The ‘Nekad’ Traveller #1: Taman Festival Bali

Not too much cuap-cuap deh ya di postingan kali ini karena lagi males nulishehehe… Intinya adalah ini salah satu perjalan nekad saya di tahun ini setelah beberapa bulan sebelumnya nekad halan-halan hendiri ke Banten, haiyaaa….

Anyway, Alhamdulillah saya dikasih kesempatan untuk bertugas ke Bali beberapa hari. Setelah semua urusan pekerjaan kelar, saya pun berniat untuk menghabiskan sisa hari di Bali untuk jalan-jalan. Kemana? Itulah pertanyaan terbesar saya waktu itu.

Setelah searching_googling_thinking_tujuh_keliling akhirnya saya putuskan ke Tegalalang, Ubud. Sama siapa? Yah, jalan-jalannya sendiri even I have never been to Bali.

Well, sebelum ke Ubud, perjalanan saya awali dengan mengunjungi Pantai Padang Galak. Namun, tujuan utama saya kesana bukan ke pantainya, tapi tempat “bekas” wisata yang bernama Taman Festival. More

Advertisements

Peran Strategis Pemuka Agama Bagi Penyintas Bencana

 

20140308-132351_75

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana alam yang sangat tinggi. Hal tersebut disebabkan karena secara oseanografis, geologis, maupun geografis menempatkan Indonesia berada pada wilayah interaksi antara atmosfer, geosfer, hidrosfer, dan biosfer yang kompleks dan intensif. Interaksi tersebut menyebabkan terjadinya curah hujan yang tinggi, cuaca ekstrim, banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, hingga letusan gunung api.

Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa hingga Agustus 2016, jumlah kejadian bencana di Indonesia yang tercatat adalah sebanyak 1.512 kejadian. Korban meninggal dan hilang sebanyak 322 jiwa. Korban menderita dan mengungsi sebanyak 2.086.769 jiwa. Sementara itu, kerusakan permukiman sebanyak 21.537 unit.

Berbagai bencana alam tersebut telah mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Salah satunya adalah kerugian immaterial seperti dampak psikologis. Rasa ketakutan, stres, dan depresi akibat kehilangan keluarga, tempat tinggal, harta benda, bahkan pekerjaan merupakan kondisi yang sering dirasakan para penyintas bencana. Hal tersebut diperparah dengan perasaan ketidakpastian terhadap bencana susulan yang mungkin terjadi. Apalagi jika sebelumnya masyarakat setempat tidak memiliki pengalaman menghadapi bencana.

Meskipun secara kasat mata kerugian ini tidak tampak layaknya kerugian material, hal ini tentu tidak dapat diabaikan begitu saja. Penyintas bencana, baik secara mandiri maupun melalui bantuan berbagai pihak, perlu memulihkan kembali kondisi psikologis mereka agar mampu bangkit dan melanjutkan kehidupan yang normal dan layak.

Bencana dari Sudut Pandang Agama

Masyarakat Indonesia terdiri dari beragam agama. Masing-masing agama pun tidak luput membahas fenomena bencana. Di dalam Islam, beberapa ayat di Al Quran telah menceritakan tentang bencana alam sebagai akibat dari perbuatan manusia atau ujian untuk umat manusia itu sendiri (QS. Ar Rum [30]: 41). Peristiwa tersebut seperti gunung yang luluh lantak dan menjadi abu yang beterbangan (QS. Al- Waqi’ah [56]: 5-6).  Hujan yang dapat berubah menjadi banjir bandang yang memusnahkan (QS. Al-Baqarah [2]: 59). Angin dan petir yang bergemuruh (QS. Fushshilat [41]: 16-17). Begitu pula dengan meluapnya air laut yang meluluhlantakan umat manusia (QS. At-Takwir [81]: 6).

Alkitab yang merupakan kitab suci umat Kristiani menceritakan beberapa kejadian yang digambarkan sebagai bencana, seperti yang tertulis pada Matius 24:3-8, Wahyu 6:13-14, dan Wahyu 16:18-21. Alkitab juga menggambarkan terjadinya peristiwa gempa bumi seperti yang tertulis pada Amos 9:5, Mazmur 46:18-7, dan Habbakuk 3:6. More

Bencana Alam dari Sudut Pandang Islam

Sejumlah personel TNI melakukan penyisiran di lokasi banjir bandang akibat  jebolnya tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Tangerang, Jumat (27/3).

Islam memerintahkan manusia berbuat baik kepada sesama, begitu pula kepada alam. Jika manusia yang dipercaya sebagai khalifah di muka bumi ini acuh tak acuh kepada alam, maka manusia akan mendapatkan dampak buruk darinya.

Soal hujan, misalnya. Hujan yang awalnya menjadi sumber air dan pembawa rahmat (QS al-An’am [6]: 99) bisa berubah menjadi banjir bandang yang memusnahkan (QS al-Baqarah [2]: 59).

Angin yang awalnya berperan dalam proses penyerbukan tumbuh-tumbuhan (QS al-Kahfi [18]: 45) dan mendistribusikan awan (QS al-Baqarah [2]: 164), tiba-tiba berubah menjadi puting beliung yang meluluhlantakkan (QS Fushshilat [41]: 16).

Laut yang awalnya jinak (QS al-Hajj [22]: 65) tiba-tiba berubah menjadi tsunami yang menggulung apa saja yang dilaluinya (QS at-Takwir [81]: 6).

Bencana alam yang silih berganti di muka bumi tidak dapat dilepaskan dari pola interaksi manusia dengan lingkungannya. Manusia sering kali mengeksploitasi alam secara membabi buta (berlebihan), tanpa memikirkan akibat dari tindakan yang dilakukannya. Itulah di antara perilaku manusia yang dapat memicu munculnya berbagai bencana alam.

Islam sangat peduli terhadap persoalan lingkungan. Pelestarian lingkungan merupakan bagian daripada misi Islam. Maksudnya, Islam datang untuk menyelamatkan umat manusia dari kesengsaraan dan mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, fiddunya hasanah wa fil-akhirati hasanah (QS al-Baqarah [2]: 201). More

Tentang Sinabung #3 – Dampak Erupsi Gunung Sinabung Terhadap Masyarakat dari Aspek Psikologis

Masyarakat yang mengungsi akibat erupsi Gunung Sinabung

Sebagaimana bencana alam lainnya, Erupsi Gunung Sinabung menyisakan beragam cerita dan kegelisahan bagi masyarakat, terutama masyarakat yang berada dekat dengan lereng gunung, seperti tidak memiliki rumah yang layak, tidak memiliki pekerjaan tetap, trauma akibat banyaknya keluarga yang meninggal, serta hancurnya rumah beserta harta benda lainnya. Akibatnya, banyak masyarakat mengalami gangguan psikologis maupun fisiologis, terutama gangguan kejiwaan seperti trauma, stress, tidak mau makan, susah tidur, sering pingsan, suka menyendiri, mudah sedih, sakit kepala, diare, dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan gangguan kejiwaan, terdapat berbagai macam gejala yang dapat dilihat atau diidentifikasi baik melalui ungkapan perasaan (psikologis) atau melalui gejala-gejala fisik yang dirasakan seperti cemas, tress, depresi, panik, stress pasca trauma, dan khawatir, yang mungkin dirasakan oleh masyarakat Sinabung.

a. Khawatir: merupakan rangkaian pikiran dan citra negatif tentang keprihatinan yang biasanya berkaitan dengan masa depan. Khawatir meliputi kombinasi antara pemikiran obsesif tentang cara memecahkan atau menghindari masalah dan proses memperburuk konsekuensi yang mengkin timbul.

b. Cemas: manifestasi dari berbagai proses emosi yang sedang bercampur baur yang terjadi ketika seseorang sedang mengalami tekanan perasaan (frustasi) dan pertentangan batin (konflik). Kecemasan memiliki segi yang disadari seperti rasa takut, terkejut, tidak berdaya, rasa berdosa atau bersalah, terancam, dan sebagainya.

c. Panik: gejala klinis gangguan panic yaitu kecemasan yang datang mendadak disertai perasaan takut mati, disebut juga sebagai rangkaian panic (panic attack).

d. Stress pasca trauma: gejalanya yakni terdapat stressor traumatis yang berat dan jelas menimbulkan gejala penderitaan yang berarti bagi setiap individu, penghayatan yang berulang-ulang dari trauma, serta penutupan respon terhadap dunia luar.

e. Depresi: suatu kelemahan psikologis yang sering diiringi dengan berbagai tingkat kegelisahan atau keputusasaan.

Selain beberapa hal tersebut, kondisi psikologis masyarakat juga ditambah dengan perasaan ketidakpastian terhadap bencana yang terjadi, terutama bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan titik rawan. Masyarakat Karo pun tidak berpengalaman menghadapi bencana erupsi sebelumnya sehingga ketangguhan masyarakat juga masih sangat minim.

To be continue…

Perbandingan Dampak Psikologis Akibat Natural Disaster dan Man-made Disaster

McFarlane (2005) menyatakan bahwa bencana buatan manusia lebih cenderung sulit bagi individu untuk ditolerir karena merupakan tindakan terencana yang pada suatu kesempatan sengaja direncanakan dan dilaksanakan. Smith dan North (dalam McFarlane, 2005) juga berpendapat bahwa bencana teknologi dan buatan manusia cenderung lebih traumatis dari bencana alam. Biasanya individu atau masyarakat merasakan rasa sakit yang lebih besar ketika menjadi korban bencana yang diakibatkan oleh manusia.

Solomon dan Green dalam jurnal Mental Health Effects of Natural and Human-Made Disasters menjabarkan perbedaan dampak psikologis antara korban natural disaster dengan man-made disaster, salah satunya berdasarkan waktu pemulihan:
• Natural disaster: dampak psikologis biasanya berlangsung selama 3 tahun, meskipun sebagian besar gejala dapat mereda sekitar 16 bulan.
• Man-made disaster: dampak psikologis akibat man-made disaster dapat bertahan lebih lama daripada natural disaster. Contoh, peristiwa Three Mile Island tahun 1979 menunjukkan, efek psikologis negatif terjadi pada warga di dekat reaktor TMI 6 tahun setelah kebocoran awal. Penelitian lebih lanjut juga menunjukkan bahwa dampak psikologis pada beberapa korban berlangsung selama 14 tahun.

RUJUKAN
McFarlane, Alexander C. 2005. Psychiatric Morbidity Following Disasters: Epidemiology, Risk and Protective Factors. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose, et. al. Disaster and Mental Health (hlm. 37-64). West Sussex: Wiley.

Solomon, Susan D., Green, Bonnie L., 1992. Mental Health Effects of Natural and Human-Made Disasters. Diakses pada 26 Januari 2014 pukul 10.47 WIB dari http://www.ptsd.va.gov/professional/newsletters/research-quarterly/V3N1.pdf.

Federal Emergency Management Agency, 2015. Coping Disater. Diakses pada 26 Januari 2015 pukul 10.58 WIB dari https://www.fema.gov/coping-disaster.

Kondisi Psikologis Korban Saat Pascabencana

Fase pascabencana biasanya berlangsung dari seminggu hingga beberapa bulan setelah bencana. Pada tahap ini, bantuan mengalir dari lembaga-lembaga eksternal untuk masyarakat, serta mulai adanya pembersihan atau proses pembangunan infrastruktur yang mendesak. Secara psikologis, pada fase adaptasi ini terdapat penolakan atau gejala-gejala yang mengganggu dalam diri korban. Gejala yang mengganggu umumnya timbul pertama dan terdiri dari unbidden thoughts dan perasaan disertai dengan gairah otonom, misalnya heightened startle response, hypervigilance, insomnia, dan mimpi buruk. Menjelang akhir fase adaptasi, penolakan lebih menonjol. Hal ini sering disertai dengan peningkatan kunjungan ke dokter untuk keluhan gejala somatik seperti kelelahan, pusing, sakit kepala, dan mual. Kemarahan, lekas marah, apatis, dan social withdrawal juga sering terjadi (Fullerton & Ursano, 2005: 27-28).

Crocq, et. al (2005: 102) menjelaskan, pada fase pascabencana, kondisi mental para korban akan kembali pada kondisi normal dalam beberapa hari (neuro-vegetative dan gejala psikologis mereda, individu tidak lagi sepenuhnya disibukkan oleh kejadian yang mereka alami sebelumnya, dan dapat melanjutkan kegiatan), atau munculnya sindrom psychotraumatic, ditandai dengan mengalami-ulang kejadian, menghindari rangsangan yang mengingatkan pada trauma, hiperreaktivitas, dan keasyikan terus-menerus dengan trauma. Gejala psychotraumatic mungkin muncul setelah berminggu-minggu atau bulan. Ini yang disebut “latency period” dan disebut masa inkubasi, kontemplasi, meditasi, atau memamah biak (rumination).

Selain itu, Crocq, et. al juga menjelaskan bahwa jika individu masih dirawat di rumah sakit, mungkin dia harus menunggu hingga dirinya mampu mengembalikan kemandirian untuk mulai mengatasi trauma. ICD-10 dan DSM-IV mengusulkan istilah diagnostik “post-traumatic stress disorder” (PTSD) untuk sindrom ini. Selain itu, DSM-IV mengusulkan kategori “acute stress disorder” untuk kasus-kasus dengan gejala disosiatif dan gejala psychotraumatic seperti kembali mengalami (muncul dalam waktu 4 minggu dari trauma). Individu yang mengalami reaksi stres akut maladaptif lebih berisiko untuk terkena PTSD akut setelah itu. Namun, hal ini dapat dihindari, dan ada kasus-kasus reaksi stres maladaptif yang sembuh tanpa konsekuensi, sedangkan individu yang awalnya merespon trauma secara adaptif, dapat berkembang ke tahap PTSD yang parah.

RUJUKAN

Crocq, et. al. (2005). Organization of Mental Health Services for Disaster Victims. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose, et. al. Disaster and Mental Health (pg. 98-123). West Sussex: Wiley.

Fullerton, Carol S., Ursano Robert J. (2005). Psychological and Psychopathological Consequences of Disasters. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose., et. al. Disaster and Mental Health (pg. 13-36). West Sussex: Wiley.

American Psychological Association. What Psychologists Do on Disaster Relief Operations. Diakses pada 19 Januari 2015 19:48 WIB dari http://www.apa.org/helpcenter/disaster-site.aspx

Potensi Sungai Siak Riau Layak Dipertimbangkan

image

Amazing Day! Yes, itulah kesimpulan hari ini. Hari yang melelahkan namun sangat-sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, pagi-pagi sudah dihadapkan dengan hamparan air sungai dan rindang pepohonan di kiri-kanannya. Mata yang telah lama lelah melihat ‘pohon beton’ hari ini dimanjakan dengan pemandangan menakjubkan.
image

Saya berpikir, betapa besar potensi yang dimiliki oleh masyarakat Pekanbaru dan Riau pada umumnya? Sangat besar! Tapi sayang, ntah mereka tidak sadar dengan potensi itu atau mereka memang malas mengembangkannya. Sungai yang sebenarnya bisa dijadikan ladang uang, malah terbengkalai begitu saja.
image

Coba tengok di Belanda sana, selain sebagai sarana transportasi, sungai juga mereka manfaatkan sebagai sarana rekreasi. Tidak ada kata terbatas karena adanya sungai.Mereka mendirikan restoran di atas sungai, bahkan hotel pun di tepi sungai. Malahan, ada yang berprofesi sebagai tukai pijat di atas sungai. Dengan bermodalkan kapal sederhana, mereka memijit para pendatang di atas sungai, di alam terbuka. Bayangkan betapa nikmatnya sensasi dipijit di alam terbuka.
image

Jika bangsa lain bisa, mengapa kita tidak? Mengapa hanya rela menerima keadaan tanpa ada sebuah inovasi-inovasi? Jika masyarakat si sekitar sungai atau bahkan pemerintah perhatian dengan hal ini, dapat dipastikan akan banyak menimbulkan lapangan kerja baru, investasi, bahkan sarana rekreasi di Pekanbaru pun semakin bertambah. Sedih sekali melihat warga Pekanbaru berekreasi ke Mall, air mancur tengah jalan, bahkan di tepi jalan menikmati jagung bakar. Mau beginikah selamanya? []
image

**The pictures taken by OPPO R821
©dilanovia 04012014

Previous Older Entries