The Election Day, Yay!!! 

Menjadi warga DKI Jakarta membuat saya ikutan merasakan berbagai “ritual” pemerintahannya. Contohnya pada hari ini.

Ini adalah hari dimana masyarakat DKI Jakarta kembali memberikan hak suara mereka pada Pilkada putaran kedua. Sebagaimana musim pilkada pada umumnya, hari saat pencoblosan akan diliburkan. Dan inilah yang saya rasakan. Nggak dapet nyoblosannya, tapi dapet liburnya.. Hehehe… 

Yah, lumayan, waktu yang free ini dapat saya habiskan untuk menunaikan hal-hal yang harusnya saya tunaikan dari jauh-jauh hari sebelumnya.

Perbaiki setrikaan yang rusak 😦 yang kalau beli baru juga sayang banget rasanya karena kerusakannya minor. Trus, belanja kebutuhan mingguan, yang minggu-minggu kemarin nggak sempat saya beli karena padatnya jadwal #uhuk. Dan lain-lain… Dan lain-lain…

Then, enaknya itu jalanan juga lancar jayahahaha.. Nggak macet, nggak sumpek, nggak padet. Busway juga ikut-ikutan lapang. Isinya nggak kaya ikan sarden yang rebutan saos tomat. Hehehe…

Lagi nunggu busway di Halte UNJ

Jalanan lancar jayalalalaa…

Andai Jakarta tiap hari kaya begini ~_~

Riau Lagi, Lagi-Lagi Riau

image

As always, sebelum tidur update informasi dulu, baca-baca situs berita online. Salah satu berita yang membuat saya tertarik adalah berita dengan judul, “Angka Korupsi Tinggi, KPK Pantau Tiga Provinsi”. Tanpa berpikir panjang (dan ntah mengapa) saya langsung menebak “pasti salah satunya adalah Riau”. And you know what? BENAR sodara-sodara.
Well, saya bukan benci dengan provinsi yang satu ini. Malah Riau adalah tanah kelahiran saya, kampung halaman saya. TAPI saya memang sudah bosan bahkan muak dengan ulah para elite di tanah melayu itu. #angry
Kasus asap yang kian tahun tidak kunjung selesai, maraknya illegal logging, korupsi dimana-mana, belum lagi merajalelanya nepotisme. Biasanya masyarakat itu bangga dengan daerahnya sendiri, tapi jujur (maaf kalau ada yang tidak berkenan), saya kok tidak bangga ya.. Maaf!
Anyway, selamat Riau dan untuk warga Riau, dari 34 provinsi di Indonesia, kita termasuk provinsi yang tingkat korupsinya tinggi. Harusnya ini menjadi bahan renungan kita semua. Sudah baikkah kita? Sudah baikkah pimpinan kita? Sudah benarkah suara yang kita sumbangkan untuk memilih mereka? Semoga ini menjadi kontemplasi untuk warga Riau semua.
Oya, satu lagi provinsi yang membuat saya tidak heran masuk “the big three” adalah Banten. Emang parah tuh pemprov korupnya. Masyarakat masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan, pembangunan juga belum merata, padahal wilayahnya luas banget.[]

©dilanovia 31032016 00:11

Riau Miskin Pemimpin Amanah?

image

Wajah Kota Bertuah kembali tercoreng dengan ulah para pengemban amanah. Bukan sekali dua kali, tapi kali ini ibarat “janjian”, berturut-turut tiga tokoh nomor satu di provinsi ini harus rela dirinya dibui.
Sebut saja Saleh Djasid, Gubernur ke-10 Provinsi Riau tahun 1998-2003 ini didakwa telah melakukan korupsi dana APBD Riau serta korupsi mobil pemadam kebakaran yang turut melibatkan Mendagri kala itu.
Selanjutnya, Rusli Zainal Gubernur ke-11 Provinsi Riau tahun 2003-2013. Dia dihukum 10 tahun penjara akibat kasus korupsi dana PON XVII yang diadakan di Riau tahun 2012.
Dan kini, yang beberapa waktu lalu menjadi buah bibir adalah Anas Maamun Gubernur ke-12 yang baru saja resmi menjabat pada 19 Februari 2014. Dia diduga terlibat sebagai penerima suap lahan di Riau yang nilainya mencapai Rp2 miliar.
Apa yang salah dengan mental pemimpin di negeri ini? Miris rasanya ketika merunut jejak langkah orang-orang nomor satu di negeri Melayu ini yang mewarisi tinta hitam, kelam…
Padahal negeri Melayu terkenal dengan budaya masyarakatnya yang amanah, santun, dan agamis. Kultur itu yang dari dulu dilekatkan erat-erat oleh para leluhur negeri. Namun, kini budaya itu terkikis oleh nafsu duniawi.
Memang, tidak ada satupun budaya di nusantara ini yang melegalkan korupsi. Tetapi apabila dihadapkan dengan nafsu ekonomi dan kepentingan politik, baik orang per orang atau kelompok, nilai luhur budaya itu luntur.
Seperti yang tampak pada ketiga pemimpin di atas. Harapan masyarakat pun sirna dengan tingkah polah mereka. Masyarakat kian hari kian tak percaya.
Lantas pertanyaannya, akankah Provinsi Riau terus didera kabut kelam yang dilakoni sendiri oleh para pemimpin negeri? Akankah negeri ini miskin pemimpin amanah?[]

©dilanovia 20102014 19:02

Surat ‘Cinta’ Untuk Gubernur Riau

Salam hormat,

Aku menghormatimu HANYA karena kau jauh lebih uzur dariku

Bukan karena kau gubernurku karena tak sedikit pun suaraku kala itu kuikhlaskan untukmu

Bukan karena tumpukan kekayaanmu yang sesuka hati bisa kau sebar untuk menjerat suara rakyat

Bukan karena prestasimu karena tak sedikit pun kulihat kinerjamu di tanah tempat kau seharusnya menjadi pelayan rakyat

Apalagi karena kharismamu karena sosok kharismatik versiku jauh meroket melebihi sosokmu

Suka tidak suka itu subjektif

Aku tidak suka kepadamu itu bukan naif

Kau anggap apa asap pekat yang tengah menggerogoti jantung rakyatmu saat ini?

Apa hanya sebuah fog mechine yang menjadi pelengkap sebuah pertunjukan di pentas seni?

Atau hanya asap-asapan pendramatisir film horor komedi?

Ah, lemah!!! Kau hanya bilang pasrah di saat rakyat tengah gelisah

Apa!!? Kau mengungsi dikala rakyat membutuhkan sosok pemimpin sejati!!?

Harus seperti inikah nasib saudara-saudaraku, tanahku, negeriku di tanganmu?

Tak sesakkah nafasmu menghirup asap yang semakin hari semakin tebal?

Tak semakin sesakkah dadamu melihat bully-an akan loyonya kepemimpinanmu?

Ayolah!!!

Buktikan jika kedudukan tinggimu bukan hanya sekedar pemuas nafsu duniamu

Buktikan, setidaknya pada orang-orang yang dulu mungkin khilaf memilihmu jika kau benar-benar pemimpin kesatria

Bukan hanya sesosok pak tua yang sebentar lagi tinggal nama digerogoti usia

rakyat yang kecewa..
Yogyakarta, 15 Maret 2014