Dinding “Cyber” Ratapan

Saya rasa Anda yang sering berselancar di dunia maya sudah tidak asing dengan The Wailing Wall atau dinding ratapan. Dinding ratapan ini katanya adalah tembok suci orang Yahudi. Mereka percaya bahwa tembok ini tidak ikut hancur sebab di situlah berdiam “Shekhinah” (kehadiran ilahi). Jadi, berdoa di situ sama artinya dengan berdoa kepada Tuhan.
Setiap harinya banyak yang berdoa di sana. Yah, namanya saja dinding ratapan, masyarakat bebas ‘berdoa’ meminta, meratapi, apa yang mereka rasakan kepada “Tuhan”mereka.
Nah, rasanya janggal mendengar atau melihat hal tersebut. Tapi, jangan salah, kebiasaan kaum Yahudi ini secara tidak sadar juga dilakukan oleh masyarakat di penjuru dunia melalui facebook mereka. The real wailing wall memang ada di Yerusalem sana, tapi the wailing “cyber” wall ada di hadapan Anda setiap hari, di mana pun Anda berada, di kamar, di kampus, bahkan di toilet. Hebatnya lagi, the Wailing “Cyber” Wall ini berukuran elastis. Bisa di handphone, notebook, tablet, atau di komputer sekalipun.
Setiap hari ada saja ratapan yang tertuang di sana. Mulai dari masalah keluarga, pertemanan, pekerjaan, bahkan yang paling sering masalah percintaan. Rasa-rasanya ketika ada masalah, seantero masyarakat harus mengetahuinya.
Ratapan ini pun bisa dikomentari. Syukur-syukur dikasih komentar yang membangun. Tapi kebanyakan komentar di dalamnya malah nggak nyambung dengan apa yang diratapi. Rata-rata pada nyeleneh. Aneh.
Dinding “Cyber” Ratapan pun juga dijadikan sarana untuk menghujat, mencaci maki, menjatuhkan harga diri seseorang walau beraninya hanya berupa sindiran masam. Kata-kata yang dikeluarkan pun beraneka ragam. Mulai dari nama binatang laut sampai binatang darat. Ironis.
Meratap di Wailing “Cyber” Wall ini bentuknya memang sepele. Bahkan mungkin tidak dihiraukan atau malah dibilang “masa bodoh”. Banyak yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Yahudi meratap di dinding ratapan itu adalah hal yang aneh. Tapi, bagaimana yang meratap di dinding ratapan “maya” ? Bukankah yang membangun itu juga orang Yahudi?
The Real Wailing Wall is for Jews, but The Wailing “Cyber” Wall is for everybody in the world. Tujuannya sama, untuk meratap, “berdoa”, hingga akhirnya manusia lupa bahwa ada cara yang lebih baik untuk berdoa yakni melalui ibadah kepada Tuhan.
Di zaman yang katanya teknologi serba “smart” ini manusia seharusnya juga harus smart. Jangan mau kalah atau bahkan tenggelam dengan kepintaran teknologi dan malah membodohi penggunanya. Menghipnotis dengan fasilitas yang terlihat wah, memanjakan dengan fitur-fitur yang canggih, tapi kita lupa menanyakan; untuk apa semua ini? di mana batas wajar penggunaannya? apakah meratap, menghujat, mencaci-maki, tersiksa dalam suasana duka pantas diumbar di Wailing “Cyber” Wall?
Mungkin setiap orang pernah melakukan itu, termasuk juga saya. Tapi, kebiasaan itu bisa diubah.[]

©dilanovia 03062013 23:53

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: