Ista’jala Syai-an

Pelan-pelan-Saja-Jangan-Tergesa-gesa...

Sungguh, fitnah yang datang setelah sebuah “proses” menunjukkan arah yang jelas, jauh lebih berbahaya ketimbang sebelumnya. Saya katakan demikian, hanyalah menyampaikan ulang perkataan serupa, sebagaimana yang telah dikatakan oleh orang-orang sebelum saya yang jelas lebih baik keilmuannya. Pun lagi, mereka telah mengalami.

Sebuah pernyataan yang sangat boleh jadi benar adanya.

Jelas, setelah “proses” itu menunjukkan titik terangnya, maka tentu saja hati memiliki kecenderungan untuk bersandar. Padahal, ia tetaplah menjadi sesuatu yang belum halal baginya untuk dijadikan sandaran.

Maka untuk hal ini, tanpa saya tanyai, menjelang ashar hari itu, Mas Arif – rekan saya yang beristrikan perempuan berkewarganegaraan Australia – berkata: “Ketika dulu ana masih dalam proses sebelum menikah, seorang ikhwan yang mulia memberi ana nasihat yang senada dengan ini. Dia memperingatkan ana untuk menjaga batas-batas yang syar’i. Bahkan meskipun tanggal pernikahan telah diputuskan, seorang wanita tetaplah haram bagi calon suaminya sampai akad nikah diikrarkan.

Ada sebuah qa’idah dalam Islam yang berbunyi, “manis-ta’jala syai-an qabla awanih, ‘uqiba bihirmanih.” Barangsiapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum saatnya, maka ia dihukum dengan diharamkan atasnya.

Bersabarlah, jangan sampai ketergesa-gesaan menyebabkan kita dimurkai Allah dan ditimpa hukuman-Nya. Bisa saja sesuatu terjadi sehingga pernikahan itu diharamkan untuk terlaksana. Bisa saja pernikahan itu terjadi namun pelakunya diharamkan atas barokahnya. Sungguh sebuah kerugian yang besar dan kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.

Apalagi dengan sepasang ikhwan dan akhawat yang sedang menjalani proses ta’aruf. Tidak ada jaminan bagi mereka bahwa dia yang saat ini sedang dikenali adalah jodoh yang diberikan oleh Illahi. Sabar dan istighfar adalah hal yang harus terus diazamkan di dalam hati. Jangan pernah merasa sudah aman dan memiliki sehingga bermudah-mudah dalam berinteraksi.

Bersabarlah, buah yang manis tak akan tumbuh dari pohon yang busuk. Hasil yang baik tak akan didapat dari cara yang buruk. Sungguh kehidupan dunia itu hanya sebentar sedangkan akhirat itu kekal. Maka mengapa kita korbankan sesuatu yang abadi demi perkara yang fana, mengapa kita tukar kebahagiaan yang hakiki dengan sepercik fatamorgana. Dan biarkanlah tinta-tinta takdir menjalankan titah Rabb-Nya yang agung.

Dan kepada engkau wahai hati, bersabarlah…

Disadur dari Akhi Ahmad Alfarisy via @ikhwan_solo

Baarokallohu fiikum

©Novia Faradila 09092018 0623

Ta’liful Qulub

Mengikhlaskan itu lebih menenangkan. Tak perlu bergelut dengan dendam atau cacian. Merelakan setiap yang dirasa itu lebih menyenangkan. Tak perlu sesak menerpa atau gundah merana. Terjatuh, tergores, dan terluka itu sakit. Tetapi ketika senyum yang kita beri, maka biarkan hati yang menjalankan fungsi.
Mengeluarkan keimanan di dalam hati. Menggambarkan kita sebagai seorang mengontrol emosi. Sebab, sabar tiada jeda dan air mata kan terus ada.
Sebab ujian kan terus dirasa. Maka damaikan semua dengan iman dan taqwa.
Kita semua bukan bidadari surga,
Bukan pula malaikat yang tak pernah alpa,
Tetapi manusia yang penuh dengan potensi dosa.
Tapi ingatlah akan apa yang kita miliki hari ini. Semua potensi telah Dia beri
Maka tugas kita menyelaraskan potensi dengan semua ketentuan dan ketetapan Ilahi.
Mengeluhlah, menangislah, dan tersungkurlah di hadapanNya
Karena kesulitan kita hanya pantas dilihat olehNya.
Beban dan ujian hanya Allah kuncinya.
Berbagi dan ceritakan semua kepadaNya.
Qolbu… Kaulah penguat gerakan.
Lisan… Kaulah yang menjadi cerminan.
Laku… Kaulah tanda kekuatan.
Semoga Allah selalu menjaga kita dalam lingkar iman dan taqwa.
Seluas apapun ujian an. Seberat apapun cobaan. Tetaplah iman yang kita simpan.[]

Dikutip dari kajian berjudul Ta’liful Qulub (Keterikatan Hati) oleh Bunda Rochma Yulika

©Novia Faradila 09092018 0623

Antara Memperbaiki Diri dan Menemukan Jodoh

image

Banyak kaum adam dan hawa yang sedang mencari jodoh, berpikiran bahwa jika ingin mendapatkan pasangan hidup, maka hal yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah memperbaiki diri sendiri.

Konsep ini memang tidak salah. Banyak di antara kita melakukan hal tersebut karena berdasarkan Al Quran Surat An Nur ayat 26:

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…”

Adanya ayat yang luar biasa ini menjadikan para jomblowan dan jomblowati berfikir bahwa mereka akan mendapatkan jodoh yang baik jika mereka memperbaiki diri.

Lagi-lagi saya katakan itu tidak salah. TAPI, coba renungkan kembali, sudah benarkah niat kita? Apakah kita berniat memperbaiki diri hanya untuk mendapatkan pasangan hidup? Subhanallah, sungguh dangkal sekali jika niat kita hanya sebatas itu.

Sahabat fillah, mari kita luruskan konsep ini. Mari kita perbaiki niat. Bagaimana caranya?

Sahabat, mari kita perbaiki diri ini dengan tujuan agar dicintai oleh sang pemilik jasat yakni Allah subhanahu wa ta’ala. Mari perbaiki diri agar lebih dekat dengan Allah, agar dilimpahkan kasih sayang Allah, agar selalu diberikan hidayah dan nikmat iman yang semakin hari semakin bertambah.

Masya Allah, adakah yang lebih indah dari nikmat iman dan Islam? Tentu jawabannya tidak.

Lantas bagaimana dengan “memperbaiki diri untuk mendapatkan jodoh yang baik”?

Nah, sahabatku, bagi saya, tujuan utama memperbaiki diri adalah agar dekat dengan Allah, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan semakin disayang oleh Allah. Jika nantinya kita mendapatkan  jodoh yang baik, maka bagi saya itu adalah BONUS dari Allah.

Tidak terbantahkan lagi bahwa ketika Allah menyayangi hambaNya, maka Dia pasti akan memberikan yang terbaik. Bukankah Allah adalah sang maha pemberi terbaik? 🙂

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Fathir: 2).

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 216).

Lagi pula, seberapa yakinkah kita jika jodoh kita di dunia adalah manusia? Bukankah jodoh yang mutlak bagi manusia di muka bumi ini adalah maut?

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…” (QS. Ali Imran: 185).

Oleh karena itu, mari perbaiki niat mulai dari sekarang. Mari memperbaiki diri BUKAN untuk sekedar mendapatkan jodoh yang baik, TETAPI mendapatkan lasih sayang dan keridhoan dari sang maha pemilik jodoh, Allah ‘Aza wa Jalla.[]

©dilanovia – Ramadhan ketiga 1437 H

Sabar Kuping, Sabar Hati

image

Berusaha sabar memang tidak semudah mengucapkan kata sabar itu. Sulit! Suliiit banget! Hati yang menjadi power center-nya umat manusia memang harus ekstra keras merasakan segala macam serangan yang setiap saat bisa tersakiti.

Mungkin memang ujian terbesar manusia adalah ketika dia dihadapkan dengan hatinya dan obat yang paling manjur memang ke-sa-bar-an. Apalagi sesama makhluk yang sering sekali melakukan khilaf terutama dalam perkataan. Orang yang mendengarkannya musti sabar-sabar kuping dan pastinya sabar-sabar hati.

Saya yakin di antara kita semua pasti sudah banyak yang makan asam garam tentang bagaimana sulitnya menerapkan sabar ini. Even kalau kita susah sabar, ujung-ujungnya kita malah menyakiti diri sendiri and it called sakit hati, right?

So, I wanna share to you, just a simple thing gimana caranya berusaha sabar, bahkan ketika orang berusaha mengusik kesabaran yang sudah susah payah kita bangun, kita tidak harus membalasnya. 🙂

Well, saya pernah membaca tweet dari Aa Gym yang menurut saya isinya membangun banget. Bunyinya kira-kira seperti ini, betapa seringnya lahir kita seperti menghadap kepada Allah dengan sholat, mengaji, sedekah, itikaf, dan lainnya. Tetapi, hati kita tetap sibuk menghadap kepada makhluk, mengharap pujian, penilaian, balasan, dan pemberian dari makhluk.

Apa hubungan ini dengan kesabaran? Well, ketika orang lain menilai kita dan menurut kita itu tidak benar, bahkan penilaian itu malah membuat kita sakit hati, maka sabarlah dan  ingat petuah Aa Gym tadi.

Remember, Tuhan lebih tahu apa-apa yang ada pada makhluknya. Penilaian manusia hanya bersifat fana. Jadi, serahkanlah semuanya kepada Ilahi, biarkanlah Dia yang menilai karena Dia-lah yang Maha Benar dan penilaiannya tidak teragukan.

Tidak usah mengharap pujian dari makhluk, tidak perlu pula bersedih ketika ada yang mengusik kuping kita dengan perkataan dan penilaian yang tidak menyenangkan.

Nah, hal yang satu ini juga bisa menjadi pelajaran penting buat kita. Selain bisa belajar sabar, ingat pesan yang terdapat di dalam Alquran yang intinya bahwa kita sesama makhluk tidak boleh menyakiti dan memandang remeh satu sama lain. Bisa jadi orang yang kita anggap remeh itu lebih baik dari kita dan kita tidak lebih baik dari dia. 🙂

So, kalau memang ada yang mengusik kuping dan hati kita karena mendengar ucapan yang tidak menyenangkan, serahkan semuanya kepada Tuhan. Mari perlahan pupuk diri sendiri untuk tidak melakukan hal serupa karena ketika kita sakit akan sesuatu hal, maka orang lain juga bisa sakit.

At least, mari kita coba memiliki effort memperbaiki diri sendiri yang maha kurang ini. Jaga ucapan, sabar kuping, dan sabar hati. Oya, satu lagi, seperti yang sering dikatakan Mr. FS* belajarlah berpositive thinking. Yas! Itu juga penting.

Well,  Semoga kita bisa belajar menjadi pribadi yang lebih baik untuk bisa tangguh menghadapi kerasnya hidup ini. Ganbateee…[]

*I think you don’t need to know who is he :p

©dilanovia 12092014 09;33

Belajar Dari Sepotong Baja

wpid-PhotoGrid_1378469406221.jpg

Kaca dan baja adalah dua jenis benda yang berbeda, terutama dari segi kekuatannya. Ketika keduanya dipertemukan dengan palu, maka sepotong kaca akan lebih mudah hancur olehnya. Sedangkan baja, akan siap menerima hamtaman sang palu. Jangan pernah menjadi kaca, tapi jadilah baja, mental baja. Mental baca adalah mental yang positif. Bahkan tetap bersyukur di tengah keadaan dan masalah yang sulit. Mengapa demikian? Karena orang yang seperti ini selalu menganggap bahwa masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi lebih baik. Sepotong besi baja akan menjadi alat yang lebih berguna setelah terlebih dahulu diproses dan ditempa. Setiap pukulan memang menyakitkan. Namun, mereka yang bermental baja selalu menyadari bahwa itu baik untuknya. Jika hari ini kita sedang ditimpa oleh masalah hidup, jangan pernah merespon dengan sikap yang keliru. Jika kita adalah baja, kita selalu melihat palu yang menghantam kita adalah SAHABAT yang akan membentuk kita. Sebaliknya, jika kita adalah kaca, maka kita melihat palu adalah musuh yang selalu siap menghancurkan kita. Bentuklah diri kita seperti baja; kuat, tangguh, sabar, dan tetaplah bersyukur atas apa yang Tuhan berikan. Dia maha mengetahui rahasia yang tidak kita ketahui.[]

dilanovia 06092013 18:40

Dilarang (nggak) Sabar!

image

Saya rasa, siapapun orangnya, darimana pun ia berasal, pasti nggak suka dengan yang namanya mengantri. Bosen, jenuh, desak-desakan, itulah beberapa efek yang ditimbulkan kalau sedang mengantri. Hanya satu cara ampuh yang bisa digunakan kalau frekuensi jenuh sudah mencapai tingkat maksimum, yakni SABAR. Tapi, apa semua orang yang sedang mengantri punya kesadaran akan hal itu? Jabawannya, TIDAK.
Ntahlah, mungkin di Indonesia kesadaran untuk mengantri itu masih kurang. Sudah berjejer fakta yang saya tangkap dengan mata kepala saya tentang mereka-mereka yang nggak sabar mengantri. Pelakukanya bisa dikatakan bukan orang-orang perpendidikan rendah, malah mereka yang menggunakan kostum ‘cokelat’, you know that? Itu lho, orang-orang dinas. Huh!
Well, waktu itu saya sedang berada di kantor pos untuk membayar tagihan kredit. Cukup ramai dan harus mengantri memang. Bagi mereka yang ingin membayar tagihan telah disediakan tempat untuk menaruh kerta tagihan. Kertas yang atas menandakan pemiliknya baru saja datang dan harus mengantri lebih lama dibanding pengunjung yang menaruh kertas lebih bawah. Tapi, salah seorang ibu-ibu membuat saya geram. Saat dia  datang, tanpa merasa bersalah langsung meletakkan kertas tagihannya diurutan paling bawah. Beuhh.. seenaknya aja maen potong, maen serempet. Yah, otomatis si ibu-ibu itu akan dipanggil duluan.
Ibu-ibu itu mengenakan baju dinas. Nggak tahu kerja di dinas mana. Hendaknya orang-orang seperti itu lebih memahami arti ‘antri’ karena dengan pekerjaan mereka, dan ditunjang dari latar belakang pendidikan mereka. Tapi, yang namanya manusia ya sama saja. Siapa cepat, dia dapat. Hmm…. paradigma seperti itu tampaknya nggak akan bisa hilang dimakan zaman. Yah, meski begitu, bagi Anda yang secara pribadi menjunjung tinggi sikap antri, saya rasa punya kesabaran cukup untuk untuk mengantri. Lagi lagi memang harus sabar. So, dilarang nggak sabaran ya. 🙂

kantor pos, 121211 : 11.45