Dirgahayu ke-71 Indonesiaku

IMG_20160816_205553

Aku memang tak sekuat Cut Nyak Dien, yang rela dibuang jauh dari tanah asalnya ke suatu daerah terpencil di Kabupaten Sumedang karena melawan penjajah Belanda.
Aku tak segigih Kartini, yang berjuang keras membakar semangat kaumnya demi  kebangkitan perempuan pribumi.
Aku pun tak setangguh Martha Christina Tiahahu, seorang remaja puteri yang langsung terjun di medan pertempuran melawan kolonial Belanda dalam perang Pattimura.
Dan aku juga tak seberani Siti Manggopoh, perempuan asli Minangkabau yang melakukan perlawanan terhadap kebijakan pajak uang oleh Belanda melalui Perang Belasting.
Aku memang generasi yang hidup di masa kemerdekaan
Menyemai hasil jerih payah para pahlawan yang berkorban hingga titik darah penghabisan.
Tak lagi mengecap penindasan
Bukan sebagai pekerja rodi, atau pun budak romusha
Mungkin perjuanganku sebagai wanita saat ini tak lagi mengangkat senjata, menghunus bambu runcing, atau menyusun siasat gerilya
Katanya, wanita yang berjuang mengisi kemerdekaan saat ini adalah mereka yang tidak hanya berjuang di dalam keluarga di rumah mereka
Namun, mereka keluar rumah dan berjuang untuk bangsanya…
Pernyataan itu, mungkin ada yang pro dan juga kontra
Namun, bagiku, wanita yang berjuang mengisi kemerdekaan adalah mereka yang mampu berdiri dengan segudang karya
Ntah mereka yang duduk di belakang meja
Atau mereka yang berkutat membesarkan para penerus bangsa
Dirgahayu ke-71 Indonesiaku…

©dilanovia 17082016 0116

Antara Rezeki dan Ajal

image

Banyak manusia merasa khawatir dalam mencari rezeki karunia Allah Swt. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela menggadai diri dan menghinakan martabat.
Banyak manusia merasa khawatir dalam mencari rezeki karunia Allah Swt. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela menggadai diri dan menghinakan martabat. Kondisi dunia modern yang sarat persaingan dan pergulatan menuntut mereka untuk lebih berjibaku dalam mencari nafkah berupa karunia Tuhan. Betapa banyak setiap pagi hari di belahan bumi manapun didapati wajah-wajah penuh ketegangan dan kepanikan yang memancarkan rona khawatir dalam mengais rezeki di pagi hari. Seolah mereka tiada memiliki Tuhan yang Maha Kaya Yang Mampu menjamin rezeki setiap hambaNya. Dialah Allah, Ar Razzaq Sang Pemberi Rezeki.
Hal yang sering luput dari diri manusia zaman modern ini adalah keimanan dan keyakinan bahwa Allah Swt telah menjamin rezeki dan nafkah setiap hambaNya. Karena keyakinan ini semakin memudar, maka setiap individu bergulat dan berkutat dalam kehidupan dunia demi memenuhi kebutuhan hidup belaka.
Dalam kitab Mirqaat al Mafatiih terdapat kutipan pernyataan Al Qusyairi yang mengatakan, ““Seseorang yang mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pemberi Rezeki, berarti ia telah menyandarkan tujuan kepadaNya dan mendekatkan diri dengan terus bertawakal kepadaNya.”
Pernyataan Al Qusyairi ini penting untuk diyakini bahwa memang kunci mendapatkan rezeki adalah dengan mendatangi Sang Pemilik rezeki yaitu Ar Razzaq! Sebab dengan mendatanginya maka segala kebutuhan akan terpenuhi.
Apakah kita belum pernah mendengar hadits yang amat masyhur ini:
Hai manusia, jika dari generasi pertama sampai terakhir, baik jin dan manusia berkumpul dalam satu tempat untuk meminta kepadaKu, lalu masing-masing orang meminta untuk dipenuhi kebutuhannya, niscaya hal tersebut tidak mengurangi sedikit pun dari kekuasaanKu, kecuali hanya seperti jarum yang dicelupkan di laut. (HR. Muslim) More

Antara Memperbaiki Diri dan Menemukan Jodoh

image

Banyak kaum adam dan hawa yang sedang mencari jodoh, berpikiran bahwa jika ingin mendapatkan pasangan hidup, maka hal yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah memperbaiki diri sendiri.

Konsep ini memang tidak salah. Banyak di antara kita melakukan hal tersebut karena berdasarkan Al Quran Surat An Nur ayat 26:

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…”

Adanya ayat yang luar biasa ini menjadikan para jomblowan dan jomblowati berfikir bahwa mereka akan mendapatkan jodoh yang baik jika mereka memperbaiki diri.

Lagi-lagi saya katakan itu tidak salah. TAPI, coba renungkan kembali, sudah benarkah niat kita? Apakah kita berniat memperbaiki diri hanya untuk mendapatkan pasangan hidup? Subhanallah, sungguh dangkal sekali jika niat kita hanya sebatas itu.

Sahabat fillah, mari kita luruskan konsep ini. Mari kita perbaiki niat. Bagaimana caranya?

Sahabat, mari kita perbaiki diri ini dengan tujuan agar dicintai oleh sang pemilik jasat yakni Allah subhanahu wa ta’ala. Mari perbaiki diri agar lebih dekat dengan Allah, agar dilimpahkan kasih sayang Allah, agar selalu diberikan hidayah dan nikmat iman yang semakin hari semakin bertambah.

Masya Allah, adakah yang lebih indah dari nikmat iman dan Islam? Tentu jawabannya tidak.

Lantas bagaimana dengan “memperbaiki diri untuk mendapatkan jodoh yang baik”?

Nah, sahabatku, bagi saya, tujuan utama memperbaiki diri adalah agar dekat dengan Allah, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan semakin disayang oleh Allah. Jika nantinya kita mendapatkan  jodoh yang baik, maka bagi saya itu adalah BONUS dari Allah.

Tidak terbantahkan lagi bahwa ketika Allah menyayangi hambaNya, maka Dia pasti akan memberikan yang terbaik. Bukankah Allah adalah sang maha pemberi terbaik?🙂

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Fathir: 2).

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 216).

Lagi pula, seberapa yakinkah kita jika jodoh kita di dunia adalah manusia? Bukankah jodoh yang mutlak bagi manusia di muka bumi ini adalah maut?

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…” (QS. Ali Imran: 185).

Oleh karena itu, mari perbaiki niat mulai dari sekarang. Mari memperbaiki diri BUKAN untuk sekedar mendapatkan jodoh yang baik, TETAPI mendapatkan lasih sayang dan keridhoan dari sang maha pemilik jodoh, Allah ‘Aza wa Jalla.[]

©dilanovia – Ramadhan ketiga 1437 H

Harkitnas atau Harsuhnas?

153028020160520-151146780x390

Lagi, lagi, dan lagi, hari-hari bersejarah di negeri ini dicederai oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Tepat hari ini, hari kebangkitan nasional atau harkitnas, masyarakat yang katanya beradab, malah bertingkah tanpa adab. Demonstrasi yang awalnya damai di depan kantor KPK Jalan HR Rasuna Said, berubah menjadi aksi anarkis. Duh, miris!

Masih segar dalam ingatan kita bahwa di lokasi yang sama, Senin, 9 Mei 2016 lalu mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melakukan aksi unjuk rasa. Namun, demonstrasi tersebut tidak berlangsung separah hari ini.

Namun, tidak dengan demo kali ini. Para pengunjuk rasa melempari polisi dengan batu, kayu, bahkan anak panah. Akibatnya, polisi antihuru-hara terpaksa melemparkan gas air mata dan tembakan water canon.

Mengapa tidak bisa belajar dengan kejadian yang sudah-sudah? Demo yang terjadi selalu saja berubah ricuh. Yang rugi siapa? Tentu yang rugi bukan saja pemerintah, tapi juga para demonstran itu sendiri. Fasilitas publik rusak, ada korban yang terluka, bahkan tidak sedikit yang meregang nyawa. More

Dipanggil Ukhti…

image

Mendengar kata “ukhti” bagi sebagian orang akan langsung berfikir bahwa panggilan tersebut biasa digunakan untuk memanggil kaum muslimah yang menggunakan jilbab lebar, anggota rohis, aktivis dakwah, penuntut ilmu syar’i, atau sering mengikuti kajian-kajian Islam. Memang sejauh yang saya ketahui, panggilan tersebut idientik digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sangat memperhatikan dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam. Jika diibaratkan dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang pernah saya pelajari dulu, sebutan tersebut condong ditujukan kepada hal yang positif atau yang baik-baik, dalam hal ini adalah perempuan baik-baik.
Kata “ukhti” sendiri berasal dari bahasa arab, ﺃﺧﺘﻲ (baca: ukhtii) yang artinya adalah saudariku. Umumnya, sah-sah saja panggilan tersebut ditujukan bagi siapa saja yang berjenis kelamin perempuan. Toh, artinya kalau di Bahasa Indonesia sama saja dengan memanggil kak (perempuan) atau dik (perempuan). Meskipun di dalam pelajaran Bahasa Arab sebutan ukhti ini ditujukan untuk saudari yang memiliki hubungan darah (maaf dan tolong ralat kalau salah). Namun, seperti yang saya katakan sebelumnya, panggilan “ukhti” menjadi panggilan yang lumrah digunakan oleh “sebagian” perempuan yang biasanya berjilbab syar’i.
Well, sejak mengikuti berbagai kajian dan hijrahnya penampilan, saya semakin sering dipanggil ukhti. Awal mula dipanggil dengan sebutan tersebut ada rasa malu dan kagok di diri ini. “Ukhti Dila”. Siapa sangka saya dipanggil demikian. Apalagi lidah ini belum terbiasa dengan ucapan-ucapan ala arab seperti afwan, ikhwan, akhwat, akhi, ana, antum, wa iyyaki, dan sebagainya. Lha sekarang saya malah sering dipanggil ukhti oleh kelompok-kelompok di pengajian yang saya ikuti.
Anyway, bagi saya pribadi rasanya saya belum cocok dipanggil ukhti. Meskipun bukan tidak nyaman, tapi merasa belum pantas saja. Ntah mengapa, brand image ukhti bagi saya adalah sosok perempuan alim, baik tutur kata dan tingkah lakunya, taat menjalankan perintah agama, serta jauh dari segala maksiat. Sedangkan rasanya saya masih jauh ke arah itu. Saya musti banyak belajar dan terus belajar ilmu agama yang syar’i.
Namun, di sisi lain panggilan tersebut juga menjadi penyemangat buat diri ini agar terus hijrah ke arah kebaikan. Mungkin panggilan ukhti bagi saya selain (jujur) sebagai penghargaan (ada rasa haru ketika dipanggil ukti :)), juga sebagai amanah yang harus saya jaga dengan cara memperbaiki diri yang masih belum baik ini.[]

©dilanovia 12052016 23:30

Apakah Manusia Memang Dilahirkan Untuk Tidak Setia?

image

Kesetiaan dan loyalitas adalah mata uang universal dalam setiap hubungan. Sebuah komitmen tidak akan ada artinya tanpa kedua hal tersebut. Sayangnya, banyak orang yang yang belum menyadari pentingnya menjaga kesetiaan. Main mata, flirting sama orang lain sampai jelas-jelas selingkuh enteng saja dilakukan.
Kenapa sih orang bisa dengan enteng selingkuh? Apa penyebab mudahnya seseorang melakukan pengingkaran terhadap sebuah komitmen? Apakah memang, secara naluriah , manusia memang lahir sebagai makhluk yang tidak setia?

1. Kita Punya Otak Untuk Merasionalkan Seluruh Perbuatan
Untung dan ruginya jadi manusia itu terletak di satu kepemilikan organ: otak. Dengan organ tubuh yang satu ini kita bisa membentuk nilai yang ingin kita jalankan dalam hidup. Kita bisa membuat sebuah perbuatan yang secara moral salah, menjadi rasional dan pantas untuk diterima.
Kamu tahu selingkuh itu salah. Kamu juga tahu kalau SMS-an mesra selain dengan pacar itu termasuk selingkuh. Tapi kamu terus membuat pemakluman dalam dirimu sendiri. Mulai dari alasan bahwa pacarmu gak perhatian, pacarmu sibuk, pacarmu di luar kota — semua ini kamu ulang di pikiran sampai kamu pun percaya bahwa kamu melakukan hal yang memang “sah”.
Meskipun kamu tahu kamu salah, kamu berusaha percaya bahwa perbuatanmu benar. Artinya, kamu tidak lebih dari sedang berbohong pada diri sendiri.

2. Pada Dasarnya, Manusia Selalu Ingin Mencoba Sesuatu yang Baru
Kebaruan selalu menggoda manusia untuk berpaling. Hal yang baru menawarkan harapan, rasa penasaran dan tantangan yang membuat adrenalin meningkat. Ketika seseorang selalu dihadapkan pada rutinitas, dia akhirnya merindukan tantangan yang berbeda dari hal yang terus dijalani saban hari.
Hukum ini juga berlaku pada hubungan romantis. Rutinitas yang telah dijalani sekian lama dengan seseorang menciptakan pola yang mudah ditebak. Sudah tidak ada lagi kejutan, tidak ada lagi hal yang perlu diperjuangkan. Semua sudah bisa diprediksi.
Rasa haus atas sesuatu yang barulah yang kerap jadi penyebab hilangnya loyalitas dalam sebuah hubungan romantis.

3. Kita Memang Pribadi Curang yang Enggan Meninggalkan Kenyamanan
Karena memiliki otak, kita bisa membuat kalkulasi untung-rugi atas sebuah aksi. Secara rasional manusia akan memilih tindakan yang menimbulkan kerugian paling kecil pada dirinya. Manusia lahir sebagai makhluk oportunis yang selalu berusaha mencari tindakan yang aman dan menguntungkan.
Selingkuh dan tidak setia adalah salah satu bukti nyata sifat oportunis manusia. Dengan selingkuh, seseorang akan tetap bisa mendapatkan kenyamanan dari hubungan yang lama sembari dihujani kejutan dari hubungan baru.
Meski terkesan tidak adil bagi pihak yang diselingkuhi, tapi seseorang yang selingkuh akan terus melanjutkan aksinya selama tindakan ini tetap dirasa menguntungkan bagi dirinya.

4. Selingkuh Menawarkan Kemungkinan-Kemungkinan Baru
Menjalin hubungan dengan orang baru (sembari terus melanjutkan komitmen yang lama) tidak hanya menawarkan petualangan dan cerita seru, tapi juga membuka berbagai kemungkinan baru. Misalnya nih, kamu pacaran sama cewek yang suka baca terus selingkuh sama cewek baru yang anak band. Alhasil, kamu akan dapat pengetahuan soal buku dan musik sekaligus.
Tidak hanya membuatmu lebih “kaya” secara pribadi, kamu juga bisa memperluas jejaring dan mendapatkan berbagai kesempatan langka. Kamu bisa kenalan sama pemilik toko buku, gaul sama promotor musik, kenalan sama anak band. Semua jejaring baru bisa berdampak pada kehidupanmu.
Pertanyaannya, kamu punya hati atau enggak untuk terus berjudi dengan perasaan orang lain demi kepuasan batinmu?

5. We Have An Animal Instinct
Manusia pada hakikatnya punya sisi liar yang mirip hewan dalam dirinya. Terutama jika berhubungan dengan hubungan fisik. Secara natural kita akan tertarik pada lawan jenis dan bisa melakukan apapun. Norma sosial dan akal sehatlah yang bisa jadi tembok pembatas.
Sayangnya, rasionalitas kerap dikalahkan oleh nafsu. Tidak jarang kita membebaskan diri dari segala aturan demi urusan organ tubuh di sela paha. Saat manusia memilih mengikuti insting dan melepaskan segala hal yang selama ini diyakininya soal kepantasan, maka apapun bisa terjadi.
Hubungan yang tidak sepantasnya terjadi bisa terjalin dengan siapapun dan dalam kondisi apapun.
More

Jualan Kok Gitu!?

Jualan secara daring alias online memang lebih menyenangkan. Si penjual tidak harus menyewa tempat dengan harga tinggi sehingga lebih menghemat biaya. Modal yang diperlukan hanyalah jaringan internet, komputer atau smartphone, dan yang pastinya musti rajian take and upload produk-produk yang ditawarkan.
Nah, masalahnya yakni ada beberapa seller yang (maaf) malas mengambil foto produknya sendiri sehingga lebih memilih mengambil foto yang sama dari online shop lain. Padahal seller yang mengupload produknya sendiri ini harus menyisihkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk memproses foto-foto tersebut hingga siap upload. Tetapi tiba-tiba ada seller yang tidak bertanggung jawab malah mencuri foto-foto tersebut.
Saya memang bukan pemilik online shop yang fotonya dicuri oleh online shop lain. Tetapi, saya kesal dengan beberapa online shop yang mengambil dan mengupload foto saya untuk jualan mereka, tanpa izin.

image

image

Awalnya saya tahu dari salah seorang teman yang mengirimkan foto melalui Line. “Ini kaya kak Dila, deh”. Kalau tidak salah seperti itu bunyi pesannya. Dan benar saja, saat saya buka saya kaget kenapa foto saya ada di iklan online shop. Akhirnya saya cari akun online shop tersebut, dan yah.. foto saya masih terpampang di sana.
Then, malam ini saya juga dibuat kaget lantaran nemu online shop yang juga memajang foto saya di “etalase” mereka. Awalnya saya hanya iseng mencari hashtag #nofuted di Instagram. FYI, #nofuted adalah kata yang terdapat di kaos-kaos/tumblr tee. Well, saat scroll and scroll, saya kaget foto saya lagi-lagi diambil oleh online shop yang tidak bertanggung jawab.

image

Hiks.. walaupun hanya dijadikan contoh pemakaian bajunya gimana, tapi saya pribadi tidak nyaman foto saya diambil tanpa izin. Wong, apa salahnya si online shop tersebut DM atau apalah untuk meminta izin kalau mereka mau ambil foto.
Internet memang memudahkan kita dalam segala hal, termasuk jualan. Tapi, lagi-lagi saya katakan, jadilah seller yang rajin, jujur, dan bertanggung jawab. Gimana rezekinya bisa berkah kalau untuk jualan saja musti mengambil foto orang lain tanpa izin.[]

©dilanovia 28042016 21:30

Previous Older Entries