Dipanggil Ukhti…

image

Mendengar kata “ukhti” bagi sebagian orang akan langsung berfikir bahwa panggilan tersebut biasa digunakan untuk memanggil kaum muslimah yang menggunakan jilbab lebar, anggota rohis, aktivis dakwah, penuntut ilmu syar’i, atau sering mengikuti kajian-kajian Islam. Memang sejauh yang saya ketahui, panggilan tersebut idientik digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sangat memperhatikan dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam. Jika diibaratkan dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang pernah saya pelajari dulu, sebutan tersebut condong ditujukan kepada hal yang positif atau yang baik-baik, dalam hal ini adalah perempuan baik-baik.
Kata “ukhti” sendiri berasal dari bahasa arab, ﺃﺧﺘﻲ (baca: ukhtii) yang artinya adalah saudariku. Umumnya, sah-sah saja panggilan tersebut ditujukan bagi siapa saja yang berjenis kelamin perempuan. Toh, artinya kalau di Bahasa Indonesia sama saja dengan memanggil kak (perempuan) atau dik (perempuan). Meskipun di dalam pelajaran Bahasa Arab sebutan ukhti ini ditujukan untuk saudari yang memiliki hubungan darah (maaf dan tolong ralat kalau salah). Namun, seperti yang saya katakan sebelumnya, panggilan “ukhti” menjadi panggilan yang lumrah digunakan oleh “sebagian” perempuan yang biasanya berjilbab syar’i.
Well, sejak mengikuti berbagai kajian dan hijrahnya penampilan, saya semakin sering dipanggil ukhti. Awal mula dipanggil dengan sebutan tersebut ada rasa malu dan kagok di diri ini. “Ukhti Dila”. Siapa sangka saya dipanggil demikian. Apalagi lidah ini belum terbiasa dengan ucapan-ucapan ala arab seperti afwan, ikhwan, akhwat, akhi, ana, antum, wa iyyaki, dan sebagainya. Lha sekarang saya malah sering dipanggil ukhti oleh kelompok-kelompok di pengajian yang saya ikuti.
Anyway, bagi saya pribadi rasanya saya belum cocok dipanggil ukhti. Meskipun bukan tidak nyaman, tapi merasa belum pantas saja. Ntah mengapa, brand image ukhti bagi saya adalah sosok perempuan alim, baik tutur kata dan tingkah lakunya, taat menjalankan perintah agama, serta jauh dari segala maksiat. Sedangkan rasanya saya masih jauh ke arah itu. Saya musti banyak belajar dan terus belajar ilmu agama yang syar’i.
Namun, di sisi lain panggilan tersebut juga menjadi penyemangat buat diri ini agar terus hijrah ke arah kebaikan. Mungkin panggilan ukhti bagi saya selain (jujur) sebagai penghargaan (ada rasa haru ketika dipanggil ukti :)), juga sebagai amanah yang harus saya jaga dengan cara memperbaiki diri yang masih belum baik ini.[]

©dilanovia 12052016 23:30

KakakAbang VS MbakMas

imageActually, kenyinyiran saya ini khusus untuk Anda yang saat ini stay di Riau, khususnya Pekanbaru. Tidaknya hanya stay sih, bahkan Anda yang memang penduduk asli daerah ini. Well, telinga saya sering panas apabila saya mendengar seseorang yang ingin permisi atau ingin bertanya memakai kata sapaan “Mbak” atau “Mas”.
Saat saya di kampus atau di mana pun yang notabenenya adalah tempat-tempat umum, apabila ada yang ingin numpang lewat atau apapun yang membutuhkan interaksi dengan orang lain yang tidak dikenal, mereka sering memanggil saya dengan sebutan “Mbak”. “Permisi, Mbak”, “Mbak, mau nanya”, “Numpang lewat, Mbak”, “Mbak, bla bla bla”, “Mbak, beginiii…” “Mbak, begituuu…”. Sigh!
Mereka pada nyadar nggak sih kalau mereka itu sedang berada di Pekanbaru-Riau, yang notabenenya adalah tanah melayu, Melayu Riau!!? Dan mereka faham nggak sih kalau sebutan “MbakMas” itu tepatnya ditujukan ke siapa!!? Kenapa sih anak-anak muda di sini sukanya nyebut panggilan itu? It’s okay kalau mau menghormati, tapi saya rasa nggak cocok kalau sebutan itu digunakan di tanah melayu ini. Kenapa harus “MbakMas”? Kenapa tidak “Kakak” atau “Abang” saja? Apa karena “MbakMas” itu lebih keren? Atau mau gagah-gagahan dengan sebutan itu?
Pernah juga saya mendengar teman saya memanggil sebutan itu untuk orang, yang saya rasa sungguh-sungguh tidak tepat dan tertengar sangat maksa dan terdengar ganjil. Dia menggunakan sebutan itu kepada orang Cina! Huh.. Help me, God!
Saya sangat-SANGAT setuju dengan perkataan Yayang C. Noor beberapa waktu silam saat saya sedang lunch bersama dia dalam sebuah acara. Salah seorang teman saya memanggilnya denan sebutan Mbak Yayang. Aktris senior yang notabenenya adalah orang Minang itupun langsung menolak panggilan itu mentah-mentah. “Ngapain manggil saya Mbak. Saya bukan orang Jawa. Lagian kita sama-sama di wilayah Sumatera kok, kecuali kalau saya lagi di Jawa, ya nggak masalah. Panggil saja saya Uni!”
Great! Itu yang saya suka! Ngapain sih musti maksain diri manggil orang dengan sebutan MbakMas, padahal kita sudah tau kita itu sedang berada di wilayah mana, dengan orang-orang yang bagaimana. Kasihan banget kalau sebutan itu digunakan hanya untuk gagah-gagahan! Jatuhnya malah jadi freak!***

©dilanovia 19012012 19:02