Ketika Semua Menjadi Biasa-biasa Saja

images (1)930597301..jpg

Teringat akan untaian kalimat dalam Kitab Raudhatul Muhibbin karangan Imam Ibnu Qoyyim (rahimahullah), kurang lebih isinya begini:

Ketika kulupakan cinta, mataku sampaikan kabar gembira kepada hatiku.

Hatiku berkata,

“Ini kegembiraan kita berdua.

Aku terbebas dari malam-malammu ketika kau susah tidur.

Dan kau pun membebaskan diriku dari cengkeraman rindu dan nyeri.”

Yass, tentunya ada lega yang kita rasakan ketika kita mampu mengurai rasa yang kita simpan hingga menjadi tak berbekas lagi. Tentu tidak enak menyimpan rasa terlalu lama. Menjadi pengagum rahasia ntah berapa kali purnama. Oleh sebab itulah, ketika rasa itu telah pergi, ada gembira di hati. Kita tak perlu lagi menjaga rasa yang memang seharusnya bukan kita yang menjaga.

That is what I feel and I’m very happy right now. Keeping your feelings too long is very painful and that’s what I’ve felt for many many many months. That time was really hard for me. However, no longer, a few days ago I met him again, after about two months not meeting. Allah is indeed Good. It brought me back to him after my heart was ready. Yes, and I’m ready! There were no more feelings, no more heartbeats, no more stealing glances at him. Everything works as usual, as a stranger meets other strangers.

You! Maybe I always remember your name but not in my heart anymore. Maybe until now you don’t know how much I have feelings and hope in you. Until your name More

Laa Tadzarnii Fardan

img_20181209_1834312098821685.jpg

Rabbi laa tadzarnii fardan… Saya pikir tidak ada manusia di bumi ini yang ingin hidup sendiri. Fitrah manusia adalah bersama, berkumpul, bersosialisasi, termasuk ingin memiliki orang-orang yang dia sayangi. Yang dengan demikian mereka dapat saling berbagi, menyayangi, melanjutkan hidup.

Rabbi laa tadzarnii fardan… Bahkan seorang nabi pun tak ingin sendiri. Lihatlah Nabi Dzakariya. Betapa ia ingin memiliki putera, namun di sisi lain ia telah lanjut usia dan istrinya mandul pula. Namun, hal itu tidak menyurutkan tekadnya. Ia pun berdoa dengan doa yang sangat indah. Rabbi laa tadzarnii fardan wa anta khairur waaritsin. Masyaa Allah.

Rabbi laa tadzarnii fardan… Jika seorang nabi saja berdoa demikian, bagaimana dengan kita? Jika seorang nabi membutuhkan keturunan untuk melanjutkan perjuangannya, lantas bagaimana dengan kita? Apalagi bagi yang belum menemukan pelengkap diin-nya.[]

Ya Rabbi laa tadzarnii fardan wa anta khairur waaritsin…[]

Kota Batu, 04122018

❤ Dila

Jika Lelah…

Jika lelah, berbaringlah, bukan menyerah. Tak usah sembunyikan lelah. Jujurlah pada diri bahwa “aku ada batasnya”. Semesta butuh pengakuan bahwa kita memang lemah. Istirahatlah… Dan saat itu kita akan paham Laa Haulaa, tiada daya, Illah Billah, selain pertolongan Allah.

Dunia memang tempatnya lelah. Tempat bersemayam rasa lemah, penat, sakit, sedih, dan segala hal yang tidak mengenakkan hati. Tidak perlu resah, karena demikianlah adanya.

Tunggulah saatnya tiba. Dimana kita bisa istirahat dari kepenatan dengan sempurna. Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya, “Kapan seorang hamba bisa istirahat?” Beliau menjawab, ”Saat kakinya menginjak suurga”.

Ingatlah kunci utama: lillah, billah, fillah, ma’allah.

Yaa Ayyatuhan-nafsul muthma’innah. Irji’ii ilaa Rabbiki Raadhiatum-mardhiyyah. Fadkhuli fii ‘ibadi. Wadkhuli jannatii.[]

Jakarta, 24102018 2106

©noviafaradila

Mendewasa Dengan Cara Allah

v4-900px-Become-a-Good-Muslim-Girl-Step-5-Version-2

Segala hal yang ditakdirkan Allah kepada setiap hambaNya PASTI mengandung kebaikan. Meskipun kita, manusia, yang dangkal akalnya, dangkal pikirannya, memandang takdir tersebut sebagai sesuatu yang menyakitkan, menyedihkan, atau menyulitkan.
.
Tidakkah kita ingat sabdaNya, laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa. Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Jadi, tidak ada alasan untuk ragu dengan caraNya. Cara Rabbul ‘Alamin.
.
Setiap hari, minimal 17 kali, kita menyebutNya Rabb Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jadi, sekali lagi, tidak ada alasan apapun untuk ragu, meski saat ini Dia sedang membelai hati kita dengan rasa pilu. Karena, cinta dan kasih sayangnya tidak palsu.
.
Alaa bidzikrillahi tatmainnul quluub. Laa tahzan, mari mendewasa dengan cara dan takdirNya.

PS: untuk yang tersayang, ibundaku, semoga ibu lekas sembuh. Semoga Allah menghapus dosa-dosamu dan meninggikan derajatmu~

Pekanbaru, di tengah hiruk-pikuk bandara, 20102018 1849

©noviafaradila

Sarat Makna

Saya selalu yakin, haqqul yaqin, bahwa inci demi inci jalan kehidupan yang telah Allah tetapkan mengandung banyak sekali ibroh, bagi yang mau memikirkan dan menghayati. Tidak ada yang sia-sia atau sekedar mampir layaknya iklan-iklan yang ada di layar kaca.

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa´at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Yunus: 3)

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (QS. Qashash: 60).

Selama lebih kurang tujuh bulan ini saya mendapat pengajaran sekaligus ujian yang luar biasa dari Allah Azza wa Jalla. Pelajaran yang tidak akan pernah ditemukan di bangku sekolah atau kuliah. Dari kejadian demi kejadian, hari demi hari yang saya lewati selama lebih kurang tujuh bulan belakangan banyak mengajarkan saya bagaimana seharusnya seorang muslimah itu mengelola sikap bahkan perasaannya.

Alhamdulillah, apa yang ditetapkan oleh-Nya sungguh bermakna. I can’t say anything anymore, I just wanna praise God. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.[]

Dihari Jumat yang penuh berkah, 21092018

❤ Dila

Mata dan Hati

Ketika kulupakan cinta, mataku sampaikan kabar gembira kepada hatiku

Hatiku berkata,

“Ini kegembiraan kita berdua

Aku terbebas dari malam-malammu ketika kau susah tidur

Dan kau pun membebaskan diriku dari cengkeraman rindu dan nyeri

Kita berdua layak hidup abadi

Tapi jika kau kembali, maka…

Tidaklah mungkin cinta dapat membuat kau dan aku abadi

~Kitab Raudhatul Muhibbin, 127-128

©novia.faradila 10082018 2225

Dipanggil Ukhti…

image

Mendengar kata “ukhti” bagi sebagian orang akan langsung berfikir bahwa panggilan tersebut biasa digunakan untuk memanggil kaum muslimah yang menggunakan jilbab lebar, anggota rohis, aktivis dakwah, penuntut ilmu syar’i, atau sering mengikuti kajian-kajian Islam. Memang sejauh yang saya ketahui, panggilan tersebut idientik digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sangat memperhatikan dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam. Jika diibaratkan dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang pernah saya pelajari dulu, sebutan tersebut condong ditujukan kepada hal yang positif atau yang baik-baik, dalam hal ini adalah perempuan baik-baik.

Kata “ukhti” sendiri berasal dari bahasa arab, ﺃﺧﺘﻲ (baca: ukhtii) yang artinya adalah saudariku. Umumnya, sah-sah saja panggilan tersebut ditujukan bagi siapa saja yang berjenis kelamin perempuan. Toh, artinya kalau di Bahasa Indonesia sama saja dengan memanggil kak (perempuan) atau dik (perempuan). Meskipun di dalam pelajaran Bahasa Arab sebutan ukhti ini ditujukan untuk saudari yang memiliki hubungan darah (maaf dan tolong ralat kalau salah). Namun, seperti yang saya katakan sebelumnya, panggilan “ukhti” menjadi panggilan yang lumrah digunakan oleh “sebagian” perempuan yang biasanya berjilbab syar’i.

Well, bagi saya awal mula dipanggil dengan sebutan ukhti ada rasa malu dan kagok di diri ini. “Ukhti Dila”, demikian panggilan yang sering saya dengar oleh kelompok-kelompok di pengajian yang saya ikuti.

Anyway, bagi saya pribadi rasanya saya belum cocok dipanggil ukhti. Meskipun bukan tidak nyaman, tapi merasa belum pantas saja. Ntah mengapa, image ukhti bagi saya adalah sosok perempuan alim, baik tutur kata dan tingkah lakunya, taat menjalankan perintah agama, serta jauh dari segala maksiat. Sedangkan rasanya saya masih jauh ke arah itu. Saya musti banyak belajar dan terus belajar ilmu syar’i.

Namun, di sisi lain panggilan tersebut juga menjadi penyemangat buat diri ini agar terus hijrah ke arah kebaikan. Mungkin panggilan ukhti bagi saya selain (jujur) sebagai penghargaan (ada rasa haru ketika dipanggil ukhti :)), juga sebagai amanah yang harus saya jaga dengan cara memperbaiki diri yang masih belum baik ini.[]

©dilanovia 12052016 23:30

Previous Older Entries