Di Balik Status Bayangan Manusia

“Apa cita-citamu?”
Kalimat itu sering kali kita dengar, bahkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu jawaban yang mungkin sering mengalir dari mulut seorang bocah SD adalah “saya ingin menjadi dokter”, “saya ingin menjadi polisi”, “saya ingin menjadi presiden”.

Pertanyaan yang sama muncul lagi ketika kita mulai beranjak dewasa. Ada yang bertahan dengan cita-cita semasa kecilnya, ada pula yang telah berubah sesuai perkembangan minat dan bakat masing-masing. Namun, pertanyaan tersebut tidak hanya sebatas kalimat, “apa cita-citamu?”, tapi telah diiringin dengan, “bagaimana caramu untuk meraih cita-cita itu?”

Jika ada yang bercita-cita menjadi dokter, dia akan menjawab berbagai persiapan yang sedang atau akan dia lakukan untuk meraih gelar dokter. Berawal dari kesenangan dengan pelajaran biologi, mempersiapkan uang yang cukup untuk kuliah, mengambil jurusan kedokteran di salah satu universitas ternama, melanjutkan studi ke luar negeri, hingga ‘calon dokter’ pun hampir melekat di dirinya.

Begitu pula dengan cita-cita yang lain. Manusia akan berusaha meraih cita-cita mereka sekuat tenaga. Ketika apa yang diusahakan tersebut hampir tiba di garis finish, betapa senangnya hati memikirkan dirinya akan menjadi calon polisi, calon insinyur, calon dokter, calon guru, calon wartawan, dan berbagai pekerjaan menarik lainnya.

Namun, mungkin semangat muda tersebut banyak yang membuat kita lupa. Lupa bahwa sejatinya kita hidup di dunia hanya sementara. Sudahkan kita telah mempersiapkan bekal untuk status kita yang lebih pasti, dibandingkan dengan status bayangan sebagai “calon dokter”, “calon guru”, atau “calon gubernur” sekalipun yang tentunya itu belum pasti karena semua ada di tangan yang Maha Kuasa.

Manusia yang masih hidup, dalam hidupnya sudah memiliki status yang pasti, yakni sebagai “calon mayat”. Manusia yang hidup di muka bumi adalah calon mayat yang akan mengarungi kehidupan kekal di akhirat. Di sana tak dikenal yang namanya dokter, polisi, guru, atau bahkan presiden atau raja. Manusia pada saat itu sama, hanya kualitas iman yang membedakannya.

“Calon mayat”, kata-kata itu mungkin terdengar ngeri, tapi status itu pasti. Jadi, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk itu? Jawabannya hanya ada di diri kita masing-masing.[]

©dilanovia 19062013 00.17

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: