Cara Mengatasi Bencana (Coping Disaster)

Federal Emergency Management Agency (FEMA) menjabarkan beberapa hal yang dapat dilakukan terhadap orang-orang yang terkena dampak bencana (sumber: https://www.fema.gov/coping-disaster dioleh kembali secara pribadi).

Memahami kejadian dari bencana
Memahami bahwa kondisi emosional korban yang dilanda bencana kadang bisa lebih dahsyat daripada kehilangan rumah, bisnis, atau properti pribadi. Memahami bahwa adanya rasa cemas tentang keselamatan diri, keluarga, dan teman terdekat merupakan hal yang wajar. Memahami bahwa kesedihan mendalam, dukacita, dan kemarahan adalah reaksi normal dalam keadaan yang tidak normal. Berfokus pada kekuatan dan kemampuan untuk membantu
pemulihan pascabencana. Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda dan cara yang berbeda untuk mengatasi.

Mengenali tanda-tanda stres akibat bencana
Ketika seseorang mengalami stres, mereka mungkin membutuhkan bantuan konseling. Oleh sebab itu, perlu kiranya mengenali tanda-tanda stres terkait bencana, di antaranya: kesulitan mengkomunikasikan pikiran, susah tidur, disorientasi atau kebingungan, kesulitan berkonsentrasi, keengganan untuk meninggalkan rumah, depresi, kesedihan, putus asa mudah mudah menangis berkepanjangan, perasaan bersalah yang luar biasa dan keraguan diri, takut akan orang banyak, orang asing, atau cenderung menyendiri.

Mengurangi stres terkait bencana
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu korban bencana dalam mengurangi stres, yakni: mengajak korban berbicara tentang perasaannya meskipun mungkin sulit, mencari bantuan dari konselor profesional yang berurusan dengan stres pasca-bencana. Memberi pemahaman kepada korban untuk tidak menyelahkan diri sendiri atau menjadi frustrasi karena mereka merasa tidak dapat membantu ketika penyelamatan, dll.

Membantu anak-anak menghadapi bencana
Bencana dapat menjadikan anak-anak merasa takut, bingung, dan tidak aman. Anak-anak mungkin menanggapi bencana dengan menunjukkan ketakutan, kesedihan atau masalah perilaku. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk membantu anak-anak menangani bencana yakni:

a) Mengenali faktor risiko, seperti kontak langsung dengan bencana, kehilangan keluarga, efek sekunder dari bencana seperti tinggal di tempat sementara, dll.

b) Mengenali kerentanan pada anak. Hindari hal-hal yang berhubungan dengan kejadian bencana, seperti abu, sirine, dan pengingat lain yang kembali dapat mengganggu perasaan mereka.

c) Memenuhi kebutuhan emosional anak. Memahami apa yang menjadi penyebab kecemasan dan ketakutan pada anak-anak. Menyadari bahwa setelah bencana, anak-anak akan takut jika becana tersebut terjadi kembali, seseorang yang dekat dengan mereka akan tewas atau cedera, mereka akan ditinggalkan sendiri atau terpisah dari keluarga.

d) Meyakinkan anak-anak setelah bencana. Beberapa hal yang dapat dilakukan, di antaranya menciptakan kontak pribadi yang meyakinkan seperti memeluk dan menyentuh, mendorong anak-anak untukberbicara tentang perasaan mereka, dll.

e) Memantau dan membatasi paparan media, karena pemberitaan terkait bencana dapat menimbulkan ketakutan dan kebingungan, serta membangkitkan kecemasan pada anak-anak.

RUJUKAN

McFarlane, Alexander C. 2005. Psychiatric Morbidity Following Disasters: Epidemiology, Risk and Protective Factors. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose, et. al. Disaster and Mental Health (hlm. 37-64). West Sussex: Wiley.

Solomon, Susan D., Green, Bonnie L., 1992. Mental Health Effects of Natural and Human-Made Disasters. Diakses pada 26 Januari 2014 pukul 10.47 WIB dari http://www.ptsd.va.gov/professional/newsletters/research-quarterly/V3N1.pdf.

Federal Emergency Management Agency, 2015. Coping Disater. Diakses pada 26 Januari 2015 pukul 10.58 WIB dari https://www.fema.gov/coping-disaster.

Kondisi Psikologis Korban Saat Pascabencana

Fase pascabencana biasanya berlangsung dari seminggu hingga beberapa bulan setelah bencana. Pada tahap ini, bantuan mengalir dari lembaga-lembaga eksternal untuk masyarakat, serta mulai adanya pembersihan atau proses pembangunan infrastruktur yang mendesak. Secara psikologis, pada fase adaptasi ini terdapat penolakan atau gejala-gejala yang mengganggu dalam diri korban. Gejala yang mengganggu umumnya timbul pertama dan terdiri dari unbidden thoughts dan perasaan disertai dengan gairah otonom, misalnya heightened startle response, hypervigilance, insomnia, dan mimpi buruk. Menjelang akhir fase adaptasi, penolakan lebih menonjol. Hal ini sering disertai dengan peningkatan kunjungan ke dokter untuk keluhan gejala somatik seperti kelelahan, pusing, sakit kepala, dan mual. Kemarahan, lekas marah, apatis, dan social withdrawal juga sering terjadi (Fullerton & Ursano, 2005: 27-28).

Crocq, et. al (2005: 102) menjelaskan, pada fase pascabencana, kondisi mental para korban akan kembali pada kondisi normal dalam beberapa hari (neuro-vegetative dan gejala psikologis mereda, individu tidak lagi sepenuhnya disibukkan oleh kejadian yang mereka alami sebelumnya, dan dapat melanjutkan kegiatan), atau munculnya sindrom psychotraumatic, ditandai dengan mengalami-ulang kejadian, menghindari rangsangan yang mengingatkan pada trauma, hiperreaktivitas, dan keasyikan terus-menerus dengan trauma. Gejala psychotraumatic mungkin muncul setelah berminggu-minggu atau bulan. Ini yang disebut “latency period” dan disebut masa inkubasi, kontemplasi, meditasi, atau memamah biak (rumination).

Selain itu, Crocq, et. al juga menjelaskan bahwa jika individu masih dirawat di rumah sakit, mungkin dia harus menunggu hingga dirinya mampu mengembalikan kemandirian untuk mulai mengatasi trauma. ICD-10 dan DSM-IV mengusulkan istilah diagnostik “post-traumatic stress disorder” (PTSD) untuk sindrom ini. Selain itu, DSM-IV mengusulkan kategori “acute stress disorder” untuk kasus-kasus dengan gejala disosiatif dan gejala psychotraumatic seperti kembali mengalami (muncul dalam waktu 4 minggu dari trauma). Individu yang mengalami reaksi stres akut maladaptif lebih berisiko untuk terkena PTSD akut setelah itu. Namun, hal ini dapat dihindari, dan ada kasus-kasus reaksi stres maladaptif yang sembuh tanpa konsekuensi, sedangkan individu yang awalnya merespon trauma secara adaptif, dapat berkembang ke tahap PTSD yang parah.

RUJUKAN

Crocq, et. al. (2005). Organization of Mental Health Services for Disaster Victims. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose, et. al. Disaster and Mental Health (pg. 98-123). West Sussex: Wiley.

Fullerton, Carol S., Ursano Robert J. (2005). Psychological and Psychopathological Consequences of Disasters. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose., et. al. Disaster and Mental Health (pg. 13-36). West Sussex: Wiley.

American Psychological Association. What Psychologists Do on Disaster Relief Operations. Diakses pada 19 Januari 2015 19:48 WIB dari http://www.apa.org/helpcenter/disaster-site.aspx