Kondisi Psikologis Korban Saat Pascabencana

Fase pascabencana biasanya berlangsung dari seminggu hingga beberapa bulan setelah bencana. Pada tahap ini, bantuan mengalir dari lembaga-lembaga eksternal untuk masyarakat, serta mulai adanya pembersihan atau proses pembangunan infrastruktur yang mendesak. Secara psikologis, pada fase adaptasi ini terdapat penolakan atau gejala-gejala yang mengganggu dalam diri korban. Gejala yang mengganggu umumnya timbul pertama dan terdiri dari unbidden thoughts dan perasaan disertai dengan gairah otonom, misalnya heightened startle response, hypervigilance, insomnia, dan mimpi buruk. Menjelang akhir fase adaptasi, penolakan lebih menonjol. Hal ini sering disertai dengan peningkatan kunjungan ke dokter untuk keluhan gejala somatik seperti kelelahan, pusing, sakit kepala, dan mual. Kemarahan, lekas marah, apatis, dan social withdrawal juga sering terjadi (Fullerton & Ursano, 2005: 27-28).

Crocq, et. al (2005: 102) menjelaskan, pada fase pascabencana, kondisi mental para korban akan kembali pada kondisi normal dalam beberapa hari (neuro-vegetative dan gejala psikologis mereda, individu tidak lagi sepenuhnya disibukkan oleh kejadian yang mereka alami sebelumnya, dan dapat melanjutkan kegiatan), atau munculnya sindrom psychotraumatic, ditandai dengan mengalami-ulang kejadian, menghindari rangsangan yang mengingatkan pada trauma, hiperreaktivitas, dan keasyikan terus-menerus dengan trauma. Gejala psychotraumatic mungkin muncul setelah berminggu-minggu atau bulan. Ini yang disebut “latency period” dan disebut masa inkubasi, kontemplasi, meditasi, atau memamah biak (rumination).

Selain itu, Crocq, et. al juga menjelaskan bahwa jika individu masih dirawat di rumah sakit, mungkin dia harus menunggu hingga dirinya mampu mengembalikan kemandirian untuk mulai mengatasi trauma. ICD-10 dan DSM-IV mengusulkan istilah diagnostik “post-traumatic stress disorder” (PTSD) untuk sindrom ini. Selain itu, DSM-IV mengusulkan kategori “acute stress disorder” untuk kasus-kasus dengan gejala disosiatif dan gejala psychotraumatic seperti kembali mengalami (muncul dalam waktu 4 minggu dari trauma). Individu yang mengalami reaksi stres akut maladaptif lebih berisiko untuk terkena PTSD akut setelah itu. Namun, hal ini dapat dihindari, dan ada kasus-kasus reaksi stres maladaptif yang sembuh tanpa konsekuensi, sedangkan individu yang awalnya merespon trauma secara adaptif, dapat berkembang ke tahap PTSD yang parah.

RUJUKAN

Crocq, et. al. (2005). Organization of Mental Health Services for Disaster Victims. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose, et. al. Disaster and Mental Health (pg. 98-123). West Sussex: Wiley.

Fullerton, Carol S., Ursano Robert J. (2005). Psychological and Psychopathological Consequences of Disasters. Dalam Lopez-lbor, Juan Lose., et. al. Disaster and Mental Health (pg. 13-36). West Sussex: Wiley.

American Psychological Association. What Psychologists Do on Disaster Relief Operations. Diakses pada 19 Januari 2015 19:48 WIB dari http://www.apa.org/helpcenter/disaster-site.aspx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: