Pengertian Aktifitas Jurnalistik

Aktifitas jurnalistik sebagaimana yang tertulis pada Pasal 1 ayat 1 UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 adalah kegiatan mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia (dalam Sirikit, 2011: 182).

Dalam aktifitas jurnalistik, sumber tulisan atau yang menjadi bahannya adalah peristiwa atau gagasan yang dicari oleh wartawan. Sobur (2002: 4) menyatakan wartawan (journalist) merupakan orang yang secara rutin melakukan aktifitas jurnalistik, yakni aktifitas peliputan, perekaman, dan penulisan berita, opini, dan feature untuk media massa. Dalam sebuah lembaga penerbitan pers, wartawan masuk dalam Bagian Redaksi (Editor Department) yang dipimpin oleh Pemimpin Redaksi (Chief Editor).

Dalam penulisan kejadian, para wartawan harus menyatakan siapa, apa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah 5W+1H (who, what, when, where, why, dan how). Selain itu, para wartawan juga harus menjelaskan kepentingan dan akibat dari kejadian atau yang sedang hangat terjadi.

Sementara itu, dalam hal penyebarluasan informasi, jika medianya berupa media massa elektronik (radio atau televisi), maka aktifitas penyebarluasan informasi itu dilakukan oleh penyiar (announcer), pembaca berita (newscaster/newsreader), atau secara langsung dilakukan oleh wartawannya (on air, live).

Jika medianya berupa media massa cetak, maka penyebarluasan dilakukan oleh bagian penjualan atau pemasaran (marketing), khususnya bagian sirkulasi atau distribusi. Pemasaran media massa cetak dilakukan oleh Bagian Usaha (Business Departement) yang biasanya dipimpin oleh Pemimpin Usaha atau Manajer Pemasaran (Marketing Manager). Pemasaran media itu umumnya dilakukan melalui agen-agen, kios-kios koran, atau penjualan lansung (direct selling) oleh pengecer.

Lebih jelasnya, aktifitas jurnalistik dapat dilihat berdasarkan kelompok kerja yang menangani bidang masing-masing seperti yang diuraikan di bawah ini:

  1. Pemimpin Umum (General Manager), bertanggung jawab atas keseluruhan jalannya penerbitan pers, baik ke dalam maupun keluar. Dia dapat melimpahkan pertanggungjawabannya terhadap hokum kepada Pemimpin Redaksi sepanjang menyangkut isi penerbitan (redaksional) dan kepada Pemimpin Usaha sepanjang menyangkut penguasaan penerbitan.
  2. Pemimpin redaksi (Chief Editor), bartanggung jawab terhadap mekanisme dan aktifitas kerja keredaksian sehari-hari. Dia harus isi seluruh rubric media masa yang dipimpinnya. Pemimpin redaksi juga bertanggung jawab atas penulisan dan isi tajuk rencana (Editorial) yang merupakan opini redaksi.
  3. Bagian Usaha (Business Departement), bertugas menyebarluaskan media massa, yakni melakukan pemasaran atau penjualan media massa. Bagian ini merupakan sisi komersil meliputi sirkulasi, media massa, iklan, dan promosi. Bagain ini dipimpin oleh Pemimpin Perusahaan (Marketing Manager) yang membawahi Manajer Sirkulasi, Manajer Iklan, dan Manajer Promosi.
  4. Dewan Redaksi, bertugas memberikan masukan kepada jajaran redaksi dalam melakukan pekerjaan redaksional. Dewan Redaksi pula yang mengatasi permasalah penting redaksional, misalnya menyangkut berita yang sangat sensitif atau sesuai-tidaknya berita yang dibuat dengan visi dan misi penerbitan yang telah disepakati.
  5. Redaktur Pelaksana (Managing Editor), tanggung jawabnya hampir sama dengan Pemimpin Redaksi, namun lebih bersifat teknis. Dialah yang memimpin langsung aktifitas peliputan dan pembuatan berita oleh para reporter dan editor.
  6. Redaktur (Editor), tugas utamannya dalah melakukan editing atau penyuntingan, yakni aktifitas penyeleksian dan berbaikan naskah yang akan dimuat atau disiarkan.
  7. Koordinator Reporter atau Koordinator Liputan, bertugas mengkoordinasikan atau mengatur para reporter dalam peliputan dan membagi tugas di antara para reporter untuk melakukan peliputan, agar tidak terjadi overlap di lapangan.
  8. Redaktur Bahasa, bertugas menjaga keseragaman bahasa yang digunakan dalam penulisan berita/artikel yang menjadi gaya atau cirri khas medianya.
  9. Redaktur Pracetak, bertugas menangani naskah siap cetak dari para redaktur, yaitu semua naskah berita yang sudah diturunkan ke percetakan dan sudah di set bersih, desain cover dan perwajahan (tata letak, layout, artistik), dan hal ihwals sebelum koran dicetak.
  10. Reporter, tugas utamanya adalah mencari dan menyusun berita. Seorang reporter juga harus meneliti kebenaran sebuah berita beberapa kali sebelum ia menulisnya. Untuk membantu tugas redaktur, seyogianya reporter melakukan penyuntingan (editing) sendiri terhadap naskah yang dibuatnya, sebelum diserahkan ke redaktur.
  11. Fotografer, bertugas mengambil gambar peristiwa atau objek tertentu yang bernilai berita atau untuk melengkapi tulisan berita. Fotografer merupakan mitra kerja yang setara dengan reporter.
  12. Koresponden atau wartawan daerah, yaitu wartawan yang ditempatkan di kota/negara lain di luar wilayah dimana media massa tersebut berpusat.

Kontributor atau penyumbang naskah, secara struktural tidak tercantum dalam struktur organisasi redaksi. Kontributor terlibat di bagian redaksi secara fungsional. Termasuk dalam kategori ini adalah para penulis artikel, kolomnis, dan karikaturis (Romli, 2002: 12-17).[]

*dikutip dari berbagai sumber yang berkaitan dengan Jurnalisme

©dilanovia 16022013 01:40

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: