KakakAbang VS MbakMas

imageActually, kenyinyiran saya ini khusus untuk Anda yang saat ini stay di Riau, khususnya Pekanbaru. Tidaknya hanya stay sih, bahkan Anda yang memang penduduk asli daerah ini. Well, telinga saya sering panas apabila saya mendengar seseorang yang ingin permisi atau ingin bertanya memakai kata sapaan “Mbak” atau “Mas”.
Saat saya di kampus atau di mana pun yang notabenenya adalah tempat-tempat umum, apabila ada yang ingin numpang lewat atau apapun yang membutuhkan interaksi dengan orang lain yang tidak dikenal, mereka sering memanggil saya dengan sebutan “Mbak”. “Permisi, Mbak”, “Mbak, mau nanya”, “Numpang lewat, Mbak”, “Mbak, bla bla bla”, “Mbak, beginiii…” “Mbak, begituuu…”. Sigh!
Mereka pada nyadar nggak sih kalau mereka itu sedang berada di Pekanbaru-Riau, yang notabenenya adalah tanah melayu, Melayu Riau!!? Dan mereka faham nggak sih kalau sebutan “MbakMas” itu tepatnya ditujukan ke siapa!!? Kenapa sih anak-anak muda di sini sukanya nyebut panggilan itu? It’s okay kalau mau menghormati, tapi saya rasa nggak cocok kalau sebutan itu digunakan di tanah melayu ini. Kenapa harus “MbakMas”? Kenapa tidak “Kakak” atau “Abang” saja? Apa karena “MbakMas” itu lebih keren? Atau mau gagah-gagahan dengan sebutan itu?
Pernah juga saya mendengar teman saya memanggil sebutan itu untuk orang, yang saya rasa sungguh-sungguh tidak tepat dan tertengar sangat maksa dan terdengar ganjil. Dia menggunakan sebutan itu kepada orang Cina! Huh.. Help me, God!
Saya sangat-SANGAT setuju dengan perkataan Yayang C. Noor beberapa waktu silam saat saya sedang lunch bersama dia dalam sebuah acara. Salah seorang teman saya memanggilnya denan sebutan Mbak Yayang. Aktris senior yang notabenenya adalah orang Minang itupun langsung menolak panggilan itu mentah-mentah. “Ngapain manggil saya Mbak. Saya bukan orang Jawa. Lagian kita sama-sama di wilayah Sumatera kok, kecuali kalau saya lagi di Jawa, ya nggak masalah. Panggil saja saya Uni!”
Great! Itu yang saya suka! Ngapain sih musti maksain diri manggil orang dengan sebutan MbakMas, padahal kita sudah tau kita itu sedang berada di wilayah mana, dengan orang-orang yang bagaimana. Kasihan banget kalau sebutan itu digunakan hanya untuk gagah-gagahan! Jatuhnya malah jadi freak!***

©dilanovia 19012012 19:02

2 Comments (+add yours?)

  1. Yusuf
    Jan 19, 2012 @ 14:02:46

    Setuju pisaann….. “Kenapa ga Akang/Teteh aja sih? Ini kan Bandung!”

    Reply

  2. syofiaan
    Feb 01, 2012 @ 03:17:21

    Setuju banget, saya orang Sumatera juga, orang Lampung, kebetulan kuliah di tanah Jawa (Jakarta). Gak biasa dengan panggilan seperti itu tetapi teman-teman dari pelosok Jawa maupun bukan memakai kata itu untuk manggil saya, jelas saya bilang kepada mereka saya tidak suka, saya tak terbiasa, Abang, Kakak, atau Udo lebih bisa saya terima. Tanpa sinis dengan sebutan itu yah paling tidak, saya harap mereka bisa maklum dan mengerti.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: