Awas Tukang Nyontek

image

“Tukang Nyontek”, sebuah predikat yang dari dulu bikin saya annoyed. Yah, nggak bisa ditepis memang, jarang banget orang-orang yang nggak pernah nyontek seumur hidupnya. Atau malah memang nggak ada orang yang nggak pernah nyontek?
Well, dalam batas tertentu saya pribadi sebenarnya cukup welcome dengan aktivitas contek-menyontek,. Saya juga pernah nyontek atau kasih contekan ke teman-teman. Tapi ada hal-hal tertentu dimana saya permisif dengan contek-menyontek. Misalnya, saat sekolah atau kuliah, saya kasih contekan ke teman-teman yang emang sudah dekat banget alias teman satu geng, ke mana-mana emang sama mereka, susah senang bareng mereka. Atau situasi di mana test tersebut mengandalkan kemampuan, kreativitas, maupun imajinasi masing-masing. Jadi saya cukup memberikan deskripsi ringkas jawaban tersebut dan silahkan kembangkan sendiri.
Rasanya memang sudah lama nggak mengalami peristiwa ini, hingga Sabtu pagi 26 Oktober, peristiwa nyontek terulang kembali! Ceritanya begini sodara-sodara.
Saya sedang mengikuti tes psikologi calon pegawai di salah satu bank BUMN di Pekanbaru. Ini adalah seleksi tahap ketiga dimana dari 302 orang hanya 60 orang yang lulus dan salah duanya adalah saya dan si tukang nyontek. Ntah kenapa pagi itu saya bertemu di parkiran hotel dan barengan ke ruangan di mana tes tersebut dilaksanakan.
Setelah bercerita cukup lama, dia sempat mengatakan bahwa beruntung banget bisa lulus hingga ketahap ini padahal saat tes sebelumnya dia kebanyakan nyontek sama teman sebelah.
What the hell, hari gini, segede gini, masih nyontek? Pas proses seleksi kerja pula!? Perasaan saya sudah mulai nggak enak mendengar ucapan dia yang blakblakan. Karena penasaran, saya pun bertanya, apakah teman yang nyontekin dia lulus juga. Setelah mengitari pandangan seantero ruangan, dia bilang, “sepertinya enggak”.
WHAAAAT? Kasihan banget yang dicontekin nggak lulus sedangkan yang nyontek malah lulus. Lagian kemarin itu apa enggak dilihatin sama pengawas kalau ada yang sedang nyontek? Dan saya kasihan sama yang nyontekin si tukang nyontek. Bagaimana ya perasaan dia kalau tahu orang yang dia contekin malah lulus😦
Nah, balik lagi ke tes psikologi tadi. Selang beberapa menit tes pun dimulai. Sialnya saya lupa membawa kotak pensil padahal benda itu adalah senjata saya untuk mengikuti tes. Akhirnya dia meminjamkan saya pena untuk mengisi biodata dan saya meminjam pensil ke orang belakang saya. Ah, syukurlah..
Yang namanya tea psikologi pasti sudah tahu kan. Tes pertama disuruh menggambar orang. Nah, saat tes ini yang notabenenya mengandalkan imajinasi masing-masing, dia malah melihat kertas gambar saya. “Oke, ini yang pertama”, gumam saya di dalam hati.
Selanjutnya para peserta tes disuruh menggambar lagi tapi dengan sistem yang berbeda. You know lah, kita disuruh menyambung gambar yang sudah ada. Ini pun dia masih nyontek nggak hanya ke saya tapi juga ke orang belakang. Bahkan, dia nekat pinjam kertas jawaban si orang belakang! What? Kita sedang bertarung untuk masa depan, eh, dia masih saja menggantungkan dirinya untuk nyontek. Awalnya si orang belakang ngasih aja. Tapi untuk yang kedua kali, TIDAK. Si tukang nyontek ini sendiri nggak sempat pinjam kertas saya. Mungkin melihat saya juga sedang kesusahan untuk menggambar ini.
Lanjut ke tahap tes selanjutnya dan bertahap-tahap membuat kesel saya diubun-ubun! Model tesnya menjawab soal a, b, c, atau d yang tentunya mutlak benar dan mutlah salah. Dan pada tahap ini yang membuat saya sangat kesel kepadanya. Dia berkali-kali nyontek saya tanpa ada rasa malu atau bersalah sedikit pun! Ya, Tuhan, kenapa saya harus ketemu dia sih? Kenapa juga musti sebanggu sama dia!?
Untungnya pengawas melihat gerak-geriknya dan dia malah menjadi sasaran penglihatan pengawas. Bahkan ketika jawaban dikumpulkan, pengawas langsung mengambil kertas jawaban si tukang nyontek, sedangkan kami semua meletakkannya ke depan sendiri-sendiri.
image
Huh, sebenarnya saya mau memberi pengertian ke dia tapi tidak tau bagaimana caranya. Saya pun nggak enak hati gara-gara di awal dia meminjamkan saya pena. Tapi, saya benar-benar takut (mungkin lebih tepatnya nggak rela) hal yang sama terulang kembali. Seperti yang saya ceritakan di atas, orang yang dia contekin saja nggak lulus, sedangkan dia lulus. Nah, bagaimana dengan saya nanti? Saya sudah capek mikir tujuh keliling, ngitung sana-sini, dan mendapatkan jawabannya, eh dia malah enak tinggal coret a, b, c, atau d. Benar-benar culas banget dia, benar-benar nggak adil. Cantik-cantik tapi suka nyontek. Demiii Tuhaaaaaan!!!
Ada dua tahapan tes yang dia nggak bisa nyontek yaitu tes koran yang mengandalkan kecepatan otak dan tangan, dan menjawab soal-soal yang berhubungan dengan sikap atau pandangan pribadi terhadap suatu hal. Saya berkata di dalam hati, kalau sempat dia masih nyontek, dia benar-benar nggak punya otak dan nggak punya kepribadian!
Huh, di penghujung tes yang memakan waktu tujuh jam itu, saya masih kesel dan masih nggak habis pikir dengan si tukang nyontek ini. Kenapa saya harus ketemu orang seperti ini. Sebenarny, dari segi friendship dia sih oke, cepat akrab dengan orang yang baru (saking akrabnya langsung nyontek). Tapi ya itu tadi, sifat suka nyonteknya itu enggak banget.
Kalau situasinya masih di kuliahan mungkin masih sah-sah saja untuk nyontek. Lagian dosen pasti tahu kemampuan para mahasiswanya. Lha kalau ini? Mungkin orang-orang psikologi tahu bagaimana kepribadian kami nantinya setelah memeriksa tes tersebut. Tapi, sekali lagi, kenapa masih ada orang yang dalam tahap berjuang untuk kehidupan dia ke depan masih bisa-bisanya nyontek ke orang lain tanpa rasa bersalah!!?
Menurut saya kami yang diruangan itu semuanya sudah sama-sama dewasa, bisa berpikiran dewasa, bukan para ababil lagi. Bisa siap dengan segala tantangan hidup dengan mengandalkan kemampuan dan kekuatan masing-masing.
Yah, kita lihat saja nanti. Apakah saya lulus? Apakah dia lulus? Saya sudah membuat asumsi seperti ini (antara saya dan dia):
1. Jika saya lulus dan si tukang nyontek lulus, saya rasa dengan usaha yang saya lakukan, saya pantas mendapatkannya dan dia? yah, selamat deh.
2. Jika saya lulus dan dia tidak lulus, saya rasa itu cukup adil bagi saya dan mungkin ketidaklulusan untuk dia adalah hal yang sangat sangat wajar.
3. Jika saya tidak lulus dan dia lulus, berarti dia termasuk orang-yang sangat-sangat beruntung. Dan saya? Saya bisa belajar dari semua hal yang saya dapat hari itu.
Ah, si tukang nyontek itu! Umurnya padahal dua tahun di atas saya. Seharusnya saya memanggil kakak kepadanya. Tapi gegara sifat dia itu, saya jadi nausea dan hilang rasa hormat. Mudah-mudahan dia bisa makan makanan yang tidak hanya berfungsi untuk menutrisi kecantikannya tapi juga menutrisi otaknya. Amin.[]

©dilanovia 27102013 15:46

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: