Mencintaimu

Mencintaimu setulus hati adalah fitrahku karena engkau lelaki terbaik yang telah diberikan Rabb-ku kepadaku.

Taat kepadamu dengan penuh ikhlas adalah kewajibanku karena demikian yang diperintahkan oleh Rabb-ku.

Menjaga amanahmu, hartamu, itu semua adalah tugasku karena aku istrimu, pelengkap deen-mu.

Aku bukan istri yang sempurna… Sebagaimana Khadijah atau Asiah yang banyak diharap-harap oleh para pria kepada wanitanya.

Aku juga bukan Hajr yang begitu sabar kepada Nabi Ibrahim meskipun ia ditinggal tahunan lamanya di padang pasir.

Inilah aku, wanitamu, wanita akhir zaman yang punya banyak kekurangan dan kelemahan.

Semoga engkau menerima apa adanya diriku.

Aku tidak ingin mendikte, meminta ini itu darimu

Karena aku tahu kamu adalah lelaki baik yang berusaha memperlakukan istrimu dengan baik.

Satu hal yang selalu terpatri di hatiku adalah kuingin apa-apa yang kulakukan bukan semata-mata karena dirimu, melainkan karena Rabb-ku.

Karena aku percaya, apa pun yang dilakukan demi mengharap ridho-Nya, maka semua takkan berakhir sia-sia.

Aku hanya berharap semoga Allah selalu menjaga hatiku, ketaatanku, serta keikhlasanku dalam mendampingimu.

Harapku semoga Allah mudahkan dan memberikan syafaat-Nya agar kubisa menjadi sesuatu yang para muslimah juga mengidamkannya: menjadi istri sholehah yang bisa masuk surga dari pintu mana saja.

Aku menitipkanmu pada Illahi Rabbi. Rabb Yang Maha Menjaga, yang satu pun takkan luput dari penjagaanNya. Dzat yang menggengam hati dan jiwa manusia. Semoga Allah menjagamu untukku.

Harapku semoga Allah menjaga keluarga kita hingga surga.

Untuk suamiku tercinta
❤ Dila | Pekanbaru, 02112019 0438

Postinglah yang Baik

Postinglah yang baik dan bermanfaat

Bisa jadi itu postingan terakhirmu

Lalu viral menjadi perbincangan manusia

Apakah postingan terakhir itu

Mengundang manusia agar mendoakan ampunan bagimu

Ataukah membuat mereka enggan dan “malas” mendoakanmu

Atau bahkan mengundang cela bagi-mu

Apakah postingan terakhir itu

Menjadi kebaikan yang “beranak-pinak” pahala jariyah

Ataukan menjadi dosa jariyah

Yang terus mengalir selama postingan itu ada

Jauhi postingan yang buruk

Postingan mencela, mengumpat, mengghibah

Postingan memamerkan dengan sombong dan merendahkan

Postingan membuka aurat diri atau aurat orang lain

Postingan membuka aib diri dan keluarga

Postingan yang tidak berguna dan sia-sia

Jauhi semuanya

Amal kita tergantung akhirnya

Dan bagaimana penutup serta perpisahannya

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَـوَاتِيْمُ

“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. [HR Bukhari]

Semoga Allah menutup umur kita

Dengan amal shalih dan kebaikan

Serta memasukkan kita ke surga tertinggi

Aaamin Yaa Rabbal ‘aalamiin

Dikutip dari dr. Raehanul Bahrain

❤ Dila |Pekanbaru, 01112019

AKU PERNAH!

Akan tiba saat nya nanti kau akan merasakan risih ketika satu helai rambut mu ada yang terlihat.

Akan tiba saatnya nanti betapa malunya dirimu ketika kerudung yang kau gunakan itu tidak menutup dada.

Akan tiba saatnya nanti kau museumkan pakaian ketat dan celana jins mu. Lalu kau ganti isi lemari mu dengan gamis, rok, dan pakaian longgar.

Akan tiba saatnya nanti ketika kau ingin keluar rumah hal yang kau cari setelah kerudung adalah kaos kaki

Akan tiba saatnya nanti kau merasa enggan menggunakan parfum yang sangat wangi harumnya hingga mengakibatkan orang-orang yang kau lewati terpesona dengan wanginya.

Akan tiba saatnya disaat kau ingin memposting kecantikan dirimu, kau akan merasa bahwa kecantikanmu itu hanya untuk mahrommu saja. Bukan untuk dinikmati para pengguna sosial media.

More

Hakikat Orang Berilmu

HAKEKAT ORANG BERILMU BUKAN YANG BANYAK KITABNYA

Imam al-Barbahari rahimahullah berkata : “Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu sesungguhnya ilmu bukanlah diraih semata-mata dengan memperbanyak riwayat dan kitab. Sesungguhnya orang yang berilmu (yang hakiki) adalah yang mengikuti Ilmu dan Sunnah, meskipun ilmu dan kitabnya sedikit. Dan barangsiapa yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah, maka dia adalah penganut bid’ah, meskipun ilmu dan kitabnya banyak.” (Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 163).

Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat walaupun sedikit ilmu yang kita miliki, dan Allah menjauhkan kita dari sifat sombong sehingga merendahkan orang lain karena banyaknya ilmu yang kita miliki.

Allahu Musta’an

GALAU

rain-drops-336527-300x225

Beberapa dekade belakangan ini kata galau begitu populer dan selalu identik dengan perkara asmara. Apa-apa galau, dikit-dikit galau. Lagi suka, galau. Lagi patah hati, galau. Well, mungkin kita akan merasa malu, setelah mengetahui galaunya para salafus sholeh itu seperti apa…..

Imam At-Tirmidzi, beliau menangisi amalan-amalannya hingga buta menjelang akhir hayatnya. Kendati beliau seorang ulama hadist, tetap saja beliau merasa sangat kurang dalam beramal dan sangat banyak dosanya, hingga tak kuasa menahan tangisnya.

Imam An-Nawawi, beliau khawatir begitu banyak amanat ummat yang dibebankan kepadanya, hingga beliau tidak berkesempatan menikmati surga dunia, yakni menikah.

Bilal bin Rabbah, tidak ingin lagi mengumandangkan adzan setelah wafatnya Rasulullah karena tidak kuasa menahan tangisnya yang jusru akan membuatnya semakin rindu kepada Rasulullah.

Galau karena dilanda asmara itu receh! Itu terlalu kekanak-kanakan. Simpan galaumu untuk memikirkan kondisi umat yang semakin dilanda keterpurukan.

Disarikan dari buku yang berjudul #mngrskntgskl

Jakarta, 14012019

❤ Dila

Previous Older Entries