Pemilu dan Genderang Perang Media Massa

media massaPemilu yang dikenal sebagai “pesta rakyat” dalam hitungan hari akan digelar. Berbagai partai politik (parpol) berlomba-lomba melaksanakan kampanye terbuka dan menyuguhkan program-program “khas” partai guna menarik simpati rakyat. Setiap hari media massa pun dipenuhi berbagai iklan dan berita-berita pemilu. Ntah itu berita positif atau negatif tentang salah satu partai. Semuanya disuguhkan di depan mata masyarakat Indonesia.

Sudah bukan rahasia lagi jika beberapa media massa telah diboncengi kepentingan-kepentingan tertentu oleh sebuah partai. Ntah itu karena si ketum partai adalah pemilik medianya, atau karena si partai menggelontorkan dana ratusan hingga miliaran rupiah ke salah satu media. Alhasil, ini pun turut mempengaruhi pemberitaan di mesia massa.

Sebagai “mantan” mahasiswi ilmu komunikasi (jurnalistik, pula) yang selama kuliah selalu dicekoki ilmu-ilmu media dan “dipaksa” untuk kritis, rasanya “geli” melihat pemberitaan parpol di berbagai media saat ini.

Metro TV tak hentinya melakukan promosi berbungkus berita tentang kegiatan partai Nasdem yang notabenenya di partai itu ada sang bos besar. Begitu juga di RCTI dan MNC TV, tak bosan-bosan mengabarkan kegiatan partai Hanura karena pemilik medianya bernafsu pula ingin menjadi presiden Indonesia. Tak heran pula di TV One, kasus yang sama juga terjadi di media yang diboncengi partai Golkar ini.

Sayangnya, pemberitaan yang adil dan berimbang tidak berlaku untuk lawan politik mereka. Meski pada keempat stasiun TV ini kampanye partai lain juga diberitakan, namun angle yang dihadirkan sangat jauh ketika mereka memberitakan partai mereka sendiri. Persaingankah? Ya, tentu saja!

Yang paling saya ingat ketika saya menontoh Metro TV tadi malam. Bagi masyarakat awam, promosi bertopeng berita yang disuguhkan stasiun ini mungkin ditelan bulat-bulan saja oleh mereka. Padahal pencitraan yang dibangun oleh Metro TV terhadap Surya Paloh dan anaknya (ketika “memberikan kaki palsu” di Medan, Sumatera Utara) sangat kental terasa. Berita berisi kampanye itu dimodifikasi menjadi berita dengan angle sang anak yang notabenenya caleg partai Nasdem di Sumut itu memberikan bantuan kaki palsu kepada masyarakat.

Yang paling membuat saya geleng-geleng kepala betapa tidak berimbangnya informasi di stasiun ini adalah berita setelah “anak sang bos besar” ini. Pasca berita positif yang disuguhkan Metro TV tersebut, diberitakan pula tentang Roma Irama dari partai PKB. Gambar yang dihadirkan  dilayar kaca adalah kegiatan kampanye sang raja dangdut tersebut. Rupa-rupanya angle berita yang ambil adalah rendahnya integritas Roma Irama dibandingkan caleg dari parpol lain berdasarkan hasil survei.

Lebih ekstrim lagi ketika masyarakat yang hadir mengikuti kampanye tersebut di wawancarai. Dalam wawancara yang tidak didengarkan pertanyaannya itu, tiga orang masyarakat menjawab dengan kalimat serupa, “ya, kalau masyarakat percaya kenapa tidak”. Dari konteks jawaban tersebut saya menyimpulkan bahwa sang reporter “bisa jadi” menanyakan pertanyaan yang berbunyi, “Berdasarkan survei, Roma Irama mendapat persentase terendah dibandingkan caleg parpol lain, bagaimana menurut pedapat Anda?”.

Pemilu menjadi ajang lima tahunan yang katanya adalah pesta rakyat. Namun, pada kenyataannya yang eksis di ajang pemilu tetap saja orang-orang yang memiliki kepentingan: Parpol, Caleg, tim sukses, pengusaha termasuk dalam hal ini pemilik media. Media seolah-olah lupa ingatan bahwa mereka adalah penengah antara masyarakat dan pemerintah. Media di ajang pemilu seolah-olah lupa, mereka berkewajiban menyampaikan informasi yang benar-benar akurat dan berimbang, bukan karena si pemilik media dan uang.[]

©dilanovia 27032014 16:46

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: