Masuk UNHAN

IMG-20141008-WA0001Mengingat saya tidak rutin memeriksa komentar yang masuk di blog ini, khususnya untuk postingan yang terkait dengan Universitas Pertahanan, bagi sodara-sodara yang ingin bertanya mengenai Unhan silahkan hubungi saya pada kontak yang tertera di atas. Terima kasih. Thanks for stopping by! 🙂

©dilanovia 23032016 22:22

Image

Tentang Sinabung #5 – Kegiatan Rehabilitasi-Rekonstruksi pada Aspek Psikologis untuk Relawan di Gunung Sinabung

Relawan juga tidak luput dari stress akibat pekerjaan yang mereka lakukan. Adapun sumber-sumber stres bagi para relawan yang diungkapkan oleh Enrenreich dan Elliot (dalam Halimah dan Widuri, 2012) yaitu:

  1. Tuntutan fisik yang berat dan kondisi tugas (kerja) yang tidak menyenangkan
  2. Beban kerja yang berlebihan, jangka waktu lama dan kelelahan kronis (chronic fatigue)
  3. Berkurang atau bahkan hilangnya privasi dan ruang pribadi
  4. Jauh dari keluarga menimbulkan kecemasan pada kondisi keluarga
  5. Kurangnya sumber-sumber yang tepat (adequate resources) baik secara personil, waktu, bantuan logistik atau skill (ketrampilan) untuk melakukan tugas yang dibebankan
  6. Adanya bahaya mengancam (penyakit, terkena gempa susulan, dan sebagainya), perasaan takut dan tidak pasti yang berlebihan
  7. Kemungkinan melakukan evakuasi yang berulang
  8. Kemungkinan menyaksikan kemarahan dan menurunnya rasa syukur dalam masyarakat korban
  9. Secara berulang, teringat akan cerita-cerita traumatis, tragedi atau kisah yang memicu ingatan trauma individu yang telah lampau
  10. Beban birokratis yang berlebih atau kurangnya dukungan (support) dan pengertian pimpinan organisasi
  11. Konflik interpersonal di antara anggota kelompok relawan yang di lapangan mengharuskan mereka untuk dekat dan saling bergantung pada waktu cukup lama
  12. Perasaan tidak berdaya kala menghadapi tuntutan yang melewati batas (overwhwelming need)
  13. Perasaan sakit karena tidak bisa memenuhi tuntutan yang ada
  14. Dilema moral dan etika
  15. Harus mampu menjaga netralitas (sikap netral) jika berada dalam situasi politik yang terpolarisasi
  16. Perasaan bersalah melihat korban bencana tidak memiliki makanan, tempat bernaung, dan kebutuhan lain.

Terkait relawan-relawan yang bertugas di Sinabung, beberapa upaya yang dilakukan untuk meringankan beban psikologis mereka, di antaranya memberikan layanan psikologis dan pembekalan bagi pekerja kemanusiaan yang diterjunkan ke Sinabung, serta memberikan pelatihan bagi profesional dan relawan lokal tentang pendampingan psikososial agar mereka mampu mandiri. More

Tentang Sinabung #4 – Kegiatan Rehabilitasi-Rekonstruksi pada Aspek Psikologis untuk Masyarakat Dewasa Korban Erupsi Gunung Sinabung

Salah satu kegiatan pelatihan pendampingan psikososial masyarakat terdampak erupsi Gunung Sinabung di Kabanjahe pada tanggal 26-28 Februari 2014. Sumber: Humanitarian Forum Indonesia

Salah satu kegiatan pelatihan pendampingan psikososial masyarakat terdampak erupsi Gunung Sinabung di Kabanjahe pada tanggal 26-28 Februari 2014. Sumber: Humanitarian Forum Indonesia

Beberapa pendekatan psikologis dan psikososial yang dapat dilakukan untuk membantu pemulihan masyarakat dewasa yang menjadi korban erupsi Gunung Sinabung, yakni:

a. Terapi religi
Dewasa ini perkembangan terapi dunia kedokteran telah berkembang ke arah pendekatan keagamaan (psikoreligius). Berbagai penelitian membuktikan bahwa tingkat keimanan seseorang erat hubungannya dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stressor psikosiosial (Thoha, 2012). Terapi religi dapat menghadirkan ketenangan batin, dan ketentraman jiwa sehingga kesembuhan dapat terwujud.

Masyarakat Sinabung dapat disembuhkan melalui terapi religi tersebut seperti mengadakan kegiatan siraman rohani dengan mendatangkan ulama (bagi muslim) atau pendeta (bagi nasrani). Hal ini perlu diberikan sebagai motivasi bagi masyarakat agar tetap semangat dan tabah menghadapi cobaan yang mereka alami. Selain itu, siraman rohani juga diperlukan untuk mengajak masyarakat berfikiran positif, mengingatkan mereka untuk selalu beribadah, sembari bersyukur dan menerima segala yang terjadi dengan ikhlas, serta memberikan pengertian bahwa terdapat hikmah di balik peristiwa yang mereka alami saat ini. Semua hal tersebut dilakukan melalui pendekatan ketuhanan.

b. Terapi sosial kebudayaan
Frogatt (dalam Thoha, 2012) berpendapat bahwa berkumpul dengan orang lain yang memiliki masalah serupa kadang dapat membantu. Oleh karena itu, untuk mengurangi beban psikologis masyarakat Sinabung, mereka diajak untuk saling mengungkapkan apa yang dirasakan sehingga masing-masing merasa tidak sendirian karena banyak orang lain yang mengalami masalah serupa bahkan lebih berat. Dengan demikian, akan timbul semangat baru dan gairah hidup akan besar.

Mengajak korban bencana berbicara tentang perasaannya merupakan salah satu hal dalam proses coping disaster yang disarankan oleh Federal Emergency Management Agency (FEMA). Proses tersebut melibatkan bantuan dari konselor profesional yang berurusan dengan stres pasca-bencana. Selain itu, penting juga untuk memberi pemahaman kepada korban untuk tidak menyelahkan diri sendiri atau menjadi frustrasi karena mereka merasa tidak dapat membantu ketika penyelamatan. More

Tentang Sinabung #3 – Dampak Erupsi Gunung Sinabung Terhadap Masyarakat dari Aspek Psikologis

Masyarakat yang mengungsi akibat erupsi Gunung Sinabung

Sebagaimana bencana alam lainnya, Erupsi Gunung Sinabung menyisakan beragam cerita dan kegelisahan bagi masyarakat, terutama masyarakat yang berada dekat dengan lereng gunung, seperti tidak memiliki rumah yang layak, tidak memiliki pekerjaan tetap, trauma akibat banyaknya keluarga yang meninggal, serta hancurnya rumah beserta harta benda lainnya. Akibatnya, banyak masyarakat mengalami gangguan psikologis maupun fisiologis, terutama gangguan kejiwaan seperti trauma, stress, tidak mau makan, susah tidur, sering pingsan, suka menyendiri, mudah sedih, sakit kepala, diare, dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan gangguan kejiwaan, terdapat berbagai macam gejala yang dapat dilihat atau diidentifikasi baik melalui ungkapan perasaan (psikologis) atau melalui gejala-gejala fisik yang dirasakan seperti cemas, tress, depresi, panik, stress pasca trauma, dan khawatir, yang mungkin dirasakan oleh masyarakat Sinabung.

a. Khawatir: merupakan rangkaian pikiran dan citra negatif tentang keprihatinan yang biasanya berkaitan dengan masa depan. Khawatir meliputi kombinasi antara pemikiran obsesif tentang cara memecahkan atau menghindari masalah dan proses memperburuk konsekuensi yang mengkin timbul.

b. Cemas: manifestasi dari berbagai proses emosi yang sedang bercampur baur yang terjadi ketika seseorang sedang mengalami tekanan perasaan (frustasi) dan pertentangan batin (konflik). Kecemasan memiliki segi yang disadari seperti rasa takut, terkejut, tidak berdaya, rasa berdosa atau bersalah, terancam, dan sebagainya.

c. Panik: gejala klinis gangguan panic yaitu kecemasan yang datang mendadak disertai perasaan takut mati, disebut juga sebagai rangkaian panic (panic attack).

d. Stress pasca trauma: gejalanya yakni terdapat stressor traumatis yang berat dan jelas menimbulkan gejala penderitaan yang berarti bagi setiap individu, penghayatan yang berulang-ulang dari trauma, serta penutupan respon terhadap dunia luar.

e. Depresi: suatu kelemahan psikologis yang sering diiringi dengan berbagai tingkat kegelisahan atau keputusasaan.

Selain beberapa hal tersebut, kondisi psikologis masyarakat juga ditambah dengan perasaan ketidakpastian terhadap bencana yang terjadi, terutama bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan titik rawan. Masyarakat Karo pun tidak berpengalaman menghadapi bencana erupsi sebelumnya sehingga ketangguhan masyarakat juga masih sangat minim.

To be continue…

Tentang Sinabung #2 – Kawasan Rawan Bencana (KRB) Sinabung

Kawasan Rawan Bencana Gunung Sinabung (setelah revisi, PVMBG) di Kabupaten Karo

Kawasan Rawan Bencana Gunung Sinabung (setelah revisi, PVMBG) di Kabupaten Karo

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementrian ESDM beberapa tahun lalu membuat peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) gunung api yang ada di Indonesia. Berdasarkan data dari mediacenter.or.id, Gunung Sinabung memiliki KRB yang dibagi dalam tiga ring, yakni:

a. Kawasan Rawan Bencana I (KRB I)
Kawasan ini merupakan kawasan ring terluar yang rawan terhadap dampak letusan Gunung Sinabung yang berada dalam radius 5-7 Km dari puncak gunung yang ditunjukkan oleh kawasan arsiran warna kuning. Kawasan ini diperkirakan akan berpotensi tertimpa hujan abu dan kemungkinan dapat tertimpa material batu pijar berdiameter lebih kecil dari 2 cm. Beberapa lembah dan sungai yang berada dalam KRB I kemungkinan dilanda lahar hujan dan perluasan awan panas.

b. Kawasan Rawan Bencana II (KRB II)
Kawasan ini merupakan kawasan ring tengah yang berada dalam radius 2-5 Km dari puncak gunung yang ditunjukkan oleh kawasan arsiran warna merah muda. Wilayah ini berpotensi terkena lontaran batu pijar berdiameter antara 2-6 cm, hujan abu lebat, awan panas, aliran lava, dan guguran lava-lava, serta gas beracun. Danau Kawar yang berada di gunung api Sinabung masuk dalam area KRB II ini.

c. Kawasan Rawan Bencana III (KRB III)
Kawasan ini merupakan kawasan ring terdalam dan paling berbahaya yang berada dalam radius 0-2 Km dari puncak gunung. Kawasan ini sangat berpotensi terimpa lontaran batu pijar berdiameter lebih besar dari 6 cm dan hujan abu lebat. Pada lembah-lembah kawasan ini berpotensi dilanda aliran lava, awan panas, guguran lava, dan gas beracun.

To be continue…

Tentang Sinabung #1 – Proses Erupsi Gunung Sinabung (2010-2015)

Gunung Sinabung merupakan salah satu gunung di dataran tinggi Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Koordinat puncak gunung Sinabung adalah 03o 10’ LU dan 98o 23’ BT dengan puncak tertinggi gunung ini adalah 2460 mdpl dan menjadi gunung dengan puncak tertinggi di Sumatera Utara. Gunung Sinabung tidak pernah tercatat aktif sejak tahun 1600, namun mendadak aktif kembali dan meletus pada tahun 2010.

Aktivitas Gunung Sinabung terjadi pada tanggal 27 Agustus 2010 dengan mengeluarkan asap dan abu vulkanik. Letusan ini dikategorikan tipe letusan freatik, yaitu letusan yang terjadi karena tekanan gas. Kemudian, tanggal 29 Agustus 2010 sekitar pukul 00.15 WIB, gunung Sinabung mengeluarkan lava disertai dentuman dan kolom abu berkisar 1.500-2.000 meter. Abu tersebut cenderung meluncur dari arah barat daya menuju timur laut (Barasa, 2012).

Selanjutnya, tanggal 3 September 2010 terjadi dua kali letusan. Letusan pertama sekitar pukul 04.45 WIB, sedangkan letusan kedua terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Letusan tersebut menyemburkan debu vulkanis setinggi tiga km dan gempa bumi vulkanis yang terasa hingga 25 km di sekitar gunung ini. Pada tanggal 7 September 2010, Gunung Sinabung kembali metelus dengan tinggi kolom berkisar antara 2.000-5.000 meter. Ini merupakan letusan terbesar sejak gunung ini menjadi aktif di bulan Agustus 2010. More

Kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Erupsi Gunung Sinabung, Sumatera Utara Pada Aspek Psikologi.

Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulanan Bencana menyatakan bahwa rehabilitasi adalah kegiatan perbaikan dan pemulihan semua aspek layanan publik atau masyarakat sampai tingkat memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana. Sedangkan rekonstruksi merupakan pembangunan kembali semua prasarana dan sarana kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintah maupun masyarakat, berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, serta bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

Susanto (2006) memaparkan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi adalah bagian inti dari rencana pemulihan. Periode ini merupakan rangkaian setelah rencana darurat, berfokus pada aktivitas yang bertujuan memberikan kemampuan bagi korban untuk memulihkan kehidupan yang normal, layak, dan juga sebagai sarana untuk mata pencaharian. Bagaimana pun, setelah terjadinya bencana, ada kemungkinan tetap dibutuhkan bantuan kemanusiaan untuk kelompok-kelompok tertentu yang paling rentan akibat terjadinya bencana.

Terkait pasca erupsi gunung Sinabung, Sumatera Utara, dampak psikologis pada korban yang selamat (survivor) terutama yang masih berada di lokasi pengungsian berkembang seiring waktu dan kondisi sosial pascabencana. Kondisi psikologis yang muncul ditengarai seperti gejala depresi dan stres. Umumnya yang muncul di pengungsian adalah rasa jenuh dan gejala stres berkaitan dengan perasaan kehilangan keluarga, tempat tinggal, pekerjaan, dan harta benda. Kondisi tersebut juga ditambah dengan perasaan ketidakpastian terhadap bencana yang terjadi. Apalagi masyarakat setempat tidak berpengalaman menghadapi bencana erupsi sebelumnya. More

Previous Older Entries