Bencana Alam dari Sudut Pandang Islam

Sejumlah personel TNI melakukan penyisiran di lokasi banjir bandang akibat  jebolnya tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Tangerang, Jumat (27/3).

Islam memerintahkan manusia berbuat baik kepada sesama, begitu pula kepada alam. Jika manusia yang dipercaya sebagai khalifah di muka bumi ini acuh tak acuh kepada alam, maka manusia akan mendapatkan dampak buruk darinya.

Soal hujan, misalnya. Hujan yang awalnya menjadi sumber air dan pembawa rahmat (QS al-An’am [6]: 99) bisa berubah menjadi banjir bandang yang memusnahkan (QS al-Baqarah [2]: 59).

Angin yang awalnya berperan dalam proses penyerbukan tumbuh-tumbuhan (QS al-Kahfi [18]: 45) dan mendistribusikan awan (QS al-Baqarah [2]: 164), tiba-tiba berubah menjadi puting beliung yang meluluhlantakkan (QS Fushshilat [41]: 16).

Laut yang awalnya jinak (QS al-Hajj [22]: 65) tiba-tiba berubah menjadi tsunami yang menggulung apa saja yang dilaluinya (QS at-Takwir [81]: 6).

Bencana alam yang silih berganti di muka bumi tidak dapat dilepaskan dari pola interaksi manusia dengan lingkungannya. Manusia sering kali mengeksploitasi alam secara membabi buta (berlebihan), tanpa memikirkan akibat dari tindakan yang dilakukannya. Itulah di antara perilaku manusia yang dapat memicu munculnya berbagai bencana alam.

Islam sangat peduli terhadap persoalan lingkungan. Pelestarian lingkungan merupakan bagian daripada misi Islam. Maksudnya, Islam datang untuk menyelamatkan umat manusia dari kesengsaraan dan mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, fiddunya hasanah wa fil-akhirati hasanah (QS al-Baqarah [2]: 201). More

Tentang Sinabung #5 – Kegiatan Rehabilitasi-Rekonstruksi pada Aspek Psikologis untuk Relawan di Gunung Sinabung

Relawan juga tidak luput dari stress akibat pekerjaan yang mereka lakukan. Adapun sumber-sumber stres bagi para relawan yang diungkapkan oleh Enrenreich dan Elliot (dalam Halimah dan Widuri, 2012) yaitu:

  1. Tuntutan fisik yang berat dan kondisi tugas (kerja) yang tidak menyenangkan
  2. Beban kerja yang berlebihan, jangka waktu lama dan kelelahan kronis (chronic fatigue)
  3. Berkurang atau bahkan hilangnya privasi dan ruang pribadi
  4. Jauh dari keluarga menimbulkan kecemasan pada kondisi keluarga
  5. Kurangnya sumber-sumber yang tepat (adequate resources) baik secara personil, waktu, bantuan logistik atau skill (ketrampilan) untuk melakukan tugas yang dibebankan
  6. Adanya bahaya mengancam (penyakit, terkena gempa susulan, dan sebagainya), perasaan takut dan tidak pasti yang berlebihan
  7. Kemungkinan melakukan evakuasi yang berulang
  8. Kemungkinan menyaksikan kemarahan dan menurunnya rasa syukur dalam masyarakat korban
  9. Secara berulang, teringat akan cerita-cerita traumatis, tragedi atau kisah yang memicu ingatan trauma individu yang telah lampau
  10. Beban birokratis yang berlebih atau kurangnya dukungan (support) dan pengertian pimpinan organisasi
  11. Konflik interpersonal di antara anggota kelompok relawan yang di lapangan mengharuskan mereka untuk dekat dan saling bergantung pada waktu cukup lama
  12. Perasaan tidak berdaya kala menghadapi tuntutan yang melewati batas (overwhwelming need)
  13. Perasaan sakit karena tidak bisa memenuhi tuntutan yang ada
  14. Dilema moral dan etika
  15. Harus mampu menjaga netralitas (sikap netral) jika berada dalam situasi politik yang terpolarisasi
  16. Perasaan bersalah melihat korban bencana tidak memiliki makanan, tempat bernaung, dan kebutuhan lain.

Terkait relawan-relawan yang bertugas di Sinabung, beberapa upaya yang dilakukan untuk meringankan beban psikologis mereka, di antaranya memberikan layanan psikologis dan pembekalan bagi pekerja kemanusiaan yang diterjunkan ke Sinabung, serta memberikan pelatihan bagi profesional dan relawan lokal tentang pendampingan psikososial agar mereka mampu mandiri. More

Tentang Sinabung #3 – Dampak Erupsi Gunung Sinabung Terhadap Masyarakat dari Aspek Psikologis

Masyarakat yang mengungsi akibat erupsi Gunung Sinabung

Sebagaimana bencana alam lainnya, Erupsi Gunung Sinabung menyisakan beragam cerita dan kegelisahan bagi masyarakat, terutama masyarakat yang berada dekat dengan lereng gunung, seperti tidak memiliki rumah yang layak, tidak memiliki pekerjaan tetap, trauma akibat banyaknya keluarga yang meninggal, serta hancurnya rumah beserta harta benda lainnya. Akibatnya, banyak masyarakat mengalami gangguan psikologis maupun fisiologis, terutama gangguan kejiwaan seperti trauma, stress, tidak mau makan, susah tidur, sering pingsan, suka menyendiri, mudah sedih, sakit kepala, diare, dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan gangguan kejiwaan, terdapat berbagai macam gejala yang dapat dilihat atau diidentifikasi baik melalui ungkapan perasaan (psikologis) atau melalui gejala-gejala fisik yang dirasakan seperti cemas, tress, depresi, panik, stress pasca trauma, dan khawatir, yang mungkin dirasakan oleh masyarakat Sinabung.

a. Khawatir: merupakan rangkaian pikiran dan citra negatif tentang keprihatinan yang biasanya berkaitan dengan masa depan. Khawatir meliputi kombinasi antara pemikiran obsesif tentang cara memecahkan atau menghindari masalah dan proses memperburuk konsekuensi yang mengkin timbul.

b. Cemas: manifestasi dari berbagai proses emosi yang sedang bercampur baur yang terjadi ketika seseorang sedang mengalami tekanan perasaan (frustasi) dan pertentangan batin (konflik). Kecemasan memiliki segi yang disadari seperti rasa takut, terkejut, tidak berdaya, rasa berdosa atau bersalah, terancam, dan sebagainya.

c. Panik: gejala klinis gangguan panic yaitu kecemasan yang datang mendadak disertai perasaan takut mati, disebut juga sebagai rangkaian panic (panic attack).

d. Stress pasca trauma: gejalanya yakni terdapat stressor traumatis yang berat dan jelas menimbulkan gejala penderitaan yang berarti bagi setiap individu, penghayatan yang berulang-ulang dari trauma, serta penutupan respon terhadap dunia luar.

e. Depresi: suatu kelemahan psikologis yang sering diiringi dengan berbagai tingkat kegelisahan atau keputusasaan.

Selain beberapa hal tersebut, kondisi psikologis masyarakat juga ditambah dengan perasaan ketidakpastian terhadap bencana yang terjadi, terutama bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan titik rawan. Masyarakat Karo pun tidak berpengalaman menghadapi bencana erupsi sebelumnya sehingga ketangguhan masyarakat juga masih sangat minim.

To be continue…

Kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Erupsi Gunung Sinabung, Sumatera Utara Pada Aspek Psikologi.

Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulanan Bencana menyatakan bahwa rehabilitasi adalah kegiatan perbaikan dan pemulihan semua aspek layanan publik atau masyarakat sampai tingkat memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana. Sedangkan rekonstruksi merupakan pembangunan kembali semua prasarana dan sarana kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintah maupun masyarakat, berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, serta bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

Susanto (2006) memaparkan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi adalah bagian inti dari rencana pemulihan. Periode ini merupakan rangkaian setelah rencana darurat, berfokus pada aktivitas yang bertujuan memberikan kemampuan bagi korban untuk memulihkan kehidupan yang normal, layak, dan juga sebagai sarana untuk mata pencaharian. Bagaimana pun, setelah terjadinya bencana, ada kemungkinan tetap dibutuhkan bantuan kemanusiaan untuk kelompok-kelompok tertentu yang paling rentan akibat terjadinya bencana.

Terkait pasca erupsi gunung Sinabung, Sumatera Utara, dampak psikologis pada korban yang selamat (survivor) terutama yang masih berada di lokasi pengungsian berkembang seiring waktu dan kondisi sosial pascabencana. Kondisi psikologis yang muncul ditengarai seperti gejala depresi dan stres. Umumnya yang muncul di pengungsian adalah rasa jenuh dan gejala stres berkaitan dengan perasaan kehilangan keluarga, tempat tinggal, pekerjaan, dan harta benda. Kondisi tersebut juga ditambah dengan perasaan ketidakpastian terhadap bencana yang terjadi. Apalagi masyarakat setempat tidak berpengalaman menghadapi bencana erupsi sebelumnya. More

Cara Mengatasi Bencana (Coping Disaster)

Federal Emergency Management Agency (FEMA) menjabarkan beberapa hal yang dapat dilakukan terhadap orang-orang yang terkena dampak bencana (sumber: https://www.fema.gov/coping-disaster dioleh kembali secara pribadi).

Memahami kejadian dari bencana
Memahami bahwa kondisi emosional korban yang dilanda bencana kadang bisa lebih dahsyat daripada kehilangan rumah, bisnis, atau properti pribadi. Memahami bahwa adanya rasa cemas tentang keselamatan diri, keluarga, dan teman terdekat merupakan hal yang wajar. Memahami bahwa kesedihan mendalam, dukacita, dan kemarahan adalah reaksi normal dalam keadaan yang tidak normal. Berfokus pada kekuatan dan kemampuan untuk membantu
pemulihan pascabencana. Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda dan cara yang berbeda untuk mengatasi.

Mengenali tanda-tanda stres akibat bencana
Ketika seseorang mengalami stres, mereka mungkin membutuhkan bantuan konseling. Oleh sebab itu, perlu kiranya mengenali tanda-tanda stres terkait bencana, di antaranya: kesulitan mengkomunikasikan pikiran, susah tidur, disorientasi atau kebingungan, kesulitan berkonsentrasi, keengganan untuk meninggalkan rumah, depresi, kesedihan, putus asa mudah mudah menangis berkepanjangan, perasaan bersalah yang luar biasa dan keraguan diri, takut akan orang banyak, orang asing, atau cenderung menyendiri.

Mengurangi stres terkait bencana
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu korban bencana dalam mengurangi stres, yakni: mengajak korban berbicara tentang perasaannya meskipun mungkin sulit, mencari bantuan dari konselor profesional yang berurusan dengan stres pasca-bencana. Memberi pemahaman kepada korban untuk tidak menyelahkan diri sendiri atau menjadi frustrasi karena mereka merasa tidak dapat membantu ketika penyelamatan, dll.

Membantu anak-anak menghadapi bencana
Bencana dapat menjadikan anak-anak merasa takut, bingung, dan tidak aman. Anak-anak mungkin menanggapi bencana dengan menunjukkan ketakutan, kesedihan atau masalah perilaku. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk membantu anak-anak menangani bencana yakni:

a) Mengenali faktor risiko, seperti kontak langsung dengan bencana, kehilangan keluarga, efek sekunder dari bencana seperti tinggal di tempat sementara, dll.

b) Mengenali kerentanan pada anak. Hindari hal-hal yang berhubungan dengan kejadian bencana, seperti abu, sirine, dan pengingat lain yang kembali dapat mengganggu perasaan mereka.

c) Memenuhi kebutuhan emosional anak. Memahami apa yang menjadi penyebab kecemasan dan ketakutan pada anak-anak. Menyadari bahwa setelah bencana, anak-anak akan takut jika becana tersebut terjadi kembali, seseorang yang dekat dengan mereka akan tewas atau cedera, mereka akan ditinggalkan sendiri atau terpisah dari keluarga.

d) Meyakinkan anak-anak setelah bencana. Beberapa hal yang dapat dilakukan, di antaranya menciptakan kontak pribadi yang meyakinkan seperti memeluk dan menyentuh, mendorong anak-anak untukberbicara tentang perasaan mereka, dll.

e) Memantau dan membatasi paparan media, karena pemberitaan terkait bencana dapat menimbulkan ketakutan dan kebingungan, serta membangkitkan kecemasan pada anak-anak.

RUJUKAN

McFarlane, Alexander C. 2005. Psychiatric Morbidity Following Disasters: Epidemiology, Risk and Protective Factors. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose, et. al. Disaster and Mental Health (hlm. 37-64). West Sussex: Wiley.

Solomon, Susan D., Green, Bonnie L., 1992. Mental Health Effects of Natural and Human-Made Disasters. Diakses pada 26 Januari 2014 pukul 10.47 WIB dari http://www.ptsd.va.gov/professional/newsletters/research-quarterly/V3N1.pdf.

Federal Emergency Management Agency, 2015. Coping Disater. Diakses pada 26 Januari 2015 pukul 10.58 WIB dari https://www.fema.gov/coping-disaster.

Perbandingan Dampak Psikologis Akibat Natural Disaster dan Man-made Disaster

McFarlane (2005) menyatakan bahwa bencana buatan manusia lebih cenderung sulit bagi individu untuk ditolerir karena merupakan tindakan terencana yang pada suatu kesempatan sengaja direncanakan dan dilaksanakan. Smith dan North (dalam McFarlane, 2005) juga berpendapat bahwa bencana teknologi dan buatan manusia cenderung lebih traumatis dari bencana alam. Biasanya individu atau masyarakat merasakan rasa sakit yang lebih besar ketika menjadi korban bencana yang diakibatkan oleh manusia.

Solomon dan Green dalam jurnal Mental Health Effects of Natural and Human-Made Disasters menjabarkan perbedaan dampak psikologis antara korban natural disaster dengan man-made disaster, salah satunya berdasarkan waktu pemulihan:
• Natural disaster: dampak psikologis biasanya berlangsung selama 3 tahun, meskipun sebagian besar gejala dapat mereda sekitar 16 bulan.
• Man-made disaster: dampak psikologis akibat man-made disaster dapat bertahan lebih lama daripada natural disaster. Contoh, peristiwa Three Mile Island tahun 1979 menunjukkan, efek psikologis negatif terjadi pada warga di dekat reaktor TMI 6 tahun setelah kebocoran awal. Penelitian lebih lanjut juga menunjukkan bahwa dampak psikologis pada beberapa korban berlangsung selama 14 tahun.

RUJUKAN
McFarlane, Alexander C. 2005. Psychiatric Morbidity Following Disasters: Epidemiology, Risk and Protective Factors. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose, et. al. Disaster and Mental Health (hlm. 37-64). West Sussex: Wiley.

Solomon, Susan D., Green, Bonnie L., 1992. Mental Health Effects of Natural and Human-Made Disasters. Diakses pada 26 Januari 2014 pukul 10.47 WIB dari http://www.ptsd.va.gov/professional/newsletters/research-quarterly/V3N1.pdf.

Federal Emergency Management Agency, 2015. Coping Disater. Diakses pada 26 Januari 2015 pukul 10.58 WIB dari https://www.fema.gov/coping-disaster.