Dirgahayu ke-71 Indonesiaku

IMG_20160816_205553

Aku memang tak sekuat Cut Nyak Dien, yang rela dibuang jauh dari tanah asalnya ke suatu daerah terpencil di Kabupaten Sumedang karena melawan penjajah Belanda.
Aku tak segigih Kartini, yang berjuang keras membakar semangat kaumnya demi  kebangkitan perempuan pribumi.
Aku pun tak setangguh Martha Christina Tiahahu, seorang remaja puteri yang langsung terjun di medan pertempuran melawan kolonial Belanda dalam perang Pattimura.
Dan aku juga tak seberani Siti Manggopoh, perempuan asli Minangkabau yang melakukan perlawanan terhadap kebijakan pajak uang oleh Belanda melalui Perang Belasting.
Aku memang generasi yang hidup di masa kemerdekaan
Menyemai hasil jerih payah para pahlawan yang berkorban hingga titik darah penghabisan.
Tak lagi mengecap penindasan
Bukan sebagai pekerja rodi, atau pun budak romusha
Mungkin perjuanganku sebagai wanita saat ini tak lagi mengangkat senjata, menghunus bambu runcing, atau menyusun siasat gerilya
Katanya, wanita yang berjuang mengisi kemerdekaan saat ini adalah mereka yang tidak hanya berjuang di dalam keluarga di rumah mereka
Namun, mereka keluar rumah dan berjuang untuk bangsanya…
Pernyataan itu, mungkin ada yang pro dan juga kontra
Namun, bagiku, wanita yang berjuang mengisi kemerdekaan adalah mereka yang mampu berdiri dengan segudang karya
Ntah mereka yang duduk di belakang meja
Atau mereka yang berkutat membesarkan para penerus bangsa
Dirgahayu ke-71 Indonesiaku…

©dilanovia 17082016 0116

Advertisements

Dipanggil Ukhti…

image

Mendengar kata “ukhti” bagi sebagian orang akan langsung berfikir bahwa panggilan tersebut biasa digunakan untuk memanggil kaum muslimah yang menggunakan jilbab lebar, anggota rohis, aktivis dakwah, penuntut ilmu syar’i, atau sering mengikuti kajian-kajian Islam. Memang sejauh yang saya ketahui, panggilan tersebut idientik digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sangat memperhatikan dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam. Jika diibaratkan dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang pernah saya pelajari dulu, sebutan tersebut condong ditujukan kepada hal yang positif atau yang baik-baik, dalam hal ini adalah perempuan baik-baik.
Kata “ukhti” sendiri berasal dari bahasa arab, ﺃﺧﺘﻲ (baca: ukhtii) yang artinya adalah saudariku. Umumnya, sah-sah saja panggilan tersebut ditujukan bagi siapa saja yang berjenis kelamin perempuan. Toh, artinya kalau di Bahasa Indonesia sama saja dengan memanggil kak (perempuan) atau dik (perempuan). Meskipun di dalam pelajaran Bahasa Arab sebutan ukhti ini ditujukan untuk saudari yang memiliki hubungan darah (maaf dan tolong ralat kalau salah). Namun, seperti yang saya katakan sebelumnya, panggilan “ukhti” menjadi panggilan yang lumrah digunakan oleh “sebagian” perempuan yang biasanya berjilbab syar’i.
Well, sejak mengikuti berbagai kajian dan hijrahnya penampilan, saya semakin sering dipanggil ukhti. Awal mula dipanggil dengan sebutan tersebut ada rasa malu dan kagok di diri ini. “Ukhti Dila”. Siapa sangka saya dipanggil demikian. Apalagi lidah ini belum terbiasa dengan ucapan-ucapan ala arab seperti afwan, ikhwan, akhwat, akhi, ana, antum, wa iyyaki, dan sebagainya. Lha sekarang saya malah sering dipanggil ukhti oleh kelompok-kelompok di pengajian yang saya ikuti.
Anyway, bagi saya pribadi rasanya saya belum cocok dipanggil ukhti. Meskipun bukan tidak nyaman, tapi merasa belum pantas saja. Ntah mengapa, brand image ukhti bagi saya adalah sosok perempuan alim, baik tutur kata dan tingkah lakunya, taat menjalankan perintah agama, serta jauh dari segala maksiat. Sedangkan rasanya saya masih jauh ke arah itu. Saya musti banyak belajar dan terus belajar ilmu agama yang syar’i.
Namun, di sisi lain panggilan tersebut juga menjadi penyemangat buat diri ini agar terus hijrah ke arah kebaikan. Mungkin panggilan ukhti bagi saya selain (jujur) sebagai penghargaan (ada rasa haru ketika dipanggil ukti :)), juga sebagai amanah yang harus saya jaga dengan cara memperbaiki diri yang masih belum baik ini.[]

©dilanovia 12052016 23:30

Do and Don’t: I’m Only Human

image

Allah telah mengatakan di dalam Al Quran bahwa setiap manusia memiliki potensi baik dan potensi buruk. Dan sebaik-baiknya manusia adalah dia yang meminta ampun atas segala kesalahan yang diperbuat.

Saya? Saya hanya perempuan biasa. Masih dalam kategori “belum baik” dan “masih harus diperbaiki”.

Bagaimana dengan jilbab saya? Ya, Alhamdulillah saat ini jilbab ini sudah menjulur panjang menutupi dada. Saya berusaha keras untuk mempertahankannya.

Bagaimana dengan pakaian? Alhamdulillah baju yang saya kenakan juga semakin longgar.

Bagaimana dengan akhlak? Ya, saat ini saya  sedang berusaha keras menjadi manusia yang lebih baik dari hari sebelumnya. Saya juga berusaha keras menjaga lisan, pandangan, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya tidak terjerumus ke jalan yang salah. More

Korban Komoditi dan Eksploitasi Media yang Bernama “Wanita”

wanita eksploitasi media

Sudah bukan hal tabu lagi bahwa wanita dan media memiliki hubungan yang sangat intim. Wanita memberi rona dalam setiap program pertelevisian. Ketidakhadiran wanita dalam sebuah program bagai sayur tanpa garam. Hambar!

Begitulah kekuatan yang dimiliki oleh wanita. Fisualisasi yang diberikan oleh kaum hawa ini memberikan kesan yang mampu meningkatkan gairah khalayak untuk menyaksikan sebuah program acara.

Namun, sangat disayangkan sekali jika “marwah” seorang wanita dieksploitasi dan dijadikan komoditi oleh media. Dengan tujuan meraih pundi-pundi rupiah setinggi satelitnya, media tak henti menciptakan program-program yang lambat-laun “merenggut” eksklusifitas wanita.

Hal ini dapat disaksikan dalam program Indonesia Lawak Klub. Program ini membahas sebuah isu yang diwarnai dengan humor. Tim kreatif program tersebut menempatkan wanita-wanita cantik dan seksi ini ditempat-tempat strategis sehingga memudahkan para cameraman untuk men-shoot mereka. Tak hanya sekali dua kali para wanita cantik ini dishoot, bahkan mereka dishoot dalam waktu yang cukup lama.

Mungkin banyak khalayak yang mempertanyakan apa gunanya wanita-wanita ini? Toh mereka tidak bicara sama sekali. Mereka hanya menebar senyum ketika kamera menyuting mereka. Untuk apa wanita-wanita ini? Apa hanya pajangan dan patung penyemarak program acara? More