Antara Pengorbanan dan Keikhlasan

image

Sudah bukan fenomena baru di mana manusia terkadang bingung menghadapi dan memilih satu di antara dua pilihan yang dianggapnya baik. Manusia terkadang sulit menentukan suatu pilihan yang sama-sama menguntungkan untuknya, untuk keluarganya, atau untuk orang-orang yang berada di sekitarnya. Menurut saya itu lumrah karena manusia memiliki keterbatasan pengetahuan. Jika mereka tahu pilihan yang menurutnya itu baik, padahal ke depannya malah membuat mereka terperosok, tentu pilihan tersebut tidak akan dipilih. Ya, manusia hanya bisa memperedikdi. Tuhanlah yang memberikan keputusan.
Berbicara masalah pengorbanan. Sering saya mendengarkan, bahkan saya sering juga mengutarakannya. “Memang untuk mendapatkan sesuatu itu, harus mengorbankan sesuatu yang lain”. Yah, pengorbanan itu bisa saja waktu, tenaga, atau pikiran. Ketika seseorang ingin bersungguh-sungguh mendapatkan sesuatu, ketiga pengorbanan itu saya rasa tidak ada apa-apanya jika mereka bersungguh-sungguh dalam niat dan perbuatan.
Namun, bagaimana jika pengorbanan tersebut bukan ketiga hal yang di atas? Misal, seseorang ingin bekerja di perusahaan A, tapi dia juga ingin bekerja di perusahaan B. Setelah mempertimbangkan baik-buruknya, dia tetap tidak bisa memutuskan pekerjaan apa yang akan ia pilih. Dia pun bingung perusahaan apa yang akan dia korbankan. Sementara dia juga tidak tahu bagaimana hasilnya ketika memilih salah satu dari perusahan tersebut.
Mengorbankan satu dari dua pilihan yang sama-sama disukai memang sulit. Itulah yang saya rasakan saat ini. Semasa kecil dulu, ketika sulit menentukan pilihan saya tinggal menghitung buah baju. Namun sekarang, menentukan nasib hidup ke depan tak bisa hanya sekedar menghitung buah baju🙂
Ya, itulah manusia, itulah saya, itulah kita semua. Kita sulit menentukan pilihan yang sama-sama baik menurut kita. Padahal ada yang lebih mengetahui segala sesuatu. Begitulah yang dikatakan di dalam Al Quran. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”. (QS Al-Baqarah : 216)
Betapa terbatasnya pikiran kita. Betapa tidak validnya prediksi kita. Hal yang baik menurut akal manusia, belum tentu baik, begitu pula sebaliknya. Dan pengorbanan, ketika dihadapkan oleh dua pilihan, betapa pun baiknya itu menurut kita ya memang harus dikorbankan. Mudah-mudahan apa yang kita korbankan tersebut kembali dengan hal yang lebih baik lagi.
Satu hal lagi yang harus ada adalah rasa ikhlas. Ikhlas melepas sesuatu yang baik menurut kita. Memang untuk mengikhlaskan sesuatu yang sangat kita inginkan itu sulit sekali. Belajar menjadi ikhlas adalah pelajaran yang tidak akan ada habisnya, tidak ada tamat-tamatnya hingga tamat pula hidup orang yang bersangkutan. Ikhlas juga merupakan salah satu ujian manusia untuk “naik kelas”. Ikhlas mengajarkan manusia untuk sabar, bahkan ketika pengorbanan yang dia lakukan belum mendatangkan kebaikan sebagaimana yang dia haralkan. Begitulah ujian Tuhan.
Yah, harus mengorbankan sesuatu dan ikhlas menerima hasilnya kelak (baik atau belum baik) adalah hal yang harus saya persiapkan. Ntahlah, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi. Namun, sebagai manusia biasa, kadoNya yang terindahlah yang sangat saya harapkan🙂
Oh, my friend once said that people should pray istikharah when they hesitate to make a choice. I want to do that. Insyaallah.[]

©dilanovia 28072013 03:31

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: