Jika Lelah…

Jika lelah, berbaringlah, bukan menyerah. Tak usah sembunyikan lelah. Jujurlah pada diri bahwa “aku ada batasnya”. Semesta butuh pengakuan bahwa kita memang lemah. Istirahatlah… Dan saat itu kita akan paham Laa Haulaa, tiada daya, Illah Billah, selain pertolongan Allah.

Dunia memang tempatnya lelah. Tempat bersemayam rasa lemah, penat, sakit, sedih, dan segala hal yang tidak mengenakkan hati. Tidak perlu resah, karena demikianlah adanya.

Tunggulah saatnya tiba. Dimana kita bisa istirahat dari kepenatan dengan sempurna. Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya, “Kapan seorang hamba bisa istirahat?” Beliau menjawab, ”Saat kakinya menginjak suurga”.

Ingatlah kunci utama: lillah, billah, fillah, ma’allah.

Yaa Ayyatuhan-nafsul muthma’innah. Irji’ii ilaa Rabbiki Raadhiatum-mardhiyyah. Fadkhuli fii ‘ibadi. Wadkhuli jannatii.[]

Jakarta, 24102018 2106

©noviafaradila

Mendewasa Dengan Cara Allah

v4-900px-Become-a-Good-Muslim-Girl-Step-5-Version-2

Segala hal yang ditakdirkan Allah kepada setiap hambaNya PASTI mengandung kebaikan. Meskipun kita, manusia, yang dangkal akalnya, dangkal pikirannya, memandang takdir tersebut sebagai sesuatu yang menyakitkan, menyedihkan, atau menyulitkan.
.
Tidakkah kita ingat sabdaNya, laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa. Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Jadi, tidak ada alasan untuk ragu dengan caraNya. Cara Rabbul ‘Alamin.
.
Setiap hari, minimal 17 kali, kita menyebutNya Rabb Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jadi, sekali lagi, tidak ada alasan apapun untuk ragu, meski saat ini Dia sedang membelai hati kita dengan rasa pilu. Karena, cinta dan kasih sayangnya tidak palsu.
.
Alaa bidzikrillahi tatmainnul quluub. Laa tahzan, mari mendewasa dengan cara dan takdirNya.

PS: untuk yang tersayang, ibundaku, semoga ibu lekas sembuh. Semoga Allah menghapus dosa-dosamu dan meninggikan derajatmu~

Pekanbaru, di tengah hiruk-pikuk bandara, 20102018 1849

©noviafaradila

Mata dan Hati

Ketika kulupakan cinta, mataku sampaikan kabar gembira kepada hatiku

Hatiku berkata,

“Ini kegembiraan kita berdua

Aku terbebas dari malam-malammu ketika kau susah tidur

Dan kau pun membebaskan diriku dari cengkeraman rindu dan nyeri

Kita berdua layak hidup abadi

Tapi jika kau kembali, maka…

Tidaklah mungkin cinta dapat membuat kau dan aku abadi

~Kitab Raudhatul Muhibbin, 127-128

©novia.faradila 10082018 2225

Dipanggil Ukhti…

image

Mendengar kata “ukhti” bagi sebagian orang akan langsung berfikir bahwa panggilan tersebut biasa digunakan untuk memanggil kaum muslimah yang menggunakan jilbab lebar, anggota rohis, aktivis dakwah, penuntut ilmu syar’i, atau sering mengikuti kajian-kajian Islam. Memang sejauh yang saya ketahui, panggilan tersebut idientik digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sangat memperhatikan dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam. Jika diibaratkan dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang pernah saya pelajari dulu, sebutan tersebut condong ditujukan kepada hal yang positif atau yang baik-baik, dalam hal ini adalah perempuan baik-baik.
Kata “ukhti” sendiri berasal dari bahasa arab, ﺃﺧﺘﻲ (baca: ukhtii) yang artinya adalah saudariku. Umumnya, sah-sah saja panggilan tersebut ditujukan bagi siapa saja yang berjenis kelamin perempuan. Toh, artinya kalau di Bahasa Indonesia sama saja dengan memanggil kak (perempuan) atau dik (perempuan). Meskipun di dalam pelajaran Bahasa Arab sebutan ukhti ini ditujukan untuk saudari yang memiliki hubungan darah (maaf dan tolong ralat kalau salah). Namun, seperti yang saya katakan sebelumnya, panggilan “ukhti” menjadi panggilan yang lumrah digunakan oleh “sebagian” perempuan yang biasanya berjilbab syar’i.
Well, sejak mengikuti berbagai kajian dan hijrahnya penampilan, saya semakin sering dipanggil ukhti. Awal mula dipanggil dengan sebutan tersebut ada rasa malu dan kagok di diri ini. “Ukhti Dila”. Siapa sangka saya dipanggil demikian. Apalagi lidah ini belum terbiasa dengan ucapan-ucapan ala arab seperti afwan, ikhwan, akhwat, akhi, ana, antum, wa iyyaki, dan sebagainya. Lha sekarang saya malah sering dipanggil ukhti oleh kelompok-kelompok di pengajian yang saya ikuti.
Anyway, bagi saya pribadi rasanya saya belum cocok dipanggil ukhti. Meskipun bukan tidak nyaman, tapi merasa belum pantas saja. Ntah mengapa, brand image ukhti bagi saya adalah sosok perempuan alim, baik tutur kata dan tingkah lakunya, taat menjalankan perintah agama, serta jauh dari segala maksiat. Sedangkan rasanya saya masih jauh ke arah itu. Saya musti banyak belajar dan terus belajar ilmu agama yang syar’i.
Namun, di sisi lain panggilan tersebut juga menjadi penyemangat buat diri ini agar terus hijrah ke arah kebaikan. Mungkin panggilan ukhti bagi saya selain (jujur) sebagai penghargaan (ada rasa haru ketika dipanggil ukti :)), juga sebagai amanah yang harus saya jaga dengan cara memperbaiki diri yang masih belum baik ini.[]

©dilanovia 12052016 23:30

Hati-Hati dengan Hati

juicy_heart

Berkaca pada banyak kejadian yang saya saksikan dengan mata ini, manusia itu gampang banget berubah. Kadang maunya ini, besok maunya itu. Kemarin nggak mau ini, eh besoknya mau. Dulu benci sama ini, beberapa waktu kemudian berubah menjadi suka. Yah, apa lagi kalau bukan hati yang bermain di sini.

Kalau hal itu hanya tentang benda, hobi, makanan, kegiatan, saya rasa tidak masalah. Tapi kalau itu tentang sebuah hubungan, bagi saya ini masalah.

Kata orang, banyak pengalaman itu baik. Tapi jika pengalaman yang banyak itu dalam hal melihat hubungan orang-orang yang kandas, piye? Bukan baik, jadinya malah parno.

Ada yang sudah menikah lebih dari 10 tahun, terus cerai. Eh, beberapa bulan setelah itu salah satunya sudah menikah lagi dengan orang lain. Ada yang pacaran bertahun-tahun akhirnya putus dan nggak lama setelah itu menyebarkan undangan pernikahan dengan orang lain. Bahkan, parahnya ada yang masih berstatus suami-istri, eh malah masih “jajan”.

Padahal mereka-mereka itu dulunya berada dalam satu cinta kasih yang katanya sehidup semati. Padahal mereka-mereka itu dulunya saling menyayangi. Itu semua ada di dalam hati. Namun, apa daya hati yang tak bertulang. Dia tidak bisa mengikat rasa itu dengan kekal. Melalui hati pula lah rasa cinta kasih dan sayang itu hilang bahkan tanpa sisa.

Bagaimana menghadapinya?

Ntahlah… kadang saya takut dan khawatir kalau-kalau hal serupa menimpa saya ketika saya telah mematenkan hati untuk seseorang. Tidak ada yang tahu hari esok. Baik atau buruk.

Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Ta’atik

#lagiparno 20042016 2301

Zinda Rehti Hain Unkii Mohabbatein

cats

How much hate exists in the world!
Yet, even so, hearts continue to love.
How much hate exists in the world!
Yet, even so, hearts continue to love.
Even if lovers should die, even if they are erased from this earth,
their love will live on forever…
Even if lovers should die, even if they are erased from this earth,
their love will live on forever…

The lovely lyrics and song from Mohabbatein movie titled ‘Zinda Rehti Hain Mohabbatein’.[]

©dilanovia 13122015

Renungan Jumat

 Pengalaman yang sudah-sudah jelas-jelas menunjukkan bahwa mencintai makhluk itu banyak yang berujung luka. So, to the point saja. Intinya adalah saat ini dan seterusnya bagaimana caranya terus mendekatkan diri kepada Allah dan semakin mencintai-Nya. Ada dua perbedaan. Pertama, ketika mencintai Allah, wujud yang dicinta itu tidak ada, tak terlihat rupa atau raganya (bukankah kita tidak bisa melihat Allah?). Sementara, yang kedua, ketika mencintai makhluk, kita bisa dengan “bebas” melihat tampan/cantik parasnya, mendengar suaranya, berjalan berdampingan dengannya, dan melewati hari-hari bersamanya.

Sadar atau tidak, cinta sejati adalah cinta kepada Allah. Di sini bukan sekedar cinta “kepada” Allah-nya, namun makna yang lebih penting dari itu adalah mencinta-kepada-apa-yang-sama-sekali-tidak-pernah-kita-lihat-wujudnya. Kita cinta karena kita benar-benar cinta. Bukan jatuh cinta setelah melihat paras dan raga. Bukan jatuh cinta setelah melihat gigihnya usaha. Bukan cinta karena harta dan tahta. Bukan cinta karena kecerdasan. Atau jatuh cinta karena banyak kesamaan.

Sebagai makhluk saya banyak sekali keterbatasan. Berupanya mencintai Allah dengan sepenuh hati, namun nafsu akan cinta kepada makhluk mengalahi cinta kepada Sang Pencipta. Katanya cinta, namun hati ini sering kali tidak setia, melawan aturannya atau secara sadar mengabaikan larangan-Nya. Bahkan, menyandingkan cinta kepada makhluk yang notabenenya terbatas, dengan Dia yang tanpa batas. Padahal Dia dan makhluk ciptaan-Nya sangat tidak pantas disandingkan. More

Previous Older Entries