Manusia, Multiperspektif

Ketika ada seseorang yang membawa sebuah pensil, dan meminta kepada beberapa orang untuk memaknai pensil tersebut, akan banyak jawaban yang muncul. Ada yang menjawab “untuk menulis”, “benda yang terbuat dari kayu”, “alat bantu untuk membaca”, “alat untuk pembatas buku”, dan lain sebagainya. Terbayangkan, begitu banyaknya makna yang diungkapkan oleh individu-individu terhadap satu benda.
Bila cara menggambarkan benda fisik saja cukup pelik, apalagi cara menggambarkan realitas yang (lebih) abstrak seperti keadilan, kebenaran, kebebasan, kelayakan, cinta, atau komunikasi. Tentunya, beragam pandangan, pendapat, atau asumsi yang akan disampaikan.
Saya sangat ingat apa yang dikatakan salah seorang dosen komunikasi saya. Kebenaran itu ada di mana-mana. Dalam setiap hal, baik itu individu atau kondisi, situasi. Jadi, tidak ada yang berhak menilai sesuatu itu salah hanya kerena melihat di satu sisi saja.
Ketika seseorang perbandangan hanya melalui satu sisi, tanpa melihat sisi lainnya, maka seseorang itu cenderung akan tertinggal dan tidak mau kalah.
Baru-baru ini saya membaca buku karangan Prof. Deddy Mulyana, yang menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki perspektif yang berbeda-berbeda tentang sesuatu hal. Jadi tidak berhak sesorang menilai perspektif orang lain itu salah dan merasa perspektifnya benar, karena setiap orang memiliki cara padang berbeda.
Lantas, bagaimana dengan berdebat? Sejujurnya, sayang kurang suka bahkan tidak suka dengan kata-kata “debat” atau “berdebat”. Mengapa? Karena menurut saya, berdebat itu cenderung mengarahkan seseorang terlibat di dalamnya menjadi “serba tahu”, “paling benar”, tanpa menghiraukan pendapat orang lain. Lihat saja orang-orang yang berdebat, mereka cenderung merasa paling pintar, paling benar. Ketika dua orang yang berdebat merasa paling benar, lantas apa gunanya perdebatan? Tidak akan ada ujungnya, toh?
Saya lebih suka memilih kata “dislkusi”, “berdiskusi”, saling mendengarkan, saling memahami, tanpa ada yang mematahkan opini orang lain. Seperti yang saya katakan di awal. Setiap orang memiliki perspektif masing-masing yang menjadikan mereka berfikir dengan cara mereka masing-masing. Nah, ketika berdiskusi, rasanya semua hal itu bisa diperbincangkan dengan kepala dingin, dengan hati dan pikiran yang terbuka. Tanpa ada yang merasa paling benar hingga menyalahkan opini orang lain. Saya rasa hal yang demikian lebih terhormat.
Intinya, saya ingat saat belajar filsafat komunikasi, bahwa manusia adalah makhluk yang aktif (baik dari segi tindakan atau pikiran). Setiap manusia memandang dunia dengan cara yang berbeda, sehingga menimbulkan asumsi yang berbeda pula.[]

©dilanovia 04022013 00:34

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: