Jika Lelah…

Jika lelah, berbaringlah, bukan menyerah. Tak usah sembunyikan lelah. Jujurlah pada diri bahwa “aku ada batasnya”. Semesta butuh pengakuan bahwa kita memang lemah. Istirahatlah… Dan saat itu kita akan paham Laa Haulaa, tiada daya, Illah Billah, selain pertolongan Allah.

Dunia memang tempatnya lelah. Tempat bersemayam rasa lemah, penat, sakit, sedih, dan segala hal yang tidak mengenakkan hati. Tidak perlu resah, karena demikianlah adanya.

Tunggulah saatnya tiba. Dimana kita bisa istirahat dari kepenatan dengan sempurna. Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya, “Kapan seorang hamba bisa istirahat?” Beliau menjawab, ”Saat kakinya menginjak suurga”.

Ingatlah kunci utama: lillah, billah, fillah, ma’allah.

Yaa Ayyatuhan-nafsul muthma’innah. Irji’ii ilaa Rabbiki Raadhiatum-mardhiyyah. Fadkhuli fii ‘ibadi. Wadkhuli jannatii.[]

Jakarta, 24102018 2106

©noviafaradila

Hakikat Kaya

Hakikat “kaya” itu bukan terletak pada banyaknya harta, namun hakikat “kaya” sesungguhnya terletak pada banyaknya AMALAN. Karena yang dibawa mati bukan harta, tapi amal sholeh.

Oleh karena itu, Rasullullah mengatakan kepada para sahabat tentang orang yang “muflis” alias orang yang bangkrut. Orang yang bangkrut bukanlah orang yang tidak memiliki harta atau orang yang banyak hutang.

Namun, orang yang bangkrut adalah orang yang di akhirat membawa banyak amalan tapi amalan tersebut habis ia berikan kepada orang lain akibat kezoliman yang ia lakukan di dunia (mencaci orang, memfitnah orang, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain). Jika amalan tersebut belum mampu membayar dosa-dosanya tersebut, maka dosa orang yang ia zalimi akan ditimpakan kepadanya. Setelah itu dia dimasukkan ke neraka. Na’udzubillahi mindzalik!

*disarikan dari Kajian Ust. Abu Ihsan Al-Atsary di Masjid Nurul Amal, Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Tambahan penulis…

Dari hal tersebut kita dapat mengambil ibrah bahwa pentingnya menjaga hubungan dengan sesama makhluk (hablumminanaas). Janganlah kita terlibat perkara dengan manusia lain dan perkara tersebut belum tuntas di dunia sehingga menyulitkan kita nantinya di akhirat. Seperti hutang, mencaci-maki, ghibah, mencuri, dan lain sebagainya.

Subhanallah, betapa beratnya berurusan dengan makhluk! Jika kita bermaksiat dengan Allah al Jabbar, kita bisa memohon ampunan, maaf, dan bertaubat. Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima Taubat. Tapi, lain hal jika berurusan dengan manusia. Manusia (dengan segala kekurangan) banyak yang sulit memaafkan kesalahan orang terhadapnya. Lisannya boleh berucap “oke, saya maafkan”, namun hatinya tidak ikhlas, perkara tersebut tidak pernah sirna dari ingatannya. Subhanallah, sungguh manusia itu lemah sekali.

Oleh karena itu, (nasihat untuk diri saya pribadi khususnya), penting sekali bagi kita agar dapat menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Jika memang kita pernah berbuat salah, maka tuntaskan perkara tersebut di dunia. Jika orang yang pernah kita zalimi sudah wafat atau benar-benar lost contact, maka doakan yang terbaik untuknya kepada Allah. Jangan sampai kita menjadi orang yang muflis. Na’udzubillahi min-dzalik. Semoga Allah tidak menggolongkan kita sebagai orang-orang muflis di akhirat kelak. Aamiin.[]

©noviafaradila 30092018 1313

Orang yang Enggan (Masuk Surga)

Oleh Syaikh DR. Malik Husein Syaban (penerjemah Ustadz Novriadi)

Orang yang enggan (dalam hadist riwayat Abu Hurairah: “Sesungguhnya umatku AKAN MASUK SURGA kecuali yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga”)
.
Orang yang enggan masuk surga adalah orang yang menyelisihi apa yang disampaikan oleh Rasulullah, tidak mentauhidkan Allah, berpaling dari perintah Allah dan RasulNya, serta yang menjerumuskan dirinya kepada apa yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
💝
Lima perkara yang kita jaga saat kita menjalankan perintah Allah dan sunnah Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni agama, jiwa/diri, keturunan, akal, dan harta.
💝
– berupaya menjaga #agama: ketika Allah dan Rasulullah memerintahkan untuk bertauhid, menjauhi syiriq, dan menjauhi bid’ah
– berupaya menjaga #jiwa/diri: ketika Allah dan Rasulullah memerintahkan memakan makanan yang baik, dan melarang bunuh diri
– berupaya menjaga #keturunan: ketika Allah dan Rasullullah memerintahkan umatnya untuk menikah dan mengharamkan zina dan perbuatan kaum Nabi Luth
– berupaya menjaga #akal: ketika Allah dan Rasulullah memerintahkan makan makanan yang baik, minum minuman yang baik, melarang memakan bangkai dan minum khamr
– berupa menjaga #harta: ketika Allah dan Rasulullah memerintahkan mencari harta dijalan yang halal dan mengharamkan mencari harta dg jalan riba dan curang.
💝
Jika kita menjaga yang lima ini, maka hal ini akan membawa keberuntungan di dunia dan akhirat, begitu pula sebaliknya. Dan perkara yang paling PENTING dari lima hal ini adalah perkara #agama (ad-diin)
***

Marhaban Ya Sya’ban

✨ Marhaban ya Sya’ban ✨
Bulan Sya’ban, bulan yang sering ‘dianaktirikan’ karena berada di antara dua bulan mulia, Rajab dan Ramadhan. Padahal bulan ini tak kalah pentingnya dibandingkan bulan-bulan yang lain.
🌷
Bulan Sya’ban adalah bulan dimana seluruh amal perbuatan manusia selama satu tahun diangkat kepada Allah subhanahu wa ta’ala (HR. Tirmidzi). Untuk itu, mari kita flash back bagaimana kondisi amal-amal kita pada satu tahun terakhir:
🔸Bagaimana sholat wajib kita?
🔸Bagaimana bacaan Al qur’an kita?
🔸Bagaimana dzikir pagi petang kita?
🔸Bagaimana sholat rawatib kita?
🔸Bagaimana puasa senin-kamis kita?
🔸Bagaimana puasa ayamul bidh kita?
🔸Bagaimana muroja’ah hafalan qur’an kita?
🔸Bagaimana infaq dan sodaqoh kita?
🌷
Mari kita renungkan, ingat-ingat kembali, hisab diri sendiri, bagaimana kondisi dan kualitas amalan tersebut dan amalan-amalan lainnya di satu tahun terakhir. Jika amalan tersebut masih kurang, PANTASKAH KITA TERTAWA DI BULAN SYA’BAN INI SEMENTARA AMALAN KITA MASIH SANGAT SEDIKIT?
🌷
Jadikan bulan Sya’ban ini sebagai bulan untuk meningkatkan amal dan kualitas amal. Beberapa caranya, yakni:
🔸Perbanyak puasa sunnah
🔸Perbanyak membaca Al Qur’an
🔸Hindari perselisihan, jangan banyak berdebat
🔸Hindari sifat memusuhi sahabat Rasulullah
🔸Jaga diri dari bid’ah
🔸Jauhi perbuatan syirik kecil dan syirik besar
🌷
Saatnya perbanyak amal sholeh. HINDARI KEGIATAN-KEGIATAN YANG TIDAK BERMANFAAT UNTUK KEPENTINGAN AKHIRAT… karena bulan Sya’ban adalah fase persiapan terakhir sebelum Ramadhan.
.
📝 Disarikan dari Kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc (hafidzahullah) berjudul Dianaktirikan, Sabtu (14/4) di Masjid Nurul Iman Blok M Square.