Ada Apa Dengan Homofobia/Homophobia?

image

Indonesia, hati-hatilah dengan propaganda para LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgeneder). Tanpa sadar kita banyak disuguhi program-program di televisi yang mengangkat tema tentang banci, wanita tomboi, kisah percintaan sejenis, dan segala tindak tanduk mereka yang seolah-olah hal tersebut legal! Dan bersiap-siaplah, dengan segala cara dari kelompok tersebut, kita yang NORMAL ini bisa dicap sebagai HOMOFOBIA!

Istilah homofobia adalah salah satu buah dari Gerakan Revolusi Seksual Modern yang mengarah
pada legalisasi perilaku seks sejenis. Homofobia memandang aneh perilaku seksual, seperti lesbian, gay, transeksual, biseksual, seks pranikah, pornografi, dan fantasi seksual lainnya.
Istilah homofobia sendiri dicetuskan pada 1960-an oleh seorang psikolog George Winberg, untuk menggambarkan ketakutan yang terus menerus dan tidak rasional terhadap lesbian dan gay. Pada 1972, Winberg menuliskan dalam bukunya Society and the Healthy Homosexual. Pada saat hampir bersamaan, dari sisi prasangka sosial muncul istilah heteroseksisme, istilah yang mengandung analogi seperti seksisme dan rasisme.
Heteroseksisme dilandang sebagai sistem ideologi penolakan, pencemaran, dan stigmatisasi terhadap berbagai perilaku, identitas, hubungan, dan komunitas non-heteroseksual. Bagi kalangan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) ini merupakan bentuk diskriminasi instutisional terhadap kelompok mereka.
Penilaian kaum homo seksual terhadap kelompok heteroseksual sudah dilakukan melalui propaganda homoseksual selama 50 tahun ini. Pasangan psikolog gay, Marshal dan Hunter, memberikan pedoman bagaimana para aktivis homoseksual melakukan berbagai propaganda untuk mengubah opini publik agar homoseksual dipandang normal, tidak lagi dianggap sebagai mental illness, tetapi dipandang “sehat”. Dengan itu, masyarakat akan menerima perilaku mereka sampai mendapatkan hak khusus, tunjangan, dan hak istimewa!
Propaganda mereka dilakukan dengan cara menempatkan kaum LGBT sebagai pihak teraniaya dan kor ban dari sebuah tatanan masyarakat yang heteroseksis. Terhadap orang yang tidak setuju dengan LGBT, mereka berikan stigma sebagai orang bigot, hatters, and ignorants (fanatik, pembenci, dan bodoh).
para aktivis homoseksual dan lesbianisme dibenarkan menggunakan setiap taktik, termasuk penipuan massal, berbohong, fitnah, kedengkian, intimidasi, kekerasan, dan lain-lain.
Meskipun pada awalnya banyak aktivis LGBT mengutuk pendekatan ini, namun setelah dirasakan manfaat dari keberhasilan kampanye

propaganda mereka maka berbagai aktivis menjadi pembela utama di depan publik.
Berlindung di balik wacana hak asasi manusia, kelompok yang menentang homoseksual distigma sebagai penindas HAM. Jika kelompok homoseksual dianggap normal maka bagaimana pandangan dari sisi kesehatan mental tentang kelompok antihomoseksual atau homofobia?
Sampai saat ini, homofobia memang belum dimasukkan ke dalam penyimpangan perilaku di dalam DSM (Diagnostic and Statistic Manual of mental Disorder). Namun, melihat wacana yang semakin menguat dalam membela hak kelompok LGBT sekaligus diiringi dengan propaganda untuk menstigma kelompok yang menentang mereka. Maka, bisa jadi suatu hari nanti homofobia dimasukkan ke dalam DSM.

Contoh Kasus

Hal memprihatinkan menimpa Darrun Ravi. Ia mantan mahasiswa Rutgers University Amerika yang dituntut 10 tahun dengan 15 tuntutan yang bermuara pada kesimpulan menderita homofobia. Dharun Ravi dianggap bertanggung jawab terhadap tewasnya Tyler Clementi, teman sekamarnya, yang bunuh diri pada 2010 (New York Time, 12 Maret 2012).
Ravi dengan latar belakang budaya India yang kuat, mengaku tidak nyaman melihat perilaku seksual Clementi yang kerap membawa teman gaynya di kamarnya. “Ketidaknyamanan” itulah yang dianggap juri di pengadilan, sebagai “bermasalah”.

Kasus Darrun Ravi menjadi pembuktian bagaimana sistem hukum di dalam masyarakat sudah mengarah kepada pembelaan kelompok LGBT. Media-media ternama di Amerika, sejak awal 2000-an terus menerus mengangkat pendapat para pakar psi kiater dan psikologi tentang hal ini. Mereka mulai mencoba mengkaji ulang dengan didukung riset yang sesuai dengan kepentingan mereka untuk menempatkan homofobia sebagai mental illness.
Jika wacana homofobia sebagai kelainan jiwa semakin menguat, demikian juga dengan bigotry atau fanatik yang dianggap sebagai salah satu faktor penyebab homofobia. Dalam sejarah peradaban, homoseksual selalu berhadapan dengan konsep keagamaan. Maka, stigma fanatik dalam hal ini ditujukan kepada para pemuka dan kelompok agama yang menentang. Waspadalah!!! *sumber

©dilanovia 10112012 17:44

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: