Tentang Sinabung #1 – Proses Erupsi Gunung Sinabung (2010-2015)

Gunung Sinabung merupakan salah satu gunung di dataran tinggi Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Koordinat puncak gunung Sinabung adalah 03o 10’ LU dan 98o 23’ BT dengan puncak tertinggi gunung ini adalah 2460 mdpl dan menjadi gunung dengan puncak tertinggi di Sumatera Utara. Gunung Sinabung tidak pernah tercatat aktif sejak tahun 1600, namun mendadak aktif kembali dan meletus pada tahun 2010.

Aktivitas Gunung Sinabung terjadi pada tanggal 27 Agustus 2010 dengan mengeluarkan asap dan abu vulkanik. Letusan ini dikategorikan tipe letusan freatik, yaitu letusan yang terjadi karena tekanan gas. Kemudian, tanggal 29 Agustus 2010 sekitar pukul 00.15 WIB, gunung Sinabung mengeluarkan lava disertai dentuman dan kolom abu berkisar 1.500-2.000 meter. Abu tersebut cenderung meluncur dari arah barat daya menuju timur laut (Barasa, 2012).

Selanjutnya, tanggal 3 September 2010 terjadi dua kali letusan. Letusan pertama sekitar pukul 04.45 WIB, sedangkan letusan kedua terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Letusan tersebut menyemburkan debu vulkanis setinggi tiga km dan gempa bumi vulkanis yang terasa hingga 25 km di sekitar gunung ini. Pada tanggal 7 September 2010, Gunung Sinabung kembali metelus dengan tinggi kolom berkisar antara 2.000-5.000 meter. Ini merupakan letusan terbesar sejak gunung ini menjadi aktif di bulan Agustus 2010.

Hasil erupsi tersebut mengeluarkan kabut asap yang tebal berwarna hitam disertai hujan pasir dan debu vukanik yang menutupi ribuan hektar tanaman para petani yang berjarak di bawah radius 6 km. Barasa (2012) mencatat bahwa debu vulkanik mengakibatkan tanaman petani yang berada di lereng gunung banyak yang mati dan rusak. Diperkirakan seluas 15.341 hektar tanaman pertanian di sekitar Gunung Sinabung terancam gagal panen. Akibatnya, petani berpotensi kehilangan hasil panen sebesar Rp29 miliar lebih. Apalagi tanaman tidak dirawat selama 20 hari karena ditinggal pemiliknya yang mengungsi.

Tiga tahun berselang, Gunung Sinabung kembali meletus. Sitinjak (2014) menjelaskan bahwa serangkaian aktivitas Gunung Sinabung menunjukkan akifitas signifikan pada pertengan September 2013. Hal tersebut ditandai dengan getaran-getaran yang cukup intensif, disusul gempa setiap 20 menit. Peningkatan aktivitas Gunung Sinabung terjadi pada tanggal 12 Desember 2013 di mana terjadi dua kali gempa vulkanik, satu kali gempa vulkanik dangkal, 41 kali gempa frekuensi rendah, 187 kali gempa hybrid, delapan kali gempa hembusan dan terus menerus dengan amplitude maksimum 22 mm. Longsoran materil tersebut mengarah ke tiga desa terdekat dari Gunung Sinabung, yakni Desa Bekerah, Mardinding, dan Simacem.

Seperti yang dilansir dari tempo.co (15 September 2013), letusan pertama Sinabung di tahun 2013 terjadi pada tanggal 15 September sekitar pukul 02:51 WIB dini hari. Selain memuntahkan abu vulkanik yang tidak terlalu tinggi, letusan Gunung Sinabung juga memuntahkan batu kecil. Letusan menyebabkan warga dari tiga desa yang berdekatan dengan Sinabung, yakni Desa Sukameriah dan Desa Kutarayat, Kecamatan Payung, serta Desa Bakerah, Kecamatan Namantaren, mengungsi ke ibu kota kabupaten, Kabanjahe dan Kecamatan Berastagi.

Selanjutnya, Karo (2014) menyatakan bahwa pada tanggal 17 September 2013 terjadi dua kali letusan pada siang dan sore hari. Letusan ini melepasakan awan panas dan debu vulkanik. Hingga tanggal 18 September 2013 telah terjadi empat kali letusan. Tidak ada tanda-tanda sebelum peningkatan aktivitas, sehingga tidak ada peringatan dini sebelumnya. Meski demikian, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Namun, ribuan warga permukiman sekitar terpaksa mengungsi ke kawasan yang aman. Tercatat pengungsi mencapai 17.844 jiwa yang terdiri dari 5.513 KK yang tersebar di 31 titik posko pengungsian.

Akibat pristiwa tersebut, status Gunung Sinabung dinaikkan ke level siaga (level III). Setelah aktivitas cukup tinggi selama beberapa hari, pada tanggal 29 September 2013 status diturunkan menjadi level waspada (level II). Memasuki bulan November, terjadi peningkatan aktivitas dengan letusan-letusan yang semakin menguat disertai luncuran awan panas hingga 1,5 km, sehingga pada tanggal 3 November 2013 pukul 03.00 WIB status dinaikan kembali menjadi siaga. (Karo, 2014).

Pada tanggal 20 November 2013, terjadi enam kali letusan sejak dini hari. Letusan kembali terjadi sebanyak empat kali pada sore hari tanggal 23 November 2013, dilanjutkan pada hari berikutnya, sebanyak lima kali. Akibat rangkaian letusan ini, terbentuk kolom abu setinggi 8.000 meter di atas puncak gunung. Kota Medan yang berjarak 80 km sebelah timur pun terkena hujan abu vulkanik.

Pada tanggal 24 November 2013 pukul 10.00 WIB status Gunung Sinabung dianikan ke level IV (awas, tertinggi) hingga akhir Desember 2013. Beberapa letusan cukup besar yang ditandai dengan lama letusan lebih dari 10 menit atau tinggi kolom abu mencapai lebih dari 1000 meter, kadang disertai lontaran awan panas. Periode awas ini terjadi pada 24, 25 dan 26 November 2013, serta pada tanggal 25, 30, dan 31 Desember 2013 (Geomagz.com, 2013).

Akibat kejadian ini, penduduk yang berada di 21 desa dan dua dusun harus diungsikan ke 24 titik posko pengungsian. Posko tersebut yaitu pos Jambur Sempakata, Kelasis GBKP Kabanjahe, Kelasis GBKP Brastagi, Masjid Istikar Brastagi, Universitas Karo, Tanjung Pulo, Tiga Binanga, Gedung KNPI, GBKP Jalan Kotacane, GBKP Asrama Kodim, Jambur Tongkoh, Losd Tiganderket, Taman Doa Ora Et Labora, Jambur Tuah Lopati, Kantor ASAP, GBKP Katepul, GBKP/Retreat Center, GPDI Simpang Empat, dan KWK Brastagi.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Karo tahun 2013, hingga 31 Desember 2013 pengungsi berjumlah sebanyak 19.286 jiwa yang terdiri dari 6054 KK. Pengungsi terdiri dari lansia berjumlag 1177 jiwa, ibu hamil sebanyak 178 jiwa, dan bayi sebanyak 603 jiwa. Pengungsi berasal dari empat kecamatan, yaitu Kecamatan Payung, Namantran, Tiganderket, dan Kecamatan Simpang Empat.

Status awas Gunung Sinabung terus bertahan hingga memasuki tahun 2014. Guyuran lava pijar dan semburan awan panas masih terus terjadi sampai 3 Januari 2014. Mulai tanggal 4 Januari 2014 terjadi rentetan kegempaan, letusan, dan luncuran awan panas terus menerus hingga hari berikutnya. Kejadian ini memaksa tambahan warga untuk mengungsi hingga lebih dari 20 ribu jiwa. Selanjutnya, pada minggu terakhir Januari 2014 kondisi Gunung Sinabung mulai stabil. Pengungsi yang berasal dari luar radius bahaya (5 km) dapat dipulangkan. Sehari kemudian, 14 orang ditemukan tewas dan tiga orang luka-luka terkena luncuran awan panas ketika sedang mendatangi Desa Sukameriah Kecamatan Payung yang berada dalam zona bahaya.

Meski demikian, kondisi yang stabil tidak berlangsung lama. Gunung Sinabung kembali meletus hari Rabu, 24 September 2014, sekitar pukul 13.43 WIB. Sebelum meletus, hujan geremis mengguyur Karo sejak pagi. Letusan tersebut disertai dengan awan panas guguran sejauh 2 km dari puncak yang mengarah ke arah tenggara. Lama erupsi 907 detik. Secara visual tidak terlihat karena tertutup oleh awan. Dari pukul 06.00 WIB-12.00 WIB terjadi 44 kali gempa frekuensi rendah, 11 kali gempa hybrid, tremor menerus, dan 32 kali gempa guguran.

Selanjutnya, letusan kembali terjadi sebanyak lima kali sejak tanggal 5 Oktober 2014 mulai dari pagi hingga siang. Letusan tersebut mengeluarkan guguran awan panas yang jangkauannya mencapai sekitar lima km. Pada tanggal 22 Oktober 2013 pukul 00:36 WIB terjadi awan panas guguran dari puncak Sinabung dengan jarak luncur sejauh 2.000 meter ke arah Selatan dengan tinggi kolom abu awan panas 500 meter. Lama erupsi tercatat sekitar 236 detik.

Gunung Sinabung kembali meletus pada hari Sabtu tanggal 3 Januari 2015 sekitar pukul 08.30 WIB. Sinabung meletus dengan tinggi kolom mencapai 3 km yang disertai awan panas 4 km ke selatan. Pada Sabtu siang, tercatat 24 kali awan panas guguran dari puncak ke arah selatan sejauh 2-4 km dan tinggi abu 500-3.000 meter. Terjadi 56 kali guguran dan tremor menerus. Tanggal 9 Februari 2015, gunung tersebut kembali memuntahkan abu vulkanik setinggi 3,5 km. Hingga saat ini, status Gunung Sinabung masih berada di level III (Siaga).

1 Comment (+add yours?)

  1. John
    Aug 17, 2015 @ 12:37:58

    artikel menarik , Afra

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: