Potensi Sungai Siak Riau Layak Dipertimbangkan

image

Amazing Day! Yes, itulah kesimpulan hari ini. Hari yang melelahkan namun sangat-sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, pagi-pagi sudah dihadapkan dengan hamparan air sungai dan rindang pepohonan di kiri-kanannya. Mata yang telah lama lelah melihat ‘pohon beton’ hari ini dimanjakan dengan pemandangan menakjubkan.

Saya berpikir, betapa besar potensi yang dimiliki oleh masyarakat Pekanbaru dan Riau pada umumnya? Sangat besar! Tapi sayang, ntah mereka tidak sadar dengan potensi itu atau mereka memang malas mengembangkannya. Sungai yang sebenarnya bisa dijadikan ladang uang, malah terbengkalai begitu saja.
image

Coba tengok di Belanda sana, selain sebagai sarana transportasi, sungai juga mereka manfaatkan sebagai sarana rekreasi. Tidak ada kata terbatas karena adanya sungai.Mereka mendirikan restoran di atas sungai, bahkan hotel pun di tepi sungai. Malahan, ada yang berprofesi sebagai tukai pijat di atas sungai. Dengan bermodalkan kapal sederhana, mereka memijit para pendatang di atas sungai, di alam terbuka. Bayangkan betapa nikmatnya sensasi dipijet di alam terbuka.

Jika bangsa lain bisa, mengapa kita tidak? Mengapa hanya rela menerima keadaan tanpa ada sebuah inovasi-inovasi? Jika masyarakat si sekitar sungai atau bahkan pemerintah perhatian dengan hal ini, dapat dipastikan akan banyak menimbulkan lapangan kerja baru, investasi, bahkan sarana rekreasi di Pekanbaru pun semakin bertambah. Sedih sekali melihat warga Pekanbaru berekreasi ke Mall, air mancur tengah jalan, bahkan di tepi jalan menikmati jagung bakar. Mau beginikah selamanya? []

**The pictures taken by OPPO R821
©dilanovia 04012014

Beberapa foto di tulisan ini dihapus karena alasan privasi (dila, 20072018)

Ngedance di Masjid An Nur Pekanbaru, Di mana Etikamu!!?

Seketika mata dan hati saya langsung panas melihat sekelompok anak-anak remaja pria sedang meliuk-liukkan badan mereka. Bukan di ruang senam, bukan di sekolah, tapi di masjid. Saya rasa tidak perlu dijelaskan masjid itu apa. Masjid yang notabenenya adalah rumah ibadah umat muslim dijadikan oleh remaja-remaja tersebut sebagai tempat latihan ngedance. Ntah apa jenis dancenya. Breakdance or whatever dengan musik hip hop yang cukup keras.
Sabtu sore, di salah satu sisi bagian luar Masjid An nur Pekanbaru, di sanalah mereka melakukan atraksi yang bagi saya SANGAT SANGAT MEMALUKAN dan TIDAK PUNYA HATI NURANI. Mereka, yang dari kalangan salah satu etnis yang jumlahnya cukup banyak di Pekanbaru, merasa tanpa bersalah melakukan atraksi memalukan itu.
Saya pertama kali melihat mereka ketika hendak mengambil air wudu’. Walau sangat kaget dan marah sekali, saat itu saya hanya diam. Tapi, perasaan itu sangat tidak tenang hingga saya selesai sholat. Lantas ketika kembali lagi, saya bertanya ke salah satu pria yang duduk disana, kelihatannya kelompok mereka juga. Saya bertanya apakah mereka menari di masjid tersebut sudah mendapatkan izin dari pengurus masjid. Jawabannya sangat mengecewakan. “Saya tidak ikut nari, yang nari mereka.”
Karena emosi saya sudah memuncak, saya berlalu begitu saja. Takut-takut emosi saya tidak terbendung. Saat lumayan jauh dari mereka, salah satu yang sedang menari tadi mendekati pria itu, mungkin dia bertanya apa yang saya tanyakan tadi.
Huh, keselnya nauzubillah! Sebenarnya hingga saat saya menuliskan cerita ini saya masih kesel. Masih belum puas, mengapa mereka berani dan tanpa hati menari di sana. Di mana pengurus masjid? Di mana hati orang-orang muslim yang melihat aksi mereka itu? Saya merasa dilecehkan sebagai umat muslim karena tempat ibadah saya dan juga Anda semua yang beraga Islam dijadikan tempat latihan ngedance. Dan satu hal lagi, saya tidak habis pikir dimana hati, perasaan, pikiran, dan rasa tenggang rasa mereka terhadap umat muslim ketika mereka menggunakan tempat ibadah untuk kegiatan mereka yang dibilang “gaul”, “modern”, atau “fungky” itu.
Semoga jika Anda yang membaca tulisan ini, dan melihat kembali aksi nggak penting mereka itu bisa ditegur kembali. Atau melaporkan ke pengurus masjid. Sekian![]

©dilanovia 08062013 19:18

Momen Berharga Bersama Ralph Tampubolon, Metro TV

Ralph Tampubolon

Bagi kamu yang ngefans sama Ralph Tampubolon jangan jealous. Ya, sungguh beruntungnya saya karena bisa bertemu langsung dengan salah seorang presenter Metro TV ini. Pertemuan saya dengannya ketika dia dan beberapa presesnter Metro TV lainnya (Prabu Revolusi, Sumi Yang, Yohana Margaretha) menjadi pembicara dalam acara Metro TV On Campus di Pekanbaru, Riau.

Meski awalnya pada saat kedatangan saya dan teman-teman ke acara itu mengalami hambatan, menguras tenaga dan emosi (terlibat sedikit cekcok dengan panitia), akhirnya saya bisa melihat secara orang-orang hebat itu, langsung di hadapan saya.

Berbicara mengenai Ralph Tambubolon, awalnya saya mengira pria kelahiran Jakarta, 24 Januari 1975 ini adalah pria yang arogan karena gaya membacakan beritanya yang terkesan cuek, dengan mimik wajah yang cuek pula. Tetapi, saya salah besar.

Ketika memberikan materi dalam acara yang tersebut, saya sungguh-sungguh terkesan. Dari sepenggal cerita hidupnya, saya berpikir dia berasal dari keluarga yang berada. Tapi, dari gaya bicaranya, dari apa yang dia sampaikan, dia adalah orang yang low profile. Dia sama sekali tidak menunjukkan dia itu orang yang hebat, orang berada, tidak sama sekali. Bahkan, ketika berbicara di hadapan banyak orang, dia tidak mau terkesan menggurui.

Gaya berbicaranya yang sangat baik dan rendah hati inilah yang membuat saya memilihnya untuk saya wawancarai. Hasil wawancara ini untuk media pers kampus di kampus saya.

Proses wawancara dengan dia pun cukup mudah. Ada salah seorang cameraman Metro TV yang sangat baik yang memperkenalkan saya dengan Ralph Tampubolon. Dengan persiapan yang nyaris tidak ada—hanya modal nekad, saya pun berhasil bertemu dengannya. Berbagai pertanyaan pun mengalir begitu saja di benak saya. Walaupun pertanyaannya tidak fokus, akhirnya saya bisa menyelesaikan proses wawancara itu dengan cukup baik.

Yang paling saya ingat saat wawancara itu ketika dia mengatakan,

“Saya nggak pernah menempatkan posisi saya untuk mengajari. Saya lebih senang diskusi, berbagi ilmu. Karena saya dulu juga mahasiswa, tahu betul bagaimana rasanya. Saya menghargai teman-teman yang datang ke sini hari ini. Saya menghargai pengorbanan karena cenderung kita menganggap itu hal yang sepele. Setiap individu yang berada di dalam ruangan tadi punya tantangan hidup masing-masing, cerita hidup masing-masing, dengan kendala yang mereka hadapi, apapun lah itu. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, dan mungkin juga biaya untuk datang ke acara ini. Itu yang saya hargai.”

Wah, kata-kata yang sangat bijaksana dari orang hebat. Saya benar-benar kagum dengan dia. 🙂 Nah, kekaguman saya bertambah-berkali-kali lipat saat saya membaca profilnya di salah satu portal majalah. Memang, saat saya mewawancarainya saya lupa menanyakan profilnya secara lengkap terutama pada pendidikan. Saya hanya fokus menanyakan pengalamannya bekerja di media.

Ternyata, setelah saya baca, pengalaman pendidikannya sungguh luar biasa. Pada usia tiga tahun, dia tinggal di Amerika selama lima tahun.  Ikut ayahnya yang melanjutkan studi S3. Setelah lima tahun dia kembali ke Indonesia. Berbeda dengan anak-anak Indonesia pada umumnya, dia malah belajar bahasa Indonesia karena selama lima tahun dia lebih fasih berbahasa Inggris.

Singkat cerita, dia menamatkan pendidikanya di Fakultas Teknik Universitas Indonesia tahun 1998 dan Program S2 Komunikasi Media di Thailand tahun 2000. Ia juga pernah medalami penulisan naskah dan dasar-dasar akting selama satu tahun (2002-2003) di Boston, Amerika. I just wanna say, WOW. Pengalaman yang luar biasa dari seorang Ralph Tampubolon, yang baik dan tidak sombong 🙂

Saya sungguh merasa senang sekali bisa bertemu bahkan berbicara langsung dengannya. Percakapan yang berdurasi nggak sampai setengah jam itu nggak akan saya lupa. Saya berharap bisa bertemu dia lagi suatu ketika. Pengalaman hebat bersama orang hebat. How lucky I am.[]

 dila_dan_ralph

©dilanovia 09052013 16:14

KakakAbang VS MbakMas

imageActually, kenyinyiran saya ini khusus untuk Anda yang saat ini stay di Riau, khususnya Pekanbaru. Tidaknya hanya stay sih, bahkan Anda yang memang penduduk asli daerah ini. Well, telinga saya sering panas apabila saya mendengar seseorang yang ingin permisi atau ingin bertanya memakai kata sapaan “Mbak” atau “Mas”.
Saat saya di kampus atau di mana pun yang notabenenya adalah tempat-tempat umum, apabila ada yang ingin numpang lewat atau apapun yang membutuhkan interaksi dengan orang lain yang tidak dikenal, mereka sering memanggil saya dengan sebutan “Mbak”. “Permisi, Mbak”, “Mbak, mau nanya”, “Numpang lewat, Mbak”, “Mbak, bla bla bla”, “Mbak, beginiii…” “Mbak, begituuu…”. Sigh!
Mereka pada nyadar nggak sih kalau mereka itu sedang berada di Pekanbaru-Riau, yang notabenenya adalah tanah melayu, Melayu Riau!!? Dan mereka faham nggak sih kalau sebutan “MbakMas” itu tepatnya ditujukan ke siapa!!? Kenapa sih anak-anak muda di sini sukanya nyebut panggilan itu? It’s okay kalau mau menghormati, tapi saya rasa nggak cocok kalau sebutan itu digunakan di tanah melayu ini. Kenapa harus “MbakMas”? Kenapa tidak “Kakak” atau “Abang” saja? Apa karena “MbakMas” itu lebih keren? Atau mau gagah-gagahan dengan sebutan itu?
Pernah juga saya mendengar teman saya memanggil sebutan itu untuk orang, yang saya rasa sungguh-sungguh tidak tepat dan tertengar sangat maksa dan terdengar ganjil. Dia menggunakan sebutan itu kepada orang Cina! Huh.. Help me, God!
Saya sangat-SANGAT setuju dengan perkataan Yayang C. Noor beberapa waktu silam saat saya sedang lunch bersama dia dalam sebuah acara. Salah seorang teman saya memanggilnya denan sebutan Mbak Yayang. Aktris senior yang notabenenya adalah orang Minang itupun langsung menolak panggilan itu mentah-mentah. “Ngapain manggil saya Mbak. Saya bukan orang Jawa. Lagian kita sama-sama di wilayah Sumatera kok, kecuali kalau saya lagi di Jawa, ya nggak masalah. Panggil saja saya Uni!”
Great! Itu yang saya suka! Ngapain sih musti maksain diri manggil orang dengan sebutan MbakMas, padahal kita sudah tau kita itu sedang berada di wilayah mana, dengan orang-orang yang bagaimana. Kasihan banget kalau sebutan itu digunakan hanya untuk gagah-gagahan! Jatuhnya malah jadi freak!***

©dilanovia 19012012 19:02