Yay!!! My Journal Has Been Published

IMG_20170413_085432

Alhamdulillah, finally this journal has been published. Yo guys.. if you need something about this journal (data, file about “drone” or UAV) feel free to ask me, or visit bnpb.go.id to download it ☺

Terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penerbitan jurnal ini. God will repay your righteousness! Cheerss….

Advertisements

Orang yang Enggan (Masuk Surga)

Oleh Syaikh DR. Malik Husein Syaban (penerjemah Ustadz Novriadi)

Orang yang enggan (dalam hadist riwayat Abu Hurairah: “Sesungguhnya umatku AKAN MASUK SURGA kecuali yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga”)
.
Orang yang enggan masuk surga adalah orang yang menyelisihi apa yang disampaikan oleh Rasulullah, tidak mentauhidkan Allah, berpaling dari perintah Allah dan RasulNya, serta yang menjerumuskan dirinya kepada apa yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
💝
Lima perkara yang kita jaga saat kita menjalankan perintah Allah dan sunnah Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni agama, jiwa/diri, keturunan, akal, dan harta.
💝
– berupaya menjaga #agama: ketika Allah dan Rasulullah memerintahkan untuk bertauhid, menjauhi syiriq, dan menjauhi bid’ah
– berupaya menjaga #jiwa/diri: ketika Allah dan Rasulullah memerintahkan memakan makanan yang baik, dan melarang bunuh diri
– berupaya menjaga #keturunan: ketika Allah dan Rasullullah memerintahkan umatnya untuk menikah dan mengharamkan zina dan perbuatan kaum Nabi Luth
– berupaya menjaga #akal: ketika Allah dan Rasulullah memerintahkan makan makanan yang baik, minum minuman yang baik, melarang memakan bangkai dan minum khamr
– berupa menjaga #harta: ketika Allah dan Rasulullah memerintahkan mencari harta dijalan yang halal dan mengharamkan mencari harta dg jalan riba dan curang.
💝
Jika kita menjaga yang lima ini, maka hal ini akan membawa keberuntungan di dunia dan akhirat, begitu pula sebaliknya. Dan perkara yang paling PENTING dari lima hal ini adalah perkara #agama (ad-diin)
***

ILC TVOne – LGBT, Sebuah Review

Dalam beberapa waktu belakangan, TVOne setidaknya telah dua kali membahas tentang LBGBT. Pertama, sekitar tanggal 19 Desember 2017 dan kali keduanya yakni hari ini 23 Januari 2018.

Hal-hal yang menarik bagi saya selama menyaksikan tanyangan tersebut adalah hukuman yang dijatuhkan kepada seseorang yang ‘mengidap’ LGBT JIKA menyangkut salah satu dari empat aspek. Keempat aspek tersebut antara lain jika dilakukan ditempat umum, jika dilakukan sebagai ajang promosi (dua aspek lagi saya lupa). Namun, intinya yang saya tangkap dari RUU KUHP tentang LGBT ini adalah ‘LGBT’ pada prinsipnya tetap dilegalkan asalkan tidak tersangkut empat aspek itu.

Nah, hal inilah pulalah yang ditangkap oleh Armando yang notabene pro LGBT. Dengan wajah riang gembira dia mengatakan bahwa jika konteksnya seperti itu, dia juga setuju. Bahkan, dia menyatakan ke rekan sebelahnya Merlyn Sopjan yang homoseksual untuk tidak perlu khawatir.

Selama ini mereka khawatir jika LGBT ini 100% ditolak karena hal tersebut bertentangan dengan HAM, dan lain-lain. Namun, jika ada syarat-syarat tertentu (satu dari empat aspek tadi) tidak terpenuhi ya otomatis LGBT tetap sah–asalkan ga terang-terangan dilakukan di tempat umum–begitulah bahasa kasarnya.

Saya malah jadi khawatir RUU KUHP tentang LGBT ini hanya menjadi ‘topeng’ belaka. Aspirasi masyarakat untuk stop LGBT seutuhnya belum terwujud. LGBT masih bebas berkeliaran ‘asalkan’ tidak menyinggung empat syarat tadi. Bukankah ini pemelintiran belaka? Karena masih ada syarat-syarat tersubung di dalamnya.

Ini sama halnya seperti iklan atau promo di pusat-pusat perbelanjaan. For example: you can buy vegetable oil for $15 if your total purchases are $100. Yahh… Ini mah sama aja diskon bersyarat. Begitu juga dengan LGBT. Penolakan LGBT tapi bersayarat.

Hakikat penolakan LGBT ini belum benar-benar terang, menurut saya. Malah ini menjadi angin segar bagi mereka yang pro LGBT untuk tetap eksis asalkan nggak terlihat, nggak show off, nggak pamer, nggak terang-terangan melakukan promosi LGBT, dan nggak melakukan tindakan ‘buka-bukaan’ lainnya.

Jujur, saya masih khawatir…

Ada tanggapan?

Mendadak Ngefans Alex Abdullah Abbad

perjuangan-alex-abbad-untuk-menangis-di-f853ca

Do you know Alex Abdullah Abbad a.k.a Alex Abbad? Yeah, jika pertanyaan ini ditanyakan ke saya sebulan ya laluuu aja, saya pasti akan jawab, “who is he?” Tapi sekarang nggak lagi sodara-sodara. Malahan saya berpikir, where the hell am I? Kok sosok Alex Abbad bisa ke-skip ya… Hehehe…

Well, saya baru tahu sosok Alex Abbad itu setelah menonton film 99 Cahaya di Langit Eropa. Dan film itu baru saya tonton BULAN LALU. Oh, sorry, ini keterlaluan emang! Keterlaluan kudetnya! 😀 Awalnya pas nonton film itu just thinking, ini pria kok nggak bosen-bosen sih ya lihatnya. Apalagi di dalam film tersebut dia berperan sebagai seorang muslim yang taat dan menyayangi orangtuanya (especially his father).

Saat menonton film itu saya tidak tahu namanya siapa. Saya pun menunggu bagian credits-nya muncul. And you know setelah mantengin layar tv, finally I’ve got his name. Yay!

Setelah saya seaching, googling, instragaming, saya ketemu deh sama akunnya dia. Satu persatu saya lihat postingan dia yang nggak begitu banyak. Dan yang paling menarik dari postingan itu ada dua.

Pertama, postingan dia bersama ibunya. Suka melted gitu kalau udah lihat cowok, cakep pula, posting foto bersama ibu mereka. Hehehe… Kedua, style Alex Abbad dalam berpakaian. Kayanya ini sudah menjadi ciri khasnya dia yang kalau berpakaian tuh “nyentrik” (tapi tetap kece). Pertama-tama lihat malah saya sering heran, is he a Jew or Muslim? Oh, ternyata dia Muslim, indonesia-arab.

Ternyata dia juga pernah posting foto with no beard, OMG sempet pangling karena dia mirip banget sama Maher Zain. Dan, terakhir saya lihat dia foto pake kupluk, kayanya foto lama, and you know dia mirip siapa? Dia mirip Ustadz Hanan Attaqi. Hehehe…

*Tulisn ini dibuat sekitar Oktober 2017 lalu

After Unhan, Ini Aku yang Sekarang

Susah nyari foto yang “bener” adanya foto kaya begini semua hehehe

Sepertinya saya perlu menulis cerita ini karena banyak sekali para netizen (ceilee) yang menanyakan hal yang sama berulang-ulang. Dari pada kamu repot-repot menanyakan itu ke saya, dan juga saya pun beberapa hari ini (sok) sibuk dengan berbagai kerjaan sehingga slow response membalas komen kamu di blog, email, atau DM di instagram, silahkan simak tulisan ini. 🙂

Anyway, banyak yang menanyakan, “Mbak Dila jadi masuk di Unhan?”, “Halo, Ka Dila, aku baca artikel kakak tentang masuk Unhan. Kakak sekarang semester berapa kak?,” Ka Dila udah lulus?”,”Sekarang kerja dimana kak?”.

Well, well, dari beberapa pertanyan itu saya jawab,  ya…

  • Pertama, ya, Alhamdulillah saya sudah merasakan kuliah di Unhan yang artinya saya lulus seleksi penerimaan mahasiswa di Unhan. HoRReyy….
  • Kedua, Alhamdulillah lagi, saya sudah lulus alias wisuda Maret 2016 lalu.
  • Gimana masalah pekerjaan? Nah, sebagaimana yang telah saya jelaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya, Unhan tidak memiliki ikatan dinas. So, bagi mereka yang saat kuliah di Unhan memang belum bekerja maka dia harus mencari pekerjaan sendiri.
  • Terkait dengan itu, saya pun berusaha mencari pekerjaan sendiri yang sebisa mungkin terkait dengan jurusan saya pada saat di Unhan yaitu Manajemen Bencana.
  • Enggak lama setelah lulus, Alhamdulillah banget saya diterima sebagai fasilitator di program Desa Tangguh Bencana (Destana) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Program itu berlangsung selama enam bulan which is itu berankhir Desember 2016. Lokasinya di salah satu desa di Kabupaten Kampar, Riau.
  • Setelah keluar masuk desa (I’m so happy because I have a huge experience on this program), tahun berikutnya saya mendapat panggilan untuk bekerja di salah satu lembaga sertifikasi khusus penanggulangan bencana, hingga saat ini

Gimana, gimana? Semoga infonya jelas ya. Dan semoga nggak ada lagi yang bertanya tentang masalah yang sudah saya bahas di blog ini. Kalau kamu masih penasaran dengan hal-hal lain terkait Unhan yang belum saya ceritakan di sini, monggo tinggalkan komentar atau boleh email saya. Insyaa Allah sebisanya saya bales walau mungkin rada slow response, ya…

Oya sekali lagi, terima kasih buat kamu yang udah mampir di blog saya. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

©novia faradila 10012018 2258

Jaga Hati

img_20171229_232423-1661121721.jpg

Ibarat anggota badan, hati pun bisa bermaksiat kepada Allah. Ntah karena riya’, sombong, summu’ah, ghurur, bahkan ‘virus’ klasik yang namanya cinta. Terlebih ia lemah, mudah terbolak-balik, bagai di atas titian.

Banyak yang terpedaya karena cinta. Padahal cinta yang hakiki hanyalah ditujukan kepada Allah, Rabb yang Maha Pengasih Maha Penyayang. PadaNya-lah semua rasa cinta ini ditujukan. Bahkan, banyak yang terpedaya karena cinta, hingga risau berkepanjangan memikirkan siapa jodohnya.

Teringat Ustadz Salim A. Fillah pernah berkata, JODOH itu sudah tertulis di Lauhuf Mahfus. Mau diambil dari jalan yang HALAL atau HARAM, dapatnya yang itu juga. Yang beda rasa BERKAHnya Bukan tentang siapa, apa, berapa. Tapi tentang bagaimana Allah memberikannya. Diulur lembut mesra, atau dilempar dengan penuh murka.

Bolehkah risau perkara cinta, jodoh? Boleh, tak ada yang melarang, itu lumrah, tapi sekedarnya saja.

Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘ala diinik ‘ wa’ ala ta’atik | Wahai dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agamaMu dan di atas ketaatan kepadaMu.

Ya rabbi laa tadzarnii fardan wa anta khoirul waritsiin | Ya Rabb jangan biarkan aku sendirian dan Engkau adalah sebaik-baik dzat yang mewarisi.

💝 Jaga Hati 💝

Jakarta, 30122017 2317

Jangan Latah! 

Kemarin, 22 Desember cukup banyak kita melihat postingan-postingan yang bertuliskan “selamat hari ibu” “happy mother’s day” dan postingan sejenis lainnya. Bahkan media massa seperti TV, contohnya, juga ikut memberikan perhatian pada hari tersebut dengan menyiarkan berita-berita terkait hari ibu. Untuk di media sosial, seperti instagran apalagi. Ada yang posting tulisan saja, tak sedikit pula yang memposting foto mereka bersama ibundanya.

Yang menjadi pemikiran saya adalah mereka benar-benar paham nggak sih makna hari ibu tanggal 22 Desember itu? Atau hanya sekedar ikut-ikutan posting?  Sorry to say, dan mohon maaf, demi Allah saya nggak bermaksud menyinggung siapa-siapa di sini. Ini murni karena rasa penasaran… dan “kasihan” juga sebenernya. Posting kata-kata mesra untuk ibu, mengucapkan terima kasih dihias kata berbunga-bunga, lha dari 1 Januari hingga 21 Desember selama ini kemana saja?

Hari Ibu bagi “sebagian” masyarakat di Indonesia (yang jelas saya tidak masuk di dalamnya 😁)  jatuh pada tanggal 22 Desember. Atau di hari Minggu kedua bulan Mei bagi sebagian bangsa di Amerika, Hong Kong, Malaysia, Kanada, dan Belanda. Atau di Bulan Maret bagi sebagian bangsa Eropa dan Timur Tengah, yang mana hal tersebut berhubungan dengan kepercayaan mereka memuja Dewa Rhea, istri Dewa Kronus, ibu bagi para dewa dalam sejarah atau mitologi Yunani Kuno.

Hari ibu adalah setiap hari. Tak perlulah mengkhususkan postingan agar terlihat ikut perbartisipasi merayakan hari ibu. Biar dibilang update dan kekinian. Tak perlu!

Membuktikan rasa sayang tidak musti nunggu mother’s day,  tidak harus lewat postingan, berharap orang lain lihat dan ‘like’. Lha memangnya itu ngaruh ke kehidupan dan kebahagian orang tua kita… dunia akhirat? Saya yakin More

Do I Have a Misophonia? :(

Dari dulu saya memang tidak nyaman dengan keramaian, hingar bingar,  suara gaduh, bahkan suara token listrik yang berbunyi berulang-ulang pun saya tidak suka. Di kosan pun sepertinya saya dikenal sebagai “si tukang matiin token”. Kalau ada token anak-anak kosan yang mulai bunyi, saya langsung matiin. Karena bagi saya itu mengganggu dan membuat saya hilang konsentrasi. Sorry 😦

Hmm… Lebih parahnya lagi, beberapa bulan belakangan saya sangat tidak nyaman dengan suara kipas angin yang ada di kamar kosan. Gara-gara suara itu saya susah tidur (contohnya sekarang ini). Mau dimatiin saya kepanasan, mau dibiarin eh berisik. –“

Mungkin apa yang saya tuliskan ini terlihat lebay bagi sodara-sodara semua. Bahkan mungkin masalah-masalah yang saya sebutkan di atas terlihat sepele. But, believe me, ini masalah BESAR bagi saya.

Saya pun mulai kepo dengan masalah yang saya alami ini. Kekepoan saya mengantarkan saya pada mbah Google dan saya pun mulai mencari apakah saya mengalami penyakit atau gangguan tertentu. Kata yang saya ketik di mesin pencari Google adalah “tidak suka mendengar suara berisik”.

Screenshot_2017-12-12-01-29-39-820_com.opera.mini.native

And you know what, tak perlu waktu lama, hasil pencarian yang muncul adalah istilah “Misophonia“. Saya pun membaca salah satu artikel sambil dibayangi rasa takut kalau-kalau itu adalah masalah serius. Berikut kutipan artikel tersebut. More

Previous Older Entries