The ‘Nekad’ Traveller #1: Taman Festival Bali

Not too much cuap-cuap deh ya di postingan kali ini karena lagi males nulishehehe… Intinya adalah ini salah satu perjalan nekad saya di tahun ini setelah beberapa bulan sebelumnya nekad halan-halan hendiri ke Banten, haiyaaa….

Anyway, Alhamdulillah saya dikasih kesempatan untuk bertugas ke Bali beberapa hari. Setelah semua urusan pekerjaan kelar, saya pun berniat untuk menghabiskan sisa hari di Bali untuk jalan-jalan. Kemana? Itulah pertanyaan terbesar saya waktu itu.

Setelah searching_googling_thinking_tujuh_keliling akhirnya saya putuskan ke Tegalalang, Ubud. Sama siapa? Yah, jalan-jalannya sendiri even I have never been to Bali.

Well, sebelum ke Ubud, perjalanan saya awali dengan mengunjungi Pantai Padang Galak. Namun, tujuan utama saya kesana bukan ke pantainya, tapi tempat “bekas” wisata yang bernama Taman Festival.

Saya sangat penasaran dengan tempat tersebut karena menurut informasi yang saya peroleh, dulunya, di masa pemerintahan Presiden Suharto (yang mendirikan tempat ini-bersama Gubernur Bali waktu itu) tempat tersebut merupakan tempat wisata termewah dan termegah di Asia. Banyak sarana permainan yang menarik bahkan menegangkan, ada pertunjukan 3D, ada tempat penangkaran buaya, dan masih banyak lagi.

Namun, sayangnya itu dulu. Sekarang tempat tersebut sudah berubah menjadi tempat yang menyeramkan. Kalau masuk ke sana, hanya ada bangunan bekas terbakar, bangunan-bangunan  tua yang telah rapuh dan sayangnya dicorat-coret oleh tangan yang tidak bertanggung jawab, semak belukar, dan auranya benar-benar bedaaaa.

 

IMG_3422

Bagian depan area Taman Festival Bali, sebelum para pengunjung merasakan sensasi ‘berbeda’ di dalamnya

IMG_3442

Menyempatkan to take some selfie(s) karena nggak ada orang yang mau dimintain tolong buat motoin

IMG_3439

Rada kaget dan gimanaaa gitu ya pas lihat bangunan dan gambar ini :/

IMG_3440

Tempat ini dipenuhi tetumbuhan, dedaunan, dan semak belukar

IMG_3449

Sesajennya dimakanin sama Burung Gereja

IMG_3456

Anyway, lokasi Taman Festival itu deket banget sama Pantai Padang Galak. Sangat strategis sih, tapi pemang pengunjungnya rada sepi di banding pantai-pantai yang lain

Yang paling menarik adalah setelah saya keluar dari tempat ini, saya singgah ke warung untuk mencari minuman. Warungnya tepat di depan Taman Festival tersebut. Ibu-ibu pemilik warung dan salah seorang temannya bertanya kepada saya, “sendirian aja mba?”

Saya pun menjawab, “iya”. Dan, mengalirlah cerita dari kedua ibu ini bahwa menurut mereka tempat tersebut angker. “Kita aja nggak berani masuk ke sana mba. Berdua aja kalau masuk ke sana nggak berani, apa lagi sendiri.” Ibu tersebut lalu menanyakan kembali apakah saya tidak mengalami hal-hal aneh selama di dalam.

Saya pun menjawab, “tidak”. Lalu mereka bertanya lagi, “sampai mana tadi jalannya?” “Sampai pura kecil yang di dekatnya ada kali, Bu. Lupa nama puranya apa.” Setelah itu ibu-ibu tersebut cerita kembali bahwa dulu ada mayat yang dibuang di dalam Taman Festival itu. Ibu tersebut menceritakan di bagian mana areanya, namun saya tidak tahu pasti yang dimaksud si Ibu itu tepatnya dimana.

Seketika itu juga saya merinding, takut, dan was was. Padahal tadinya selama di dalam sana, walaupun saya merasakan ada aura aneh, hati bener-bener nggak nyaman, tapi untuk rasa takut masih belum muncul.

Mungkin karena awalnya saya belum tahu cerita-cerita aneh yang ada disana. Kalau saya sudah tahu duluan ceritanya, mungkin saya juga nggak berani masuk sendirian ke sana. Oya, pada saat itu, yang mengunjungi Taman Festival hanya saya dan dua orang bule. Kebayangkan, bagaimana sepinya.

Singkat cerita, saya pun berpamitan dengan ibu-ibu tersebut. Oya, ada dua orang bapak-bapak yang kemudian datang saat kami ngobrol. Kami sempat selfie sebelum saya pergi.

IMG_20170928_121702

Terima kasih bapak-bapak ibu-ibu atas keramahannya

Ah, ada satu hal lagi yang malu-maluin banget deh! SAYA LUPA BAYAR MINUMAN sodara-sodaraa… Oemji, udah cerita panjang lebar, ngajak selfie, eh malah lupa bayar minum. Parahnya lagi, saya inget kalo saya belum bayar minuman itu saat akan kembali ke hotel, setelah seharian jalan-jalan.

Ntahlah si Ibu pemilik warung juga lupa kali mintanya. Dan ntahlah, mungkin ini cara Allah, who knows suatu saat saya “musti” ke Bali lagi, dan salah satu tujuan utama adalah membayar hutang minuman akibat lupa bayar.

Bersambung ke cerita berikutnya…

-D

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: