Korban Komoditi dan Eksploitasi Media yang Bernama “Wanita”

wanita eksploitasi media

Sudah bukan hal tabu lagi bahwa wanita dan media memiliki hubungan yang sangat intim. Wanita memberi rona dalam setiap program pertelevisian. Ketidakhadiran wanita dalam sebuah program bagai sayur tanpa garam. Hambar!

Begitulah kekuatan yang dimiliki oleh wanita. Fisualisasi yang diberikan oleh kaum hawa ini memberikan kesan yang mampu meningkatkan gairah khalayak untuk menyaksikan sebuah program acara.

Namun, sangat disayangkan sekali jika “marwah” seorang wanita dieksploitasi dan dijadikan komoditi oleh media. Dengan tujuan meraih pundi-pundi rupiah setinggi satelitnya, media tak henti menciptakan program-program yang lambat-laun “merenggut” eksklusifitas wanita.

Hal ini dapat disaksikan dalam program Indonesia Lawak Klub. Program ini membahas sebuah isu yang diwarnai dengan humor. Tim kreatif program tersebut menempatkan wanita-wanita cantik dan seksi ini ditempat-tempat strategis sehingga memudahkan para cameraman untuk men-shoot mereka. Tak hanya sekali dua kali para wanita cantik ini dishoot, bahkan mereka dishoot dalam waktu yang cukup lama.

Mungkin banyak khalayak yang mempertanyakan apa gunanya wanita-wanita ini? Toh mereka tidak bicara sama sekali. Mereka hanya menebar senyum ketika kamera menyuting mereka. Untuk apa wanita-wanita ini? Apa hanya pajangan dan patung penyemarak program acara?

Yah, sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, media saat ini menjadikan wanita sebagai komoditinya. Media melihat wanita sebagai bumbu penyedap program acara. Tidak jelas job desk-nya, yang penting wanita selalu ada disetiap program acara. Mungkin itu sudah menjadi hukum alam media.

Baru-baru ini ada pula sebuah program pencarian bakat khusus muslimah. Program tersebut menjaring para muslimah di seluruh nusantara untuk menampilkan kemampuan mereka di bidang tertentu. Tak jauh dengan banyaknya ajang pencarian bakat yang telah duluan lahir,  that makes it different is program ini pure diikuti oleh muslimah (wanita Islam).

Tak terbayang bagaimana media mengeksplorer wanita dengan berbagai cara. Tidak cukup dengan wanita “awam” dengan tampilan rambut terurai, baju seksi, dan make up warna-warni, sekarang wanita muslimah pun jadi incarannya. Yang tak habis pikir adalah sponsor dari acara tersebut. Menurut hemat saya tidak terdapat hubungan yang kuat antara produk tersebut dengan para wanita berjilbab. Toh sebelumnya perusahaan dari produk tersebut tidak menempatkan produknya untuk wanita berjilbab. Target mereka adalah wanita “awam” yang tidak berhijab.

Jadi, apa tujuan program tersebut? Apakah hanya mengikuti permintaan pasar karena “hijab” saat ini tak lebih dari sekedar life style? Apakah ingin meraih rating setinggi mungkin melalui wanita berhijab yang identik dengan keanggunan dan agamis? Ntahlah, yang jelas pada program ini menurut saya jelas sekali wanita menjadi korban eksploitasi media.

eksploitasi wanita

Jika mengikuti syariat agama, mana sah bila wanita dijadikan komoditi media, yang bebas diekspoitasi tubuh dan kecantikan mereka dengan pakaian warna-warni, dan disaksikan oleh ribuan pasang mata, tak peduli itu pria atau wanita. Tampaknya media benar-benar memanfaat tren yang ada saat ini. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah apakah para wanita sadar bahwa mereka menjadi komoditi media dan dieksploitasi oleh media?

dilanovia 30052014 15:48

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: