Kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Erupsi Gunung Sinabung, Sumatera Utara Pada Aspek Psikologi.

Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulanan Bencana menyatakan bahwa rehabilitasi adalah kegiatan perbaikan dan pemulihan semua aspek layanan publik atau masyarakat sampai tingkat memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana. Sedangkan rekonstruksi merupakan pembangunan kembali semua prasarana dan sarana kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintah maupun masyarakat, berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, serta bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

Susanto (2006) memaparkan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi adalah bagian inti dari rencana pemulihan. Periode ini merupakan rangkaian setelah rencana darurat, berfokus pada aktivitas yang bertujuan memberikan kemampuan bagi korban untuk memulihkan kehidupan yang normal, layak, dan juga sebagai sarana untuk mata pencaharian. Bagaimana pun, setelah terjadinya bencana, ada kemungkinan tetap dibutuhkan bantuan kemanusiaan untuk kelompok-kelompok tertentu yang paling rentan akibat terjadinya bencana.

Terkait pasca erupsi gunung Sinabung, Sumatera Utara, dampak psikologis pada korban yang selamat (survivor) terutama yang masih berada di lokasi pengungsian berkembang seiring waktu dan kondisi sosial pascabencana. Kondisi psikologis yang muncul ditengarai seperti gejala depresi dan stres. Umumnya yang muncul di pengungsian adalah rasa jenuh dan gejala stres berkaitan dengan perasaan kehilangan keluarga, tempat tinggal, pekerjaan, dan harta benda. Kondisi tersebut juga ditambah dengan perasaan ketidakpastian terhadap bencana yang terjadi. Apalagi masyarakat setempat tidak berpengalaman menghadapi bencana erupsi sebelumnya.

Oleh sebab itu, secara umum kegiatan yang dapat dilakukan terkait dengan psikologi adalah membantu memulihkan psikologis para survivor melalui konseling traumatik. Tujuan konseling traumatik, antara lain mengajak para survivor untuk berfikir realistis bahwa trauma adalah bagian dari kehidupan, memperoleh pemahaman tentang peristiwa dan situasi yang menimbulkan trauma, memahami dan menerima perasaan para survivor yang berhubungan
dengan trauma, serta mengajak para survivor belajar ketrampilan baru untuk mengatasi trauma. Penanganan psikologis para survivor pun akan berbeda, khususnya terkait dengan usia.

1) Anak-anak
Penanganan psikologi anak-anak korban erupsi Gunung Sinabung dapat dilakukan melalui metode permainan kelompok. Rusmana (2009) menyatakan bahwa konseling dan terapi dengan menggunakan permainan telah digunakan secara luas dan mendapatkan dukungan dari para ahli. Hampir semua ahli terapi telah menggunakan permainan sebagai bagian dari proses terapi. Permainan baik tradisional maupun non-tradisional telah digunakan sebagai salah satu modus terapi permainan kelompok yang membantu penanganan anak dengan kecemasan pasca trauma.

Selain itu, anak-anak juga dapat diajak untuk menggambar, menari, bercerita, menonton film kartun atau film anak anak lainnya. Sementara itu, bagi kaum remaja, mereka bisa diajak untuk berolahraga, bermain musik, menari, menulis, dan melakukan berbagai aktivitas sosial.

2) Orang dewasa
Beberapa pendekatan psikologis yang dapat dilakukan untuk membantu pemulihan masyarakat dewasa yang menjadi korban erupsi Gunung Sinabung, yakni:
• Mengadakan kegiatan siraman rohani dengan mendatangkan ulama (bagi muslim) atau pendeta (bagi nasrani). Hal ini perlu diberikan sebagai motivasi bagi masyarakat agar tetap semangat dan tabah menghadapi cobaan yang mereka alami. Selain itu, siraman rohani juga diperlukan untuk mengajak masyarakat berfikiran positif, mengingatkan mereka untuk selalu beribadah, sembari bersyukur dan menerima segala yang terjadi dengan ikhlas, serta memberikan pengertian bahwa terdapat hikmah di balik peristiwa yang mereka alami saat ini. Semua hal tersebut dilakukan melalui pendekatan ketuhanan.
• Memberikan pendidikan dan pelatihan masyarakat Sinabung tentang reseliensi atau ketangguhan untuk antisipasi datangnya bencana. Hal ini juga perlu dilaksanakan karena masyarakat Karo khususnya belum memiliki kearifan lokal menghadapi bencana erupsi.
• membimbing para survivor erupsi Gunung Sinabung untuk bisa hidup normal setelah sekian lama di tempat pengungsian. Hal ini terkait dengan kebiasaan mereka yang hilang selama di tempat pengungsian, bagaimana mereka melanjutkan hidup secara normal, bagaimana memulai pekerjaan, termasuk bagaimana mereka beradaptasi di lingkungan yang baru seperti di hunian tetap yang saat ini dalam proses pengerjaan.
• Mempertahankan “hot line” atau cara lain di mana para survivor bisa menghubungi konselor jika mereka membutuhkannya.

3) Bagi relawan
Relawan juga tidak luput dari stress akibat pekerjaan yang mereka lakukan selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi. Untuk meringankan beban psikologis mereka, hal yang perlu dilakukan, di antaranya memberikan layanan psikologis dan pembekalan bagi pekerja kemanusiaan yang diterjunkan ke Sinabung, serta memberikan pelatihan bagi profesional dan relawan lokal tentang pendampingan psikososial agar mereka mampu mandiri.

Meski demikian, terlepas dari semua itu hal yang perlu diingat adalah penanganan aspek psikologis merupakan suatu proses yang unik pada setiap individu dan komunitas. Tiap individu memiliki cara yang sesuai dengan dirinya untuk dapat pulih. Metode untuk memfasilitasi pemulihan pun sangat disesuaikan dengan karakteristik individu dan komunitas termasuk di dalamnya adalah budaya komunitas tersebut. Begitu pula halnya dengan masyarakat di sekitar Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

RUJUKAN

Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana

Rusmana, Nandang. (2009). Teknik Dasar Dan Aplikasi Konseling Pasca-Trauma. Universitas Pendidikan Indonesia. Diunduh pada 16 Februari 2015 dari http://file.upi.edu/direktori/fip/jur._psikologi_pend_dan_bimbingan/196005011986031-nandang_rusmana/teknik_dasar_dan_aplikasi_konseling_pasca-trauma_%5bcompatibility_mode%5d.pdf.

Susanto, A.B. 2006. Disaster Management di Negeri Rawan Bencana. Jakarta: Aksara Grafika Pratama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: