Tentang Sinabung #4 – Kegiatan Rehabilitasi-Rekonstruksi pada Aspek Psikologis untuk Masyarakat Dewasa Korban Erupsi Gunung Sinabung

Salah satu kegiatan pelatihan pendampingan psikososial masyarakat terdampak erupsi Gunung Sinabung di Kabanjahe pada tanggal 26-28 Februari 2014. Sumber: Humanitarian Forum Indonesia

Salah satu kegiatan pelatihan pendampingan psikososial masyarakat terdampak erupsi Gunung Sinabung di Kabanjahe pada tanggal 26-28 Februari 2014. Sumber: Humanitarian Forum Indonesia

Beberapa pendekatan psikologis dan psikososial yang dapat dilakukan untuk membantu pemulihan masyarakat dewasa yang menjadi korban erupsi Gunung Sinabung, yakni:

a. Terapi religi
Dewasa ini perkembangan terapi dunia kedokteran telah berkembang ke arah pendekatan keagamaan (psikoreligius). Berbagai penelitian membuktikan bahwa tingkat keimanan seseorang erat hubungannya dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stressor psikosiosial (Thoha, 2012). Terapi religi dapat menghadirkan ketenangan batin, dan ketentraman jiwa sehingga kesembuhan dapat terwujud.

Masyarakat Sinabung dapat disembuhkan melalui terapi religi tersebut seperti mengadakan kegiatan siraman rohani dengan mendatangkan ulama (bagi muslim) atau pendeta (bagi nasrani). Hal ini perlu diberikan sebagai motivasi bagi masyarakat agar tetap semangat dan tabah menghadapi cobaan yang mereka alami. Selain itu, siraman rohani juga diperlukan untuk mengajak masyarakat berfikiran positif, mengingatkan mereka untuk selalu beribadah, sembari bersyukur dan menerima segala yang terjadi dengan ikhlas, serta memberikan pengertian bahwa terdapat hikmah di balik peristiwa yang mereka alami saat ini. Semua hal tersebut dilakukan melalui pendekatan ketuhanan.

b. Terapi sosial kebudayaan
Frogatt (dalam Thoha, 2012) berpendapat bahwa berkumpul dengan orang lain yang memiliki masalah serupa kadang dapat membantu. Oleh karena itu, untuk mengurangi beban psikologis masyarakat Sinabung, mereka diajak untuk saling mengungkapkan apa yang dirasakan sehingga masing-masing merasa tidak sendirian karena banyak orang lain yang mengalami masalah serupa bahkan lebih berat. Dengan demikian, akan timbul semangat baru dan gairah hidup akan besar.

Mengajak korban bencana berbicara tentang perasaannya merupakan salah satu hal dalam proses coping disaster yang disarankan oleh Federal Emergency Management Agency (FEMA). Proses tersebut melibatkan bantuan dari konselor profesional yang berurusan dengan stres pasca-bencana. Selain itu, penting juga untuk memberi pemahaman kepada korban untuk tidak menyelahkan diri sendiri atau menjadi frustrasi karena mereka merasa tidak dapat membantu ketika penyelamatan. More

Advertisements

Merantau

image

Tiba-tiba hati ini rasanya nyess banget pas lihat display picture BBM salah seorang teman tentang merantau. Kalimat demi kalimat yang tertulis bikin pilu hati. Pas banget dengan momen-momen dimana sebentar lagi saya harus merantau, meninggal kan keluarga yang sangat saya cintai.
Rasa sedih seketika menyerbu hati ini. Membayangkan bagaimana nantinya di negeri orang, dan yang pasti menahan rindu kepada orang tua itu nggak ada obatnya. Homesick is the worst thing for me.
Ah, ini nih yang nggak paling saya suka kalau sudah mau merantau. Ngebayangin say goodbye di bandara sama orang tua itu rasanya ngaco banget. Apalagi sempet Ibunda tercinta menitikkan air mata, haduh itu langsung bikin retak hati.
Tapi mau bagaimana lagi. Terlepas dari rasa sedih, pilu, gundah gulana pisah dan jauh dari orang tua, merantau benar-benar membuat saya bisa berbenah diri menjadi lebih baik. Mengerti bagaimana susah dan kerasnya hidup di negeri orang. Belajar bagaimana bertahan dan beradaptasi dengan orang lain dari berbagai latar belakang. Tidak dapat saya pungkiri, merantau merupakan salah satu proses menuju pendewasaan. Semogaa..

Merantaulah… agar kau tau bagaimana rasanya rindu dan kemana kau harus pulang

Merantaulah… engkau akan tahu betapa berharganya waktu bersama keluarga

Merantaulah… engkau kan mengerti alasan kenapa kau harus kembali.

Merantaulah… akan tumbuh cinta yang tak pernah hadir sebelumnya, pada kampung halamanmu, pada mereka yang kau tinggalkan

Merantaulah… engkau akan menghargai tiap detik waktu yang kamu lalui bersama ibu, bapak, adik, kakak, ketika kamu pulang ke rumah.

Merantaulah… engkau kan lebih paham kenapa orang tuamu berat melepasmu pergi jauh

Merantaulah… engkau kan lebih mengerti arti sebuah perpisahan

Merantaulah… semakin jauh tanah rantauan, semakin  jarang pulang, semakin terasa betapa berharganya pulang

Sekali lagi, merantaulah… engkau kan tahu kenapa kau harus pulang dan tahu siapa yang akan kau rindu…[]

©dilanovia 03082014

Jadi Orang Gede Emang Menyenangkan, Tapi….

Kalo aku dah gede, aku pengen kerja di multinational company…

Aku mau kerja di gedung tinggi…

Ngomong English tiap hari

Rambut klimis, sepatu mengkilat, kaya orang penting

Tapi ngerjain kerjaan yang kurang penting

Jadi tukang fotocopy, bawain laptop, beres-beres kertas

Gak masalah kerja 15 jam sehari…

Tidur cuma 5 jam sehari

Masalahnya gaji cuma tahan sampai tanggal 15

Untung di warteg bisa makan dulu bayar belakangan

Tapi sayang… gak berlaku untuk beli pulsa

Jadi orang gede emang menyenangkan tapi susah dijalanin

😀

DEWASAI guess, bagi mereka yang sudah “gede” alias dewasa, bisa langsung senyum-senyum sendiri ketika menyaksikan iklan salah satu provider di atas. Bagaimana tidak, kalimat per kalimat yang dituturkan oleh anak kecil tersebut, menurut saya, ngena banget. Describe the lives of adults who look great but actually it’s very difficult. Mungkin ketika saya benar-benar sudah menjadi dewasa, saya juga merasakan hal tersebut. Kerja 15 jam sehari, tidur cuma 5 jam, gaji cuma sampai tanggal 15. Sigh!

But, wait, sebenarnya semua itu tidak sutuhnya benar. I believe, nggak semua orang dewasa kan ya yang kondisinya “sadden” seperti itu. Masih banyak orang-orang dewasa yang bisa menikmati kedewasaan mereka dengan cara mereka sendiri, dengan lebih baik.

So, what the key? Well, for me, the key is in our self. Kuncinya ada di diri kita masing-masing. Planing itu penting, sehingga mau jadi apa pun dirimu kelak, tergantung pada rencanamu sendiri. Sugesti yang berada di pikiran itu mempengaruhi bagaimana kita berperilaku, bagaimana kita bertindak.

It’s okay ketika iklan salah satu provider tersebut menggambarkan bagaimana susanya menjadi dewasa, tapi dewasa yang seperti apakah itu? Yah, jangan sampai remaja-remaja yang akan beranjak menjadi dewasa mengalami “adult phobia” gara-gara menyaksikan iklan tersebut 😀

Well, iklannya memang smart, nyentil, dan lucu. Tapi, ketika ada yang menyaksikan “how adult life” versi iklan ini sebaiknya dapat memaknai iklan ini dengan lebih positif. Ya, kalau takut kehidupan dewasa seperti yang disampaikan oleh para bocah-bocah cilik di iklan itu, kita bisa membuat rencana yang lebih baik untuk hidup kita kelak. Nah, ketika sudah ada rencana di pikiran kita, buatlah strategi secerdas mungkin dan lakukan hal tersebut dengan sebaik-baiknya. Yep, actions, not nonsense. Jangan lupa, pray also important. Ketika manusia telah berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh, maka ridho Ilahi akan mengiri langkahnya.

Sekali lagi, planning itu penting. Short-term plan, long-term plan, or a backup plan, it mus have kalau nggak mau menjadi “butiran debu” di dunia ini. Think again.[]

dilanovia 02072013 23:17

Aku Takut Menjadi Dewasa

image

Dan tiba-tiba aku takut menjadi dewasa. Pikiran kacau ini tidak bisa membuatku tidur. Jangankan tidur, memejamkan mata saja aku tak sanggup. Yang ada dibenakku saat ini adalah aku takut menjadi dewasa.
Aku teringat keluargaku, keluarga kecilku maupun keluarga besar yang ada di kampung sana. Aku teringat bagaimana mereka menjalani kerasnya hidup dan itu membuatku tidak tahan.
Bagaimana jika satu per satu mereka telah tiada? Sedangkan aku terbiasa dimanja. Bagaimana hidupku kelak? Apalagi aku keturunan pertama dari keluarga besarku. Bagaimana jadinya aku, dan adik-adiku, dan sepupu-sepupuku?
Aku takut menjadi dewasa. Menjadi tumpuan oleh keluargaku. Sedangkan aku juga butuh tumpuan. Tapi pada siapa aku bisa bertumpu? Pada siapa aku berkeluh kesah ketika orang yang aku sayangi kelak sudah tiada.
Kadang kupikir aku benci menjadi dewasa. Aku takut menghadapi kerasnya hidup. Aku adalah seorang  pengecut yang tak tahu apa-apa tentang kejamnya kehidupan.
Aku takut menjadi dewasa. Aku takut kehilangan orang-orang yang aku sayang, menggantikan posisi mereka menjadi dewasa dan tua. Aku takut, benar-benar takut. Aku takut kehilangan mereka, mereka yang benar-benar mengerti aku. Lantas ketika kau kehilangan orang yang bisa mengerti akan dirimu, pada siapa kelak kau akan mengadu? Berkeluh kesah tentang kehidupan dewasa? PADA SIAPA?
Aku takut menjadi dewasa 😦

©dilanovia 07012013 00:39

Be Adult, Are You Ready?

image

Dulu, waktu saya kecil saya pernah berkeinginan agar secepatnya menjadi orang dewasa. Bekerja di kantoran, berdandan layaknya orang dewasa, menggunakan blazer, pakai high heels, hingga berbicara layaknya orang-orang dewasa seperti yang saya lihat di televisi.
Seiring waktu berjalan, waktu pun menjawab keinginan saya tersebut. Ternyata menjadi orang dewasa itu tidak semudah yang saya bayangkan. Tidak seenak yang saya pikirkan. Semakin dewasa seseorang ternyata semakin banyak beban yang harus dipikul. Beban itu pun harus bisa dipikirkan secara dewasa pula. Salah pemikiran, maka akan salah arah. Jika sudah salah arah, maka salah pulalah jalan kita.
Saya rasa menjadi dewasa memang sudah menjadi PR (baca: pe-er) bagi setiap orang. Tinggal bagaimana PR itu dikerjakan. Tentu cara pengerjaannya akan berbeda pada setiap orang. Bagi saya pribadi, menjadi orang yang dewasa itu cukup sulit. Terlebih jika saya menemukan sebuah permasalahan. Saya telah mencoba untuk bersikap dewasa,namun ada saja sikap childish yang tak sengaja hadir. Memang semua.butuh proses, tapi kadang proses itu kita tidak pernah tahu kapan akan berakhir. Karena hakikatnya sebuah proses memang tidak akan berhenti. Jika berhenti, maka bukan proseslah namanya.
Apakah yang saya pikirkan sama dengan yang Anda pikirkan? Maybe yes, but maybe no. Anyway, apapun yang dipikrkan oleh setiap orang tidak bisa disalahkan karena itulah dirinya. Saya ingat petuah seorang dosen, “dalan setiap pribadi seseorang memiliki nilai kebenaran”. Ya, saya setuju itu. Mudah-mudahan kita semua menjadi

orang benar. Orang-dewasa-yang-benar.***

©dilanovia 140112 08:04