The ‘Nekad’ Traveller #1: Taman Festival Bali

Not too much cuap-cuap deh ya di postingan kali ini karena lagi males nulishehehe… Intinya adalah ini salah satu perjalan nekad saya di tahun ini setelah beberapa bulan sebelumnya nekad halan-halan hendiri ke Banten, haiyaaa….

Anyway, Alhamdulillah saya dikasih kesempatan untuk bertugas ke Bali beberapa hari. Setelah semua urusan pekerjaan kelar, saya pun berniat untuk menghabiskan sisa hari di Bali untuk jalan-jalan. Kemana? Itulah pertanyaan terbesar saya waktu itu.

Setelah searching_googling_thinking_tujuh_keliling akhirnya saya putuskan ke Tegalalang, Ubud. Sama siapa? Yah, jalan-jalannya sendiri even I have never been to Bali.

Well, sebelum ke Ubud, perjalanan saya awali dengan mengunjungi Pantai Padang Galak. Namun, tujuan utama saya kesana bukan ke pantainya, tapi tempat “bekas” wisata yang bernama Taman Festival. More

Advertisements

Tentang Melon

Kalau kamu lagi males baca, saya sarankan mending nggak usah dilanjutkan membaca cerita ini karena ini sama sekali bukan cerita penting. Hehehe…

Jadi ceritanya kemarin saya baru belanja beberapa kebutuhan di salah satu supermarket dekat kosan dan salah satu yang terdampar di keranjang belanja ada buah melon. Jangan bayangkan saya beli satu buah melon utuh, tidak, saya beli setengahnya. You know kan, buah melon yang udah dibelah dua oleh petugas supermarket-nya, harganya 18 ribuan. Kalau beli satu melon utuh malah kebanyakan, mana berat bawanya.

Singkat cerita, baru malam ini saya menikmati manisnya si buah melon. Kalau bukan karena takut kelamaan dalam kulkas dan membusuk, mungkin masih saya biarkan si melon bertengger cantik dalam kulkas. FYI, salah satu buah yang saya paling males ngupasnya adalah buah melon,  idk why :-/. Yah, Intinya, #gabolehmalas sih, apalagi buat perut sendiri. Ya kan.. ya kan…

Manis loh kaya saya, mau? Mau melon maksudnya, yeee :p

Nah, ngomong-ngomong tentang melon, jadi inget dulu pas masih tinggal di Citeureup, hampir tiap minggu saya beli melon di Pasar Citeureup. Gimana nggak tergiur, satu buah melon harganya cuma goceng. GOCENG!!!  Seneng banget kalo udah weekend, which is itu nggak kuliah dan saya bisa bebas blusukan ke pasar, and the item that must I have is Melon.
Nah, kalau sekarang, cari melon gopek-an itu susah. Apalagi kalo belanja di supermarket! Mimpi kali ye ada melon goceng. Nyari-nyari di pasar terdekat juga nggak ada (FYI, saat ini saya sering belanja di Ps. Pulo Gadung). *Skip_info_nggak_penting :p

Jadi, inti cerita ini apa? Well, saya rindu belanja di Ps. Citeureup, yang mana di sana ada melon yang harganya limariburupiah. Melon murah meriah muah muah. *apasih -_-“[]

Sambil nulis, sambil nyemilin melon, udah sisa sepotong aja

©dilanovia Jakarta, 27042017 2240

Terima Kasih Tidak Memilih Saya

riba

Manusia mana yang tidak pernah merasakan kecewa? Semua manusia yang memiliki hati tentu pernah merasakannya, begitu juga saya. Apalagi saat itu saya sedang luntang-lantang mencari pekerjaan.
.
Saat pekerjaan hampir di depan mata, dan dengan keyakinan bahwa saya akan diterima, kenyataan malah sebaliknya.
.
Sekitar tahun 2013 lalu, saya melamar pekerjaan di salah satu bank konvensional di kota saya. Singkat cerita, saya pun melalui tahap demi tahap seleksi yang diselenggarakan oleh pihak HRD.
.
Proses saat itu hanya tinggal menunggu pengumuman akhir, namun takdir Allah subhanahu wa ta’ala berkata lain, saya tidak lulus!
.
Awalnya saya sangat kecewa dan sedih. Saya pun kembali merutuki diri, kenapa sih saya tidak lulus, kenapa harus nganggur, kapan saya bisa berkerja, kapan bisa membanggakan orang tua.
.
Namun, beberapa hari kemudian (saat hati masih diliputi sedih dan kecewa) Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan kasih dan sayangnya. Allah subhanahu wa ta’ala memberikan jawabannya.
.
Saat itu saya sedang menonton televisi, bolak-balik memilih chanel akhirnya saya berhenti pada salah satu stasiun TV yang menyiarkan dakwah Islam. Masih teringat jelas di benak saya yang memberi ceramah kala itu adalah Ustadz Erwandi Tarmizi (hafidzahullah) yang bertema riba.
.
Saya benar-benar terhenyak dengan penjelasan beliau. Diri yang fakir ilmu ini baru tahu bahwa bekerja di bank sama saja dengan menghalalkan praktik riba yang termasuk dosa besar.
.
Riba yang telah dilarang keras oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al Qur’an, yang telah ditegaskan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam melalui hadist-hadistnya.
.
Masha Allah… begitu sayangnya Allah subhanahu wa ta’ala kepada saya. Dia mengajarkan langsung kepada saya tentang haramnya riba melalui rentetan peristiwa ini.
.
Ternyata, ketidaklulusan saya malah meghindarkan saya dari jeratan riba, tidak melakukan praktik riba, tidak mencari rezeki di jalan riba, dan tentunya terhindar dari dosa-dosa riba.
Alhamdulillah, Allahu Akbar!
.
Peristiwa ini pun mengingatkan saya pada firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat 216:
.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
.
Ya, dulu saya sangat sedih dan kecewa karena kegagalan ini, namun Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hikmah yang sangat luar biasa.
Masha Allah…
.
Minimal ada dua hikmah yang saya dapatkan dari pengalaman ini, yaitu:

  1. Pertama, ketika melakukan sesuatu, manusia boleh saja yakin namun jangan takabur, serahkan semua urusan hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha Mengetahui.
  2. Kedua, (dan yang paling membuat saya sangat-sangat bersyukur) adalah saya terhindar dari praktik riba dan dosa riba.

Saya merasa sedih dengan teman-teman yang saat ini masih bekerja di “ladang-ladang riba”. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melembutkan hati mereka untuk menerima hidayah dari-Nya agar meninggalkan riba.
.
Ya, sebagai seorang muslim, sudah selayaknya kita menjauhi riba. Cukuplah bagi kita membaca akhir surat Al-Baqarah ayat 275-281, maka kita akan merinding akan dahsyatnya ancaman Allah subhanahu wa ta’ala kepada pelaku riba.
.
Terima kasih tim HRD yang dulu menyeleksi saya. Terima kasih tidak memilih saya…

Pekanbaru, di Hari Idul Adha1437 H yang penuh rahmat

*Tulisan ini terpilih sebagai salah satu pemenang giveaway yang diadakan oleh muslimstore.id muslim.or.id

Dirgahayu ke-71 Indonesiaku

IMG_20160816_205553

Aku memang tak sekuat Cut Nyak Dien, yang rela dibuang jauh dari tanah asalnya ke suatu daerah terpencil di Kabupaten Sumedang karena melawan penjajah Belanda.
Aku tak segigih Kartini, yang berjuang keras membakar semangat kaumnya demi  kebangkitan perempuan pribumi.
Aku pun tak setangguh Martha Christina Tiahahu, seorang remaja puteri yang langsung terjun di medan pertempuran melawan kolonial Belanda dalam perang Pattimura.
Dan aku juga tak seberani Siti Manggopoh, perempuan asli Minangkabau yang melakukan perlawanan terhadap kebijakan pajak uang oleh Belanda melalui Perang Belasting.
Aku memang generasi yang hidup di masa kemerdekaan
Menyemai hasil jerih payah para pahlawan yang berkorban hingga titik darah penghabisan.
Tak lagi mengecap penindasan
Bukan sebagai pekerja rodi, atau pun budak romusha
Mungkin perjuanganku sebagai wanita saat ini tak lagi mengangkat senjata, menghunus bambu runcing, atau menyusun siasat gerilya
Katanya, wanita yang berjuang mengisi kemerdekaan saat ini adalah mereka yang tidak hanya berjuang di dalam keluarga di rumah mereka
Namun, mereka keluar rumah dan berjuang untuk bangsanya…
Pernyataan itu, mungkin ada yang pro dan juga kontra
Namun, bagiku, wanita yang berjuang mengisi kemerdekaan adalah mereka yang mampu berdiri dengan segudang karya
Ntah mereka yang duduk di belakang meja
Atau mereka yang berkutat membesarkan para penerus bangsa
Dirgahayu ke-71 Indonesiaku…

©dilanovia 17082016 0116

Antara Rezeki dan Ajal

image

Banyak manusia merasa khawatir dalam mencari rezeki karunia Allah Swt. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela menggadai diri dan menghinakan martabat.
Banyak manusia merasa khawatir dalam mencari rezeki karunia Allah Swt. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela menggadai diri dan menghinakan martabat. Kondisi dunia modern yang sarat persaingan dan pergulatan menuntut mereka untuk lebih berjibaku dalam mencari nafkah berupa karunia Tuhan. Betapa banyak setiap pagi hari di belahan bumi manapun didapati wajah-wajah penuh ketegangan dan kepanikan yang memancarkan rona khawatir dalam mengais rezeki di pagi hari. Seolah mereka tiada memiliki Tuhan yang Maha Kaya Yang Mampu menjamin rezeki setiap hambaNya. Dialah Allah, Ar Razzaq Sang Pemberi Rezeki.
Hal yang sering luput dari diri manusia zaman modern ini adalah keimanan dan keyakinan bahwa Allah Swt telah menjamin rezeki dan nafkah setiap hambaNya. Karena keyakinan ini semakin memudar, maka setiap individu bergulat dan berkutat dalam kehidupan dunia demi memenuhi kebutuhan hidup belaka.
Dalam kitab Mirqaat al Mafatiih terdapat kutipan pernyataan Al Qusyairi yang mengatakan, ““Seseorang yang mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pemberi Rezeki, berarti ia telah menyandarkan tujuan kepadaNya dan mendekatkan diri dengan terus bertawakal kepadaNya.”
Pernyataan Al Qusyairi ini penting untuk diyakini bahwa memang kunci mendapatkan rezeki adalah dengan mendatangi Sang Pemilik rezeki yaitu Ar Razzaq! Sebab dengan mendatanginya maka segala kebutuhan akan terpenuhi.
Apakah kita belum pernah mendengar hadits yang amat masyhur ini:
Hai manusia, jika dari generasi pertama sampai terakhir, baik jin dan manusia berkumpul dalam satu tempat untuk meminta kepadaKu, lalu masing-masing orang meminta untuk dipenuhi kebutuhannya, niscaya hal tersebut tidak mengurangi sedikit pun dari kekuasaanKu, kecuali hanya seperti jarum yang dicelupkan di laut. (HR. Muslim) More

Harkitnas atau Harsuhnas?

153028020160520-151146780x390

Lagi, lagi, dan lagi, hari-hari bersejarah di negeri ini dicederai oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Tepat hari ini, hari kebangkitan nasional atau harkitnas, masyarakat yang katanya beradab, malah bertingkah tanpa adab. Demonstrasi yang awalnya damai di depan kantor KPK Jalan HR Rasuna Said, berubah menjadi aksi anarkis. Duh, miris!

Masih segar dalam ingatan kita bahwa di lokasi yang sama, Senin, 9 Mei 2016 lalu mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melakukan aksi unjuk rasa. Namun, demonstrasi tersebut tidak berlangsung separah hari ini.

Namun, tidak dengan demo kali ini. Para pengunjuk rasa melempari polisi dengan batu, kayu, bahkan anak panah. Akibatnya, polisi antihuru-hara terpaksa melemparkan gas air mata dan tembakan water canon.

Mengapa tidak bisa belajar dengan kejadian yang sudah-sudah? Demo yang terjadi selalu saja berubah ricuh. Yang rugi siapa? Tentu yang rugi bukan saja pemerintah, tapi juga para demonstran itu sendiri. Fasilitas publik rusak, ada korban yang terluka, bahkan tidak sedikit yang meregang nyawa. More

Dipanggil Ukhti…

image

Mendengar kata “ukhti” bagi sebagian orang akan langsung berfikir bahwa panggilan tersebut biasa digunakan untuk memanggil kaum muslimah yang menggunakan jilbab lebar, anggota rohis, aktivis dakwah, penuntut ilmu syar’i, atau sering mengikuti kajian-kajian Islam. Memang sejauh yang saya ketahui, panggilan tersebut idientik digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sangat memperhatikan dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam. Jika diibaratkan dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang pernah saya pelajari dulu, sebutan tersebut condong ditujukan kepada hal yang positif atau yang baik-baik, dalam hal ini adalah perempuan baik-baik.
Kata “ukhti” sendiri berasal dari bahasa arab, ﺃﺧﺘﻲ (baca: ukhtii) yang artinya adalah saudariku. Umumnya, sah-sah saja panggilan tersebut ditujukan bagi siapa saja yang berjenis kelamin perempuan. Toh, artinya kalau di Bahasa Indonesia sama saja dengan memanggil kak (perempuan) atau dik (perempuan). Meskipun di dalam pelajaran Bahasa Arab sebutan ukhti ini ditujukan untuk saudari yang memiliki hubungan darah (maaf dan tolong ralat kalau salah). Namun, seperti yang saya katakan sebelumnya, panggilan “ukhti” menjadi panggilan yang lumrah digunakan oleh “sebagian” perempuan yang biasanya berjilbab syar’i.
Well, sejak mengikuti berbagai kajian dan hijrahnya penampilan, saya semakin sering dipanggil ukhti. Awal mula dipanggil dengan sebutan tersebut ada rasa malu dan kagok di diri ini. “Ukhti Dila”. Siapa sangka saya dipanggil demikian. Apalagi lidah ini belum terbiasa dengan ucapan-ucapan ala arab seperti afwan, ikhwan, akhwat, akhi, ana, antum, wa iyyaki, dan sebagainya. Lha sekarang saya malah sering dipanggil ukhti oleh kelompok-kelompok di pengajian yang saya ikuti.
Anyway, bagi saya pribadi rasanya saya belum cocok dipanggil ukhti. Meskipun bukan tidak nyaman, tapi merasa belum pantas saja. Ntah mengapa, brand image ukhti bagi saya adalah sosok perempuan alim, baik tutur kata dan tingkah lakunya, taat menjalankan perintah agama, serta jauh dari segala maksiat. Sedangkan rasanya saya masih jauh ke arah itu. Saya musti banyak belajar dan terus belajar ilmu agama yang syar’i.
Namun, di sisi lain panggilan tersebut juga menjadi penyemangat buat diri ini agar terus hijrah ke arah kebaikan. Mungkin panggilan ukhti bagi saya selain (jujur) sebagai penghargaan (ada rasa haru ketika dipanggil ukti :)), juga sebagai amanah yang harus saya jaga dengan cara memperbaiki diri yang masih belum baik ini.[]

©dilanovia 12052016 23:30

Previous Older Entries