Peran Strategis Pemuka Agama Bagi Penyintas Bencana

 

20140308-132351_75

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana alam yang sangat tinggi. Hal tersebut disebabkan karena secara oseanografis, geologis, maupun geografis menempatkan Indonesia berada pada wilayah interaksi antara atmosfer, geosfer, hidrosfer, dan biosfer yang kompleks dan intensif. Interaksi tersebut menyebabkan terjadinya curah hujan yang tinggi, cuaca ekstrim, banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, hingga letusan gunung api.

Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa hingga Agustus 2016, jumlah kejadian bencana di Indonesia yang tercatat adalah sebanyak 1.512 kejadian. Korban meninggal dan hilang sebanyak 322 jiwa. Korban menderita dan mengungsi sebanyak 2.086.769 jiwa. Sementara itu, kerusakan permukiman sebanyak 21.537 unit.

Berbagai bencana alam tersebut telah mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Salah satunya adalah kerugian immaterial seperti dampak psikologis. Rasa ketakutan, stres, dan depresi akibat kehilangan keluarga, tempat tinggal, harta benda, bahkan pekerjaan merupakan kondisi yang sering dirasakan para penyintas bencana. Hal tersebut diperparah dengan perasaan ketidakpastian terhadap bencana susulan yang mungkin terjadi. Apalagi jika sebelumnya masyarakat setempat tidak memiliki pengalaman menghadapi bencana.

Meskipun secara kasat mata kerugian ini tidak tampak layaknya kerugian material, hal ini tentu tidak dapat diabaikan begitu saja. Penyintas bencana, baik secara mandiri maupun melalui bantuan berbagai pihak, perlu memulihkan kembali kondisi psikologis mereka agar mampu bangkit dan melanjutkan kehidupan yang normal dan layak.

Bencana dari Sudut Pandang Agama

Masyarakat Indonesia terdiri dari beragam agama. Masing-masing agama pun tidak luput membahas fenomena bencana. Di dalam Islam, beberapa ayat di Al Quran telah menceritakan tentang bencana alam sebagai akibat dari perbuatan manusia atau ujian untuk umat manusia itu sendiri (QS. Ar Rum [30]: 41). Peristiwa tersebut seperti gunung yang luluh lantak dan menjadi abu yang beterbangan (QS. Al- Waqi’ah [56]: 5-6).  Hujan yang dapat berubah menjadi banjir bandang yang memusnahkan (QS. Al-Baqarah [2]: 59). Angin dan petir yang bergemuruh (QS. Fushshilat [41]: 16-17). Begitu pula dengan meluapnya air laut yang meluluhlantakan umat manusia (QS. At-Takwir [81]: 6).

Alkitab yang merupakan kitab suci umat Kristiani menceritakan beberapa kejadian yang digambarkan sebagai bencana, seperti yang tertulis pada Matius 24:3-8, Wahyu 6:13-14, dan Wahyu 16:18-21. Alkitab juga menggambarkan terjadinya peristiwa gempa bumi seperti yang tertulis pada Amos 9:5, Mazmur 46:18-7, dan Habbakuk 3:6. More

Advertisements

Kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Erupsi Gunung Sinabung, Sumatera Utara Pada Aspek Psikologi.

Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulanan Bencana menyatakan bahwa rehabilitasi adalah kegiatan perbaikan dan pemulihan semua aspek layanan publik atau masyarakat sampai tingkat memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana. Sedangkan rekonstruksi merupakan pembangunan kembali semua prasarana dan sarana kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintah maupun masyarakat, berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, serta bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

Susanto (2006) memaparkan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi adalah bagian inti dari rencana pemulihan. Periode ini merupakan rangkaian setelah rencana darurat, berfokus pada aktivitas yang bertujuan memberikan kemampuan bagi korban untuk memulihkan kehidupan yang normal, layak, dan juga sebagai sarana untuk mata pencaharian. Bagaimana pun, setelah terjadinya bencana, ada kemungkinan tetap dibutuhkan bantuan kemanusiaan untuk kelompok-kelompok tertentu yang paling rentan akibat terjadinya bencana.

Terkait pasca erupsi gunung Sinabung, Sumatera Utara, dampak psikologis pada korban yang selamat (survivor) terutama yang masih berada di lokasi pengungsian berkembang seiring waktu dan kondisi sosial pascabencana. Kondisi psikologis yang muncul ditengarai seperti gejala depresi dan stres. Umumnya yang muncul di pengungsian adalah rasa jenuh dan gejala stres berkaitan dengan perasaan kehilangan keluarga, tempat tinggal, pekerjaan, dan harta benda. Kondisi tersebut juga ditambah dengan perasaan ketidakpastian terhadap bencana yang terjadi. Apalagi masyarakat setempat tidak berpengalaman menghadapi bencana erupsi sebelumnya. More

Cara Mengatasi Bencana (Coping Disaster)

Federal Emergency Management Agency (FEMA) menjabarkan beberapa hal yang dapat dilakukan terhadap orang-orang yang terkena dampak bencana (sumber: https://www.fema.gov/coping-disaster dioleh kembali secara pribadi).

Memahami kejadian dari bencana
Memahami bahwa kondisi emosional korban yang dilanda bencana kadang bisa lebih dahsyat daripada kehilangan rumah, bisnis, atau properti pribadi. Memahami bahwa adanya rasa cemas tentang keselamatan diri, keluarga, dan teman terdekat merupakan hal yang wajar. Memahami bahwa kesedihan mendalam, dukacita, dan kemarahan adalah reaksi normal dalam keadaan yang tidak normal. Berfokus pada kekuatan dan kemampuan untuk membantu
pemulihan pascabencana. Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda dan cara yang berbeda untuk mengatasi.

Mengenali tanda-tanda stres akibat bencana
Ketika seseorang mengalami stres, mereka mungkin membutuhkan bantuan konseling. Oleh sebab itu, perlu kiranya mengenali tanda-tanda stres terkait bencana, di antaranya: kesulitan mengkomunikasikan pikiran, susah tidur, disorientasi atau kebingungan, kesulitan berkonsentrasi, keengganan untuk meninggalkan rumah, depresi, kesedihan, putus asa mudah mudah menangis berkepanjangan, perasaan bersalah yang luar biasa dan keraguan diri, takut akan orang banyak, orang asing, atau cenderung menyendiri.

Mengurangi stres terkait bencana
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu korban bencana dalam mengurangi stres, yakni: mengajak korban berbicara tentang perasaannya meskipun mungkin sulit, mencari bantuan dari konselor profesional yang berurusan dengan stres pasca-bencana. Memberi pemahaman kepada korban untuk tidak menyelahkan diri sendiri atau menjadi frustrasi karena mereka merasa tidak dapat membantu ketika penyelamatan, dll.

Membantu anak-anak menghadapi bencana
Bencana dapat menjadikan anak-anak merasa takut, bingung, dan tidak aman. Anak-anak mungkin menanggapi bencana dengan menunjukkan ketakutan, kesedihan atau masalah perilaku. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk membantu anak-anak menangani bencana yakni:

a) Mengenali faktor risiko, seperti kontak langsung dengan bencana, kehilangan keluarga, efek sekunder dari bencana seperti tinggal di tempat sementara, dll.

b) Mengenali kerentanan pada anak. Hindari hal-hal yang berhubungan dengan kejadian bencana, seperti abu, sirine, dan pengingat lain yang kembali dapat mengganggu perasaan mereka.

c) Memenuhi kebutuhan emosional anak. Memahami apa yang menjadi penyebab kecemasan dan ketakutan pada anak-anak. Menyadari bahwa setelah bencana, anak-anak akan takut jika becana tersebut terjadi kembali, seseorang yang dekat dengan mereka akan tewas atau cedera, mereka akan ditinggalkan sendiri atau terpisah dari keluarga.

d) Meyakinkan anak-anak setelah bencana. Beberapa hal yang dapat dilakukan, di antaranya menciptakan kontak pribadi yang meyakinkan seperti memeluk dan menyentuh, mendorong anak-anak untukberbicara tentang perasaan mereka, dll.

e) Memantau dan membatasi paparan media, karena pemberitaan terkait bencana dapat menimbulkan ketakutan dan kebingungan, serta membangkitkan kecemasan pada anak-anak.

RUJUKAN

McFarlane, Alexander C. 2005. Psychiatric Morbidity Following Disasters: Epidemiology, Risk and Protective Factors. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose, et. al. Disaster and Mental Health (hlm. 37-64). West Sussex: Wiley.

Solomon, Susan D., Green, Bonnie L., 1992. Mental Health Effects of Natural and Human-Made Disasters. Diakses pada 26 Januari 2014 pukul 10.47 WIB dari http://www.ptsd.va.gov/professional/newsletters/research-quarterly/V3N1.pdf.

Federal Emergency Management Agency, 2015. Coping Disater. Diakses pada 26 Januari 2015 pukul 10.58 WIB dari https://www.fema.gov/coping-disaster.

Perbandingan Dampak Psikologis Akibat Natural Disaster dan Man-made Disaster

McFarlane (2005) menyatakan bahwa bencana buatan manusia lebih cenderung sulit bagi individu untuk ditolerir karena merupakan tindakan terencana yang pada suatu kesempatan sengaja direncanakan dan dilaksanakan. Smith dan North (dalam McFarlane, 2005) juga berpendapat bahwa bencana teknologi dan buatan manusia cenderung lebih traumatis dari bencana alam. Biasanya individu atau masyarakat merasakan rasa sakit yang lebih besar ketika menjadi korban bencana yang diakibatkan oleh manusia.

Solomon dan Green dalam jurnal Mental Health Effects of Natural and Human-Made Disasters menjabarkan perbedaan dampak psikologis antara korban natural disaster dengan man-made disaster, salah satunya berdasarkan waktu pemulihan:
• Natural disaster: dampak psikologis biasanya berlangsung selama 3 tahun, meskipun sebagian besar gejala dapat mereda sekitar 16 bulan.
• Man-made disaster: dampak psikologis akibat man-made disaster dapat bertahan lebih lama daripada natural disaster. Contoh, peristiwa Three Mile Island tahun 1979 menunjukkan, efek psikologis negatif terjadi pada warga di dekat reaktor TMI 6 tahun setelah kebocoran awal. Penelitian lebih lanjut juga menunjukkan bahwa dampak psikologis pada beberapa korban berlangsung selama 14 tahun.

RUJUKAN
McFarlane, Alexander C. 2005. Psychiatric Morbidity Following Disasters: Epidemiology, Risk and Protective Factors. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose, et. al. Disaster and Mental Health (hlm. 37-64). West Sussex: Wiley.

Solomon, Susan D., Green, Bonnie L., 1992. Mental Health Effects of Natural and Human-Made Disasters. Diakses pada 26 Januari 2014 pukul 10.47 WIB dari http://www.ptsd.va.gov/professional/newsletters/research-quarterly/V3N1.pdf.

Federal Emergency Management Agency, 2015. Coping Disater. Diakses pada 26 Januari 2015 pukul 10.58 WIB dari https://www.fema.gov/coping-disaster.

Manfaat Psikologi Bencana dalam Penanggulangan Bencana

Beberapa manfaat psikologi bencana dalam penanggulangan bencana, antara lain:

a) Membantu korban dalam mengelola kondisi hidup sementara mereka dan untuk menyesuaikan diri ke tempat penampungan yang terletak mungkin jauh dari tempat tinggal dan dalam lingkungan yang berbeda.

b) Mendengarkan kekhawatiran korban terhadap berbagai masalah, termasuk hilangnya rumah mereka, anggota keluarga, dan hewan peliharaan.

c) Memberikan informasi tentang sumber daya yang tersedia untuk kebutuhan saat ini (pakaian, perawatan medis, dan lain-lain); membantu untuk memfasilitasi koneksi tersebut.

d) Menjadi penyokong untuk kebutuhan individu atau keluarga tertentu karena mereka menavigasi sistem yang telah dibentuk untuk memberikan bantuan.

e) Membantu individu untuk memperkuat keterampilan ketahanan mereka dengan membuat hubungan dengan keluarga dan teman-teman; menerima perubahan yang akan menjadi pengalaman yang berkelanjutan; mempertahankan pandangan penuh harapan; dan membantu orang untuk mengembangkan rencana pemulihan pribadi mereka sendiri.

f) Mendengarkan kekhawatiran orang tua tentang bagaimana anak-anak mereka akan pulih dari bencana dan mengelola tantangan potensial ke depan (misalnya, pengaturan hidup baru, sekolah baru, dll).

g) Membantu memecahkan masalah konflik antara penduduk di tempat penampungan; di antara anggota keluarga; dan di antara relawan, atau staf.

h) Membantu korban untuk mengelola bencana dalam kondisi lain yang mungkin terjadi pada saat yang sama (misalnya kematian atau penyakit seorang kerabat tidak terkait dengan peristiwa saat ini).

i) Mendidik korban yang selamat bahwa apa yang mereka rasakan merupakan hal yang normal. Beberapa di antaranya adalah: ketakutan, kenangan, mimpi buruk, emosi marah, dan kebingungan.

j) Meyakinkan korban bahwa mereka mungkin untuk pulih dari bencana dan untuk membangun, memenuhi, dan memuaskan kehidupan.

k) Ketika menghadapi anak-anak: memberitahukan dan mendukung strategi penanggulangan yang positif; membantu anak-anak untuk membangun kembali hubungan dengan orang lain; membantu anak-anak untuk menemukan cara-cara untuk membantu orang lain; membantu keluarga membangun kembali rutinitas dan struktur yang akrab; mengingatkan anak-anak dan keluarga tentang pentingnya istirahat dari upaya pemulihan dan meningkatkan perawatan diri yang sehat.

l) Memberikan informasi tentang bagaimana dan di mana untuk mencari bantuan jangka panjang.

RUJUKAN

Crocq, et. al. (2005). Organization of Mental Health Services for Disaster Victims. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose, et. al. Disaster and Mental Health (pg. 98-123). West Sussex: Wiley.

Fullerton, Carol S., Ursano Robert J. (2005). Psychological and Psychopathological Consequences of Disasters. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose., et. al. Disaster and Mental Health (pg. 13-36). West Sussex: Wiley.

American Psychological Association. What Psychologists Do on Disaster Relief Operations. Diakses pada 19 Januari 2015 19:48 WIB dari http://www.apa.org/helpcenter/disaster-site.aspx

Keep Your Friendship!

friendshipSaya pernah membaca sebuah artikel tentang krisis yang dialami kebanyakan orang pada usia 20-an. Salah satunya yakni merasa lingkaran pertemanan semakin lama semakin mengecil. Jujur, saya rasa hal itu memang benar!

Let’s see… Dulu ketika SD kita memiliki banyak teman, bergaul sana sini ala ala a little child. Saat SMP, SMA, atau kuliah pun juga begitu. Nah, di akhir-akhir kuliah, di mana pada masa itu masing-masing dari kita mulai memilih jalan berbeda, lingkaran pertemanan pun semakin lama semakin mengerucut bagaikan segitiga terbalik. Terlebih pada saat sudah terjun di dunia kerja. Kita bahkan lebih banyak mengenal dan memiliki “rekan” daripada “teman” yang notabenenya hanya berlandaskan kepentingan kerja.

Tentu saja tidak serta merta kita kehilangan teman yang telah kita miliki bertahun-tahun sebelumnya. Namun, hal yang paling terasa adalah yang dulunya kita tidak pernah merasa kesepian karena selalu ada teman-teman yang mengelilingi kita, kini kebanyakan dari mereka sudah alpa, ntah karena kesibukan dan sebagainya.

Mungkin hal ini sudah menjadi siklus kehidupan setiap orang. Ada saat di mana kita dan teman-teman tidak lagi tinggal di kota yang sama dan melakukan pekerjaan yang sama. Ada saat di mana kita dan mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Well, what is it mean? Dari sinilah kita memang harus mempersiapkan diri bahwa there’s a time where we feel empty. We feel lonely in a crowd because we don’t have strong bond with people like bond with our friends first. More

Awas Tukang Nyontek

image

“Tukang Nyontek”, sebuah predikat yang dari dulu bikin saya annoyed. Yah, nggak bisa ditepis memang, jarang banget orang-orang yang nggak pernah nyontek seumur hidupnya. Atau malah memang nggak ada orang yang nggak pernah nyontek?
Well, dalam batas tertentu saya pribadi sebenarnya cukup welcome dengan aktivitas contek-menyontek,. Saya juga pernah nyontek atau kasih contekan ke teman-teman. Tapi ada hal-hal tertentu dimana saya permisif dengan contek-menyontek. Misalnya, saat sekolah atau kuliah, saya kasih contekan ke teman-teman yang emang sudah dekat banget alias teman satu geng, ke mana-mana emang sama mereka, susah senang bareng mereka. Atau situasi di mana test tersebut mengandalkan kemampuan, kreativitas, maupun imajinasi masing-masing. Jadi saya cukup memberikan deskripsi ringkas jawaban tersebut dan silahkan kembangkan sendiri.
Rasanya memang sudah lama nggak mengalami peristiwa ini, hingga Sabtu pagi 26 Oktober, peristiwa nyontek terulang kembali! Ceritanya begini sodara-sodara.
Saya sedang mengikuti tes psikologi calon pegawai di salah satu bank BUMN di Pekanbaru. Ini adalah seleksi tahap ketiga dimana dari 302 orang hanya 60 orang yang lulus dan salah duanya adalah saya dan si tukang nyontek. Ntah kenapa pagi itu saya bertemu di parkiran hotel dan barengan ke ruangan di mana tes tersebut dilaksanakan.
Setelah bercerita cukup lama, dia sempat mengatakan bahwa beruntung banget bisa lulus hingga ketahap ini padahal saat tes sebelumnya dia kebanyakan nyontek sama teman sebelah.
What the hell, hari gini, segede gini, masih nyontek? Pas proses seleksi kerja pula!? Perasaan saya sudah mulai nggak enak mendengar ucapan dia yang blakblakan. Karena penasaran, saya pun bertanya, apakah teman yang nyontekin dia lulus juga. Setelah mengitari pandangan seantero ruangan, dia bilang, “sepertinya enggak”.
WHAAAAT? Kasihan banget yang dicontekin nggak lulus sedangkan yang nyontek malah lulus. Lagian kemarin itu apa enggak dilihatin sama pengawas kalau ada yang sedang nyontek? Dan saya kasihan sama yang nyontekin si tukang nyontek. Bagaimana ya perasaan dia kalau tahu orang yang dia contekin malah lulus 😦
Nah, balik lagi ke tes psikologi tadi. Selang beberapa menit tes pun dimulai. Sialnya saya lupa membawa kotak pensil padahal benda itu adalah senjata saya untuk mengikuti tes. Akhirnya dia meminjamkan saya pena untuk mengisi biodata dan saya meminjam pensil ke orang belakang saya. Ah, syukurlah..
Yang namanya tea psikologi pasti sudah tahu kan. Tes pertama disuruh menggambar orang. Nah, saat tes ini yang notabenenya mengandalkan imajinasi masing-masing, dia malah melihat kertas gambar saya. “Oke, ini yang pertama”, gumam saya di dalam hati.
Selanjutnya para peserta tes disuruh menggambar lagi tapi dengan sistem yang berbeda. You know lah, kita disuruh menyambung gambar yang sudah ada. Ini pun dia masih nyontek nggak hanya ke saya tapi juga ke orang belakang. Bahkan, dia nekat pinjam kertas jawaban si orang belakang! What? Kita sedang bertarung untuk masa depan, eh, dia masih saja menggantungkan dirinya untuk nyontek. Awalnya si orang belakang ngasih aja. Tapi untuk yang kedua kali, TIDAK. Si tukang nyontek ini sendiri nggak sempat pinjam kertas saya. Mungkin melihat saya juga sedang kesusahan untuk menggambar ini.
Lanjut ke tahap tes selanjutnya dan bertahap-tahap membuat kesel saya diubun-ubun! Model tesnya menjawab soal a, b, c, atau d yang tentunya mutlak benar dan mutlah salah. Dan pada tahap ini yang membuat saya sangat kesel kepadanya. Dia berkali-kali nyontek saya tanpa ada rasa malu atau bersalah sedikit pun! Ya, Tuhan, kenapa saya harus ketemu dia sih? Kenapa juga musti sebanggu sama dia!?
Untungnya pengawas melihat gerak-geriknya dan dia malah menjadi sasaran penglihatan pengawas. Bahkan ketika jawaban dikumpulkan, pengawas langsung mengambil kertas jawaban si tukang nyontek, sedangkan kami semua meletakkannya ke depan sendiri-sendiri.
image
Huh, sebenarnya saya mau memberi pengertian ke dia tapi tidak tau bagaimana caranya. Saya pun nggak enak hati gara-gara di awal dia meminjamkan saya pena. Tapi, saya benar-benar takut (mungkin lebih tepatnya nggak rela) hal yang sama terulang kembali. Seperti yang saya ceritakan di atas, orang yang dia contekin saja nggak lulus, sedangkan dia lulus. Nah, bagaimana dengan saya nanti? Saya sudah capek mikir tujuh keliling, ngitung sana-sini, dan mendapatkan jawabannya, eh dia malah enak tinggal coret a, b, c, atau d. Benar-benar culas banget dia, benar-benar nggak adil. Cantik-cantik tapi suka nyontek. Demiii Tuhaaaaaan!!!
Ada dua tahapan tes yang dia nggak bisa nyontek yaitu tes koran yang mengandalkan kecepatan otak dan tangan, dan menjawab soal-soal yang berhubungan dengan sikap atau pandangan pribadi terhadap suatu hal. Saya berkata di dalam hati, kalau sempat dia masih nyontek, dia benar-benar nggak punya otak dan nggak punya kepribadian!
Huh, di penghujung tes yang memakan waktu tujuh jam itu, saya masih kesel dan masih nggak habis pikir dengan si tukang nyontek ini. Kenapa saya harus ketemu orang seperti ini. Sebenarny, dari segi friendship dia sih oke, cepat akrab dengan orang yang baru (saking akrabnya langsung nyontek). Tapi ya itu tadi, sifat suka nyonteknya itu enggak banget.
Kalau situasinya masih di kuliahan mungkin masih sah-sah saja untuk nyontek. Lagian dosen pasti tahu kemampuan para mahasiswanya. Lha kalau ini? Mungkin orang-orang psikologi tahu bagaimana kepribadian kami nantinya setelah memeriksa tes tersebut. Tapi, sekali lagi, kenapa masih ada orang yang dalam tahap berjuang untuk kehidupan dia ke depan masih bisa-bisanya nyontek ke orang lain tanpa rasa bersalah!!?
Menurut saya kami yang diruangan itu semuanya sudah sama-sama dewasa, bisa berpikiran dewasa, bukan para ababil lagi. Bisa siap dengan segala tantangan hidup dengan mengandalkan kemampuan dan kekuatan masing-masing.
Yah, kita lihat saja nanti. Apakah saya lulus? Apakah dia lulus? Saya sudah membuat asumsi seperti ini (antara saya dan dia):
1. Jika saya lulus dan si tukang nyontek lulus, saya rasa dengan usaha yang saya lakukan, saya pantas mendapatkannya dan dia? yah, selamat deh.
2. Jika saya lulus dan dia tidak lulus, saya rasa itu cukup adil bagi saya dan mungkin ketidaklulusan untuk dia adalah hal yang sangat sangat wajar.
3. Jika saya tidak lulus dan dia lulus, berarti dia termasuk orang-yang sangat-sangat beruntung. Dan saya? Saya bisa belajar dari semua hal yang saya dapat hari itu.
Ah, si tukang nyontek itu! Umurnya padahal dua tahun di atas saya. Seharusnya saya memanggil kakak kepadanya. Tapi gegara sifat dia itu, saya jadi nausea dan hilang rasa hormat. Mudah-mudahan dia bisa makan makanan yang tidak hanya berfungsi untuk menutrisi kecantikannya tapi juga menutrisi otaknya. Amin.[]

©dilanovia 27102013 15:46

Previous Older Entries