimulai dengan diri sendiri, misalnya dengan menghemat air dan energi demi kenyamanan lingkungan bersama.

Demikian salah satu artikel yang tertulis pada salah satu rubrik di harian Media Indonesia edisi Sabtu, 22 Oktober 2011 lalu. Artikel yang bertema penghematan mulai dari diri sendiri ini  membuat saya belajar, dan saya harap Anda yang membaca tulisan ini juga semakin tahu 😀 Well, Untuk menghemat air, ada baiknya setiap kali menggosok gigi jangan membiarkan air keran terus mengalir. Aktivitas menggosok gigiyang memakan waktu sekitar 5 menit, sekaligus dapat digunakan untuk menghemat air denganmematikan aliran air. Setiap 5 menit air yang terus mengalir juga akan berakibat pemborosan ekonomi. Selain itu ketika sedang mandi, setiap orang juga dapat menghemat air dengan mematikan aliran shower ketika sedang menggunakan sabun atau sampo pada tubuh. Alangkah baiknya bila waktu mandi selama 20 menit diikuti dengan penghematan air sehingga air tidak terus menerus mengalir dalam waktu lama. More

Are You Fashionista OR Fashion Victim?

Kalau ngomongin fashion (fesyen) yang langsung terbayang di benak kita pastinya sepatu, tas, baju, parfum dan berbagai aksesoris-aksesoris pendukung lainnya yang paling update. Nggak ketinggalan merek-merek ternama seperti Christian Dior, Vercase, Louis Vuitton, Hermes, Chanel, Fendi, Ferragamo, Giorgio Armani, Fratelli Rossetti, Prada, Valentino, Cartier, dan masih banyak lagi. Itu pun merek-merek dunia yang harganya selangit, belum lagi dari merek bertaraf midle hingga yang paling bawah yang bejubel banyaknya.

Well, forget about branded because i wanna giving an opinion to all of you. Begini, pernah denger kata ‘Fashionista’, bukan? Itu lho kaum pencinta fashion yang kalau soal gaya pasti update banget, selalu ngikutin mode, dan selalu tampil trendi. Then, how about ‘fashion victim’? Denger kata ‘victim’ saja saya rasa anda sudah mengerutkan dahi. Fashion victim alias korban fesyen—korban di sini maksudnya bukan seperti korban-korban banjir, earthquake, tsunami, badai katrina, atau tornado. Korban di sini maksudnya adalah orang-orang yang menderita akibat ingin tampil gaya dan modis. Nah, yang sering jadi korban itu biasanya anggota badan seperti kaki, leher, dan pinggang. Eits, dompet pun menjadi korban ampuhnya juga lho. Duh, kasihan!

Sulit memang memberi batasan antara fashionista dan fashion victim. Mereka yang selalu mengikuti perkembangan dunia fashion memang biasanya selalu tampil gaya. Tak heran jika banyak di antara mereka yang membeli barang-barang fashion yang sedang in dan pastinya menguras banyak biaya. Biasanya yang seperti ini berasal dari kaum elit yang punya banyak duit. Tapi, secara tidak sadar mereka juga menjadi korban fashion. Mengapa? Karena dengan membeli barang-barang tersebut—dengan tujuan biar terlihat modis dan membuat iri ribuan pasang mata—mereka mengorbankan uang mereka untuk itu. Ujung-ujungnya ya tagihan kartu kredit membengkak, bahkan ada yang membeli barang KW yang harganya juga tetap selangit. Sigh!

Now, let’s see the middle or lower class yang juga berharap ingin tampil modis tetapi terkendala dengan biaya More

Previous Older Entries