Harkitnas atau Harsuhnas?

153028020160520-151146780x390

Lagi, lagi, dan lagi, hari-hari bersejarah di negeri ini dicederai oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Tepat hari ini, hari kebangkitan nasional atau harkitnas, masyarakat yang katanya beradab, malah bertingkah tanpa adab. Demonstrasi yang awalnya damai di depan kantor KPK Jalan HR Rasuna Said, berubah menjadi aksi anarkis. Duh, miris!

Masih segar dalam ingatan kita bahwa di lokasi yang sama, Senin, 9 Mei 2016 lalu mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melakukan aksi unjuk rasa. Namun, demonstrasi tersebut tidak berlangsung separah hari ini.

Namun, tidak dengan demo kali ini. Para pengunjuk rasa melempari polisi dengan batu, kayu, bahkan anak panah. Akibatnya, polisi antihuru-hara terpaksa melemparkan gas air mata dan tembakan water canon.

Mengapa tidak bisa belajar dengan kejadian yang sudah-sudah? Demo yang terjadi selalu saja berubah ricuh. Yang rugi siapa? Tentu yang rugi bukan saja pemerintah, tapi juga para demonstran itu sendiri. Fasilitas publik rusak, ada korban yang terluka, bahkan tidak sedikit yang meregang nyawa.

Yang SANGAT saya sesalkan adalah mengapa setiap kali demo, ada saja yang meneriakkan lafaz La ilaha illallah. It’s okay kalau demo itu demo yang tertib dan damai (walau sebenarnya saya tetap tidak suka lafaz itu diucapkan saat demo). Lha ini demo anarkis malah nyebut-nyebut Tuhan.

Seperti demo di depan kantor KPK tadi. Beberapa demonstran meneriakkan lafaz La ilaha illallah. Ckckck… Mengapa harus lafaz-lafaz islami yang disebut? Sementara mereka mengamuk dan bertingkah seperti makhluk kesetanan. Padahal tindakan mereka jauh dari adab dan akhlak seorang muslim yang dididik untuk bersikap sabar dan santun.

Jika ucapan tadi adakah bukti dari aqidah, mengapa tidak tercermin pula melalui akhlak mereka? Bukankah Islam meletakkan akhlak sebagai cerminan dari aqidah?

Saya teringat pesan dari Ustad Umar Mita, Lc. tentang aqidah dan akhlak. Kata beliau, akhlak dan aqidah tidak akan pernah terpisah. Ketika ada orang yang tidak punya aqidah kepada Allah, maka akhlaknya akan rusak. Tetapi ketika ada seseorang yang memiliki aqidah yang baik, pasti semua itu akan memantulkan akhlak yang baik karena aqidah tidak akan memantulkan kecuali akhlak yang mulia.

Lantas pertanyaannya adalah apakah pantas para demonstran tersebut mengucapkan lafaz La ilaha illallah sementara tingkah mereka tidak jauh dari para masyarakat di zaman jahiliyah dahulu? Bukannya hal itu hanya akan memperburuk citra Islam bahkan bagi kalangan yang menyebut islamophobia? Come on, guys!

Well, kembali pada masalah demo tadi. Demo yang berlangsung pada Harkitnas ini juga mencoreng semangat persatuan bangsa. Padahal sama-sama kita ketahui bahwa Harkitnas adalah masa di mana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme, serta kesadaran seluruh bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun, praktiknya hari ini adalah bukan persatuan yang digambarkan, melalui kerususan dan pepecahan antara bangsa dengan pemerintahnya sendiri. Di mana nilai-nilai Pancasila yang katanya adalah dasar negara? Khususnya pada sila kedua dan ketiga.

Pertanyaan yang menggelitik di benak ini, apakah hari ini hari kebangkitan nasional (Harkitnas) atau malah hari kerusuhan nasional (Harsuhnas)?[]

©dilanovia 20052016 18:06

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: