Pengertian Komunikasi Massa

Komunikasi massa merupakan salah satu proses komunikasi yang berlangsung pada peringkat masyarakat luas. Komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada khalayak sasaran yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media massa sehingga pesan dapat diterima secara serentak dan sesaat.
Menurut Black dan Whitney (dalam Yasir, 2009: 133) komunikasi massa diadopsi dari istilah bahasa Inggris yakni, mass communication sebagai singkatan dari mass media communication yang merujuk pada proses komunikasi massa atau teorinya. Sedangkan istilah mass communications berasal dari kata media of mass communication, lebih merujuk pada media mekanis yang digunakan dalam komunikasi massa yakni media massa.
Devito (dalam Effendy, 2005: 21) menjelaskan dua pengertian komunikasi massa. Pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa atau khalayak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang membaca atau menonton televisi. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang bersifat audio (suara) dan visual (gambar).
Massa mengandung pengertian orang banyak. Mereka tidak harus berada di lokasi tertentu yang sama. Mereka dapat tersebar atau terpencar di berbagai lokasi dan dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan. Serta dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama. Massa juga diartikan sebagai semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran.
Komunikasi massa memiliki ciri-ciri khusus yang disebabkan oleh sifat-sifat komponennya. Pertama, berlangsung satu arah, artinya tidak terdapat arus balik dari komunikan pada komunikator. Dengan kata lain, wartawan sebagai komunikator tidak mau mengetahui tanggapan dari pembacanya terhadap berita atau pesan yang ditulisnya.
Kedua, komunikator pada komunikasi massa melembaga, yakni suatu instansi atau organisasi. Karena media yang digunakan adalah sebuah lembaga dalam menyebarluaskan pesan komunikasinya bertindak atas nama lembaga. Sejalan dengan kebijaksanaan surat kabar dan stasiun televisi yang diwakilinya. Ia tidak mempunyai kebebasan individual. Kebebasan mengemukakan pendapat merupakan kebebasan yang terbatasi. Peranannya dalam proses komunikasi ditunjang oleh orang lain, seperti redaktur, fotografer, layouter, dan sebagainya.
Ketiga, pesannya bersifat umum karena ditujukan kepada khalayak umum dan mengenai kepentingan umum. Keempat, media komunikasi massa menimbulkan keserempakan pada pihak khalayak dalam menerima pesan-pesan yang disebarkan. Kelima, komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen. Komunikan merupakan kumpulan masyarakat yang terlibat dalam proses komunikasi. Massa sebagai sasaran yang dituju oleh komunikator, satu sama lain tidak saling mengenal dan tidak memiliki kontak pribadi (Effendy, 2005: 21-25).
Dalam proses komunikasi massa, pesan-pesan media tidak dapat dilakukan secara langsung. Jika berkomunikasi melalui surat kabar, maka komunikasi tadi harus diformat sebagai berita atau artikel, kemudian dicetak, didistribusikan, baru kemudian sampai ke audiens. Antara satu audiens dan audiens lain tidak bisa berkomunikasi secara langsung, sebagaimana dalam komunikasi tatap muka. Istilah yang sering digunakan adalah interposed. Konsekuensinya adalah tidak terjadi interaksi antara komunikator dengan audiens. Komunikasi berlangsung satu arah, dari komunikator ke audiens, dan hubungan antara keduanya impersonal.
Namun, di sisi lain Ward (dalam Karunia, 2005: 294) menyatakan komunikasi massa yang dihadirkan oleh media baru berkesan tanpa mediasi karena bisa digunakan secara langsung tanpa melalui organisasi media yang rumit layaknya organisasi media lama atau tradisional. Sebagaimana yang dikatakan lebih jelas oleh McQuail, dimana kebanyakan media baru ini memungkinkan komunikasi dua arah yang bersifat interaktif memungkinkan mengumpulan sekaligus pengiriman informasi sehingga implikasinya bisa beragam.
Pesan-pesan komunikasi massa bersifat terbuka, artinya pesan-pesan dalam komunikasi massa bisa dan boleh dibaca, didengar, dan ditonton oleh semua orang. Dalam komunikasi massa juga terjadi intervensi pengaturan secara institusional antara si pengirim dengan si penerima. Dalam berkomunikasi melalui media massa, ada aturan, norma dan nilai-nilai yang harus dipatuhi. Beberapa aturan perilaku normatif ada dalam kode etik yang dibuat oleh organisasi-organisasi jurnalis atau media.
Konsep komunikasi massa pada suatu sisi mengandung pengertian suatu proses dimana organisasi media memproduksi dan menyebarkan pesan kepada publik secara luas dan pada sisi yang lain merupakan proses dimana pesan itu dicari, digunakan, dan dikonsumsi oleh audiens. Pentingnya komunikasi massa dalam kehidupan manusia modern dewasa ini, terutama kemampuannya untuk menciptakan perhatian publik, menentukan isu, menciptakan opini publik, dan memberikan kesamaan kerangka pikir, pada gilirannya telah mengundang berbagai sumbangan teoritis terhadap kajian tentang komunikasi massa.[]

*Dari berbagai sumber yang berkaitan dengan Ilmu Komunikasi

© dilanovia 16022013 01:24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: